WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Bisnis Zero Waste: Pahlawan yang Minim Dukungan

Oleh: Yolinda Nur Istighfari/EQ
Editor: Virginia Stella Monica/EQ
Ilustrasi oleh: Naelufara/EQ

Pernahkah kompanyon melihat pemberitahuan seperti, “Indoapril sekarang sudah tidak menyediakan plastik belanja.” atau kasir Marita Kampus yang selalu menanyakan apakah kita membawa tas belanja atau tidak? Hal-hal tersebut merupakan bagian dari upaya pengurangan sampah dan kampanye gaya hidup zero waste. Seperti namanya, zero waste lifestyle merupakan gaya hidup di mana seseorang meminimalisir penggunaan barang sekali pakai demi mengurangi polusi. Ada beberapa aksi zero waste yang bisa dilakukan. Salah satu yang paling sederhana yaitu menggunakan tas belanja sebagai ganti dari plastik yang sekarang sedang digencarkan.

Beberapa waktu belakangan, para pegiat zero waste pun telah membuka berbagai bisnis yang mencerminkan lifestyle mereka. Bisnis yang berkonsep zero waste sudah cukup menjamur. Penelitian dari Ardiyatna dan Anityasari (2020) mengobservasi proses bisnis dari toko zero waste di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Yogyakarta. Mereka menemukan bahwa semua toko zero-waste di Indonesia dibentuk berdasarkan inisiatif dari pemilik toko dan bukan merupakan proyek korporasi maupun instansi. Produk-produk yang dijual pun beragam, dari makanan hingga produk sabun dan sampo. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa hingga Januari 2023, telah teridentifikasi 209 pelaku usaha social entrepreneurship yang bergerak di bidang pengurangan dan penanganan sampah di Indonesia. Antara lain toko curah (bulk store), bisnis refill, bisnis reuse, waste collection and recycle, dan bisnis upcycle.

Keberadaan bisnis dengan konsep zero waste ini merupakan aksi nyata dari perang melawan sampah di Indonesia. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 menyebut jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 21,1 juta ton. Dari total produksi sampah nasional tersebut, 65,71% (13,9 juta ton) dapat terkelola, sedangkan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik. Didasari alasan itu, perlu adanya kesadaran kolektif dan keterlibatan dari masyarakat dalam pengelolaan sampah ini. Generasi muda berperan penting dalam mencapai target zero waste melalui pendekatan inovasi, salah satunya dengan cara membangun startup pengelolaan sampah. Pendekatan social entrepreneurship menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia sekaligus manifestasi prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan. 

Sebagai studi kasus bisnis zero waste, penulis telah melakukan wawancara kepada salah satu bisnis yang menerapkan zero waste dalam operasionalnya, yaitu Attempe. Kompanyon yang berdomisili di Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan nama Attempe ini. Attempe merupakan produsen tempe dan aneka olahannya. Produk dari usaha ini telah dipasarkan di supermarket-supermarket di Yogyakarta, seperti Manna Kampus dan Hypermart. Terkenal dengan produknya yang berasal dari kedelai lokal, Attempe juga melakukan proses produksi yang menerapkan metode zero waste

Saat ditanya tentang apa yang menginspirasinya untuk mendirikan bisnis ini, Nungki, pendiri Attempe, mengatakan bahwa ia memang telah mencoba menerapkan gaya hidup tanpa sampah. Nungki juga mengatakan idenya berangkat dari peluang pemanfaatan tempe dan semua hasil olahannya. Mulai dari kulit ari kedelai, air bekas rebusan, hingga sisa tempe, semuanya dimanfaatkan. Untuk memaksimalkan pemanfaatan ini, Attempe pun bekerja sama dengan pihak ketiga, salah satunya peternak. Ini menunjukkan bahwa dalam usahanya mengurangi sampah, bisnis zero waste bisa bekerja sama dengan banyak pihak untuk menambah value

Selama tujuh tahun berkecimpung di bisnis zero waste, Nungki menemui berbagai permasalahan dalam menjalankan bisnisnya. Selain dari masalah pemasaran, Nungki juga merasa kesulitan untuk menemukan kemasan non-plastik yang bisa menjaga kesegaran produk tempenya. Oleh sebab itu, sayangnya, sampai saat ini Attempe masih menggunakan kemasan plastik. Nungki berharap kedepannya ia akan menemukan produsen kemasan ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk produknya. Nungki sangat menunggu inovasi-inovasi untuk muncul dan membantunya membuat bisnis Attempe untuk benar-benar nol sampah. 

Mengingat bisnis zero waste yang tengah mendapat perhatian pemerintah, penulis juga menanyakan respon pemerintah lokal terhadap eksistensi Attempe. Nungki tersenyum saat penulis menanyakan hal ini padanya. “Belum ada dukungan atau bantuan. Kami kerjakan semuanya sendiri dari dulu,” kata Nungki. Oleh karena itu, Nungki mengungkapkan harapannya atas dukungan pemerintah kepada para pelaku usaha zero waste. “Paling tidak, untuk yang sudah berdiri, supaya bisa didukung,” tukasnya. 

Untuk mendukung bisnis zero waste, belum cukup hanya dengan memberikan apresiasi lisan atau tulisan. Perlu adanya dukungan nyata yang bisa dirasakan oleh para pelaku bisnis. Hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah misalnya dengan memberikan wadah inovasi untuk mendukung bisnis nol sampah. Jika mengambil kasus Attempe, pemerintah bisa ikut berpartisipasi dalam mendanai inovasi kemasan tempe ramah lingkungan. Pemerintah juga bisa memberikan insentif bagi bisnis-bisnis yang berhasil berproduksi dengan nol sampah. Insentif tersebut misalnya berupa kemudahan dalam perizinan atau kredit. 
Dalam ekonomi, terdapat prinsip yang berbunyi, “people responds to incentive”. Dengan tersedianya dukungan dana untuk inovasi juga kemudahan perizinan dan kredit, pelaku usaha akan memiliki motivasi untuk mengurangi sampah dalam kegiatan operasionalnya. Adanya insentif juga secara tidak langsung mempromosikan zero waste lifestyle yang menjadi target pemerintah. Maka dari itu, semua pihak harus ikut ambil bagian dalam upaya membuat Indonesia bebas sampah.

Pengunjung :
268

Solverwp- WordPress Theme and Plugin