WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

UGM

Policy Brief: Langkah Konkret Mahasiswa Menuju Revitalisasi Koperasi

Penulis: Alvis Anjabie, Arwa Izdihar/EQEditor: Frida LucyLayouter: Glori Silaban/EQ 19 November 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (BEM FEB UGM) mengadakan audiensi policy brief ke DPRD Yogyakarta yang bertujuan untuk memberikan aspirasi saran kebijakan. Regulasi  ini didasarkan pada kajian yang telah dilakukan oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UGM. Policy brief ini memiliki tema “Kontinuitas Sokoguru Perekonomian: Strategi Regenerasi Koperasi dalam Keajegan Ekonomi Daerah Yogyakarta”. Acara ini melibatkan sejumlah pihak, seperti Ketua Komisi B DPRD Yogyakarta, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes., serta Kepala Dinas Koperasi, Agus Mulyono, S.P., M.T., dan Biro Perekonomian.  Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua BEM FEB UGM yang kemudian  dilanjutkan  oleh Ketua Komisi B DPRD Yogyakarta. Dalam sambutannya, Ketua BEM FEB UGM, Syarief Kemalsyah Hariandja, menyampaikan bahwa meskipun mengangkat topik yang berbeda setiap tahun, semangat yang digaungkan tetaplah sama. Ia juga menekankan  bahwa penyusunan policy brief merupakan bentuk tanggung jawab mahasiswa dalam berkontribusi bagi pengembangan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim policy brief  BEM FEB UGM yang terdiri dari Kamela, Diana, Faiz, Tezar, dan Indra memaparkan gambaran awal koperasi di Yogyakarta tengah menghadapi tantangan karena tren jumlah anggota dan koperasi mengalami peningkatan, tetapi proporsi koperasi yang aktif justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kuantitas tidak diiringi dengan perbaikan kualitas. Padahal, koperasi dalam urgensinya menawarkan semangat kolektif dalam mengelola ekonomi bersama dan juga merupakan amanat dari para founding fathers Indonesia. Jika ditilik lebih jauh, data dari International Cooperative Alliance (ICA) tahun 2021 menunjukkan bahwa partisipasi anak muda di Indonesia terlampau rendah, yakni hanya 40%. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menyebutkan bahwa jumlah anak muda berusia 16–29 tahun mencapai sekitar 66 juta orang. Rendahnya tingkat partisipasi generasi muda dalam koperasi, terutama di Yogyakarta, menuntut upaya peningkatan melalui kebijakan strategis yang terarah. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa tingginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Yogyakarta unggul di angka 81,62. Angka ini menunjukkan indikasi kuat adanya potensi pemuda yang menawarkan inovasi dan semangat. Namun, terdapat permasalahan krusial, yaitu kurangnya gaya kepemimpinan transaksional menjadikan generasi muda gagal termotivasi dan inefisiensi dalam bekerja. Pemerintah kemudian berupaya menaikkan angkanya dengan beberapa media seperti, mengadakan pameran produk koperasi, koperasi goes to school, dan adanya duta koperasi. Guna memastikan dilema yang terjadi pada perspektif anak muda, tim policy brief melakukan kajian pendalaman melalui survei terhadap 200 responden dengan melibatkan variabel yang telah lolos pengujian diagnostik, yakni kesadaran/pemahaman, persepsi, manfaat, dan kesesuaian nilai. Hasil survei menunjukkan bahwa tiga variabel terakhir berpengaruh signifikan terhadap intensi bergabung dengan koperasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa meskipun anak muda memiliki pemahaman yang baik dan nilai yang selaras dengan koperasi, persepsi serta manfaat ekonomi yang ditawarkan belum memenuhi ekspektasi mereka. Faktanya, kondisi di lapangan saat ini menunjukkan memudarnya nilai gotong royong, meningkatnya individualisme, dan menurunnya interaksi langsung. Menurut tim policy brief, terdapat dua kemungkinan mengapa ekspektasi manfaat ekonomi koperasi rendah. Pertama, citra koperasi yang dianggap usang, konvensional, dan berskala kecil. Kedua, manajemen yang buruk, kurangnya pelatihan, dan sulitnya akses pendanaan. Pada akhirnya, persepsi koperasi dianggap tidak selaras dengan model bisnis modern karena lambatnya adopsi teknologi, termasuk pemasaran media sosial yang membuat koperasi terlihat kurang inovatif dan dinamis. Pada tahap berikutnya, tim policy brief memberikan solusi dan rekomendasi yang  relevan. Solusi ini disusun berdasarkan kerangka Diffusion of Innovation oleh Rogers (2003) yang menjelaskan bagaimana individu secara bertahap memutuskan untuk menerima (adoption) atau menolak (rejection) koperasi.  Adapun solusi dan rekomendasi yang ditawarkan mencakup beberapa hal. Pertama, rebranding dan repositioning melalui edukasi audio-visual dibantu influencer lokal dan talkshow interaktif yang melibatkan anak muda. Kedua, pengembangan program podcast yang menargetkan anak muda. Ketiga, pendampingan digitalisasi sehingga memunculkan urgensi pengaplikasian Indeks Digital Ing Koperasi (IDIK). Terakhir, pemberdayaan startup coop atau koperasi multi pihak.  Menurut tim policy brief, semua itu hanya dapat terlaksana jika semua pihak dapat bekerja sama secara top-down. Pihak yang dilibatkan dimulai dari atas, yakni pemerintah atau dalam hal ini, Dinas Koperasi Yogyakarta sebagai inisiator pemantik utama. Kemudian dilengkapi dengan peran masyarakat dari pihak akademisi, praktisi, komunitas pemuda, dan media sosial.  Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan dan apresiasi pun mulai dilontarkan oleh para anggota DPRD. Salah satunya mengenai kesanggupan BEM FEB UGM menjadi agen koperasi yang kemudian disanggupi oleh peserta. Lebih lanjut, tim policy brief juga mengatakan mereka bersedia untuk terlibat dalam merealisasikan rekomendasi yang telah dipaparkan. “Supaya acara ini tidak hanya menjadi omon-omon saja,” tutur Pak Danang selaku anggota DPRD Komisi B. Ia mengungkapkan bahwa ia tak ingin saran dan rekomendasi yang telah diberikan hanya berhenti sebagai seremoni.  Melalui audiensi ini, harapan generasi muda pun tumbuh dan membara. “Semoga apa yang sudah dipaparkan bisa terealisasi dengan baik dan juga semoga dari pihak DPRD DIY bisa memberikan dukungan yang memadai supaya dalam merealisasikan solusi yang diberikan dapat lebih maksimal,” ujar Lia, salah satu peserta audiensi policy brief.  Optimisme yang disuarakan tersebut menjadi pengingat bahwa kajian ini tidak boleh berhenti di atas meja diskusi semata. Semangat untuk bergerak dari sekedar wacana menuju aksi nyata inilah yang menjadi benang merah dari keseluruhan rangkaian acara. Dengan demikian, keterlibatan lintas generasi ini diharapkan mampu mengembalikan marwah koperasi sebagai solusi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Hal ini menjadi langkah nyata untuk mewujudkan harapan Bapak Koperasi Indonesia, Moh. Hatta, dan amanat Undang-Undang Dasar 1945, yakni menciptakan Sokoguru perekonomian yang tangguh, modern, dan berlandaskan asas kekeluargaan demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Weton: Warisan Budaya atau Sekadar Mitos Belaka?

