WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

FEB

Policy Brief: Langkah Konkret Mahasiswa Menuju Revitalisasi Koperasi

Penulis: Alvis Anjabie, Arwa Izdihar/EQEditor: Frida LucyLayouter: Glori Silaban/EQ 19 November 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (BEM FEB UGM) mengadakan audiensi policy brief ke DPRD Yogyakarta yang bertujuan untuk memberikan aspirasi saran kebijakan. Regulasi  ini didasarkan pada kajian yang telah dilakukan oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UGM. Policy brief ini memiliki tema “Kontinuitas Sokoguru Perekonomian: Strategi Regenerasi Koperasi dalam Keajegan Ekonomi Daerah Yogyakarta”. Acara ini melibatkan sejumlah pihak, seperti Ketua Komisi B DPRD Yogyakarta, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes., serta Kepala Dinas Koperasi, Agus Mulyono, S.P., M.T., dan Biro Perekonomian.  Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua BEM FEB UGM yang kemudian  dilanjutkan  oleh Ketua Komisi B DPRD Yogyakarta. Dalam sambutannya, Ketua BEM FEB UGM, Syarief Kemalsyah Hariandja, menyampaikan bahwa meskipun mengangkat topik yang berbeda setiap tahun, semangat yang digaungkan tetaplah sama. Ia juga menekankan  bahwa penyusunan policy brief merupakan bentuk tanggung jawab mahasiswa dalam berkontribusi bagi pengembangan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim policy brief  BEM FEB UGM yang terdiri dari Kamela, Diana, Faiz, Tezar, dan Indra memaparkan gambaran awal koperasi di Yogyakarta tengah menghadapi tantangan karena tren jumlah anggota dan koperasi mengalami peningkatan, tetapi proporsi koperasi yang aktif justru mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kuantitas tidak diiringi dengan perbaikan kualitas. Padahal, koperasi dalam urgensinya menawarkan semangat kolektif dalam mengelola ekonomi bersama dan juga merupakan amanat dari para founding fathers Indonesia. Jika ditilik lebih jauh, data dari International Cooperative Alliance (ICA) tahun 2021 menunjukkan bahwa partisipasi anak muda di Indonesia terlampau rendah, yakni hanya 40%. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menyebutkan bahwa jumlah anak muda berusia 16–29 tahun mencapai sekitar 66 juta orang. Rendahnya tingkat partisipasi generasi muda dalam koperasi, terutama di Yogyakarta, menuntut upaya peningkatan melalui kebijakan strategis yang terarah. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa tingginya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Yogyakarta unggul di angka 81,62. Angka ini menunjukkan indikasi kuat adanya potensi pemuda yang menawarkan inovasi dan semangat. Namun, terdapat permasalahan krusial, yaitu kurangnya gaya kepemimpinan transaksional menjadikan generasi muda gagal termotivasi dan inefisiensi dalam bekerja. Pemerintah kemudian berupaya menaikkan angkanya dengan beberapa media seperti, mengadakan pameran produk koperasi, koperasi goes to school, dan adanya duta koperasi. Guna memastikan dilema yang terjadi pada perspektif anak muda, tim policy brief melakukan kajian pendalaman melalui survei terhadap 200 responden dengan melibatkan variabel yang telah lolos pengujian diagnostik, yakni kesadaran/pemahaman, persepsi, manfaat, dan kesesuaian nilai. Hasil survei menunjukkan bahwa tiga variabel terakhir berpengaruh signifikan terhadap intensi bergabung dengan koperasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa meskipun anak muda memiliki pemahaman yang baik dan nilai yang selaras dengan koperasi, persepsi serta manfaat ekonomi yang ditawarkan belum memenuhi ekspektasi mereka. Faktanya, kondisi di lapangan saat ini menunjukkan memudarnya nilai gotong royong, meningkatnya individualisme, dan menurunnya interaksi langsung. Menurut tim policy brief, terdapat dua kemungkinan mengapa ekspektasi manfaat ekonomi koperasi rendah. Pertama, citra koperasi yang dianggap usang, konvensional, dan berskala kecil. Kedua, manajemen yang buruk, kurangnya pelatihan, dan sulitnya akses pendanaan. Pada akhirnya, persepsi koperasi dianggap tidak selaras dengan model bisnis modern karena lambatnya adopsi teknologi, termasuk pemasaran media sosial yang membuat koperasi terlihat kurang inovatif dan dinamis. Pada tahap berikutnya, tim policy brief memberikan solusi dan rekomendasi yang  relevan. Solusi ini disusun berdasarkan kerangka Diffusion of Innovation oleh Rogers (2003) yang menjelaskan bagaimana individu secara bertahap memutuskan untuk menerima (adoption) atau menolak (rejection) koperasi.  Adapun solusi dan rekomendasi yang ditawarkan mencakup beberapa hal. Pertama, rebranding dan repositioning melalui edukasi audio-visual dibantu influencer lokal dan talkshow interaktif yang melibatkan anak muda. Kedua, pengembangan program podcast yang menargetkan anak muda. Ketiga, pendampingan digitalisasi sehingga memunculkan urgensi pengaplikasian Indeks Digital Ing Koperasi (IDIK). Terakhir, pemberdayaan startup coop atau koperasi multi pihak.  Menurut tim policy brief, semua itu hanya dapat terlaksana jika semua pihak dapat bekerja sama secara top-down. Pihak yang dilibatkan dimulai dari atas, yakni pemerintah atau dalam hal ini, Dinas Koperasi Yogyakarta sebagai inisiator pemantik utama. Kemudian dilengkapi dengan peran masyarakat dari pihak akademisi, praktisi, komunitas pemuda, dan media sosial.  Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan dan apresiasi pun mulai dilontarkan oleh para anggota DPRD. Salah satunya mengenai kesanggupan BEM FEB UGM menjadi agen koperasi yang kemudian disanggupi oleh peserta. Lebih lanjut, tim policy brief juga mengatakan mereka bersedia untuk terlibat dalam merealisasikan rekomendasi yang telah dipaparkan. “Supaya acara ini tidak hanya menjadi omon-omon saja,” tutur Pak Danang selaku anggota DPRD Komisi B. Ia mengungkapkan bahwa ia tak ingin saran dan rekomendasi yang telah diberikan hanya berhenti sebagai seremoni.  Melalui audiensi ini, harapan generasi muda pun tumbuh dan membara. “Semoga apa yang sudah dipaparkan bisa terealisasi dengan baik dan juga semoga dari pihak DPRD DIY bisa memberikan dukungan yang memadai supaya dalam merealisasikan solusi yang diberikan dapat lebih maksimal,” ujar Lia, salah satu peserta audiensi policy brief.  Optimisme yang disuarakan tersebut menjadi pengingat bahwa kajian ini tidak boleh berhenti di atas meja diskusi semata. Semangat untuk bergerak dari sekedar wacana menuju aksi nyata inilah yang menjadi benang merah dari keseluruhan rangkaian acara. Dengan demikian, keterlibatan lintas generasi ini diharapkan mampu mengembalikan marwah koperasi sebagai solusi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Hal ini menjadi langkah nyata untuk mewujudkan harapan Bapak Koperasi Indonesia, Moh. Hatta, dan amanat Undang-Undang Dasar 1945, yakni menciptakan Sokoguru perekonomian yang tangguh, modern, dan berlandaskan asas kekeluargaan demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Nyalakan Semangat Wirausaha dan Bangun Perubahan dari YES! 2025

Penulis: Najwa Anggi Namira & Marcellinus Krisando Suhatno/EQEditor: Handri Regina Putri/EQLayouter: Glori Silaban/EQ Young Entrepreneurs Show (YES!) sukses kembali digelar sebagai agenda tahunan Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Sebagai bagian dari IKAMMA, YES! bertujuan untuk menumbuhkan semangat wirausaha bagi kalangan generasi muda. Di ketuai oleh Rafif Imtiyaaz Muhammad, kegiatan ini berlangsung pada 31 Oktober-1 November 2025 di Eastparc Hotel Yogyakarta dengan mengangkat tema “The Catalyst of Change”.  Sebagai pembuka seluruh dialog acara, Entrepreneurs Talks hadir sebagai talkshow interaktif yang menghadirkan dua pembicara inspiratif yaitu Ferry Irwandi, Co-Founder Malaka Project, dan Yandy Laurens, sutradara serta penulis skenario film Sore: Istri dari Masa Depan. Entrepreneurs Talks ini merupakan salah satu dari dua rangkaian utama YES!, bersama dengan Entrepreneurs Table, yang bersama-sama dirancang untuk memberikan wawasan dan motivasi bagi calon-calon entrepreneur muda Indonesia. Day 1:  Dari Atensi hingga Empati, Kunci Wirausaha Masa Kini  Entrepreneurs Talk pada Jum’at (31/10) diawali dengan sambutan dari ketua IKAMMA, Abednego Pangaribuan, CEO YES! 2025, Rafif Imtiyaaz Muhammad, serta perwakilan dari FEB UGM, Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M. Dalam pidato sambutannya, Rangga Almahendra berpesan agar wirausahawan memiliki keberanian untuk berpikir jangka panjang, didukung oleh keselarasan antara pikiran dan hati yang tenang. “Anda dituntut bukan hanya untuk punya wira, ya, (yang) artinya berani, tetapi bagaimana seorang wirausahawan itu berpikir lebih jauh,” ujarnya. Usai pidato sambutan, acara Entrepreneurs Talks dilanjutkan dengan sesi pertama, yaitu talkshow bersama Ferry Irwandi, Co-Founder Malaka Projects sekaligus konten kreator dan aktivis. Pada sesi yang mengusung sub tema Being Entrepreneur In This Economy: Surviving, Adapting, and Building in Uncertain Times ini, Ferry langsung menyelami persoalan dengan menanggapi tantangan klasik para entrepreneur yang harus menggali ide segar di tengah tren daya beli masyarakat yang cenderung menurun. Ia tidak hanya berbagi strategi bertahan, tetapi juga membongkar ekosistem unik yang ia bangun di Malaka Project, yang menjangkau berbagai lini, mulai dari engagement di media sosial hingga kolaborasi strategis dengan institusi perguruan tinggi. Selama sesi berlangsung, Ferry Irwandi juga menyampaikan beberapa hal terkait atensi publik.  Ia menjelaskan bahwa atensi publik berperan sebagai “kemasan’ yang membungkus setiap konten di media sosial, sehingga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan konsumen. Oleh karena itu, salah satu tugas utama entrepreneur di era sekarang adalah meningkatkan kemampuan untuk mengambil dan mempertahankan atensi publik.   Lebih lanjut, Ferry menyatakan bahwa atensi yang berkualitas tidak bisa dibangun dari konten kosong, melainkan harus ditopang oleh ilmu pengetahuan. Ia pun memberikan pandangan tentang pendidikan formal, dengan bijak menekankan bahwa ilmu bisa diperoleh di mana saja, tidak terbatas pada bangku kuliah. Namun, bangku perkuliahan memberikan peluang arah yang lebih besar. “Ketika lu kuliah, opsi hidup lu kedepan akan lebih banyak. That’s it,” ucapnya. Baginya, kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga opportunity, bahkan love. Setelah sesi inspiratif bersama Ferry, para penonton diberi waktu sejenak untuk beristirahat sebelum menuju ke agenda selanjutnya.  Usai jeda istirahat, acara dilanjutkan dengan sesi kedua yakni Entrepreneurs Talk bersama Yandy Laurens, seorang pembuat film dan sutradara dengan deretan karya yang sangat dikenal publik, seperti Sore: Istri Dari Masa Depan, 1 Kakak 7 Ponakan, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dan Keluarga Cemara. Dalam sesi ini, Yandy membagikan pengalamannya dan prinsip yang selama ini ia pegang selama terjun dalam industri film di Indonesia. Ia membuka pembicaraan dengan refleksi sederhana bahwa menjadi seorang pembuat film bukan hanya tentang menciptakan sebuah tontonan yang laris, tetapi juga tentang bagaimana menjaga nilai kemanusiaan di setiap tahap produksinya. Baginya, film seharusnya bisa menjadi ruang dialog yang jujur antara pembuat film dan penonton.  Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan karya-karyanya yang dibuat selama ini tidak lepas dari proses kolaborasi yang sehat dan saling menghargai. Dalam tim produksinya bersama rumah produksi Cerita Film, Yandy menerapkan prinsip yang ia sebut sebagai “harga teman”. Bukan berarti memberi harga yang murah, justru menurutnya harga teman ialah membayar dengan harga yang paling layak. Menurutnya, menghargai rekan kerja bukan hanya sekadar memberi harga yang layak, tetapi juga soal menjaga kepercayaan melalui akuntabilitas dan konsistensi kerja, seperti tepat anggaran, hindari over budget, dan selalu transparan jika terdapat perubahan di luar rencana. Ia percaya bahwa film yang baik lahir dari suasana kerja yang baik pula. “Jadi, tujuannya untuk membuat film tapi tetap punya visi bahwa kita akan kolaborasi buat bersemi dan bermekaran bersama-sama, bukan transaksional,” kata Yandy.  Yandy juga menekankan bahwa etika adalah hal yang sangat penting di industri perfilman. Ia menyorot bagaimana film-filmnya mampu membuat penonton menangis, tetapi tim mereka memilih untuk tidak menggunakan hal tersebut sebagai bahan “jualan” karya mereka. Berbagai reaksi penonton adalah bukti bahwa cerita yang dibuat dengan hati mampu menyentuh sisi manusiawi seseorang dan disitulah rasa empati itu bekerja. Empati, bagi Yandy, adalah bahan bakar utama dalam cerita. Dengan karya yang didasari oleh rasa empati, sebuah cerita dapat membekas di hati penonton. “Film making adalah seni untuk memahami orang lain,” ujarnya sebagai penutup sesi itu.  Berbincang bersama Yandy Laurens menjadi sesi terakhir acara Entrepreneurs Talk pada malam itu. Sesi ini menutup rangkaian acara dengan penuh kehangatan. Antusiasme penonton sangat terlihat melalui berbagai macam insight yang disampaikan oleh narasumber. Mulai dari Ferry Irwandi yang menekankan soal membangun atensi publik melalui pengetahuan dan kreativitas digital hingga berlanjut dengan Yandy Laurens, yang berbicara soal bagaimana rasa empati menjadi dasar dalam menciptakan karya sinema yang bermakna, bukan sekadar hiburan semata.  Day 2: Berbagi Pengalaman, Memperluas Langkah di Dunia Bisnis Rangkaian acara YES! 2025 berlanjut ke hari kedua, Sabtu (1/11), dengan menghadirkan acara yang selama ini menjadi ciri khas YES! dari tahun ke tahun, yakni Entrepreneurs Table. Kegiatan ini merupakan sesi eksklusif dalam bentuk jamuan makan yang menghadirkan kesempatan bagi peserta untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan para pelaku bisnis lokal berpengalaman.  Acara dimulai dengan pembukaan oleh master of ceremony (MC) yang menandai dimulainya rangkaian acara. Setelah pembukaan, para tamu undangan diperkenalkan satu per satu dalam sesi Introduction VIP Guest. Mereka adalah para pemilik brand lokal yang sangat inspiratif, seperti By.Ody, Sate Ratu, Camilla La Mozzarella, PT Ekid Muda Berkarya, Shopinkae, Lab Art, Sofdoh, Coklat Impian, Yamie Panda, Taigersprung, Bloomery, Eastmountside, Bucini, dan Sender.  Selanjutnya, tibalah sesi Networking Dinner, para peserta dipersilakan berinteraksi secara  langsung dengan para pemilik

Dari Teori ke Praktik: Mahasiswa Akuntansi UGM Dalami Audit Digital bersama RSM Indonesia

Penulis : Theresa Martha Manalu & Raissa Maharani/EQEditor : Handri Regina/EQ Pada hari Sabtu (25/10/2025), Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) menyelenggarakan Audit Workshop yang bekerja sama dengan RSM Indonesia. Kegiatan ini merupakan program tahunan Departemen Career Preparation, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan praktik audit mahasiswa. Audit Workshop 2025 mengusung tema “Auditing in Digital Era: Preparing Future Auditors for Tech-Driven Accountability” dan diikuti oleh 56 mahasiswa S1 Akuntansi yang telah menyelesaikan mata kuliah Pengauditan pada semester empat. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ketua Departemen Akuntansi, Bapak Sony Warsono, serta Chairman IMAGAMA dan Ketua Pelaksana Audit Workshop 2025. Setelah itu, kegiatan berlanjut ke sesi materi bersama dua partner RSM Indonesia, Bapak Chairul Wismoyo dan Bapak M. Teguh Nuansa. Sesi pertama disampaikan oleh Bapak Chairul Wismoyo, yang memaparkan company introduction tentang RSM Indonesia. Beliau memperkenalkan profil perusahaan sebagai bagian dari jaringan RSM Global, menjelaskan sejarah berdirinya, nilai-nilai profesional yang dijunjung, serta layanan utama di bidang audit, pajak, dan konsultasi bisnis. Penjelasan ini memberi peserta wawasan tentang bagaimana peran auditor profesional di era bisnis yang semakin terdigitalisasi. Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Bapak M. Teguh Nuansa, yang membahas materi praktik audit yang akan dijalankan peserta. Beliau menjelaskan tahapan proses audit, pentingnya ketelitian dalam pengumpulan bukti, serta penerapan PSAK 18 sebagai dasar studi kasus.  Setelah sesi materi, peserta mengikuti praktik audit melalui studi kasus mengenai PSAK 18. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menganalisis laporan dan mengambil keputusan dalam waktu terbatas, menggambarkan tekanan kerja auditor profesional. Praktik audit dilakukan dalam dua sesi dengan jeda istirahat, salat, dan makan, disertai konsumsi dari Mitra Katering H. Kasmu selaku sponsor acara Orie dan Najwa (Akuntansi 2023), selaku peserta Audit Workshop 2025, mengapresiasi perbedaan workshop ini dengan pembelajaran kelas. “Di kelas lebih banyak teori, di sini kami belajar menghadapi kasus nyata,” ujar keduanya. Menurut mereka, kegiatan ini membantu memahami praktik audit secara langsung.keduanya juga berharap ada lebih banyak ruang untuk interaksi dua arah di masa mendatang dan menyatakan minat untuk kembali berpartisipasi, khususnya jika materi yang ditawarkan berbeda. Kemal, selaku Ketua Pelaksana Audit Workshop 2025, menyampaikan harapannya untuk Audit Workshop 2026. “Semoga acara berikutnya dapat diselenggarakan di venue yang lebih besar dan dapat mengakomodasi lebih banyak peserta,” ujarnya. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada pembicara dari RSM Indonesia dan sesi dokumentasi bersama. Momen ini mengakhiri kegiatan dengan sukses dan diwarnai antusiasme tinggi dari seluruh peserta, panitia, serta perwakilan RSM. Secara keseluruhan, Audit Workshop 2025 berhasil memberikan perspektif baru bagi mahasiswa akuntansi untuk memahami proses audit dalam situasi nyata. Kegiatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan teori akademik dengan praktik profesional, sekaligus mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan audit di lingkungan bisnis digital dengan lebih percaya diri dan sigap.

Gegap Gempita Malam Puncak FORS EB 2025

Penulis: Shaffa Az Zahra, Theresa Martha Manalu/EQEditor: Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQLayouter: Dhimas Zidny Arrizqi/EQ Jumat (26/09) menjadi penutup pekan yang penuh energi. Kesempatan untuk bersorak-sorai dalam malam puncak Festival Olahraga dan Seni Ekonomika dan Bisnis (FORS EB) 2025 tentu tak bisa dilewatkan. Mengundang berbagai grup musik kondang, acara ini menyulut kemeriahan di halaman Learning Center Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).  Seperti namanya, FORS EB 2025 menjadi wadah bagi mahasiswa FEB UGM untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang olahraga maupun seni. Program ini digagas oleh Departemen Minat dan Bakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UGM bekerja sama dengan Lustrum XIV FEB UGM. Acara ini mengusung tema “Flow into the Horizon”. Rangkaian kegiatan mencakup berbagai perlombaan olahraga, mulai dari basket, voli, bulu tangkis, tenis meja, biliar, serta kompetisi seni dan festival musik yang terbuka untuk masyarakat umum. Pada malam puncak, gerbang dibuka sejak pukul 16.30 WIB. Sebuah panggung megah berdiri di depan gedung Learning Center, sementara tenants makanan serta booth interaktif seperti pembacaan kartu tarot, sudah ramai pengunjung sejak sore hari. Festival musik dimulai dengan pemberian penghargaan kepada pemenang kompetisi band, Barockah, grup musik dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Lagu yang membawa mereka pada kemenangan adalah Esok Kan Masih Ada – Utha Likumahuwa dan Pejantan Tangguh – Sheila on 7.  Barockah turut unjuk kebolehan di panggung FORS EB 2025 dengan membawakan lagu Karma – Cokelat, Esa – 510, dan Kuning – Rumahsakit dengan ciamik. Naren, gitaris Barockah, menyampaikan bahwa ia sangat senang atas kemenangan ini. “Akhirnya usaha kita selama berhari-hari ga terbuang sia-sia. Terbukti kalau usaha tidak mengkhianati hasil,” ucapnya. Anggota lainnya juga menceritakan bahwa FORS EB meninggalkan kesan mengagumkan. “Panitianya sangat welcome, terharu rasanya kayak punya kru sendiri,” lanjut Naren. Jika diberi kesempatan, Barockah mengungkapkan akan mengikuti kompetisi dari FORS EB lagi tahun depan.  Setelah penampilan memukau dari Barockah, panggung FORS EB 2025 semakin berguncang lewat suguhan musik dari Sandstorm of Youth, ESB (Economics Session Band), Liburan di Rumah, hingga Traffic Jam yang didapuk sebagai penutup. Para penampil sukses membawa penonton larut dalam berbagai nuansa musik, memastikan semangat festival tetap menyala hingga akhir acara. Ni Wayan Anggita Mayolly atau yang akrab disapa May, selaku CEO FORS EB 2025, menjelaskan bahwa acara ini merupakan wujud baru dari penggabungan dua acara yang sebelumnya diadakan secara terpisah. “Dulu tuh namanya Econofest dan EB Olympiad, jadi sekarang digabung jadi satu kepanitiaan FORS EB,” tuturnya.  Bagi May, tujuan utama acara ini lebih dari sekadar perayaan. “Kami ingin mahasiswa punya ruang untuk berkembang, tidak hanya di akademik. Festival ini wadah agar talenta bisa tampil dan diapresiasi,” lanjutnya. Melihat lautan penonton yang larut dalam kemeriahan, May tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Sebagai CEO, saya terharu sekali teman-teman bisa hadir di acara music festival ini,” ucapnya tulus. Ia pun menutup dengan harapan besar untuk masa depan acara ini, “Pesannya mungkin nanti next FORS EB bisa lebih besar lagi, lebih gacor lagi”.

Membaik atau Berhenti? Apakah benar Indonesia masih dalam Status Quo?

Penulis : Alvis Anjabie /EQEditor : Handri Regina Putri /EQLayouter : Vini Wang /EQ Pada Sabtu (27/9), Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (HIMIESPA FEB UGM) kembali menggelar seminar nasional Economics Talks 2025. Acara ini bertempat di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo, Magister Manajemen FEB UGM, dan menghadirkan sejumlah pakar ekonomi. Narasumber yang hadir antara lain Eka Chandra Buana (Deputi Perencanaan Makro Pembangunan), Eko Listiyanto (Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance), Denni Puspa Purbasari (mantan Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja), serta Gumilang Aryo Sahadewo, selaku moderator. Mengusung tema “Indonesia at a Crossroads: Building an Economic Foundation for Progress or Getting Stuck in the Status Quo”, seminar ini terbagi dalam dua subtema dengan tiga narasumber utama. Melalui forum tersebut, para pembicara membahas tantangan dan peluang ekonomi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. “Development has to be more than just the accumulation of wealth and the growth of gross national product. It has to be concerned with enhancing the lives we lead and the freedoms we enjoy”. Eka Chandra  membuka presentasi dengan quotes dari Amartya Sen, seorang economist peraih Nobel yang telah berjasa memetakan welfare economics. Bersama dengan Denni Purbasari, mereka berdua membawakan subtema pertama bertajuk Indonesia’s Demographic Dividend Revisited: Evaluating Job Opportunities for the Upcoming Generation. Sementara itu, Eko Listiyanto memaparkan subtema kedua, From Extractive to Creative: Indonesia’s Next Economic Move. Semua presentasi didasarkan pada data yang dari badan-badan kredibel untuk menganalisis bagaimana kondisi Indonesia sekarang ini, langkah apa yang dirasa relevan untuk diambil, dan memiliki peluang paling besar untuk berhasil. Presentasi dibuka dengan pemaparan kondisi terkini perekonomian Indonesia. Saat ini, Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia mencapai US$4.910, yang menempatkan Indonesia dalam kategori negara berpendapatan menengah ke atas. Angka ini masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia lain, seperti Malaysia US$11.670 dan Tiongkok US$13.360. Jaraknya semakin lebar jika dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi, misalnya Korea Selatan dengan GNI US$35.490 (World Bank, 2025). Fakta tersebut menegaskan bahwa Indonesia perlu bekerja lebih keras untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. Di sisi lain, beberapa indikator ekonomi lain menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada kuartal I 2025 masing-masing turun menjadi 8,47% dan 4,76% (BPS, 2025). Penurunan ini diyakini sebagai hasil dari berbagai kebijakan pemerintah, antara lain program bantuan sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), serta pemberian insentif bagi tenaga kerja. Meski demikian, tantangan besar masih terlihat pada pembangunan kualitas manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia memang menunjukkan peningkatan, tetapi jika dibandingkan dengan negara-negara lain, nilainya masih terlampau jauh. Hal ini terlihat dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada tahun 2022 yang hanya mencapai 369, jauh di bawah rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar 473 (OECD-PISA & World Bank, 2025). Selanjutnya, presentasi menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang relatif terjaga. Hal ini tercermin dari kinerja pendapatan negara terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang dalam kurun 2020-2024 meningkat dari 10,7% pada 2020 menjadi 12,9% pada 2024. Defisit anggaran maupun keseimbangan primer pun terkendali dalam batas aman (Kementerian Keuangan, 2024). Dari sisi moneter, perkembangan inflasi juga menunjukkan tren menurun. Setelah sempat melonjak hingga 5,95% pada September 2022 akibat kenaikan harga pangan dan energi global, inflasi berangsur turun hingga berada di level 2,31% pada Agustus 2025. Nilai tukar rupiah pun menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global, sehingga Bank Indonesia menurunkan kembali suku bunga acuannya menjadi 4,75% untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun capaian ini memberi ruang optimisme, Eka menekankan bahwa Indonesia belum bisa berbangga diri. “Kita masih memiliki mimpi besar,” ujarnya, merujuk pada target Indonesia Emas 2045. Paparan kemudian dilanjutkan oleh Denni, yang kembali menyinggung tantangan besar dari sisi pendapatan. Pada 2023, GNI per kapita Indonesia masih berada di angka US$4.580, jauh dari ambang minimal negara maju yakni US$14.005. Untuk mengejar celah tersebut, dibutuhkan pertumbuhan GNI per kapita sekitar 5,2% per tahun selama 2024–2045, atau bahkan 7,1% per tahun jika dihitung dalam rupiah. Artinya, Indonesia harus menjaga pertumbuhan PDB sekitar 8,1% per tahun. Menurut Denni, target itu tampak nyaris mustahil dicapai. Namun, ia menekankan bahwa pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah target itu realistis, melainkan upaya apa yang bisa dilakukan untuk mendekatkan perekonomian nasional pada Visi Indonesia Emas 2045. Mengutip ekonom Paul Krugman, ia menegaskan: “Productivity isn’t everything, but in the long run it’s almost everything.” Kritiknya diarahkan pada mental model masyarakat Indonesia, yakni keyakinan, asumsi, dan pemahaman kolektif tentang bagaimana dunia, orang lain, atau sistem bekerja, yang membentuk sikap kita sebagai pekerja. Selanjutnya, merujuk pada publikasi Indonesia Business Council (IBC) bertajuk “The Pursuit for Productivity, Rebuilding the Nation’s Missing Multiplier” (2025) yang menyebutkan adanya productivity blackout. Denni menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah produktivitas belum dijadikan bagian dari nilai-nilai kebangsaan (national values) dan etos kewargaan (civic ethos). Nilai kecepatan, inovasi, dan efisiensi belum hadir sebagai etika sehari-hari, berbeda dengan nilai religius, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah mufakat, harmoni, dan persatuan yang sudah mengakar. Akibatnya, pengelolaan waktu, efisiensi pribadi, serta penguasaan keahlian jarang dipandang sebagai tuntutan etis. Refleksi ini, menurut Denni, dapat terlihat dari minimnya tema produktivitas dalam ceramah, sinetron, maupun konten para influencer. Sebagai resolusi, ia menggarisbawahi sejumlah perbaikan yang perlu dilakukan: reformasi regulasi ketenagaan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kompetensi, mengurangi friksi, serta memperbaiki iklim usaha melalui Ease of Doing Business. Subtema kedua disampaikan oleh Eko, yang menyoroti pentingnya transformasi ekonomi melalui penguatan sektor kreatif. Pertanyaannya, mengapa transformasi ini penting? Pertama, untuk menghindari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Kedua, karena dinamika geopolitik dan ekonomi global seringkali tidak sesuai dengan harapan. Ketiga, ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap sumber daya alam sebagai roda. Namun, ketergantungan pada sumber daya alam ini telah menciptakan sejumlah tantangan struktural. Hal ini berdampak pada minimnya diversifikasi, rendahnya nilai tambah, serta stagnannya kontribusi dari negara-negara maju.  Berbeda dengan Indonesia, banyak negara maju justru mengalami lompatan ekonomi dengan strategi yang berlawanan. Kunci kesuksesan mereka terletak pada kemampuan melakukan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi. Oleh karena itu, mengembangkan sektor kreatif yang inovatif dan bernilai tambah tinggi bukan hanya sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjawab tantangan besar ini dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai jalan keluar, ekonomi kreatif muncul sebagai sektor yang

Merdeka Finansial, Merdeka Mental: Perempuan Bangkit, Berdaya, dan Berkarya

Penulis: Hana Hafizhah/EQ, Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQEditor: Gigih Candra Ghufroni/EQLayouter: Mahira Nurul Muthia/EQ Dalam rangka memeriahkan bulan kemerdekaan, Sanggabiz bersama BPPM Equilibrium menyelenggarakan seminar berjudul “Kemerdekaan Perempuan: Bangkit, Berdaya, Berkarya” pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Acara ini berlangsung di Lantai 8 Gedung Learning Center (LC), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung perempuan agar dapat memegang kendali hidupnya dan merdeka secara finansial. Suasana hari-H seminar (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Acara ini terbagi menjadi dua sesi materi: sesi pertama berjudul “Merdeka dari Rasa Tak Siap” dan sesi kedua berjudul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Sesi pertama dibuka dengan penayangan video tentang self comparison dari kanal YouTube Analisa Channel. Video ini menekankan kecenderungan seseorang dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain di berbagai aspek. Awalnya, sesi ini dijadwalkan untuk menghadirkan Analisa Widyaningrum, psikolog sekaligus pemilik Analisa Personality Development Center. Namun, beliau belum bisa hadir sehingga perannya digantikan dengan pemutaran video tersebut. Pembukaan oleh Master of Ceremony (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Setelah pemutaran video, sesi pertama dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Co-founder Titik Temu, Sakti Mutiara, dengan judul “Merdeka dari Rasa Tak Siap”. Dalam paparannya, Sakti menekankan pentingnya kemerdekaan bagi perempuan agar mereka dapat berkarya dengan tenang, tanpa merasa tertekan. Menurutnya, berkarya adalah cerminan dari kesehatan mental seorang perempuan sekaligus cara untuk meninggalkan jejak berupa warisan yang menjadikan hidup lebih bermakna dan abadi. “Dengan berkarya, kita menciptakan warisan yang membuat usia kita lebih panjang dari usia yang sebenarnya,” ujar Sakti.  Setelah pemaparan materi terkait pentingnya kemerdekaan perempuan, Sakti melanjutkan dengan membahas indikator utama kesehatan mental menurut World Health Organization (WHO). Indikator tersebut mencakup empat hal, yakni mampu mengatasi stres, belajar dan bekerja dengan baik, bermanfaat bagi komunitas, serta memahami potensi diri. Selain pemaparan materi, sesi ini juga dilengkapi dengan aktivitas pengisian worksheet sebagai praktik langsung agar peserta dapat mengelola diri menjadi lebih baik. Usai pemaparan materi, sesi pertama ditutup dengan tanya jawab. Salah satu peserta kemudian menanyakan bagaimana cara seorang ibu membagi waktu, terutama bagi yang bekerja atau ingin membuka usaha tambahan sambil mengurus rumah tangga. Sakti menilai pertanyaan tersebut sangat relevan karena perempuan kerap dibebani stereotipe masyarakat, misalnya perempuan dianggap hanya perlu fokus pada urusan rumah tangga. Hal ini tampak dari pertanyaan yang sering dilontarkan untuk ibu pekerja, seperti siapa yang mengurus anak mereka atau mengapa tetap bekerja meski suaminya sudah berpenghasilan. Pada dasarnya, para ibu hanya membutuhkan dukungan agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari. “Mereka membawa banyak stereotipe, maka sokongan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan,” tegas Sakti. Penyampaian pertanyaan dalam sesi diskusi (©Dahayu Anindhita Aisyfaa/EQ) Setelah penutupan sesi pertama, peserta menjalani ISHOMA (istirahat, solat, dan makan) selama 30 menit sebelum acara berlanjut ke sesi kedua. Sesi ini diawali dengan pemaparan materi oleh Dwi Andi Rohmatika sebagai CEO sekaligus pendiri Sanggabiz dengan judul “Merdeka Finansial di Tengah Ketidakpastian”. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti menjadi kaya raya, melainkan mempunyai aset yang bisa memenuhi kebutuhan tanpa perlu menukar waktu dengan uang. Aset ini tidak hanya berbentuk moneter layaknya saham dan investasi, tetapi juga berupa aset non-moneter yang muncul dari kecerdasan dominan. “Kecerdasan-kecerdasan itulah yang menjadi cara kita mendapat banyak aset tambahan,” terangnya.  Dwi menjelaskan terdapat sembilan kecerdasan dominan, yaitu linguistik, matematis, spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalistik, dan eksistensial. Setiap pribadi diyakini memiliki satu sampai tiga kecerdasan dominan yang dapat menjadi bekal membangun aset. “Misal jika kita cerdas interpersonal, bisa coba bikin video affiliate. Komitmen dan optimalkan bidang yang ada, jangan langsung lari mau coba ke yang lain. Video itu akan jadi aset non-moneter kita karena lewat satu video saja kita sudah bisa menghasilkan,” paparnya. Dalam sesi ini, peserta juga diajak mengisi worksheet untuk brainstorming ide penghasilan tambahan melalui kecerdasan dominan. “Sebagai ibu-ibu, jangan khawatir dan minder kalau tidak tahu keuangan. Dengan sembilan intelegensi tadi, kita jadi punya aset moneter dan non-moneter yang membantu kita meraih kemerdekaan finansial,” tutupnya. Sebelum sesi dua berakhir, peserta diberi kesempatan bertanya. Seorang peserta menanyakan tentang teknik terbaik menyeimbangkan pekerjaan dengan kecerdasan dominan. Ia menceritakan pengalamannya sebagai koki yang bekerja seharian penuh, tetapi masih ingin menambah penghasilan lewat menulis, sesuai dengan minatnya. Tantangannya adalah ia memerlukan fokus penuh untuk menulis, sedangkan waktunya banyak tersita untuk pekerjaan. Menanggapi hal tersebut, Dwi menekankan bahwa jawabannya kembali pada pengorbanan waktu. “Mau tidak mau kita harus meluangkan waktu, misal setelah paginya bekerja, malam hari luangkan waktu sebentar untuk menulis,” tuturnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize yang menambah semarak suasana. Sesi ini menjadi penutup yang menyenangkan dari padatnya rangkaian acara. Para peserta tampak antusias menyambut momen tersebut. Tepat pada pukul 17.30 WIB, acara resmi ditutup. Lebih dari sekadar rangkaian materi, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus pengingat akan makna merdeka. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam mengelola diri dan keuangan, khususnya bagi perempuan. Harapannya, semangat yang lahir dari acara ini dapat terus menginspirasi perempuan untuk bangkit, berdaya, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.

PIONIR SIMFONI 2025 Mengangkasa Merangkai Cerita GAMADA

Penulis: Najwa Anggi Namira & Kalyca Indira Theta /EQEditor: Handri Regina Putri /EQLayouter: Vini Wang /EQDokumentasi : HUMAS FEB & PIONIR SIMFONI Rabu (6/8), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) resmi memulai kegiatan PIONIR SIMFONI 2025 yang dilaksanakan selama dua hari ke depan. Sosialisasi dan Inisiasi Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomika dan Bisnis (SIMFONI) menjadi gerbang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal FEB UGM beserta nilai-nilai yang dijunjungnya. Berbeda dari tahun sebelumnya, PIONIR SIMFONI 2025 mengusung tema ”Meneguhkan Integritas Pelopor Muda Bangsa, Mewujudkan Dampak kemasyarakatan”. Tema ini menegaskan pentingnya membangun integritas pribadi Gadjah Mada Muda (GAMADA) di tengah perkembangan zaman dan teknologi, khususnya dalam menghadapi pesatnya kemajuan Artificial Intelligence (AI). Hari Pertama: Membuka Lembar Cerita Baru PIONIR SIMFONI 2025, Rabu (6/8), dibuka dengan persembahan tarian Mars SIMFONI oleh panitia sebagai sambutan untuk para GAMADA. Acara kemudian berlanjut dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, serta sambutan dari CEO SIMFONI 2025, Rafa Mahesa. Bersama jajaran dekan, kepala program studi, dan koordinator gugus PIONIR SIMFONI FEB UGM, Rafa mendampingi pembukaan secara simbolis yang ditandai dengan peluncuran roket. Layaknya roket yang melesat meninggalkan bumi, simbolisasi ini melambangkan harapan, semangat, dan cita-cita GAMADA untuk menggapai prestasi setinggi-tingginya di FEB UGM.  Acara selanjutnya adalah penampilan vokal grup yang diikuti dengan sesi ke-FEB-an, yaitu pengenalan FEB UGM oleh jajaran dekan yang ditutup dengan penayangan video inklusivitas FEB UGM. Sesudah itu, para GAMADA mengikuti Sesi Pembelajaran Mahasiswa (SPM) untuk mengenal program studinya masing-masing melalui dialog interaktif dengan Kepala Program Studi dan testimoni inspiratif dari alumni. Setelahnya, tibalah pada acara Quotes of The Day (QOTD) #1, yakni pementasan drama bertema nilai-nilai FEB UGM. QOTD tahun ini mengangkat konflik antara kerajaan teknologi yang ingin menguasai dunia dengan AI melawan kerajaan integritas yang berjuang menyelamatkan peradaban. Tentu tidak lengkap rasanya PIONIR SIMFONI FEB UGM tanpa kegiatan bernuansa ekonomi. Melalui sesi Developing a Business Mindset (DBM), para GAMADA diajak melatih pola pikir bisnis mereka. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai Business Model Canvas (BMC) oleh Ibu Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc. yang kemudian langsung dipraktikkan oleh GAMADA. “Waktu disuruh bikin BMC jujur seru dan unexpected, di situ kerasa banget jadi anak FEB-nya. Walaupun waktunya singkat, tapi kita jadi tau potensi bisnis kita,” ucap Widya, salah satu GAMADA dari Kelompok Lintang Padmasena. Sesudah ISHOMA, acara dilanjutkan dengan sesi Inspiring Person (IP) dengan menghadirkan Bapak Bimo Wijayanto, S.E., Ak., M.B.A., Ph.D., alumni Akuntansi UGM angkatan 2000 yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Dalam sesi ini, beliau berbagi pengalaman inspiratif seputar karir dan pengabdiannya. Kemudian sebagai penutup hari pertama, GAMADA diajak untuk lebih mengenal budaya Yogyakarta melalui sesi Cultural Arts (CA), yakni praktik membatik totebag bersama Kampung Batik Giriloyo. Selain mendapat totebag batik yang bisa dibawa pulang, setiap GAMADA juga menerima kotak bekal ramah lingkungan dari FEB UGM, sebagai bukti nyata fakultas dalam mendukung praktik keberlanjutan untuk pelestarian bumi. Hari Kedua: Puncak Cerita yang Menggema Kegiatan PIONIR SIMFONI 2025 berlanjut pada Kamis (7/8) dengan rangkaian acara baru. Hari kedua diawali dengan Tour de Faculty (TDF), di mana GAMADA diajak berkeliling kawasan FEB UGM untuk mengenal lingkungan tempat mereka akan menempuh studi selama empat tahun mendatang. “Sesi TDF bermanfaat banget! Jadi besok enggak nyasar, deh, kalo udah mulai kuliah, hehehe,” kata Jehu, salah satu GAMADA. Kegiatan selanjutnya adalah Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tema “Antara Otomasi dan Integritas: Menjawab Tantangan Etika Penggunaan AI di Kalangan Mahasiswa”. Melalui FGD ini, GAMADA tidak hanya diajak memahami isu terkini, tetapi juga dilatih untuk berani menyampaikan pendapat dan mengembangkan inisiatif. Usai FGD, para GAMADA kembali ke tempat semula, yakni plaza FEB untuk mengikuti serangkaian sesi pematerian. Acara ini diawali dengan pemaparan materi oleh unit akademik dan perpustakaan FEB UGM. Lalu sebagai selingan, acara dilanjutkan dengan QOTD #2 yang menyambung cerita drama dari hari sebelumnya. Sesaat setelah sesi drama berakhir, GAMADA kembali mendengarkan sesi pematerian oleh pihak Career and Student Development Unit (CSDU) dan Global Relation and Mobility Office (GREAT). Terakhir, rangkaian pematerian ditutup dengan sesi khusus mengenai kesehatan mental dan anti kekerasan seksual yang diisi oleh Ibu Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D., dosen Fakultas Psikologi UGM.  Tibalah pada puncak acara, yakni Simonofonia. Seluruh kelompok berpencar ke berbagai pos permainan, berkompetisi mengumpulkan uang melalui strategi dan kerja sama tim. Uang tersebut akan menjadi modal berbelanja alat dan bahan kreatif di pasar input. Dengan semangat membara, para GAMADA mendesain dan membuat berbagai senjata permainan. Senjata-senjata tersebut akan digunakan oleh pasukan perang dalam kelanjutan cerita dari sesi QOTD #2. Rangkaian PIONIR SIMFONI 2025 ditutup dengan apik melalui serangkaian acara penutupan. CEO SIMFONI 2025 memulai sesi dengan pemberian penghargaan kepada para peserta berprestasi. Momen penutupan kemudian mencapai puncaknya ketika Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., melakukan penutupan simbolis dengan penurunan roket dan penancapan bendera sebagai tanda keberhasilan penyelenggaraan. Terakhir, acara ditutup dengan pembacaan ikrar yang dipandu oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) FEB UGM yang kemudian diikuti oleh seluruh GAMADA.  Tidak lupa dengan tradisi tahunannya, PIONIR SIMFONI 2025 mempersembahkan momen spesial melalui penampilan Economics Session Band (ESB) yang membawakan lagu berjudul Melompat Lebih Tinggi karya Sheila on 7 dengan aransemen segar. Suasana semakin meriah ketika seluruh panitia bersatu dalam harmonisasi tarian dan nyanyian Mars SIMFONI, disusul dengan penurunan spanduk ikonik bertuliskan “Selamat Datang GAMADA FEB 2025” yang mengundang sorak-sorai. Sebagai penutup yang benar-benar mengakhiri rangkaian PIONIR SIMFONI 2025, Econolympus (Ultras Supporter FEB UGM) hadir dalam arak-arakan bendera menyanyikan lagu-lagu penuh semangat untuk para GAMADA. Integritas Sebagai Landasan dalam Berkarya Seluruh rangkaian acara PIONIR SIMFONI 2025 telah sukses terlaksana dengan baik, meninggalkan kesan hangat bagi seluruh pihak yang terlibat. Setiap momen, mulai dari kegiatan akademik, interaksi hangat antar mahasiswa, hingga penampilan penutup yang meriah, menjadi bukti semangat kebersamaan di FEB UGM.   Aisyah, GAMADA dari kelompok Lintang Rakata menyebut PIONIR SIMFONI FEB UGM sebagai momen paling berharga dan berkesan selama menjadi GAMADA. Ia terkesan dengan berbagai penampilan dan nilai pembelajaran di setiap acara, serta menganggap PIONIR SIMFONI bukan sekadar orientasi, melainkan pengalaman kebersamaan yang membuatnya merasa menjadi bagian dari

Ratusan Peserta Berlari dan Berbagi melalui Menefest 2025

Penulis: Shaffa Az Zahra, Hayva Dian Nurbaiti/EQEditor: Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQLayouter: Vidhyazputri Belva A/EQ Menefest (Management’s Festival) 2025 merupakan salah satu rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ke-40. Tahun ini, Menefest digelar di FEB UGM. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (24/05/2025) dan dimulai pukul 05.00 WIB. Menefest digagas oleh departemen Sport & Art Association (SPARTA) Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) FEB UGM dan didukung oleh kontribusi dari mahasiswa manajemen. Menefest 2025 mengusung tema New York dengan tagline “Build to Last, Make to Move”.  Acara ini diawali dengan 5K charity run yang diikuti lebih dari 400 peserta. Acara ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah, komunitas, dan kalangan, seperti mahasiswa, orang tua, anak sekolah, atlet, hingga selebgram yang berfokus di bidang lari. Dalam kompetisi ini terdapat dua kategori pemenang, yakni women dan men, dengan first finisher women yang berasal dari Medan. Chief Executive Officer (CEO) Menefest, Sultan Fairuz, mengatakan bahwa Menefest memiliki basis charity run yang membedakannya dengan kompetisi lari pada umumnya. “Melalui Menefest, kami ingin menumbuhkan jiwa kepedulian terhadap sesama dan juga menunjukkan bahwa kita di zaman sekarang masih (bisa) peduli dengan orang lain,” ungkapnya. Dana yang terkumpul dari charity run ini akan didonasikan ke Panti Wredha Mulya, Sendowo, Sinduadi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program I-Care.  Menefest memberikan kesan berharga bagi peserta, salah satunya Aldilo, yang mengaku telah mempersiapkan diri selama satu bulan demi hasil yang terbaik dalam Menefest kali ini. “Dari yang awalnya masih lambat larinya, tadi bisa selesai race kurang dari 30 menit,” ujarnya dengan bangga. Hal serupa disampaikan oleh Radit, mahasiswa dari Salatiga yang tergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Atletik UGM, “Aku memang punya hobi lari jadi senang bisa menciptakan rekor baru,” ungkapnya.  Setelah charity run usai, acara dilanjutkan dengan opening awarding oleh Master of Ceremony (MC), kemudian sambutan dari Chairs IKAMMA (Abednego Pangaribuan) dan CEO Menefest (Sultan Fairuz), lalu pemotongan tumpeng, dan dilanjutkan dengan E-Share. E-Share sendiri diselenggarakan oleh departemen Entrepreneurship IKAMMA yang tahun ini berkolaborasi dengan Menefest dalam mengadakan talkshow bersama pebisnis sukses, seperti CO-Founder Space Roastery, William Christiansen dan pelari profesional, Rolan Sihombing.  Acara dilanjutkan dengan penampilan memukau dari band Las Vegas, kemudian penyerahan donasi I-Care secara simbolis. Kemeriahan kembali memuncak saat sesi pembagian doorprize yang sukses membangkitkan antusiasme peserta. Penghargaan kemudian diberikan kepada para pemenang lomba Mana-Game-Ent yang telah digelar pada Jumat (23/05/2025), serta kepada pemenang charity run untuk kategori women dan men. Menefest diakhiri dengan penampilan dari tiga band lainnya, yakni Economics Session Band (ESB), Gamaband, dan Science Music Community.  Hana Ismailia, Chief Marketing Officer (CMO) Menefest 2025, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan Menefest tahun ini, yang berjalan lancar, dan tidak ada hambatan yang berarti. Peserta lebih memahami rute dan panitia juga memiliki komitmen yang tinggi dalam menyukseskan acara ini. “Harapan kedepannya insyaallah bakal tembus 1000 atau 2000 peserta dengan doorprize yang lebih keren lagi,” tutup Hana. 

Menyongsong Masa Depan dengan Audit Aset Digital Dalam Audit Workshop 2024

Penulis: Keffa Auna Rasyidina/EQEditor: Rifaldi Pratama Siboro/EQLayouter: Keffa Auna Rasyidina/EQ Hari Sabtu (9/11/2024), Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) melakukan kolaborasi dengan RSM Indonesia dalam acara Audit Workshop 2024. Audit Workshop adalah program kerja dari Departemen Career Preparation yang bertujuan untuk melatih keterampilan mahasiswa Akuntansi dalam praktik audit. Acara ini diikuti oleh 48 mahasiswa S-1 Akuntansi yang telah lulus mata kuliah audit. Audit Workshop 2024 memiliki tema “Digital Asset Accountability: Auditing in A World Beyond Borders.” Dalam sambutannya, Nurmaidah Rahmawati (Akuntansi 2023) sebagai ketua pelaksana Audit Workshop 2024 mengatakan bahwa, “Dengan tema ini, peserta dapat lebih mengenal strategi dan best practices yang dapat digunakan dalam audit aset digital.” Athala Wirya (Akuntansi 2023), yang juga bertugas sebagai ketua pelaksana, juga berharap bahwa di era maraknya cryptocurrency dan aset digital, mahasiswa Akuntansi FEB UGM sudah memiliki kiat-kiat untuk menghadapinya. Acara dibuka oleh Master of Ceremony dan dilanjutkan  dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua pelaksana, Chairman Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA), dan perwakilan program studi Akuntansi. Ibu Dewi Fatmawati, selaku perwakilan dari program studi Akuntansi, merasa senang dengan adanya Audit Workshop 2024. Beliau menjelaskan bahwa acara ini dapat menjadi jalan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dalam pembelajaran. Chairul Wismoyo, Partner Audit di RSM Indonesia, mengakui bahwa tema Audit Workshop tahun ini sangatlah unik. “Dalam proses pengauditan, digital asset itu sebenarnya cukup sulit (untuk diaudit). Hal ini dikarenakan digital asset itu tidak traceable sehingga mempersulit proses audit,” ujarnya. Setelah sesi materi, acara dilanjutkan dengan praktik audit. Peserta diberikan case study yang dipecahkan secara berkelompok. Selama pengerjaan, peserta dibimbing oleh praktisi dari RSM Indonesia yang memberikan wawasan praktis terkait tantangan dan solusi dalam proses audit. Kemudian, setiap kelompok pun melakukan presentasi tentang hasil diskusi mereka di depan kelompok lain. Kemudian, acara ditutup dengan sesi awarding dan penyerahan sertifikat. Jack Daniel (Akuntansi 2022), salah satu peserta yang dianugerahi titel best participants pun merasa puas dengan pelaksanaan acara. “Audit Workshop tahun ini seru dan insightful banget! Kami dapat banyak ilmu serta tips and tricks dari kakak-kakak RSM untuk melakukan pengauditan, terutama dalam ranah mengaudit kas dan perusahaan yang bergerak di bidang investasi crypto. Apalagi, dalam Audit Workshop tahun ini, kami tidak hanya melakukan audit laporan keuangan, tetapi juga melakukan inquiry, confirmation, dan lainnya, sehingga kami mendapatkan real simulation tentang aktivitas audit yang sangat berguna dalam praktik langsung,” ujarnya. Audit Workshop 2024 menghadirkan perspektif baru bagi mahasiswa Akuntansi tentang audit dalam ranah digital. Acara ini sukses menjadi jembatan antara dunia akademik dan korporasi. Harapannya, mahasiswa S-1 Akuntansi dapat menghadapi tantangan audit di masa depan dengan lebih sigap dan percaya diri, terutama dalam menghadapi dinamika industri yang terus berkembang.

Seminar 19th FSDE: Membangun Human Capital untuk Masa Depan Berkelanjutan

Penulis : Nawfal Aulia/BBPM EquilibriumEditor : Rifaldi Pratama Siboro/BPPM Equilibrium Yogyakarta, 2 November 2024 – Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan tahunan Forum Studi dan Diskusi Ekonomi (FSDE) yang ke-19, seminar bertajuk “Fostering Human Capital Development: A Way for Developing Countries to Level Up” berhasil menghadirkan suasana intelektual yang penuh semangat dan inspirasi. Tahun ini, FSDE semakin memperkuat perannya dengan menghadirkan seminar berstandar internasional yang tidak hanya membahas isu-isu ekonomi secara mendalam, tetapi juga menghadirkan narasumber berpengalaman untuk menggali strategi peningkatan modal manusia di negara berkembang. Acara ini dibuka dengan meriah melalui penampilan Gadjah Mada Chamber Orchestra dan Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Swagayugama, yang turut menambah kesan istimewa pada perhelatan kali ini. Ketua Panitia 19th FSDE, Arlingga Makarim, menjelaskan bahwa tema yang diangkat pada seminar ini berfokus pada pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut Angga, seminar ini bertujuan menciptakan ruang diskusi yang kaya akan wawasan, terutama dalam mengupas strategi-strategi efektif guna meningkatkan pemahaman dan kualitas sumber daya manusia. “Seminar ini juga menjadi forum untuk mengeksplorasi dinamika dan pengaruh politik terhadap pengembangan sumber daya manusia,” jelasnya, menekankan bahwa ruang ini membuka peluang bagi seluruh peserta untuk memahami kompleksitas dan pentingnya investasi di modal manusia. Seminar ini menghadirkan keynote speaker dari sektor ekonomi dan pemerintahan, dimulai dengan pemaparan inspiratif dari Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. Arsjad menekankan bahwa perkembangan ekonomi suatu negara sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Ia menjelaskan bahwa masa depan pekerjaan semakin bergeser ke arah yang lebih digital dan berteknologi tinggi, seperti big data dan cloud computing, yang menuntut sumber daya manusia (SDM) untuk mampu beradaptasi. Menurutnya, kolaborasi antara sektor pemerintah, industri, dan pendidikan perlu ditingkatkan agar Indonesia dapat bersaing di panggung global. Menambah kedalaman perspektif pada isu ini, Drs. Amich Alhumami, MA, M.Ed., Ph.D., Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), menyampaikan pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai landasan utama peningkatan kualitas SDM. Ia menyoroti bahwa keluarga yang berpendidikan lebih sadar akan pentingnya pola asuh yang baik, yang berdampak langsung pada kualitas generasi muda. Selain itu, Amich menekankan bahwa ketergantungan ekonomi pada investasi asing perlu dikurangi dengan membangun sektor pendidikan dan kesehatan yang mandiri, demi kemandirian ekonomi yang lebih berkelanjutan. Puncak acara ini diisi dengan presentasi dan diskusi speaker, yaitu Bhima Yudhistira Adhinegara, Amanda McLoughlin, dan Reza Anglingkusumo, yang semakin memperkaya diskusi dengan sudut pandang beragam terkait tantangan pembangunan modal manusia. Bhima menyampaikan kritik tajam terhadap ketergantungan Indonesia pada ekspor sumber daya alam yang merusak lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Sementara itu, Amanda McLoughlin menekankan pentingnya kolaborasi internasional sebagai upaya mengatasi kesenjangan modal manusia di negara-negara berkembang. Di sisi lain, Reza Anglingkusumo menyoroti bahwa peningkatan kualitas pendidikan sangat dibutuhkan agar tenaga kerja Indonesia mampu menghadapi tantangan pasar yang semakin terotomasi dan berorientasi pada teknologi. Secara keseluruhan, seminar 19th FSDE tahun ini berhasil menciptakan suasana diskusi yang dinamis dan berwawasan, yang sangat relevan untuk pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia. Setiap sesi, mulai dari pemaparan para keynote speaker hingga diskusi inspiratif, berhasil menggali tantangan dan peluang dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Keberhasilan penyelenggaraan acara ini mencerminkan komitmen dan kerja keras panitia dalam menciptakan lingkungan yang inspiratif dan edukatif, memungkinkan para peserta untuk saling bertukar ide dan pengalaman. Dengan format internasional yang diperkenalkan tahun ini, FSDE semakin mengukuhkan posisinya sebagai forum terdepan yang mendorong Indonesia menuju masa depan yang lebih berdaya saing dan inklusif.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin