BPPM Equilibrium

Pada Akhirnya, Bersorai Pernah Bertemu

Terinspirasi dari lagu Sorai oleh Nadin Amizah; Didedikasikan untuk temanku, Hasna.

Langit dan laut saling membantu, mencipta awan hujan pun turun.

Hujan tak pernah luput membuatku mengingat lagu ini. Mungkin karena kalimat pertama lagu ini digambarkan Nadin Amizah dengan begitu anggun. Rasanya bahkan bau hujan dan deru angin bisa ku sinambungkan tiap lagu ini bersenandung, walaupun saat itu langit sedang cerah merekah. Sudah tak terhitung berapa kali air mataku mengalir bersama alunan instrumen lagu ini, bersama dengan teriakan kesakitan yang diredam derasnya tangisan langit. 

Ketika dunia saling membantu, lihat cinta mana yang tak jadi satu?

Sayangnya dunia tidak saling membantu, setidaknya padaku. Terkotak-kotakkan oleh ras, agama, maupun kepercayaan masing-masing. Menyedihkan bagaimana pasangan hidupmu harus disempitkan dengan kriteria tertentu. Bahkan, seringkali yang bermasalah bukan pasangannya, tapi orang tua, keluarga, sampai tetangganya. Suatu hal yang seharusnya menjadi pilihan pribadi, merembet ke seluk beluk dan maki cerca. Lihatlah, dunia tidak saling membantu. Maka dari itu, banyak hati pun menjadi hati-hati.

Awan dan alam saling bersentuh, mencipta hangat kau pun tersenyum

Katanya, pelangi akan datang selepas hujan. Hangatnya mentari akan menembus segala kedinginan. Iya kan? Sepertinya banyak yang akan mengiyakan. Tetapi, mungkin aku akan lebih memilih untuk percaya pada perumpamaan “sedia payung sebelum hujan.” Oleh sebab itu, aku pun termasuk dalam salah satu hati yang berhati-hati. Untuk apa aku melakukan sesuatu yang akan menyakitiku di kemudian hari?

Ketika itu kulihat syahdu, lihat hati mana yang tak akan jatuh?

Namun apa daya, aku pun dengan bodohnya jatuh hati. Dengan dalam, sangat dalam. Hari-hari begitu menyenangkan bersamamu, walaupun aku tahu semua ini mungkin sia-sia dan fana. Jiwaku seakan bukan milikku lagi, ragaku pun sama. Jantungku berdetak keras terhadap seorang yang aku tahu tidak akan bisa bersamaku selamanya. 

Jam demi menit ku hitung, aku menghargai tinggi setiap detik bersamamu. Aku tahu waktu kita tidak lama, tetapi dengan manisnya kau bisa berkata, bahwa kamu mencintaiku sepenuhnya, bahwa kamu tidak akan melepaskan genggaman tangan kita. Bahwa kamu akan memperjuangkanku, memperjuangkan kita. Dan, aku percaya.

Kau memang manusia sedikit kata, bolehkah aku yang berbicara?

Sangat jarang kau membisu, terlebih mengapa saat malam itu? Aku berusaha memahamimu, kotak-kotak yang menghalangi kita mungkin membuatmu membatu. Namun, bolehkah aku menaruh percaya padamu? Pada kita yang katanya akan selalu kau perjuangkan tanpa ragu? Aku akan membersamaimu, memperjuangkanmu, sama halnya denganmu yang mempercayaiku. Kukecup mulut manismu sekali, meyakinkanmu. Sungguh, seharusnya aku membuka mata dan menyadari keraguanmu malam itu.

Kau memang manusia tak kasat rasa, biar aku yang mengemban cinta

Sakit sekali, cinta. Sudah kuberikan diriku seutuhnya padanya, nyatanya tak cukup juga. Semua akal dan logikaku sudah sirna, tergantikan oleh hati yang membara. Bara itulah yang berbalik melukaiku. Benar, rasamu tak kasat lagi. Saat aku sudah memberikan semuanya, saat aku sudah memperjuangkanmu sebegitu hebatnya, percikan cinta yang kau emban sirna. Kau berkata bahwa kau tidak bermaksud melukaiku, tapi kau melakukannya. Alibi yang kau katakan tak ada habisnya, membicarakan kejamnya dunia dan menyalahkannya. Kita berdua sudah mengerti sejak awal. Sayang, kau mengacuhkannya. Sesaat kau sadar, kau pergi sekenanya.  

“Saat kamu berani jatuh cinta, kamu harus berani jatuh saat dia tak lagi cinta.” Pernyataan itu benar adanya. Risiko yang kamu ambil, harus pula kamu tanggung apabila hasil yang kau inginkan tak berbalik. Ada saat aku merasa semuanya sia-sia karena aku membenci hasil akhirnya. Sakit, sakit, sakit sekali. Bak mimpi buruk, deru air mata tak luput membasahi pipiku. Berhari-hari lamanya, bahkan hingga bulan berganti. Hatiku menjerit menyalahkan kotak-kotak ini. Tak seharusnya aku mendapati kepiluan seperih ini. 

Kau dan aku saling membantu, membasuh hati yang pernah pilu

Namun pada akhirnya, aku memahami tak ada satu detik pun yang aku habiskan bersamamu adalah sia-sia. Pahit yang kutelan, tak berbanding jauh dengan manis yang kurasa juga. Jalan yang pernah kita ambil bersama mengemban banyak cerita, banyak pelajaran berharga. Bersama kita melangkah, bersama kita membasuh, bersama kita mengerti dan bersama kita mengasihi. Kau dan aku saling membantu, hingga kita menjadi diri kita masing-masing yang saat ini.

Mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu.

Terima kasih karena kau telah menorehkan warna dalam kanvas hidupku, menulis rangkaian kata dalam buku ceritaku, dan menemani sekian hari-hariku. 

Aku bersorai karena pernah bertemu denganmu.

Pengunjung :
143

Solverwp- WordPress Theme and Plugin