Penulis: Shaffa Az Zahra, Arwa Izdihar Ahmad/EQEditor: Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQLayouter: Arasty Lyla Ramadhani, Vini Wang/EQ Masyarakat Jawa telah lama mengenal pepatah angon mangsa, secara harfiah berarti ‘menggembala musim’, yang mengajarkan pentingnya menentukan waktu yang baik sebelum bertindak. Pemahaman akan pepatah ini melahirkan sebuah budaya perhitungan waktu yang disebut weton. Kini, terpaan anggapan bahwa weton tidak memiliki dasar sains yang kuat membuat budaya ini kian terpinggirkan dalam peradaban. Dalam artikel ini, mari kembali berkenalan dengan weton dan menghidupkannya kembali sebagai persembahan nguri-uri kabudayan.  Jejak Sejarah dan Konsep Dasar Weton Sistem weton lahir dari perpaduan kalender Jawa kuno yang dipengaruhi budaya Hindu, Islam, dan lokal. Kalender Jawa sendiri memperkenalkan dua siklus waktu: siklus mingguan yang dibagi menjadi 7 hari dan siklus pasaran yang berjumlah 5 hari.  Pasaran terdiri atas hari-hari yang dinamakan Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. weton dipahami sebagai hasil dari penggabungan hari kelahiran seseorang dengan salah satu pasaran tersebut.  Jika belahan bumi barat mengenal zodiak, weton menjadi kembaran yang tak identik. Bagaimana bisa? Karena keduanya merupakan pengelompokkan yang berangkat dari ramalan tanggal lahir seseorang. Seperti zodiak, weton juga digunakan untuk berbagai perhitungan, seperti penentuan hari baik, peramalan karakter, nasib, bahkan kompatibilitas pernikahan. Perhitungan weton dimulai dengan mengkombinasikan nilai neptu hari dan Pasaran. Neptu adalah angka yang mewakili suatu hari dalam siklus mingguan dan pasaran. Hari (dina) dalam kalender Jawa, mengikuti kalender Masehi, memiliki neptu: Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9), Minggu (5). Sedangkan pasaran memiliki neptu: Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8). Maka, sebagai gambaran, orang dengan weton Rabu Kliwon akan memiliki neptu 15. Angka tersebut nantinya dapat digunakan untuk peramalan sesuai kitab primbon Jawa.  Artikel Agustina (2025) memberikan contoh hasil peramalan weton. Misalnya, menurut primbon Jawa, orang dengan weton Rabu Kliwon tadi memiliki karakter lakuning srengenge, memiliki sifat matahari yang terang, berwibawa, dan mencerahkan. Namun, weton tersebut juga menggambarkan lebu katiyup angin, yaitu hidup yang serba kekurangan, jauh dari keberuntungan, serta sulit berkembang dalam pekerjaan dan usahanya. Menurut Dr. Iva Ariani, pakar filsafat Jawa, dalam UGM Podcast (2022), hasil weton tidak bisa dimaknai sebagai nasib mutlak. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang dianggap memiliki weton yang kurang baik, orang tersebut dapat menjalankan laku, berbagai bentuk tirakat yang berfungsi menyucikan batin dan melatih pengendalian diri. Bentuk laku ini seperti poso (berpuasa untuk menahan hawa nafsu) dan topobroto (menarik diri dari hiruk pikuk duniawi untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan).  Lebih jauh, Dr. Iva juga menyinggung pandangan kosmologis Jawa tentang sedulur papat limo pancer. Istilah ini bermakna bahwa ketika dilahirkan, kita memiliki 4 saudara yang mengelilingi kita sebagai pancer layaknya arah mata angin, yaitu kakang kawah (ketuban), adi ari-ari (plasenta), darah, dan tali pusar. “Dalam kepercayaan Jawa, hidup kita dikelilingi oleh hal-hal yang bisa menjaga kehidupan kita, kalau kita berbuat baik. Kalau kita melakukan laku, maka itu akan mendekatkan sedulur papat lima pancer dan menjaga langkah kita ke depan,” tegas Dr. Iva. Hal ini menegaskan bahwa weton menjembatani mikrokosmos (diri) dan makrokosmos (alam semesta), mengingatkan bahwa harmoni dapat tercapai ketika manusia hidup seirama dengan alam dan kesadarannya sendiri. Pandangan Terhadap Weton di Era Modern Persepsi masyarakat mengenai weton mulai bervariasi seiring waktu, khususnya bagi generasi muda. Hal ini selaras dengan penelitian Azmi dan Cahyono (2025) bahwa terdapat dua pandangan dari generasi muda terhadap weton: percaya dan tidak percaya. Kepercayaan terhadap weton pada generasi muda sebagian besar dipengaruhi  oleh  lingkungan  keluarga. Dalam  masyarakat  Jawa,  tradisi weton dianggap  menjadi bagian  dari  adat  istiadat  yang  penting,  terutama  dalam  proses menentukan kecocokan pasangan sebelum pernikahan.Dalam penelitian disebutkan,  anak  muda  yang  tumbuh  di  keluarga  yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa cenderung percaya dan mengikuti perhitungan weton. Mereka tak hanya menganggap weton sekadar perhitungan tanggal lahir, tetapi juga sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. Namun, di lain sisi, banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan relevansi weton dalam konteks kehidupan modern. Mereka cenderung berpikir rasional dan lebih mengedepankan logika dalam  mengambil  keputusan.  Hal ini sejalan dengan pandangan Aisy, seorang mahasiswa dari Yogyakarta, yang menilai bahwa membaca sifat seseorang berdasarkan weton terasa kurang masuk akal. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang jauh lebih kompleks dibandingkan alam, sehingga ia beranggapan bahwa karakter seseorang tidak mungkin dapat dianalisis dengan weton saja. Pergeseran pola pikir tersebut justru membuka ruang dialog baru agar  weton dapat dipahami secara lebih proporsional dalam kehidupan masa kini. Melihat dinamika yang berkembang, penting untuk melihat kembali akar dari weton agar pemahaman yang berkembang tidak sekadar berbasis kepercayaan, tetapi juga pada prinsip-prinsip yang lebih rasional. Di sinilah relevansi konsep dasarnya menjadi menarik untuk dibahas lebih jauh. Weton sendiri didasari oleh titen, yang jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah  ‘mengamati’. Ilmu titen ini dilakukan oleh para leluhur dengan cara mengamati perilaku alam. Hasil pengamatan para leluhur inilah yang kemudian digunakan sebagai patokan dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Menurut Dr. Iva, generasi muda harus memahami konsep weton dengan benar. Bentuk pemahaman itu menegaskan bahwa penerapan weton  tetap harus dibarengi dengan logika berpikir. Kedudukan weton dalam dunia modern tak lagi menjadi tolak ukur secara penuh, melainkan digunakan sebagai bentuk antisipasi dalam kehidupan sehari-hari.  Melihat perkembangan cara pandang generasi muda terhadap weton serta pentingnya menyeimbangkan tradisi dengan logika modern, maka sudah saatnya kita mulai bijak dalam memposisikan warisan budaya ini. Jangan hanya menelan mentah-mentah, tetapi kita juga perlu untuk memahami maknanya dan menggunakan seperlunya sebagai bentuk kehati-hatian dalam hidup. Mari jadikan weton sebagai pengetahuan kebudayaan, bukan sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, agar kita tetap dapat menghargai budaya tanpa mengabaikan rasionalitas yang dibutuhkan di era saat ini. Referensi: Agustina, R. T. (2025). Weton Lakuning Bumi Weton apa? Ketahui makna karakter watak weton dalam Primbon Jawa. Portal Pati. https://portalpati.pikiran-rakyat.com/pati/pr-1939613966/weton-lakuning-bumi-weton-apa-ketahui-makna-karakter-watak-weton-dalam-primbon-jawa?page=2 Azmi, F., & Cahyono, H. B. (2025). Persepsi generasi muda tentang weton dalam pernikahan adat Jawa di era modern Desa Semboro Kabupaten Jember. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(5), 31–40. https://ejournal.cahayailmubangsa.institute/index.php/triwikrama/article/view/6382 Universitas Gadjah Mada. (2022). Antara Zodiac, Weton dan Sains #UGMPodcast [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=QqDDrspS3RE

BISSA! Program Pengelolaan Sampah Mandiri untuk Dusun Binaan oleh DPkM UGM

Penulis : Gita Laksita Jatismara, Gita Laksita Prabasmara/EQEditor: Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQLayouter: Gilang Wirabumi/EQ Profil BISSA! dan Apresiasi Warga Dusun Binaan BISSA! merupakan singkatan dari Bersih, Inovatif, Sejahtera, Sehat, Asri yang bertujuan untuk meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Di bawah Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, program ini telah berjalan sejak 2024 yang memilih wilayah Sleman sebagai lokasi eksekusi. Saat ini, BISSA! fokus terhadap RT 10 Dusun Sendowo yang merupakan kawasan bantaran Sungai Code tepatnya di Sinduadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Kawasan tersebut memiliki kondisi geografis yang cukup padat dan terpencil di bantaran sungai. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah kurang memadai. Oleh karena itu, BISSA! hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. “Mengubah perilaku masyarakat agar sadar dan dapat mengelola sampah dengan baik kan cukup sulit. Ini menjadi tantangan sekaligus semangat tersendiri untuk kami agar nantinya dapat memperluas ke tingkat Kabupaten Sleman,” ujar Qisha Quarina, ketua pelaksana program BISSA! dikutip dari tulisan Bardono (2024). BISSA! mendapatkan apresiasi yang positif dari warga dusun binaan. “Menurut saya program yang dilakukan oleh BISSA! sangat bagus untuk lingkungan wilayah Sendowo khususnya di RT kami yaitu RT.10,” ujar Dewi Ratna, salah satu warga dusun binaan. Beliau menjelaskan bahwa kehadiran program BISSA! turut mengajarkan makna cinta lingkungan dan membuatnya menjadi bersih terutama yang berkaitan dengan sampah. Selain itu, warga lain turut merasa demikian, Juminten merasa senang dengan kehadiran program ini. “Manfaatnya banyak seperti mengurangi sampah yang dibakar dan juga menambah penghasilan,” imbuhnya. Kegiatan Yang Sudah dan Sedang Dilakukan BISSA! telah melaksanakan berbagai macam program untuk membina dan memberdayakan dusun binaan Sendowo RT 10. Program tersebut antara lain pembangunan bak sampah dan sosialisasi prosedur penggunaannya, evaluasi dan monitoring berkala, serta program bank sampah dan sosialisasinya. Selain itu, sebagai upaya lanjutan dalam membina dusun, BISSA! melakoni studi banding ke dusun percontohan biopori. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan tersebut sebagai bukti komitmen BISSA! dalam mengusung semangat pengelolaan sampah. Bak sampah yang dibangun BISSA! (© BISSA!) Pertama, pembangunan bak sampah telah dilakukan di bantaran Sungai Code. Tujuan pembangunan tersebut adalah memfasilitasi lahan pembakaran sampah residu yang awalnya menggunakan lahan warga. “Bak sampah juga berfungsi sebagai storage (penyimpanan sementara) bagi warga agar sampah-sampahnya tidak menumpuk di rumah,” imbuh Adinda Dewi Ariestusti, salah satu asisten program BISSA!. Tidak hanya membangun bak sampah, BISSA! turut memberikan sosialisasi prosedur penggunaannya. Informasi yang disampaikan mencakup penjelasan terkait perilaku yang dianjurkan maupun perlu dihindari dalam proses pembuangan sampah. Dalam sosialisasi ini, juga dilakukan demonstrasi langsung mengenai cara memilah sampah anorganik sesuai kategorinya sehingga warga dapat memperoleh pemahaman mengenai tahapan yang tepat untuk memperlakukan sampah sebelum masuk ke bak. Melalui pendekatan ini, kegiatan tidak hanya menyampaikan pemahaman konseptual, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan praktis yang dapat mereka terapkan secara mandiri dalam pengelolaan sampah sehari-hari.  Tinjauan lapangan berkala dalam rangka monitoring jalannya program (© BISSA!) Selain dibangun fasilitas dan sosialisasinya, dilakukan evaluasi dan monitoring berkala dalam pelaksanaan program. Progres program yang berjalan selalu dikoordinasikan melalui narahubung dusun. Selain itu, monitoring dilakukan dengan tinjauan langsung melalui turun ke lapangan dan evaluasi berkala. Sebagai contoh, melihat pemanfaatan bak sampah BISSA! yang kurang optimal oleh warga setempat, langsung ditindaklanjuti oleh tim dengan penguatan sosialisasi ulang. Hasilnya, terlihat perubahan positif yaitu warga mulai mengumpulkan botol kaca dan menyimpannya ke bak sampah BISSA!. “Ini (bak sampah) sudah diisi botol-botol kaca dan ada juga pecahannya,” jelas Dewi Ratna. Saat ini, program BISSA! sedang fokus melaksanakan program baru berupa pengelolaan bank sampah di Dusun Sendowo yang bertujuan dalam pengelolaan sampah anorganik. Sebagai langkah awal, pada tanggal 9 dan 10 November 2025, telah dilaksanakan sosialisasi berbagai jenis sampah anorganik yang masuk kategori sampah diterima. Warga akan mendapat buku tabungan yang selanjutkan dicairkan menjadi uang sebagai penghasilan tambahan bagi warga. “Program ini diharapkan dapat mengatasi persoalan tumpukan sampah anorganik sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi warga,” jelas Adinda Dewi Ariestuti. Tim BISSA! mendapat pelatihan membuat biopori galon bertumpuk (© BISSA!) Dalam rangka menunjang pembinaan dan pemberdayaan masyarakat mengenai pengelolaan sampah, BISSA! melakukan studi banding ke dusun percontohan biopori, Dusun Mangkuyudan RW 05. Melalui kegiatan ini, BISSA! mendapatkan ilmu komprehensif mengenai biopori, mencakup berbagai macam jenis, bahan, cara pembuatan, dan pemanfaatan biopori melalui pemaparan materi dan demonstrasi langsung. Selanjutnya, studi banding difokuskan juga untuk praktek langsung membuat biopori galon bertumpuk. Selain itu, BISSA! diajak untuk berkeliling ke dusun percontohan, melihat hasil dan pemanfaatan nyata dari berbagai jenis biopori. Hal inilah yang menjadi basis pengetahuan untuk nantinya diimplementasikan untuk program baru terkait biopori di dusun binaan BISSA!, Sendowo RT 10. Pelaksana BISSA! berharap besar mengenai keberhasilan seluruh kegiatan di dusun binaan. “Semoga seluruh warga, pemuda, pengurus RT 10 Dusun Sendowo bisa tetap kompak dan selalu bisa diajak bekerja sama dalam program-program berikutnya, semakin sadar akan keberlanjutan lingkungan, bisa mengelola sampah secara mandiri tanpa perlu membakar sampah,” harap Adinda Dewi Ariestuti. Kehadiran BISSA! menjadi langkah fundamental yang nyata dalam memulai pengelolaan sampah dari ruang lingkup unit terkecil, berbasis Rukun Tetangga (RT). BISSA! mengusung pengelolaan sampah secara mandiri melalui berbagai macam program yang diharapkan dapat mendorong sistem masyarakat, khususnya di dusun binaan yaitu Sendowo RT 10, yang berbudaya dalam mengelola sampah secara tepat, mandiri, dan berkelanjutan.  Daftar Pustaka Setiyo Bardono. (2024, November). FEB UGM Inisiasi Program Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Bantaran Kali Code – Technology Indonesia. Technology Indonesia. https://technologyindonesia.id/teknologi-a-z/kesehatan-masyarakat/feb-ugm-inisiasi-program-pengelolaan-sampah-berkelanjutan-di-bantaran-kali-code/

UGM dan Parkir: PR Lama yang… Kapan Selesai??

Penulis: Kalyca Indira Theta & Johan Vylvius Rajagukguk/EQEditor: Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQLayouter: Arasty Lyla Ramadhani/EQ “Bukan nambah parkirannya, malah jalur keluarnya dijadiin kayak tes SIM,” ujar seorang mahasiswa yang membawa motor ke kampus. Memasuki tahun ajaran baru, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali dipadati oleh kehadiran mahasiswa baru. Bersamaan dengan itu, volume kendaraan yang keluar masuk kawasan kampus pun semakin meningkat. Peningkatan kepadatan ini terlihat lebih jelas saat memasuki waktu sibuk, yakni di jam awal perkuliahan, sekitar pukul 07.00–10.00 WIB, ketika mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan secara bersamaan datang menuju area kampus. Mayoritas pengguna jalan adalah mahasiswa yang membawa kendaraan untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Dengan situasi seperti ini, kebutuhan akan fasilitas pendukung, khususnya area parkir, menjadi semakin mendesak. Parkir bukan sekedar tempat menitipkan kendaraan, tetapi juga sarana penting untuk mendukung kelancaran aktivitas akademik di kampus. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa persoalan parkir di UGM masih menjadi masalah klasik yang tak kunjung terselesaikan? Perubahan Skema Parkir: Lebih Tertib atau Lebih Rumit? Permasalahan parkir di UGM telah menjadi momok lama yang tak kunjung selesai. Alih-alih menambah lahan parkir, kini kampus justru menerapkan kebijakan baru yang menimbulkan tanda tanya. Dengan dalih demi mengurangi volume kendaraan di dalam kampus, sekarang kendaraan yang parkir diarahkan langsung keluar ke jalan raya. Aturan ini merupakan keputusan langsung dari Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, dengan PK5L sebagai petugas pengelola. Kebijakan baru tersebut difokuskan pada tiitk-titik parkir yang krusial, yakni kantong parkir Perpustakaan Pusat (Perpusat), Pusat Jajanan Lembah (Pujale), dan Masjid Kampus (Maskam).  Di Parkiran Perpustakaan UGM, kebijakan ini mulai diterapkan pada Agustus 2025 dengan perubahan jalur masuk dan keluar yang langsung mengarahkan kendaraan menuju Jalan Persatuan. Sementara itu, di Pujale dan Maskam, kebijakan baru diterapkan lebih awal, yaitu sejak Juli 2025, dengan perubahan arus menuju Lembah. Kedua aturan ini mengharuskan pengendara langsung berhadapan dengan padatnya arus lalu lintas jalan utama. Terlebih lagi, apabila sudah keluar dari kantong parkir Pujale, kendaraan harus berputar lebih jauh untuk masuk kembali, sehingga menambah waktu tempuh pengguna. Selain pengaturan arus baru, sistem registrasi kendaraan kini diwajibkan melalui aplikasi Simaster Vnext, di mana setiap kendaraan harus terdaftar dan melewati proses pemindaian. Jawaban yang Menjadi Masalah Baru Sebelumnya, mahasiswa kerap harus berkeliling mencari lahan parkir kosong. Kini, mereka justru dihadapkan pada prosedur yang lebih rumit. Sayangnya, di tengah lonjakan jumlah mahasiswa dan aktivitas kampus yang dinamis, penambahan fasilitas parkir belum menjadi prioritas utama sehingga permasalahan ini terus berulang dari waktu ke waktu. Situasi tersebut juga semakin parah pada momen wisuda, ketika banyaknya tamu menjadikan area sekitar GSP sebagai lahan parkir dadakan. Hal itu mengakibatkan pengalihan jalan yang akhirnya menimbulkan kemacetan.  “Karena kebijakan ini baru, kemungkinan jadi (menghasilkan) lebih banyak kemacetan dan ketidakrapian dalam pengaturan kendaraan. Karena pakirannya sudah semakin kecil sekarang,” ucap Pak Ednan, petugas PK5L kantong parkir Perpusat. Beliau menilai kebijakan baru yang diterapkan di parkiran Perpusat saat ini kurang baik. Pak Ednan menyatakan bahwa ia kurang setuju dengan aturan baru tersebut karena khawatir terhadap keamanan pengguna parkir. Menurutnya, mahasiswa yang sudah lelah setelah seharian berkuliah berisiko kurang konsentrasi ketika keluar ke jalan raya sehingga ditakutkan rawan terjadi kecelakaan.  Sejumlah mahasiswa juga mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap sistem registrasi kendaraan di aplikasi Simaster Vnext. “Enggak mau dan enggak setuju. Karena scan itu menghambat mobilisasi dan bisa bikin macet,” ujar Valerie, mahasiswa UGM angkatan 2024. Menurut mahasiswa, mekanisme tersebut dianggap berbahaya karena pengguna harus mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi terlebih dahulu. Tentunya juga, situasi akan lebih merepotkan apabila koneksi internet pada ponsel tidak stabil. Lebih jauh lagi, banyak pihak yang juga menilai penerapan kebijakan ini terlalu terburu-buru. “Dari rambu-rambu juga belum lengkap. Kalau misalnya sistemnya sudah siap, saya, sih, setuju. Soalnya sekarang banyak orang yang malah menjadikan jalur ini (Pujale) sebagai jalan pintas (untuk ke Lembah),” ungkap Bapak B, petugas PK5L kantong parkir Pujale. Berbagai kesaksian ini menandakan bahwa alih-alih memberikan solusi, perubahan ini justru menimbulkan sejumlah persoalan yang sebelumnya tidak banyak dipikirkan.  Perubahan Mendadak, PK5L Jadi Samsak Lebih parah lagi, perubahan kebijakan ini tidak diawali oleh pemberitahuan. Tidak ada sosialisasi maupun petunjuk yang memadai berhasil menimbulkan kebingungan banyak pihak. Situasi di lapangan dipenuhi oleh keluhan sivitas akademika yang terpaksa mencari jalur sendiri. “Aku tiba-tiba enggak bisa masuk lagi aja ke Perpusat. Tanpa tau masuknya lewat mana, akhirnya aku muter dan parkir di Lembah. Hari pertama clueless banget, sih,” ungkap Alex, mahasiswa UGM angkatan 2023. Kekesalan ini menunjukkan bagaimana kurangnya koordinasi dapat membuat kebijakan yang mungkin diniatkan baik berubah menjadi sumber keresahan. Ironisnya, meskipun kebijakan ini berasal dari pusat, PK5L sebagai pelaksana lapangan justru menjadi pihak yang paling banyak menanggung konsekuensi. Sivitas akademika yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya turut melampiaskan kekesalan kepada PK5L. Nyatanya, PK5L juga memperoleh informasi mendadak tanpa diberi ruang diskusi, “Malam hari-H kami diinfokan di grup bahwa besok pagi sudah harus dilaksanakan sedemikian. Sedangkan mahasiswa dan karyawan belum ada yang tahu. Jadi di awal, kami banyak gesekan dengan karyawan & mahasiswa, hingga adu argumen,” ucap Bapak B. Komunikasi yang buruk membuat PK5L dijadikan samsak oleh sivitas akademika yang frustrasi, sementara akar masalahnya datang dari kebijakan yang mendadak diputuskan.  Menuju Jalan Tengah yang Diharapkan Baik dari sivitas akademika, maupun PK5L, menyatakan bahwa mereka lebih merasa nyaman dengan sistem parkir lama. Namun, jika sistem baru tetap harus diterapkan, ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, penambahan lahan parkir menjadi solusi mendasar dari banyak pihak. Dikarenakan ketersediaan lahan minim, Bapak Ednan menyarankan untuk lebih memanfaatkan area parkir fakultas yang ada. Tanpa penyediaan ruang yang memadai, perubahan arus hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Kedua, kebijakan sebaiknya tidak diberlakukan ketika sistemnya masih setengah matang. Diperlukan penyempurnaan sebelum diterapkan secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kendala baru. Ketiga, sosialisasi harus dilakukan lebih intensif sehingga sivitas akademika memiliki pemahaman serta kesiapan menghadapi perubahan. Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar teknis parkir, melainkan bagaimana manajemen kampus mengomunikasikan kebijakan yang menyentuh aktivitas sehari-hari sivitas akademika.

Membaik atau Berhenti? Apakah benar Indonesia masih dalam Status Quo?

Penulis : Alvis Anjabie /EQEditor : Handri Regina Putri /EQLayouter : Vini Wang /EQ Pada Sabtu (27/9), Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (HIMIESPA FEB UGM) kembali menggelar seminar nasional Economics Talks 2025. Acara ini bertempat di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo, Magister Manajemen FEB UGM, dan menghadirkan sejumlah pakar ekonomi. Narasumber yang hadir antara lain Eka Chandra Buana (Deputi Perencanaan Makro Pembangunan), Eko Listiyanto (Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance), Denni Puspa Purbasari (mantan Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja), serta Gumilang Aryo Sahadewo, selaku moderator. Mengusung tema “Indonesia at a Crossroads: Building an Economic Foundation for Progress or Getting Stuck in the Status Quo”, seminar ini terbagi dalam dua subtema dengan tiga narasumber utama. Melalui forum tersebut, para pembicara membahas tantangan dan peluang ekonomi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. “Development has to be more than just the accumulation of wealth and the growth of gross national product. It has to be concerned with enhancing the lives we lead and the freedoms we enjoy”. Eka Chandra  membuka presentasi dengan quotes dari Amartya Sen, seorang economist peraih Nobel yang telah berjasa memetakan welfare economics. Bersama dengan Denni Purbasari, mereka berdua membawakan subtema pertama bertajuk Indonesia’s Demographic Dividend Revisited: Evaluating Job Opportunities for the Upcoming Generation. Sementara itu, Eko Listiyanto memaparkan subtema kedua, From Extractive to Creative: Indonesia’s Next Economic Move. Semua presentasi didasarkan pada data yang dari badan-badan kredibel untuk menganalisis bagaimana kondisi Indonesia sekarang ini, langkah apa yang dirasa relevan untuk diambil, dan memiliki peluang paling besar untuk berhasil. Presentasi dibuka dengan pemaparan kondisi terkini perekonomian Indonesia. Saat ini, Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia mencapai US$4.910, yang menempatkan Indonesia dalam kategori negara berpendapatan menengah ke atas. Angka ini masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia lain, seperti Malaysia US$11.670 dan Tiongkok US$13.360. Jaraknya semakin lebar jika dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi, misalnya Korea Selatan dengan GNI US$35.490 (World Bank, 2025). Fakta tersebut menegaskan bahwa Indonesia perlu bekerja lebih keras untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. Di sisi lain, beberapa indikator ekonomi lain menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada kuartal I 2025 masing-masing turun menjadi 8,47% dan 4,76% (BPS, 2025). Penurunan ini diyakini sebagai hasil dari berbagai kebijakan pemerintah, antara lain program bantuan sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), serta pemberian insentif bagi tenaga kerja. Meski demikian, tantangan besar masih terlihat pada pembangunan kualitas manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia memang menunjukkan peningkatan, tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara lain, nilainya masih terlampau jauh. Hal ini terlihat dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada tahun 2022 yang hanya mencapai 369, jauh di bawah rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar 473 (OECD-PISA & World Bank, 2025). Selanjutnya, presentasi menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang relatif terjaga. Hal ini tercermin dari kinerja pendapatan negara terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang dalam kurun 2020-2024 meningkat dari 10,7% pada 2020 menjadi 12,9% pada 2024. Defisit anggaran maupun keseimbangan primer pun terkendali dalam batas aman (Kementerian Keuangan, 2024). Dari sisi moneter, perkembangan inflasi juga menunjukkan tren menurun. Setelah sempat melonjak hingga 5,95% pada September 2022 akibat kenaikan harga pangan dan energi global, inflasi berangsur turun hingga berada di level 2,31% pada Agustus 2025. Nilai tukar rupiah pun menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global, sehingga Bank Indonesia menurunkan kembali suku bunga acuannya menjadi 4,75% untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun capaian ini memberi ruang optimisme, Eka menekankan bahwa Indonesia belum bisa berbangga diri. “Kita masih memiliki mimpi besar,” ujarnya, merujuk pada target Indonesia Emas 2045. Paparan kemudian dilanjutkan oleh Denni, yang kembali menyinggung tantangan besar dari sisi pendapatan. Pada 2023, GNI per kapita Indonesia masih berada di angka US$4.580, jauh dari ambang minimal negara maju yakni US$14.005. Untuk mengejar celah tersebut, dibutuhkan pertumbuhan GNI per kapita sekitar 5,2% per tahun selama 2024–2045, atau bahkan 7,1% per tahun jika dihitung dalam rupiah. Artinya, Indonesia harus menjaga pertumbuhan PDB sekitar 8,1% per tahun. Menurut Denni, target itu tampak nyaris mustahil dicapai. Namun, ia menekankan bahwa pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah target itu realistis, melainkan upaya apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan perekonomian nasional pada Visi Indonesia Emas 2045. Mengutip ekonom Paul Krugman, ia menegaskan: “Productivity isn’t everything, but in the long run it’s almost everything.” Kritiknya diarahkan pada mental model masyarakat Indonesia, yakni keyakinan, asumsi, dan pemahaman kolektif tentang bagaimana dunia, orang lain, atau sistem bekerja, yang membentuk sikap kita sebagai pekerja. Selanjutnya, merujuk pada publikasi Indonesia Business Council (IBC) bertajuk “The Pursuit for Productivity, Rebuilding the Nation’s Missing Multiplier” (2025) yang menyebutkan adanya productivity blackout. Denni menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah produktivitas belum dijadikan bagian dari nilai-nilai kebangsaan (national values) dan etos kewargaan (civic ethos). Nilai kecepatan, inovasi, dan efisiensi belum hadir sebagai etika sehari-hari, berbeda dengan nilai religius, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah mufakat, harmoni, dan persatuan yang sudah mengakar. Akibatnya, pengelolaan waktu, efisiensi pribadi, serta penguasaan keahlian jarang dipandang sebagai tuntutan etis. Refleksi ini, menurut Denni, dapat terlihat dari minimnya tema produktivitas dalam ceramah, sinetron, maupun konten para influencer. Sebagai resolusi, ia menggarisbawahi sejumlah perbaikan yang perlu dilakukan: reformasi regulasi ketenagaan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kompetensi, mengurangi friksi, serta memperbaiki iklim usaha melalui Ease of Doing Business. Subtema kedua disampaikan oleh Eko, yang menyoroti pentingnya transformasi ekonomi melalui penguatan sektor kreatif. Pertanyaannya, mengapa transformasi ini penting? Pertama, untuk menghindari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Kedua, karena dinamika geopolitik dan ekonomi global seringkali tidak sesuai dengan harapan. Ketiga, ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap sumber daya alam sebagai roda. Namun, ketergantungan pada sumber daya alam ini telah menciptakan sejumlah tantangan struktural. Hal ini berdampak pada minimnya diversifikasi, rendahnya nilai tambah, serta stagnannya kontribusi dari negara-negara maju.  Berbeda dengan Indonesia, banyak negara maju justru mengalami lompatan ekonomi dengan strategi yang berlawanan. Kunci kesuksesan mereka terletak pada kemampuan melakukan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi. Oleh karena itu, mengembangkan sektor kreatif yang inovatif dan bernilai tambah tinggi bukan hanya sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjawab tantangan besar ini dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai jalan keluar, ekonomi kreatif muncul sebagai sektor yang

CHRONICS UGM 2025: Lahirnya Inovasi Human-Centered dari Ruang Kampus

Penulis: Auliatus Soliha & Dwi Zhafirah Meiliani/EQEditor: Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQ Deretan booth berjejer rapi memenuhi Student Center GIK UGM pada Minggu (7/9/2025). Pengunjung tampak antusias berpindah dari satu booth ke booth lainnya untuk menyimak penjelasan inovasi produk yang dipamerkan.  Suasana pameran inilah yang menandai suksesnya penyelenggaraan kompetisi Challenge on Product Design and Ergonomics (CHRONICS) 2025 oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) UGM. CHRONICS merupakan kompetisi mahasiswa/i tingkat Asia Tenggara yang ditujukan untuk merancang produk inovatif dengan aspek ergonomi, yaitu ilmu tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem, seperti lingkungan kerja, peralatan, atau produk agar sesuai dengan kemampuan serta keterbatasan fisik dan psikologis manusia. Puncak kompetisi ini digelar dalam bentuk pameran yang menjadi ajang bagi para finalis menampilkan karya mereka kepada publik. Pada tahun ini, CHRONICS kembali hadir dengan tema “Elevating Construction Experience through Human-Centered Innovations in Safety and Productivity.” Tema tersebut menekankan inovasi yang berpusat pada manusia untuk meningkatkan keselamatan dan produktivitas pekerja konstruksi. Pembuatan peralatan dan teknologi dengan pendekatan desain produk yang berfokus pada pengguna, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih optimal dan kompetitif.  Para peserta harus berhasil melalui tiga tahap seleksi, yaitu Abstract, Mini Proposal, dan Full Proposal yang seluruhnya diunggah secara online sejak April lalu agar dapat memenangkan perlombaan ini. Usai melalui proses seleksi yang ketat, sepuluh tim terbaik lolos sebagai finalis dan hadir di Yogyakarta untuk menjalani rangkaian final days pada 4-7 September. Berdasarkan keterangan salah satu panitia, Fia, para finalis terdiri atas delapan tim dari perguruan tinggi nasional dan sisanya berasal dari Filipina. Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian acara dimulai pada Kamis (4/9) dengan gala dinner sebagai ajang penyambutan para finalis dan dewan juri. Selanjutnya, hari kedua diisi dengan final presentation proposal yang telah disusun dan dilanjutkan dengan mini challenge. Agenda tersebut berlanjut hingga hari ketiga (6/9) bersamaan dengan fun session di Taman Pintar dan Lava Tour.  Seluruh rangkaian kegiatan ditutup pada Minggu (7/9) dengan acara puncak, yaitu pameran produk inovasi dan talkshow. Dimulai pada 10.30 WIB, para finalis memamerkan prototipe produk inovasi mereka pada beberapa booth yang tertata di Joglo GIK. Beragam produk dipamerkan, mulai dari alat keselamatan berbasis sensor hingga rancangan multifungsi ramah lingkungan yang dirancang untuk mengurangi kelelahan saat bekerja. Antusiasme pengunjung terlihat ketika dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum berdialog dengan peserta mengenai konsep produk yang diusung. Salah satu finalis yang menarik perhatian adalah Tim GoDev dengan produk inovasinya, yaitu SekUp. Alat ini merupakan sekop ergonomis yang dilengkapi pegangan ganda fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan tinggi badan penggunanya. Desain tersebut membuat aktivitas menggali tanah menjadi lebih mudah tanpa membutuhkan banyak tenaga. Dengan SekUp, pekerja tidak perlu khawatir mengenai sakit punggung serta dapat bekerja dengan nyaman, aman, dan cepat. Tidak hanya memperkenalkan inovasi produknya, Tim GeoDev juga berbagi cerita mengenai tantangan terbesar selama mengikuti kompetisi. Menurut mereka, bagian yang paling menantang adalah mini challenge, di mana setiap tim diminta merancang produk selama kurang lebih delapan jam. Tak hanya harus membuat prototipe, mereka juga harus menyiapkan presentasi lengkap dengan analisis keuangannya. “Lumayan chaos, sih. Soalnya capek bikin produknya harus cepat-cepat, terus dapat idenya lumayan susah,” ungkap salah satu anggota tim. Di tengah riuhnya pameran produk inovasi, acara semakin meriah dengan hadirnya sesi talkshow bersama Prof. Dr.Eng. Ir. Herianto, S.T., M.Eng., IPU., ASEAN Eng. yang membahas pengembangan produk, ergonomi, dan manufaktur. Suasana semakin interaktif ketika CHRONICS Talk dimulai, di mana para finalis berkesempatan untuk menjelaskan gagasan mereka secara lebih mendalam di hadapan publik. Sesi ini tidak hanya memperlihatkan detail di balik rancangan produk, tetapi juga membuka ruang diskusi inspiratif bagi pengunjung.   Di sela-sela sesi talkshow, pengunjung juga dihibur dengan penampilan tari tradisional Nawasena. Kehadiran tarian ini menjadi jeda yang segar di tengah rangkaian diskusi serius, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada peserta dan tamu yang berasal dari luar negeri. Momen ini sekaligus menunjukkan bahwa CHRONICS tidak selalu tentang teknologi dan inovasi, tetapi juga menjadi wadah yang mengangkat identitas budaya Indonesia. Perpaduan antara pameran produk inovasi dengan nuansa tradisional inilah yang membuat suasana acara semakin hangat dan jauh dari kesan monoton. Pada akhir perjalanan yang panjang ini, peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman berharga, tetapi juga menyimpan harapan agar CHRONICS senantiasa menjadi ruang tumbuh untuk melahirkan gagasan kreatif. Mereka pun memberikan apresiasi kepada panitia yang dinilai responsif dan informatif dalam mendampingi dan menyiapkan segala kebutuhan sepanjang kompetisi, sehingga rangkaian acara berjalan dengan lancar. Bagi peserta, setiap tahap kompetisi meninggalkan jejak perjuangan dan pembelajaran yang mendalam. Rangkaian gagasan dan inovasi yang telah tercipta menumbuhkan semangat yang diyakini akan terus menyala dan melahirkan ruang-ruang kreatif di masa depan.

Geoweek 2025: Semangat Ketahanan Energi di Era Transisi

Penulis: Najwa Anggi Namira/EQEditor: Handri Regina Putri/EQLayouter: Dhimas Zidny Arrizqi/EQ Semangat geosains kembali membara melalui gelaran Geoweek 2025 yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik (DTG-FT) Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara ini menghadirkan kombinasi kompetisi dan konferensi selama sepekan penuh. Pada 7-12 September 2025, puluhan peserta terkurasi dari berbagai daerah pun berkumpul untuk unjuk pengetahuan, keterampilan, dan gagasan terkait isu kebumian dan energi.  Geoweek 2025 yang mengusung tema “Geological Resources Resilience in the Energy Transition Era” terdiri dari beberapa sub-acara yang diselenggarakan secara bersamaan. Acara tersebut terdiri dari empat perlombaan, yakni Lomba Cerdas Cermat Kebumian (LCCK), Essai Competition, Debate Competition, International Geomapping Competition (ICG). Selain itu, terdapat pula dua konferensi internasional yang bertajuk International Conference on Geological Engineering and Geosciences (ICGoES) dan Society of Economic Geologist (SEG)-Conference. Seluruh rangkaian acara tersebut berhasil menciptakan atmosfer intelektual, kompetitif, sekaligus kolaboratif.  LCCK yang ditujukan bagi siswa SMA merupakan acara yang cukup bergengsi dan setiap tahunnya selalu menjadi magnet bagi para pegiat olimpiade kebumian. Tahun ini, tercatat sebanyak 77 tim dari berbagai daerah ikut serta. Mereka kemudian bersaing hingga tersisa 13 tim yang lolos ke babak semifinal. Selain LCCK, terdapat pula lomba esai dan debat berbahasa Inggris. Kedua lomba ini berhasil menyaring 8 tim esai dan 4 tim debat terbaik untuk tampil di Yogyakarta setelah melalui seleksi daring. Terdapat pula ICG, perlombaan pemetaan geologi di lapangan yang diikuti oleh 9 tim dari berbagai universitas di Indonesia.  Tidak hanya kompetisi, Geoweek 2025 juga menghadirkan ruang dialog ilmiah berskala global melalui acara konferensi internasional. Dua konferensi internasional tersebut digelar dengan menghadirkan pembicara kunci yang merupakan pakar dari University of Michigan dan University of Tokyo. Melalui sesi presentasi dan diskusi, para ahli tersebut membedah isu-isu strategis terkait bagaimana dunia merespons kebutuhan energi di masa transisi.  Seluruh rangkaian acara Geoweek 2025 ditutup dengan meriah melalui acara Awarding Night pada Jumat (12/9) malam di University Club UGM. Malam itu, seluruh peserta, penitia, hingga dosen hingga tamu undangan berkumpul dalam suasana penuh antusiasme. Prosesi pembukaan diisi dengan berbagai sambutan dari Project Manager Geoweek 2025, Rizqia Awalinda Sekar Purnama, Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi FT UGM, Jea Dewangga Efendi Putra,  Supervisor Geoweek 2025, Dr.Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., IPU dan Kepala Departemen Teknik Geologi, Dr.Eng. Ir. Agung Setianto, S.T., M.Si., IPM. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan kepada para juri dan penutupan secara simbolik. Kemudian, tibalah momen yang paling ditunggu, yakni pengumuman pemenang lomba. Satu per satu kategori disebutkan, disambut tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir malam itu.  Bagi Azfa, Chiki, dan Devin— anggota tim iGacor dari UGM  yang berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan IGC— momen itu terasa seperti puncak dari perjuangan panjang mereka di lapangan. Mereka bercerita bahwa satu hal yang menarik dalam perlombaan ini adalah proses bagaimana peserta diturunkan langsung ke lapangan untuk melakukan pemetaan area seluas 2,5 x 2,5 kilometer selama tiga hari di Magelang, Jawa Tengah. Mereka harus mengidentifikasi jenis batuan, menganalisis struktur geologi, dan akhirnya menafsirkan apakah terdapat potensi mineralisasi di wilayah tersebut. Seluruh data yang terkumpul kemudian mereka olah menjadi sebuah peta geologi yang menyajikan persebaran batuan dan potensinya. Bagi tim tersebut, proses di lapangan menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga. Mereka harus berjalan ke berbagai titik, mengamati batuan, dan mencatat komposisi mineral secara manual tanpa menggunakan bantuan gawai. “Di sana, kami menemukan indikasi mineralisasi ekonomis, seperti emas, itu yang menjadi poin penting dalam analisis,” ujar mereka. Keberhasilan mereka akhirnya berbuah manis, dan malam penganugerahan itu pun menegaskan bahwa kerja sama, strategi, dan ketekunan di lapangan adalah kunci keberhasilan mereka.  Di balik meriahnya keseluruhan acara Geoweek 2025, terdapat tujuan besar yang melatarbelakangi pemilihan tema tahun ini, yakni ketahanan energi di masa transisi. Menurut Rizqia Awalinda Sekar Purnama, Project Manager Geoweek 2025, tema ini diangkat sebagai pengingat bahwa Indonesia tidak serta merta dapat melompat ke energi bersih tanpa melalui masa transisi yang realistis. Bagi Rizqia, saat ini yang diperlukan oleh bangsa indonesia adalah mempertahankan energi di masa transisi ini dengan mencari tahu apa potensi sumber daya alam yang ada. Geoweek mendorong peserta untuk turut serta memaknai peran geosains dalam mendukung keberlanjutan energi di Indonesia. “Dengan semangat itu, semoga tahun mendatang Geoweek tetap terlaksana dengan lebih baik, dan terus menjadi tempat lahirnya inovasi sekaligus titik temu dalam menentukan arah perkembangan ilmu geologi di Indonesia,” harapnya. 

Merdeka Finansial, Merdeka Mental: Perempuan Bangkit, Berdaya, dan Berkarya

Penulis: Hana Hafizhah/EQ, Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQEditor: Gigih Candra Ghufroni/EQLayouter: Mahira Nurul Muthia/EQ Dalam rangka memeriahkan bulan kemerdekaan, Sanggabiz bersama BPPM Equilibrium menyelenggarakan seminar berjudul “Kemerdekaan Perempuan: Bangkit, Berdaya, Berkarya” pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Acara ini berlangsung di Lantai 8 Gedung Learning Center (LC), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung perempuan agar dapat memegang kendali hidupnya dan merdeka secara finansial. Suasana hari-H seminar (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Acara ini terbagi menjadi dua sesi materi: sesi pertama berjudul “Merdeka dari Rasa Tak Siap” dan sesi kedua berjudul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Sesi pertama dibuka dengan penayangan video tentang self comparison dari kanal YouTube Analisa Channel. Video ini menekankan kecenderungan seseorang dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain di berbagai aspek. Awalnya, sesi ini dijadwalkan untuk menghadirkan Analisa Widyaningrum, psikolog sekaligus pemilik Analisa Personality Development Center. Namun, beliau belum bisa hadir sehingga perannya digantikan dengan pemutaran video tersebut. Pembukaan oleh Master of Ceremony (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Setelah pemutaran video, sesi pertama dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Co-founder Titik Temu, Sakti Mutiara, dengan judul “Merdeka dari Rasa Tak Siap”. Dalam paparannya, Sakti menekankan pentingnya kemerdekaan bagi perempuan agar mereka dapat berkarya dengan tenang, tanpa merasa tertekan. Menurutnya, berkarya adalah cerminan dari kesehatan mental seorang perempuan sekaligus cara untuk meninggalkan jejak berupa warisan yang menjadikan hidup lebih bermakna dan abadi. “Dengan berkarya, kita menciptakan warisan yang membuat usia kita lebih panjang dari usia yang sebenarnya,” ujar Sakti.  Setelah pemaparan materi terkait pentingnya kemerdekaan perempuan, Sakti melanjutkan dengan membahas indikator utama kesehatan mental menurut World Health Organization (WHO). Indikator tersebut mencakup empat hal, yakni mampu mengatasi stres, belajar dan bekerja dengan baik, bermanfaat bagi komunitas, serta memahami potensi diri. Selain pemaparan materi, sesi ini juga dilengkapi dengan aktivitas pengisian worksheet sebagai praktik langsung agar peserta dapat mengelola diri menjadi lebih baik. Usai pemaparan materi, sesi pertama ditutup dengan tanya jawab. Salah satu peserta kemudian menanyakan bagaimana cara seorang ibu membagi waktu, terutama bagi yang bekerja atau ingin membuka usaha tambahan sambil mengurus rumah tangga. Sakti menilai pertanyaan tersebut sangat relevan karena perempuan kerap dibebani stereotipe masyarakat, misalnya perempuan dianggap hanya perlu fokus pada urusan rumah tangga. Hal ini tampak dari pertanyaan yang sering dilontarkan untuk ibu pekerja, seperti siapa yang mengurus anak mereka atau mengapa tetap bekerja meski suaminya sudah berpenghasilan. Pada dasarnya, para ibu hanya membutuhkan dukungan agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari. “Mereka membawa banyak stereotipe, maka sokongan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan,” tegas Sakti. Penyampaian pertanyaan dalam sesi diskusi (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Setelah penutupan sesi pertama, peserta menjalani ISHOMA (istirahat, solat, dan makan) selama 30 menit sebelum acara berlanjut ke sesi kedua. Sesi ini diawali dengan pemaparan materi oleh Dwi Andi Rohmatika sebagai CEO sekaligus pendiri Sanggabiz dengan judul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti menjadi kaya raya, melainkan mempunyai aset yang bisa memenuhi kebutuhan tanpa perlu menukar waktu dengan uang. Aset ini tidak hanya berbentuk moneter layaknya saham dan investasi, tetapi juga berupa aset non-moneter yang muncul dari kecerdasan dominan. “Kecerdasan-kecerdasan itulah yang menjadi cara kita mendapat banyak aset tambahan,” terangnya.  Dwi menjelaskan terdapat sembilan kecerdasan dominan, yaitu linguistik, matematis, spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalistik, dan eksistensial. Setiap pribadi diyakini memiliki satu sampai tiga kecerdasan dominan yang dapat menjadi bekal membangun aset. “Misal jika kita cerdas interpersonal, bisa coba bikin video affiliate. Komitmen dan optimalkan bidang yang ada, jangan langsung lari mau coba ke yang lain. Video itu akan jadi aset non-moneter kita karena lewat satu video saja kita sudah bisa menghasilkan,” paparnya. Dalam sesi ini, peserta juga diajak mengisi worksheet untuk brainstorming ide penghasilan tambahan melalui kecerdasan dominan. “Sebagai ibu-ibu, jangan khawatir dan minder kalau tidak tahu keuangan. Dengan sembilan intelegensi tadi, kita jadi punya aset moneter dan non-moneter yang membantu kita meraih kemerdekaan finansial,” tutupnya. Sebelum sesi dua berakhir, peserta diberi kesempatan bertanya. Seorang peserta menanyakan tentang teknik terbaik menyeimbangkan pekerjaan dengan kecerdasan dominan. Ia menceritakan pengalamannya sebagai koki yang bekerja seharian penuh, tetapi masih ingin menambah penghasilan lewat menulis, sesuai dengan minatnya. Tantangannya adalah ia memerlukan fokus penuh untuk menulis, sedangkan waktunya banyak tersita untuk pekerjaan. Menanggapi hal tersebut, Dwi menekankan bahwa jawabannya kembali pada pengorbanan waktu. “Mau tidak mau kita harus meluangkan waktu, misal setelah paginya bekerja, malam hari luangkan waktu sebentar untuk menulis,” tuturnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize yang menambah semarak suasana. Sesi ini menjadi penutup yang menyenangkan dari padatnya rangkaian acara. Para peserta tampak antusias menyambut momen tersebut. Tepat pada pukul 17.30 WIB, acara resmi ditutup. Lebih dari sekadar rangkaian materi, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus pengingat akan makna merdeka. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam mengelola diri dan keuangan, khususnya bagi perempuan. Harapannya, semangat yang lahir dari acara ini dapat terus menginspirasi perempuan untuk bangkit, berdaya, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

Aksi Jogja Memanggil, Wujud Kedamaian di Tengah Tuntutan Reformasi

Penulis: Najwa Anggi Namira dan Marcellinus Krisnado Suhatno/EQEditor: Frida Lucyana WahyuningsihLayouter: Gilang Wirabumi/EQ Terik matahari mewarnai langkah ratusan demonstran yang bergerak serentak menyuarakan keresahan yang lama terpendam. Massa tampak memadati Bundaran UGM dengan barisan rapat, menyatukan suara lewat orasi yang menggema. Pada Senin (1/9), Aliansi Jogja Memanggil berhasil menyelenggarakan aksi dengan khidmat dan damai. Terdapat satu hal yang mencuri perhatian dalam aksi ini, yakni massa yang memilih duduk bersila di sepanjang bundaran, seolah menjadikan momen ini bukan hanya teriakan protes, melainkan juga ruang untuk menunjukkan solidaritas bersama.  Aksi Demonstrasi Bisa Damai  Para demonstran yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai terlihat berdatangan ke Bundaran UGM sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian, massa disusul oleh mahasiswa UGM yang terlihat menggunakan jas almamater. Mereka juga tampak membawa sejumlah poster, spanduk, dan bunga untuk mendukung suasana.  Aksi kali ini menjadi bukti bahwa luapan aspirasi bisa dilakukan tanpa tindakan ricuh dan anarkis.  Di tengah ketenangan aksi, Boengkoes, perwakilan Aliansi Jogja Memanggil, membuktikan bahwa demonstrasi dapat berlangsung tanpa tindakan anarkis, walau tetap membakar semangat massa.  “Prabowo sempat menyatakan bahwa jangan melakukan anarkis dan lain sebagainya. Ya, kita membuktikan itu,” tandasnya di tengah wawancara dengan para wartawan. Lebih lanjut, pemilihan lokasi aksi juga mempertimbangkan agar situasi lebih kondusif.  Selama masa konsolidasi, beberapa titik lokasi menjadi bahan pertimbangan aksi demonstrasi. Boengkoes menegaskan bahwa pemilihan lokasi Bundaran UGM merupakan tindakan antisipasi isu provokasi yang rentan terjadi selama masa aksi, terutama terkait penjarahan terhadap etnis Tionghoa. Di sisi lain, pemilihan lokasi Bundaran UGM juga mempertimbangkan keberlangsungan aktivitas ekonomi pedagang kaki lima yang terancam akibat aktivitas demonstrasi.  Sekilas Penyebab Aksi Aksi ini adalah bentuk reaksi publik atas terjadinya peristiwa kelam yang terjadi dalam sepekan belakang. Di antaranya adalah arogansi Polri yang berujung menelan jiwa seorang pengemudi ojol, Affan Kurniawan pada kamis (28/8) di Jakarta. Ia tewas karena dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) yang dikendarai oleh anggota aparat pada malam harinya saat sedang mengantar pesanan. Kemudian, massa juga menuntut keadilan atas kematian Rheza Shandy Pratama, mahasiswa Amikom Yogyakarta, yang diduga meninggal karena aksi brutal aparat saat sedang melakukan aksi demonstrasi di depan Polda DIY pada hari Jumat (29/8).  Kasus tersebut hingga saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh Polda DIY.  Rangkaian Aksi Demonstrasi Orasi terus disampaikan silih berganti oleh perwakilan mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),  hingga masyarakat sipil. Tuntutan mereka mengerucut pada tiga hal utama, yakni penghentian praktik represif aparat, evaluasi kebijakan politik dan pemerintahan, serta penolakan pemberian tunjangan berlebih kepada anggota DPR.  Menegaskan semangat damai dalam menyuarakan tuntutan tersebut, salah satu orator menyerukan, “Hari ini, Jogja Memanggil menunjukkan bahwa aksi kita aksi damai. Sejak 97/98, aksi kita damai walaupun tetap direpresif oleh aparat. Kalau kalian represif di Jogja, kualat kalian,” ucapnya di tengah demo berlangsung. Selain sikap massa yang duduk bersila saat mengutarakan aspirasi mereka, hal lain yang menarik perhatian adalah ketiadaan aparat keamanan di lokasi aksi sehingga membuat suasana aksi semakin terasa lebih tenang. Jalan raya di sebelah selatan lokasi aksi pun masih berjalan normal, tanpa adanya penutupan maupun pengalihan jalur lalu lintas.  Terasa sekali bagaimana rasa solidaritas yang kuat menyelimuti aksi ini. Banyak pihak menyalurkan dukungannya melalui donasi logistik, seperti membagikan makanan dan minuman secara gratis kepada para massa. Seluruh rangkaian aksi ini akhirnya ditutup dengan pertunjukan dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pertunjukan tersebut berupa tarian barong diiringi gamelan, dengan tokoh bertopeng yang menggerakkan seekor keledai dan tikus. Hal itu seolah menjadi sebuah metafora, menggambarkan rakyat terbelenggu oleh kekuasaan yang tidak berpihak kepada mereka.  Kabar Tuntutan Demonstrasi Hari sudah berganti, tuntutan aksi demonstrasi yang tersebar di seluruh Indonesia dipertegas melalui 17+8 tuntutan. Tuntutan ini berisi rangkuman gugatan rakyat selama aksi yang terfokus pada penghentian brutalitas aparat keamanan, reformasi lembaga negara dan partai politik, serta peninjauan kembali kebijakan kesejahteraan masyarakat. Hingga kini (5/9), tuntutan tersebut memperoleh tanggapan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).  Harapan Besar Masyarakat Ghazi, koordinator lapangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM aksi Jogja Memanggil, menyampaikan harapan agar situasi dapat kembali kondusif secara bertahap. Ia menegaskan bahwa perubahan yang dicita-citakan oleh rakyat dapat tercapai dengan cara yang lebih baik. Ghazi juga menekankan komitmen untuk terus mengawal tuntutan yang telah dicanangkan dan mendorong realisasinya. “Jika harus ada harga mahal yang dibayar, mahasiswa siap melakukan pengorbanan demi kemenangan dalam memperjuangkan reformasi atau revolusi ini,” tegasnya.  Di tengah damainya aksi, masyarakat masih menaruh harapan besar kepada seluruh lapisan pemerintahan. Demo bukan hanya sebagai lambang seruan masyarakat terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, melainkan juga bentuk kepedulian rakyat terhadap keberlangsungan negara. Masyarakat sadar bahwa demi mencapai negara yang sejahtera dibutuhkan sistem pemerintah yang bersih dan transparan. Hal tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya perlawanan. Maka dari itu, demonstrasi seharusnya tidak ditindak dengan cara yang represif, tetapi dengan pendekatan lebih humanis. 

Bimasakti Racing Team Luncurkan BM-14H, Pionir Mobil Hybrid di Ajang Formula Student

Penulis: Shaffa Az Zahra, Muhammad Azhar Zaidaan/EQEditor: Candra Ghufroni/EQLayouter: Vini Wang/EQ Pada Sabtu (9/8/2025), Jembo Cable Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Grand Launching mobil balap terbarunya yaitu BM-14H di Student Center Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Mobil BM-14H mengusung sistem hybrid all-wheel drive (AWD), menjadi yang pertama di Asia Tenggara untuk cakupan mobil balap Formula Student. Keistimewaan sistem hybrid adalah mobil tidak hanya menggunakan mesin pembakaran internal berbahan bakar bensin pada roda penggerak belakang, tetapi juga mesin elektrik untuk kedua roda depan. Acara ini merupakan hasil akumulasi dari jerih payah para mahasiswa dari tim Bimasakti untuk bersaing di kompetisi tingkat dunia yaitu Formula Student Automotive Engineering (FSAE).  Acara dimulai pukul 14:30 WIB dengan sambutan Tari Montro, tarian yang dulu kerap digunakan untuk menyemangati prajurit sebelum berperang. Semangat inilah yang juga dibawa tim Bimasakti menjelang keikutsertaan mereka di FSAE Italy pada September 2025. Acara dilanjutkan dengan opening remarks dari Kapten tim Bimasakti Generasi 14, Rafi Adyatma Darussalam. Rafi mengungkapkan bahwa pengembangan hybrid ini bukan hanya sekadar mengikuti tren atau ajang pembuktian semata, melainkan menjadi sarana pembelajaran komprehensif bagi seluruh tim yang terlibat. “Kami memadukan ilmu mekanik, elektrikal, kontrol, hingga manajemen proyek dalam mencapai tujuan bersama, yakni menciptakan mobil balap yang lebih cepat, efisien, dan adaptif di lintasan,” lanjutnya. Beberapa tamu undangan juga turut menyampaikan sambutannya, diawali dengan Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D.; dilanjutkan oleh Direktur PT Qualis Indonesia, Erwin Rinaldi; kemudian Direktur Manufaktur PT Jembo Cable Company, Bambang Pramadi; serta Plt. Direktur Kemahasiswaan, Dr. Hempri Sutyana, S.Sos., M.Si.  Tahun 2025, tim Bimasakti akan memusatkan perhatiannya pada pengembangan sistem hybrid. Konsekuensinya adalah BM-14H tidak dapat dibawa ke FSAE Italy tahun ini. Meski BM-14H belum dapat dibawa ke Italia, Kapten Bimasakti optimis bahwa mobilnya sudah dalam kondisi yang optimal dan dapat bersaing untuk FSAE tahun depan. Sementara itu, tim Bimasakti akan tetap berkompetisi pada kategori static event di FSAE Italy tahun ini. Dorongan untuk mengubah ke sistem hybrid bukan dikarenakan regulasi, tetapi untuk tetap kompetitif di laga internasional, “Kita melihat perubahan secara global, banyak tim yang sekarang naik podium karena sudah menambahkan motor listrik di depannya secara hybrid system. Jadi kami merasa untuk bisa tetap kompetitif di kejuaraan, kami menambahkan tambahan tenaga yaitu berupa hybrid system di mobil kami,” ujar Rafi.  Datanglah saat yang ditunggu-tunggu, yakni car reveal. Tirai hitam yang menutup BM-14H akhirnya dibuka, menampilkan livery kuning dan hitam dengan serat-serat carbon fiber-nya. Tidak hanya itu, mesin elektriknya juga dinyalakan dengan pengemudi yang berada di dalam cockpit-nya. Setelah itu, acara berlanjut dengan penayangan video profile Bimasakti yang memukau para audiens dengan cerita perjalanan dan pencapaian-pencapaian emas mereka. Tak lama setelah itu, BM-14H langsung dibawa keluar gedung untuk melakukan demonstrasi (test-run) di Jalan Boulevard UGM. Demonstrasi ini mampu memantik decak kagum para peserta dan tamu undangan, termasuk keluarga dan alumni Bimasakti. Grand Launching mobil balap dari Bimasakti ini memberikan kesan yang berharga, salah satunya bagi Nata, alumni Bimasakti yang bercerita tentang keunikan BM-14 H. “Sistem hybrid-nya memungkinkan untuk regenerative braking, di mana motor listrik yang depan bisa membantu pengereman dan hasil energi dari mengerem digunakan untuk mengisi baterai,” tuturnya. Nata juga menyampaikan bahwa pencapaian Bimasakti sebagai pionir Formula Student dengan teknologi hybrid menjadi bukti titik mulai dari perkembangan otomotif Indonesia yang selama ini masih pasif sebatas konsumen, bukan sebagai inovator.  Erwin Rinaldi, Direktur PT Qualis Indonesia menyampaikan harapannya untuk Bimasakti dalam konferensi pers yang menutup keseluruhan acara Grand Launching BM-14H ini. Ia berharap tim dari UGM dan Bimasakti selalu berkreativitas dan berinovasi dan melahirkan bukan hanya mobil yang paling cepat, tetapi juga mobil yang paling environmental, sehingga lingkungan dan alam Indonesia dapat kita selamatkan. “Semoga tim Bimasakti juga mencintai negara, tanah air, dan selalu berpikir bagaimana meningkatkan kualitas produk-produk Indonesia. Selayaknya lambang UGM yang menggambarkan penjuru mata angin, berkreativitas lah dan maju dalam ilmu pengetahuan ke segala arah,” pungkasnya.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin