WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Disha

Oleh: Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQ
Editor: Virginia Stella Monica/EQ
Ilustrasi oleh: Muhammad Sukron Mahfud/EQ

Aku meminum secangkir kopi sambil memandang kendaraan yang lalu lalang di depanku. Sama seperti hari lainnya, aku selalu menenangkan pikiranku di warung seberang sekolah sebelum harus kembali pulang ke rumah. Tidak ada yang menarik hari ini, kecuali seorang gadis berambut panjang yang sedari tadi duduk disebelahku. Gadis itu bernama Disha. Aku mengenalnya secara tidak sengaja ditempat ini. Sejak saat itu, aku selalu menghabiskan waktu di tempat ini bersama Disha. “Disha, aku antar pulang ya. Aku gapernah nganter kamu pulang.” Disha hanya mengangguk. Aku mengantar Disha pulang, perjalanan ke rumahnya cukup jauh. “Rav, aku turun disini aja,” Disha menunjuk sebuah gerbang perumahan. “Kenapa ga sampai di rumah?” tanyaku. “Jangan, aku gabisa pulang bareng cowok.” Aku menepikan motorku, lalu Disha turun dari motorku, “See you Ravy”. Disha melambai padaku lalu berjalan memasuki perumahan tersebut, setelah Disha benar benar hilang dari pandanganku, aku beranjak pulang.

Hari ini, aku pulang lebih cepat dari hari sebelumnya. Aku tidak singgah di tempat biasa aku bertemu Disha. Lagi dan lagi suara berisik menyambut kedatanganku di rumah dan aku hanya bisa menghela nafas. Aku mulai terbiasa dengan kejadian ini. Setiap hari aku harus melihat kedua orang tuaku bertengkar ditemani dengan piring terbang dan suara makian yang terdengar. Aku melangkahkan kaki dengan perlahan sambil berusaha menghindari pecahan piring yang berserakan. Rasanya tidak pernah ada kedamaian di rumah ini. Pintu kamarku dibuka lebar, ibu mengambil koper-kopernya yang diletakkan di kamarku sejak beberapa hari yang lalu lalu beranjak memasuki taksi yang sudah menunggunya di halaman rumah. 

Ayahku seorang pemabuk keras, sifatnya yang temperamen selalu menjadikanku dan ibuku sebagai korban dari amarahnya. Kelakuannya semakin parah ketika ibuku ketahuan berselingkuh dengan mantan pacarnya. Sekarang ibuku telah memilih untuk hidup bersama keluarga barunya, meninggalkan aku bersama ayahku. Ayahku masih berdiri di depan pintu menatap ibuku dengan wajah emosi, di tangannya masih ada ikat pinggang yang dia gunakan untuk memukul ibuku. Aku berlari keluar dari rumah, menghindari ayahku yang akan meluapkan emosinya. 

Aku mengambil motorku lalu menuju warung tempatku selalu bertemu Disha, dan benar saja, Disha ada disana, bersama boneka beruang cokelat yang selalu dia bawa setiap hari. Aku mendatanginya lalu duduk disebelahnya. “Tumben lama,” aku hanya tersenyum. “Maaf Sha, habis ada masalah.” “Orang tuamu lagi?” Aku hanya mengangguk. Aku menceritakan semua hal yang terjadi, dan Disha selalu menjadi pendengar yang baik, dia memberikanku saran dan selalu menguatkan aku untuk tetap bertahan hidup. Disha bak malaikat yang diberikan Tuhan untukku, dia menjadi tempatku pulang untuk melampiaskan semua masalahku. Apapun yang aku alami, Disha selalu menjadi support system buatku.

Seperti hari kemarin, aku kembali menikmati kendaraan yang lalu lalang. Aroma tanah setelah hujan menambah hangatnya suasana di sore hari. Ada yang berbeda hari ini, sejak awal kami bertemu, Disha hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Aku selalu bertanya ada apa dengan dia, namun dia hanya menggelengkan kepalanya seakan menunjukkan tidak terjadi apa apa. “Rav…” “Kenapa Sha?” aku menoleh. “Kalau aku gak ada, kamu harus tetap semangat ya.” “Maksud kamu?” Aku meletakkan hpku lalu memandanginya. “Gapapa, aku gak bisa lama juga, mungkin setelah ini kamu gabisa ketemu dengan aku lagi.” Aku terdiam sembari berusaha memahami maksud perkataannya. Entah mengapa rasanya sakit mendengar Disha mengatakan hal tersebut. Kepalaku perlahan pusing, aku menggebrak meja dan membuat orang di sekelilingku menoleh kepadaku, “Kamu mau ninggalin aku? Tinggalin aja Sha, sekalian aja semuanya pergi.” Disha menatapku dengan tatapan takut. Mata Disha mulai berkaca-kaca menahan tangis, dia berusaha menahan tanganku yang hendak pergi meninggalkan dia, namun aku menepis tangannya dengan kasar. “Aku pamit dulu, terima kasih buat semuanya,” pamitku sambil berjalan meninggalkan dia.

Setelah kejadian itu, ada yang berbeda keesokan harinya. Sudah 2 jam sejak pulang sekolah aku duduk di warung ini, tapi Disha tidak kunjung datang. Rasanya ada yang kurang dari hari-hari sebelumnya. Aku menunggu namun tidak ada tanda-tanda bahwa Disha akan muncul. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, aku segera beranjak pulang. Sejak hari itu aku tidak pernah melihat Disha lagi. Sehari, dua hari, hingga seminggu, Disha tak pernah kelihatan lagi. Aku benar benar frustasi, rasa menyesal menghantuiku. Seharusnya aku tidak meninggalkannya hari itu.

Aku menghabiskan hari-hariku dengan memikirkan Disha. Sejak Disha pergi, aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Aku mulai tidak semangat dalam melakukan setiap hal. David teman sebangkuku mulai menyadari perubahan sikapku. “Kalau ada sesuatu ceritalah Rav, kamu ini udah berapa hari gini mulu.” Aku masih terdiam tidak menanggapi. “Siapa tahu aku bisa bantu,” ulangnya. Aku terbangun dari posisi tidurku lalu menoleh ke arahnya. “Aku lagi kangen sama orang Vid.” “Anjir, alay banget,” David memotong pembicaraanku. “Tar dulu, aku belum kelar cerita.” “Yaudah lanjut dulu.” “Aku lagi dekat sama cewek, tiap hari aku ketemuan sama dia, cuma seminggu yang lalu aku marah sama dia, terus aku ninggalin dia sendirian, nah sejak saat itu aku udah gapernah ketemu dia.” “Loh kamu udah dekat berapa lama, kok aku gak pernah dengar beritanya?” “Udah lama, sekitar seminggu.”  “Anjir, itu baru, kamu gak coba ngechat dia?” “Engga hehe, aku ga tukaran nomor telepon atau sosial media sama sekali.” “Terus kamu kenalannya gimana?” “Ketemu gitu aja di warung seberang, tanpa janjian sama sekali.” “Wah sulit ini, terus kamu mau gimana sekarang?” “Aku mau ketemu dia.” “Lah gimana mau ketemu, kamu aja ga punya sosial media dia sama sekali.” Aku terdiam berpikir. “Eh, aku pernah nganterin dia pulang, tapi cuma sampai depan gerbang perumahan dia aja sih.” “Kamu mau kesana ga, aku temenin deh.” “Serius?” “Iya daripada kamu gini terus. Aku takutnya kamu stress, atau tiba tiba kemasukan, kan aku yang ribet.” “Yaudah, sekarang aja.” “Loh, kok sekarang.” “Kan ini mapel terakhir, bu Asri juga ga masuk kok, yang lain juga udah pada bolos.” “Ya udah kalau gitu.” Aku dan David berlari ke gerbang belakang sekolah lalu memanjatnya untuk pergi. Meskipun berisiko, ini pilihan terbaik daripada harus mengurus perizinan yang ribet untuk melewati gerbang sekolah. Untungnya aku memarkirkan motorku di parkiran samping, jadi aku tidak akan ketahuan sama sekali. “Bareng aja Vid, ambil helm kamu.” David berlari ke arah motornya mengambil helm lalu naik di motorku.

Aku merasa kebingungan saat tiba di gapura tempat aku menurunkan Disha, aku tidak mengetahui letak pasti rumahnya. Dengan perasaan nekat aku mulai mengendarai motorku memasuki gapura tersebut, dan mataku terarah kepada salah satu rumah bergaya eropa kuno di ujung jalan. Tampak seorang wanita tua berusia 50 tahun sedang menyapu di halaman rumahnya. “Permisi mbak.” Wanita tersebut menoleh ke arahku. “Iya mas ada yang bisa saya bantu?” “Mbak kenal Disha gak?, r Rumahnya dimana ya?” Dia terdiam menatapku dengan wajah pucat, sapu yang dia pegang terjatuh. Dia berlari memasuki rumah. “Ada apa sih?” tanya David. Aku hanya mengangkat bahuku sambil menggeleng. 

Tidak lama wanita itu keluar dengan seorang wanita lainnya yang sepertinya tampak lebih muda. “Permisi mas, ada apa?” tanya wanita yang baru keluar dari rumah. “Ini bu, saya mau nyari rumah Disha, mungkin ibu kenal.” Wanita itu hanya terdiam. “Kalau boleh tau ada apa dengan Disha?” tanyanya lagi. “Saya mencari Disha bu, sudah seminggu saya tidak bertemu dengan dia, sejak hari Kamis minggu lalu, saya sudah tidak pernah ketemu dia lagi.” Wajah wanita itu makin pucat, matanya berkaca kaca berusaha menahan air matanya yang keluar. Dia beranjak masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa sebuah bingkai foto. “Disha yang ini mas?” ibu itu bertanya sambil memperlihatkan foto tersebut. “Iya bu benar, disini ya rumah Disha? Aku boleh bicara sama Disha bu?” Bukannya menjawab pertanyaanku, wanita itu semakin menangis menjadi-jadi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi,  feelingku benar-benar tidak enak. “Disha anak ibu satu satunya. Dia sudah meninggal 3 bulan yang lalu karena kanker.” Aku tertegun.  “Tapi dia baru bertemu dengan saya bu minggu lalu.” “Disha memang anak yang baik hati, dia tidak pernah mau melihat orang kesepian.” Aku benar benar mematung, tidak bisa berkata apa apa lagi. “Minggu lalu Disha ulang tahun, mungkin ini cara Disha merayakan ulang tahunnya,” sambung wanita itu. “Doakan Disha ya nak. Kalau kangen Disha kamu datang saja ke  pemakaman di utara taman kota, ada kuburan dia disana.” “Kalau begitu aku pamit dulu ya bu, terima kasih”. Ibu itu hanya mengangguk. “Sekarang gimana Vid?” Aku bersandar ke motorku. “Ya gimana lagi, kamu aneh juga, emangnya kamu selama sama dia ga lihat kakinya kah? Siapa tahu gak napak di tanah.” Aku memukul lengan David. “Ah, sakit Rav.” David memegang lengannya. “Lebay lu, ke pemakaman taman kota yuk Vid,.” David mengangguk. Kami segera melaju kesana. Setibanya disana, aku berkeliling mencari kuburan Disha, dan mataku tertuju pada salah satu kuburan yang masih baru, banyak bunga bertaburan di atasnya, dan ada boneka beruang yang selalu Disha bawa. Di kuburan itu tertera nama dan foto Disha disana. Tak aku sadari, air mataku keluar dengan deras. “Udah Rav, Disha itu mau nemanin kamu kemarin supaya kamu gak kesepian terus. Sekarang kamu doakan dia supaya tenang.” Aku hanya mengangguk. Aku duduk disebelah makam Disha dan mulai berdoa.

Hari selanjutnya aku kembali duduk di warung tempat aku selalu bertemu Disha. Aku memandangi langit sore yang sangat indah, seindah wajah Disha. Tampaknya Disha sedang tersenyum di atas sana. Aku segera menghabiskan sebatang rokok yang menemaniku, lalu beranjak ke motor untuk pulang ke rumah, dan ya, dari kejauhan aku melihat bayangan dia, wajahnya yang cantik, senyumannya yang manis, tidak pernah berubah dari kemarin. Dia sangat cantik dengan gaun putih yang dia gunakan. Dia melambai ke arahku, aku membalas lambaian tangannya, lalu dia menghilang.

Pengunjung :
159

Solverwp- WordPress Theme and Plugin