WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Sastra

Dalam Peluk Awan Kelabu

Penulis: Nararya Wahyu Putri/EQ Editor: Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQ Layouter: Vidhyazputri Belva.A/EQ Awan kelabu memeluk sunyiku,Senyap—Menyapa,“bagaimana kabarmu?” Aku di sini, masihmenanti, hangat pelukmu itumasih,menunggu, di antara saljuyang tak lelah turun. Ke mana harus kutapaki jejakmu, kasihku? Cinta ini membara! dalam diam.Lidah terkatup,Membisu. NamamuTetap kusebut dalam doa.terselip dalam setiap hening malamHingga waktu,mengizinkan kita bertemu. Angin menusuk kulit yang rapuh,tangan menggigil; hampir membekuRindu kusembunyikan dalam genggamanku. Masih kudamba hadirmu—untuk memeluk tubuhyang terlalu lama kehilangan. Masih adakah celah untukkudi hatimu? Masih layakkah…aku? Sayap-sayap takdir terbang ke langitmeninggalkan mimpi-mimpi yang belum utuh.Namun dalam bayang,aku masih melihat kita:kau dan aku, tak selesaiDan bahagiaYang kini sekadar bayang Bisakah kutemukan dirimu di balik kabut?Bisakah kau kembali, kasihku?bukan hanya sebagai angin,tapi pelukan yang nyata?

Membayar yang Tak Terbayar

Penulis: Chelsea Deswita Sianturi/EQEditor: Gigih Candra/EQLayouter: Diana Sintya/EQ Aku hendak mendedikasikan sajak ini kepada orang nomor satuku,Seorang yang berdiri di depan sebagai perisaiku, serta seorang yang berdiri di belakang menopang setiap jatuhku.Terima kasih, Mamak dan Bapak. Terinspirasi dari lagu “Sayap Pelindungmu” oleh TheOvertunes. Entah sudah berapa kali diri ini jatuh. Entah sudah berapa kali diri ini turut menggores setiap sisi di hatimu. Tak juga sedikitpun kau menggores ku kembali. Barang setitik pun. Barang sedetik pun. Kau membalutku dengan kain hangat,sekalipun aku melontarkan bongkahan es di hadapanmu.Kau menjahit kembali luka yang tidak kau sayat,sementara aku kerap menyayat hatimu sepanjang hayat. “Saat duniamu mulai pudar, dan kau merasa hilang.Ku akan selalu jadi sayap pelindungmu” Kakimu yang kokoh, tidak kau gunakan lagi untuk berlari jauh. Kaki kokohmu kau beri untukku bisa berdiri lebih kuat. Sayap lebarmu tidak lagi membawamu terbang. Sayap lebarmu kau beri untukku bisa terbang lebih tinggi. Meski akhirnya akan membawaku pergi jauh darimu. Sangat jauh. Entah sudah berapa banyak yang hilang. Entah sudah berapa banyak yang tak kembali. Sedikitpun tak pernah kau serahkan segala perih padaku.Sedetikpun tak pernah kau biarkan ku merasakan pahitnya dunia ini sendiri. Dirimu yang tak pernah mencicipi manisnya dunia,mengusahakan dan membiarkanku kemudian untuk mencicipinya sendiri. Sekalipun tak kau pinta aku untuk membagi. “Biarlah aku yang menjadi pahit,” begitu pintanya terdengar. Kau mendekap diriku yang rapuh dan hampir hancur,sementara aku perlahan menghancurkan dirimu.Kau menata hatiku yang berantakan,sementara dirimu hancur lebur tak bersuara.Aku kira kau sekokoh benteng Masada,ternyata jauh dalam diri kecilmu, kau bak cermin yang rapuh. Seribu gagalku tidak menjatuhkanmu. Namun, setitik menangku mengangkatmu setinggi cakrawala. Berapa banyak pun dunia menjatuhkanmu,tak sekalipun kau pulang membawa murung depanku.Berapa banyak pun dunia mengangkatmu,tak sekalipun kau meninggalkanku sendiri. Terima kasih,atas segala peperangan demi kemenanganku,atas segala ego yang hancur demi membelai egoku. Maaf,atas segala hilang yang tak pernah kembali,atas segala cerca pahit yang tak pernah manis. Aliran kasih dan maaf yang tak pernah kering layaknya mata air yang murni. Sejauh-jauhnya kau buang segala salahku dan dekatkan dirimu lagi kepadaku. Mamak, Bapak,maaf dan terima kasihku tak akan pernah cukup untuk membelai hati kalian dengan lembut. Tapi, biarkan aku selalu memberi kepada yang tak terbalas.

Keparat yang Menitip Kering

Penulis: Handri Regina Putri/EQEditor: Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQLayouter: Glori E.R.P Silaban/EQ Keparat mana yangmenitipkan kering pada rumputyang menjadikannya kuning di bawah terik indurasmi Keparat mana yangmengira kami tak tahuwisa kau campur dalam air pancurandebu bertuan mengganjal kerongkongan, pun derita menggenang Keparat mana yangmenyepuh malam dengan jelaga puja,memaksa padi tumbuh di atas amaralokalalu dikutuk menjadi ladang emas para penggawa Kami hanya disisakan sekamditendang ke pinggir jalanbagai sampah yang terlahir salah Keparat mana yangmengira kami akan tundukketika naskah-naskah kelam menjelma belati,ketika kewenangan disulam belenggu Kami akan menyalak menggonggong api,diiringi bisikan alam fana merah jambu Masih menganga bara di raga semestadan kami tunas gelap dari nyala yang dibenam,menghunus murka dari bara sunyiatas sabda palsu yang kau nobatkan sebagai “revisi suci.” Katakan pada ular yang menyusur akar,bisumu sungguh mengganggu!

Berangkat dari Caci Maki

Penulis: Shaffa Az Zahra/EQEditor: Handri Regina/EQLayouter: Arasty Lyla/EQ Berang dan dengki berangkat dari caci maki  yang terlontar dari jiwa awam akan ketidakberdayaan di bumi Bagaimana bisa kami tumbuh dari tangan bersimbah darah  yang memupuk tanah dengan kekejian palak Bunga mekar tak lebih dari sulur yang menjalar,  parasit bagi inang,  dan lawan bengis bagi benih yang merintis akar Babi mensyukuri lumpur,  sedang angsa sibuk bersolek di bawah tarian air mancur, mengamini koin yang dibuang demi nasib yang mujur Bela sungkawa kami ucap pada mereka, karena hidup tak berubah kecuali ada yang mengalah Beban akan luruh ketika napas tinggal separuh, memanggil malaikat untuk bergegas  karena kematian adalah eskapisme bagi mereka yang patuh Bumi semakin tua,  pun manusia.  Tuhan memang adil,  tetapi manusia acap angkuh merasa menjadi boneka takdir

Bayang-Bayang di Bawah Langit Utara

Penulis: Shinta Aritonang/ EQ Editor: Frida Lucy/EQ Layouter: Angger Robi M/EQ Di malam yang tenang, Nara, gadis dengan kacamata yang bertengger di hidung, duduk di dekat jendela kamarnya. Hujan gerimis mengetuk-ngetuk kaca, menciptakan irama lembut yang mengisi keheningan di ruangan. Suara lagu Settled mengalun dari perangkat audio kecil di meja belajarnya, melengkapi suasana yang penuh refleksi. Matanya terpaku pada layar laptop, menampilkan gambar-gambar bangunan tua yang anggun dan penuh cerita. Ia sedang menjelajahi kota di utara, sebuah tempat yang terasa asing namun sangat dekat di hatinya. “Suatu hari nanti,” gumamnya pelan, seolah mengajak semesta untuk mendengarkan harapannya. Kota itu, dengan menara-menara menjulang ke langit kelabu, seolah memanggilnya. Di sana, pengetahuan dan sejarah bertemu, ribuan orang datang mencari jawaban dari lembar-lembar buku berdebu. Setiap kali mendengar cerita tentang kota itu, ada getaran dalam dirinya—sebuah panggilan jiwa yang tidak bisa diabaikan. “Aku ingin berada di tempat di mana sejarah dan ilmu bertemu,” bisiknya lirih. Kata-kata itu mengalir dengan tenang, mencerminkan keinginan yang selama ini terpendam. Nara menyadari bahwa kota itu bukan sekadar tujuan, melainkan perjalanan untuk menemukan bagian dari dirinya yang belum pernah ia kenali. Setiap malam sebelum tidur, ia membayangkan dirinya berjalan di taman kota itu, duduk di bangku dengan sebuah buku di tangan. Dikelilingi oleh bangunan tua yang menjulang, ia merasakan hembusan angin musim gugur dan aroma tanah basah usai hujan. Dari kejauhan, suara percakapan tentang ilmu dan sejarah mengisi udara—seakan menjadi bagian dari narasi besar yang sedang berlangsung. Di tengah lamunannya, Nara menarik napas panjang, seolah berusaha mengisi rongga dadanya yang kosong dengan keberanian. Ia meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop, jemarinya gemetar saat membuka aplikasi WhatsApp. Dengan ragu, ia menggulir ke bawah, mencari nama yang sudah lama terkubur dalam daftar kontaknya—tersembunyi tetapi tak pernah benar-benar dilupakan. Akhirnya, ia menemukan nomor itu. Terpampang sebuah nama yang dulu selalu menjadi tempatnya berbagi tawa dan rahasia, tapi kini terasa begitu jauh, seperti bagian dari dunia yang hanya ada dalam ingatan.   “Hi, apa kabar?”  “Apakah kota itu memelukmu dengan erat?”  Pesan itu sederhana, namun sarat dengan kerinduan yang tak mampu diungkapkan dalam kata-kata. Sebelum pikirannya berubah, ia menekan tombol kirim. Pesan itu pun meluncur, menghilang dalam kehampaan digital. Hanya satu tanda centang yang muncul. Tak ada pertanda bahwa pesan itu diterima, apalagi dibaca. Hatinya terasa sesak, lara menyelimuti hatinya, seolah ada yang runtuh perlahan. Ia meletakkan ponselnya, mengembuskan napas panjang, seolah menyerahkan segalanya pada semesta. “Jika kota itu tak bisa membawaku kepadamu, maka biarlah doa yang melakukannya,” gumamnya lirih. Kerinduan ini tidak sederhana—bukan sekadar tentang seseorang, tapi juga tentang kepingan jiwa yang tersangkut di sana, di kota yang jauh di utara itu. Alunan lagu I Pray dari LANY mengalun, seakan semesta paham benar apa yang sedang dirasakannya. Musik itu seperti doa, menghantar rindunya yang membuncah, menari dalam sunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah merindu. Nara menatap keluar jendela, memperhatikan rintik hujan yang jatuh dari langit malam. Di balik gerimis itu, ia membayangkan orang itu, mungkin sedang berjalan di bawah lampu-lampu kota yang berpendar temaram, sama seperti yang ia impikan. Kenangan mereka berdua—yang selalu ia simpan rapat-rapat—terasa nyata, meski tak ada jaminan kapan akan kembali terulang. Namun, bersamaan dengan kerinduan itu, Nara juga merasakan sebuah keberanian baru yang muncul dari dalam dirinya. Ia mengerti bahwa ini bukan lagi tentang menunggu atau sekadar mengenang. Ia baru saja mengambil langkah pertama, keputusan yang mungkin belum mengubah apa pun di luar sana, tetapi di dalam dirinya, segalanya telah dimulai.  Sebuah perjalanan panjang, ke tempat jauh di utara, di bawah langit kelabu yang pernah ia lihat dalam mimpinya, kini menanti. Meski tak tahu apakah perjalanan ini akan mempertemukannya kembali dengan orang itu, ia percaya bahwa inilah jalan yang harus ditempuh.  Di bawah hujan malam itu, ia merasakan semangat baru mengalir dalam dirinya, mendorongnya untuk terus melangkah meski jalan di depan mungkin penuh liku. Nara tahu bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk menciptakan kisahnya sendiri—sebuah kisah tentang keberanian, penemuan diri, dan harapan yang tak pernah padam.

Harapan di Tengah Puing

Penulis: Shakira Maheswari/EQ Editor: Frida Lucy/EQ Layouter: Azzumaraa Akmalia/EQ Ashraf menyunggingkan bibirnya, sebuah senyum tipis yang manis kembali terlihat di wajahnya setelah sekian lama. Ia menyipitkan matanya, menangkap sosok perempuan yang mendekat, langkahnya tertatih membawa tiga lembar roti gandum dan sebotol air. “Syukurlah, Bu, hari ini kita makan,” tutur Ashraf dengan penuh rasa syukur dan mata berbinar. Melihat itu, ibunya tersenyum simpul. “Iya, Nak. Roti ini cukup untuk kalian bertiga. Ibu akan makan nanti,” balas si ibu lembut, terdengar begitu kosong dan menyedihkan. Ashraf tertegun, hatinya tersayat mendengar penuturan dari Ibunya. “Bu, tapi Ibu sudah tiga hari belum makan!” bantah Ashraf. Sang ibu tetap bersikeras, menyerahkan tiga lembar roti gandum yang ada untuk anak-anaknya. Mengetahui hal itu, Ashraf hanya bisa termenung, menyadari fakta bahwa kini segalanya telah berubah. Ia terduduk diam di bawah cahaya matahari sore yang menyinari dirinya dan ibunya, menampakkan garis-garis kerutan yang semakin terlihat jelas dan lingkaran hitam yang menggelap.  Gaza, 24 Oktober 2023 Fajar merekah, Ashraf terbangun di pelukan hangat rumahnya, membantu ibunya menyiapkan sarapan, dan bersiap menuju sekolah seperti biasa. Hari itu, ia mengira semua akan berjalan seperti biasa. Namun, perkiraan itu meruap saat suara ledakan besar terdengar di seluruh penjuru Gaza. Serangan bom datang bertubi-tubi bak hujan deras dari langit yang gelap, mengguncang bumi dan meluluhlantakkan segala sesuatu yang ada didepan mata, termasuk rumah Ashraf dan keluarganya. Dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, lebih dari 1.000 sukma melayang. Bayi-bayi yang baru saja menghirup udara pertama mereka, ibu-ibu yang memeluk anak-anaknya untuk kali terakhir, serta para ayah yang banting tulang untuk keluarganya, semuanya lenyap dalam jentikan jari. Saat itu, suasana terasa hening di tengah debu dan reruntuhan. Ashraf yang baru berusia 17 tahun, mendapati dirinya harus memerankan peran yang biasanya diemban oleh ayahnya —sosok pelindung dan tumpuan keluarganya selama ini telah pergi, tewas dalam dentuman yang memekakkan langit dua minggu yang lalu. Kini, Ashraf berdiri di tengah kehancuran, mengemban beban yang tak pernah ia bayangkan. Dengan napas terkapah-kapah, ia menggantikan peran ayahnya, mencoba menguatkan keluarga yang tersisa, meski di dalam hatinya ada lubang besar yang takkan pernah tertutup.  Ashraf duduk termangu, matanya kosong menatap hamparan puing-puing yang dulunya disebut rumah. Bajunya lusuh, dipenuhi noda tanah dan debu yang enggan terhapus. Di sudut batinnya, Ashraf gelisah, berjuang melawan kebisuan yang menyesakkan. Mereka berpindah dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain, mencoba menemukan naungan di dunia yang seolah menolak keberadaan mereka. Setiap langkah, setiap jejak kaki, terasa berat dan hampa, karena Ashraf tahu, tak ada tempat yang benar-benar aman saat ini.  Dalam kehampaan malam, semua mata pun terpejam. Senyap menyelimuti, tetapi jiwa mereka bergejolak bak badai di tengah samudra. Ribuan pikiran bergulat, saling sikut, menciptakan harmoni kekacauan dalam sunyi. Hati, sang panggung, dibanjiri oleh bayang-bayang masa depan yang tak menentu, bagai awan kelabu yang menghalangi rembulan. Jiwa dan raga mereka selalu waspada bak serdadu yang sedang berperang. Setiap malam, beribu pertanyaan menghantui pikiran mereka, mengikis kekuatan mereka seperti ombak yang menghantam karang.  Kini, puing-puing bangunan menjadi saksi bisu dari penderitaan yang tak tersampaikan. Pecahan dinding dan atap yang runtuh menciptakan pemandangan memilukan, mengingatkan pada rumah-rumah yang dulunya penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Di tengah reruntuhan, serpihan kehidupan sehari-hari—mainan anak-anak, buku-buku sekolah, dan perabotan rumah tangga hancur dalam waktu sekejap. Debu dan pecahan kaca yang berserakan membuat segalanya tampak abu-abu dan suram, seolah-olah masa depan pun turut terkubur di bawahnya. Puing-puing berhamburan, mencerminkan goresan luka dalam hati mereka yang masih bernapas, memikul beban kehilangan dan rasa takut yang tak kunjung berakhir.  Namun, di balik reruntuhan dan debu yang mengendap di udara, secercah harapan tetap menyala. Setiap hari adalah sebuah kesempatan untuk menginjakkan kaki di antara bayangan, menembus ketidakpastian dan ketakutan. Di tengah segala keterbatasan dan luka yang belum kering, ia terus mencari jalan. Di setiap serpihan puing, ada harapan untuk membangun kembali semua yang dia miliki. Dalam hati mereka yang terluka, ada keyakinan bahwa masa depan bisa diperbaiki, meskipun perlahan dan penuh tantangan. Harapan inilah yang terus menyala, menjadi penggerak bagi Ashraf dan banyak orang lainnya di Palestina, untuk terus bertahan dan bermimpi akan hari esok yang lebih baik.

Ziarah

Oleh: Najwa Ilma Arifah/EQ  Editor: Hilda Bhakti Fahrezi/EQ Layouter: Vidhyazputri Belva Aqila/EQ Bohong kalau aku bilang pemandangan yang kusaksikan selama kurang lebih dua jam ini tidak memanjakan mata, meskipun di sisi lain kepalaku juga sudah terasa pusing akibat goncangan-goncangan yang disebabkan oleh jeleknya jalan yang kami lalui. Yah, Ayah memang sudah memberitahuku sejak semalam. Namun tetap saja, jika bisa, aku lebih memilih untuk turun di tengah jalan ini dan duduk-duduk di pinggir sawah-sawah hijau yang baru ditanami itu dibandingkan tergoncang-goncang di dalam sini. Sebenarnya bukan hanya jalan jelek yang menjadi penyebabnya. Sepertinya satu keluarga kami sekarang rasanya sedang dikejar-kejar sesuatu. Entah sudah berapa mobil yang disalip oleh konvoi mobil keluarga kami. Aku ingin protes karena betapa mengerikannya pemandangan salip-menyalip ini yang tentu saja tidak akan disetujui olehnya, “kalau gak kita salip mereka, lima jam lagi baru sampai kita di dusun.” Itulah kalimat yang selalu jadi balasannya setiap aku atau adik perempuanku protes, berkebalikan dengan adik lelakiku yang terlihat bersemangat sekali setiap Ayahku mengaktifkan skill “pengemudi lintas provinsi” miliknya.  Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak ambil pusing dan mencoba untuk bersandar di bahu Ibu, mencoba tidur walau sulit. Tidurku seketika batal karena belum lima menit aku terlelap, Ayah sudah berseru, “ayo siap-siap, bentar lagi kita sampai!”  Aku berdecak dalam hati, ya bagus sih sebenarnya, cepat sampai cepat juga selesai. Memang harus kuakui jika sejak tadi Ayah dan keluargaku yang lain tadi tidak ngebut dan menyalip semua objek, entah itu bus, motor, mobil, gerobak siomay, remaja-remaja tanggung yang bonceng tiga, dan berbagai objek lainnya yang normal lewat di jalanan lintas kabupaten ini, yang sama ‘liar’nya kalau sudah ada di jalanan seperti ini, mungkin ucapan Ayah malah beneran kejadian.   Mobil-mobil kami mulai melambat, dan masuk ke jalan-jalan dusun yang lebih sempit, membuat Ayah ekstra hati-hati ketika memainkan setir kemudinya. Kami segera turun ketika akhirnya mobil berhenti di satu rumah panggung dengan cat kuning terang, berdiri tinggi tegak di antara rumah-rumah lainnya. Dibanding rumah panggung lain, rumah ini bisa kukatakan sedikit lebih besar dan lebih bagus dari rumah-rumah panggung di sekitarnya. Tepat di sebelah rumah panggung yang kami singgahi, terdapat gerbang masuk ke TPU. Sepertinya di sanalah tempat yang akan kami ziarahi nanti.  “Rumah siapa ini, Yah?” tanyaku. “Ini rumahnya Nenek Surti,” jawab Ayah pendek. “Siapa itu Nenek Surti?” lanjutku karena seingatku, tidak ada nenek, kakek, atau buyut-buyutku yang bernama Surti. “Beliau saudarinya kakek buyutmu.”  “Oh, kakek buyut punya saudara?” “Iya, sudah meninggal,” sambungnya. “Terus, ada yang menjaga rumah ini sekarang, Yah?”  “Ada, cucunya. Bisa dibilang sepupu jauh Ayah, juga Pamanmu.” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut meskipun masih banyak yang ingin aku tanyakan. Seperti kenapa baru kali ini kita pergi ke sini? Atau pertanyaan lain, apakah kita punya keluarga lain lagi yang belum pernah kita temui? Mungkin akan aku tanyakan nanti saja, atau mungkin nanti aku akan menemukan sendiri jawabannya. Kulepaskan sandal dan berjingkat-jingkat kunaiki tangga kayu yang cukup curam dengan perlahan, kemudian bergegas masuk ke dalam. Kusalami pria paruh baya di depanku itu setelah mengetahui kalau ia lah tuan rumahnya, sekaligus keluarganya yang lain dengan sopan. Kemudian tanpa ba-bi-bu aku bergegas duduk di karpet dan mengabsen satu-satu kue yang disajikan oleh tuan rumah. Aku, ibu, adikku, sepupuku, dan bibi-bibiku mulai melahap makanan-makanan yang disajikan. Kami makan sambil berbincang-bincang ringan, sementara rombongan laki-laki sepertinya belum ada yang menyentuh makanan, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Sayup-sayup aku mendengar Ayah dan Paman berbicara. Ayah mengatakan sesuatu kepadanya. “Ayah minggu kemarin bilang sesuatu kepada kami, karena itu hari ini kami memutuskan untuk segera mengunjungi kalian.” “Apa yang Paman katakan memangnya?” tanya sepupunya itu penasaran. “Ayah bilang kalau ia didatangi oleh bibinya di mimpi, memintanya untuk segera ajak sekeluarga untuk mengunjunginya.” “Nenek Surti?” “Kurasa bisa dibilang begitu, walaupun Ayah bilang ia tidak melihat wajahnya. Tapi, Nenek Surti dikubur di sini bukan?” “Tentu saja.” Kami sekeluarga akhirnya ramai mendatangi Tempat Pemakaman Umum (TPU). Tidak terlihat ada tanda-tanda kuburan Nenek Surti di sini. Pada sepetak lahan tersebut, kami hanya melihat tanah kosong yang dipenuhi rumput-rumput tinggi dan tanaman liar di antara kuburan-kuburan tua lainnya. Paman mengajak saudara-saudaranya untuk memangkas rumput-rumput yang menutupi permukaan. Kurang lebih lima belas menit mereka memangkas habis semuanya, dan benar saja, tidak ada tanda-tanda nisan ataupun kuburan lainnya. “Kuburannya benar-benar tidak ada…” Aku mendengar salah satu bibiku berbisik kepada Ayah. Walaupun begitu, tujuh bersaudara itu masih belum mau menerima kalau kuburannya tidak ada. Masalahnya, jika mereka ingin membuktikan kalau makam nenek mereka ada di sini, orang yang mereka bisa tanyai untuk sekarang hanyalah cucunya tersebut, dan sama seperti mereka, cucunya pun sebetulnya sama bingungnya dengan mereka. “Ayah,” Pamanku yang lain, kakak tertua di antara tujuh bersaudara menegur ayahnya. Sepertinya masih ada satu orang lagi yang bisa ditanyai, yaitu kakekku yang daya ingatnya sudah berkurang. Namun, Kakek tidak menyahut, menoleh pun tidak. Ia tidak bergeming dan masih memperhatikan tanah kosong itu. Dari raut wajahnya terlihat jika Kakek benar-benar terkejut, “bagaimana bisa…”  Tanpa aba-aba, Kakek berjalan cepat menuju kuburan lain, berjongkok dan membaca tulisan di nisan-nisan. Sontak para tujuh bersaudara tergopoh-gopoh menghampiri ayah mereka yang sudah sepuh itu, kecuali Paman. Kakak tertua dari tujuh bersaudara itu memilih untuk berbicara dengan Paman yang belum aku ketahui namanya sejak tadi. “Andi, apakah kau punya catatan atau semacamnya?”  Ia menyerahkan secarik kertas yang kelihatannya sudah cukup tua kepada Si Kakak Tertua. Dalam waktu singkat Paman mencermati isi kertas itu. “Sejak dulu nama TPU ini pernah berubah tidak?” “Seingatku tidak, Kak. Sejak dulu, TPU ini namanya tetap sama seperti dulu.” “Nenek Surti meninggal sebelum atau sesudah kau lahir?” “Sesudah. Waktu umurku sepuluh tahun aku ikut mensalatkan jenazahnya,” Paman Andi berkata dengan yakin. “Selama ini kau tidak pernah mengunjungi makam Nenek?” “Ng, itu… aku sebenarnya baru kembali lagi ke sini sepuluh tahun yang lalu.” Pamanku menghela nafas pelan. Ia memandangi saudara-saudaranya yang kini telah mengikuti jejak ayah mereka, membaca satu per satu nisan kuburan-kuburan lama di sana. “Lebih baik kita kembali dulu dan diskusikan ini lebih lanjut bersama Ayah. Apakah ada keluarga kita yang lain yang tahu atau pernah ikut melayat Nenek Surti sebelumnya?” “Keluarga ya? Sejujurnya, aku tidak yakin

WHEN JUSTIETE FALLS

Oleh: Najwah Ariella Puteri/EQ Editor: Rifaldi Pratama Siboro/EQ Layouter: Vini Wang/EQ   “Negara ini dipenuhi oleh batu-batu kali yang mengira dirinya berlian. Sungguh memuakkan rasanya mendengar pidato mereka yang tak jauh berbeda dengan kentut kuda.”     Di suatu negara bernama Farm Hills, kebebasan adalah suatu hal yang hampir tak mungkin dicapai. Di negeri ini, rakyat dipaksa bungkam dan buta pada setiap ketidakadilan yang terjadi. Semua ladang, anak, dan emas mereka diambil paksa, diperbudak, dan diperjualbelikan tanpa imbalan apa pun. Pemimpin-pemimpin yang dua puluh tahun lalu bersuara keras tentang ketidakadilan, sekarang tak terdengar lagi suara lantangnya. Hanya terdengar satu-dua paragraf bertele-tele yang pada intinya, “Kami tak peduli akan penderitaanmu”. Tampaknya, nyamannya kursi parlemen seakan menutup telinga dan mata mereka akan penderitaan rakyat. Maklum, gedung parlemen letaknya di tengah kota yang elite, jelas saja jeritan dan penderitaan rakyat tak sampai di telinga dan mata mereka. Dua puluh tahun yang lalu, kala rezim totaliter Henry jatuh di tangan seorang buruh pabrik pincang bernama Barbatos, seluruh penjuru negeri bersuka cita merayakan kebebasan negeri ini dari pemimpin yang zalim. Hal itu pun masih lekat di dalam ingatan John, seorang petani gandum di pinggiran kota yang juga merupakan salah satu massa demonstrasi pemakzulan Henry tujuh belas tahun yang lalu. Kejatuhan rezim totaliter Henry adalah awal dari masa depan yang cerah. Ia yang masih naif berpikir jika Farm Hills tanpa Henry adalah mukjizat Tuhan untuknya agar ia bisa meraih mimpinya bersekolah hukum dan menjadi pengacara. Belum lagi, kenaikan Barbatos yang berasal dari latar belakang rakyat biasa pun membuat ia semakin yakin jika masa depan negeri ini akan cerah. Sebab, bukankah Barbatos, yang pernah menjadi rakyat jelata, lebih memahami penderitaan rakyatnya dibandingkan Henry yang berasal dari keluarga kaya sejak kecil? Belum lagi, pidato Barbatos ketika dilantik menjadi presiden mengenai idealisme negeri yang ideal “Justiete” sangatlah ikonik dan lekat di ingatan semua orang. “Satu, kesejahteraan dan penjaminan hidup yang ideal bagi seluruh rakyat. Dua, kebebasan ekonomi, sosial dan politik bagi seluruh rakyat. Tiga, pengentasan kemiskinan dan kebodohan bagi seluruh rakyat. Empat, keadilan ekonomi, sosial dan politik bagi seluruh rakyat. Lima, kekuasaan tertinggi berada pada tangan rakyat dengan pembatasan kekuasaan pada pemimpin,” ucapnya bersamaan dengan ia yang selesai memindahkan gandum hasil panennya ke gudang. “Aku tak pernah menyangka semuanya akan sangat berbeda dari apa yang diriku dahulu bayangkan,” lanjutnya seraya memandangi bendera Farm Hills yang berkibar dengan bangga di atas gudang gandumnya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, John tidak akan menggantungkan harapannya pada Barbatos kala itu. Sebab, pengkhianatan Barbatos sang “Malaikat dari Tuhan” adalah kali pertamanya ia sadar bahwa tak peduli sebaik apa pun kelihatannya, manusia adalah makhluk yang haus akan kekuasaan. Barbatos, si pincang miskin yang dahulu merupakan pemimpin yang disegani, sekarang berbalik menjadi pemimpin yang ditakuti dan dicaci-maki di belakang. Ketakutannya akan kehilangan “kekuatan” membuat Barbatos menjadi pemimpin yang kejam dan diktator. Pada akhirnya, Barbatos yang sekarang tak jauh berbeda dengan Henry si pengecut.  “Apa kau sudah selesai?” John menoleh ke sumber suara, mengangguk, “Iya, mungkin lebih baik kita simpan sekarang saja sebelum mereka menemukan semuanya.” Ia lantas berjalan masuk ke gudang. Hasil panen gandumnya kali ini menghasilkan sekitar lima karung, tak terlalu banyak untuk ukuran ladangnya yang luas. Dua tahun belakangan ini memang hasil ladangnya tak pernah banyak, padahal ia sudah melakukan berbagai macam cara, tetapi tak ada yang berhasil. Hasil panennya justru semakin sedikit.  Belum lagi, karena adanya krisis pangan, pemerintah menjadi semakin gencar dalam mengambil paksa hasil ladang. Bahkan, ia saja harus sembunyi-sembunyi dalam melakukan panen. Sebab jika sampai ketahuan, bisa-bisa semua hasil panennya-lah yang diambil dan jika hasil panennya diambil semua, apa yang akan ia dan keluarganya makan nanti? “Kapan ya, kita bisa melakukan panen tanpa sembunyi-sembunyi seperti ini lagi?” keluh Frederick, adiknya yang juga ikut mengelola ladang gandum. John menggeleng pelan, “Tak tahu, ya mungkin sampai mereka berhenti mengambil paksa semua hasil panen kita?” ucapnya tak yakin. Frederick menaruh satu karung besar gandum di ruangan kecil yang berada di bawah tumpukan jerami. Lantas ia menutup ruangan itu kembali dengan sebuah papan tebal berwarna coklat tanah lalu menaruh kembali jerami-jerami itu di atasnya. Frederick menghela napas cukup panjang, netranya lalu menatap John dengan lelah. “Bukankah ini melelahkan dan menyedihkan? Maksudku, mengapa kita harus melindungi hasil panen kita sendiri dari kejaran orang lain? Seharusnya ini tak perlu terjadi jika saja si pincang Barbatos itu tak serakah,” ujar Frederick dengan raut wajah masam. Ia merasa jengkel dengan semua hal ini, sudah lelah memanen gandum seharian, sekarang ia juga harus menyimpan hasil panennya di tempat yang sulit dijangkau agar tak ketahuan. Merepotkan, pikirnya.  “Ya, mau bagaimana lagi? Kita pada akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, bukan? Lagi pula, mau Barbatos serakah atau tidak, nasib rakyat miskin seperti kita akan tetap sama. Naif sekali rasanya dulu aku pernah berharap pada si bajingan pincang itu,” ucap John lalu keduanya tertawa. Mereka kemudian keluar dari gudang dan duduk di sebuah kursi panjang di depan gudang. Frederick pun berinisiatif untuk membuatkan keduanya kopi hitam sebagai minuman pelepas penat setelah seharian memanen gandum. Ia lantas menyajikan secangkir kopi hitam kepada John. Panasnya uap kopi hitam itu menyatu dengan angin sepoi yang berlalu. “Kemarin, aku pergi ke balai kota, menghadiri pidato kampanye Melissa,” ungkap Frederick. “Hm? Lalu apa yang ia bicarakan di sana? Proyek pembangunan baru?” tanya John setelah menyeruput kopi hitamnya. Frederick menggeleng pelan, “Tidak, Melissa berbicara tentang perubahan, tentang bagaimana dia ingin mengubah idealisme Justiete kakaknya dengan sesuatu yang lebih baik,” kata Frederick, suaranya penuh keraguan. John hanya mengangguk, raut sikap skeptis tergambar jelas di wajahnya. “Mengubah Justiete,” gumamnya, “Bukankah tak berguna? Toh, Justiete saja sudah terlupakan.” Frederick terkekeh pelan, “Pada dasarnya, negara ini dipenuhi oleh batu-batu kali yang mengira dirinya berlian. Sungguh memuakkan rasanya mendengar pidato mereka yang tak jauh berbeda dengan kentut kuda.” Mendengar hal itu, sontak mereka berdua tertawa, “Ada-ada saja perumpamaan itu, Rick. Apa kau masih dendam dengan Wills?” goda John dengan senyum menyebalkannya.  Frederick berdecak kesal, “Diamlah! Dia harus bersyukur dirinya kuda, jika saja dia sapi, sudah pasti aku sembelih!” John hanya tertawa mendengar jawaban kesal dari Frederick. Setelah itu, tak ada percakapan lagi

Disha

Aku menghabiskan hari-hariku dengan memikirkan Disha. Sejak Disha pergi, aku merasa ada yang hilang dari hidupku.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin