Aksi Jogja Memanggil, Wujud Kedamaian di Tengah Tuntutan Reformasi
Penulis: Najwa Anggi Namira dan Marcellinus Krisnado Suhatno/EQEditor: Frida Lucyana WahyuningsihLayouter: Gilang Wirabumi/EQ Terik matahari mewarnai langkah ratusan demonstran yang bergerak serentak menyuarakan keresahan yang lama terpendam. Massa tampak memadati Bundaran UGM dengan barisan rapat, menyatukan suara lewat orasi yang menggema. Pada Senin (1/9), Aliansi Jogja Memanggil berhasil menyelenggarakan aksi dengan khidmat dan damai. Terdapat satu hal yang mencuri perhatian dalam aksi ini, yakni massa yang memilih duduk bersila di sepanjang bundaran, seolah menjadikan momen ini bukan hanya teriakan protes, melainkan juga ruang untuk menunjukkan solidaritas bersama. Aksi Demonstrasi Bisa Damai Para demonstran yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai terlihat berdatangan ke Bundaran UGM sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian, massa disusul oleh mahasiswa UGM yang terlihat menggunakan jas almamater. Mereka juga tampak membawa sejumlah poster, spanduk, dan bunga untuk mendukung suasana. Aksi kali ini menjadi bukti bahwa luapan aspirasi bisa dilakukan tanpa tindakan ricuh dan anarkis. Di tengah ketenangan aksi, Boengkoes, perwakilan Aliansi Jogja Memanggil, membuktikan bahwa demonstrasi dapat berlangsung tanpa tindakan anarkis, walau tetap membakar semangat massa. “Prabowo sempat menyatakan bahwa jangan melakukan anarkis dan lain sebagainya. Ya, kita membuktikan itu,” tandasnya di tengah wawancara dengan para wartawan. Lebih lanjut, pemilihan lokasi aksi juga mempertimbangkan agar situasi lebih kondusif. Selama masa konsolidasi, beberapa titik lokasi menjadi bahan pertimbangan aksi demonstrasi. Boengkoes menegaskan bahwa pemilihan lokasi Bundaran UGM merupakan tindakan antisipasi isu provokasi yang rentan terjadi selama masa aksi, terutama terkait penjarahan terhadap etnis Tionghoa. Di sisi lain, pemilihan lokasi Bundaran UGM juga mempertimbangkan keberlangsungan aktivitas ekonomi pedagang kaki lima yang terancam akibat aktivitas demonstrasi. Sekilas Penyebab Aksi Aksi ini adalah bentuk reaksi publik atas terjadinya peristiwa kelam yang terjadi dalam sepekan belakang. Di antaranya adalah arogansi Polri yang berujung menelan jiwa seorang pengemudi ojol, Affan Kurniawan pada kamis (28/8) di Jakarta. Ia tewas karena dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) yang dikendarai oleh anggota aparat pada malam harinya saat sedang mengantar pesanan. Kemudian, massa juga menuntut keadilan atas kematian Rheza Shandy Pratama, mahasiswa Amikom Yogyakarta, yang diduga meninggal karena aksi brutal aparat saat sedang melakukan aksi demonstrasi di depan Polda DIY pada hari Jumat (29/8). Kasus tersebut hingga saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh Polda DIY. Rangkaian Aksi Demonstrasi Orasi terus disampaikan silih berganti oleh perwakilan mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga masyarakat sipil. Tuntutan mereka mengerucut pada tiga hal utama, yakni penghentian praktik represif aparat, evaluasi kebijakan politik dan pemerintahan, serta penolakan pemberian tunjangan berlebih kepada anggota DPR. Menegaskan semangat damai dalam menyuarakan tuntutan tersebut, salah satu orator menyerukan, “Hari ini, Jogja Memanggil menunjukkan bahwa aksi kita aksi damai. Sejak 97/98, aksi kita damai walaupun tetap direpresif oleh aparat. Kalau kalian represif di Jogja, kualat kalian,” ucapnya di tengah demo berlangsung. Selain sikap massa yang duduk bersila saat mengutarakan aspirasi mereka, hal lain yang menarik perhatian adalah ketiadaan aparat keamanan di lokasi aksi sehingga membuat suasana aksi semakin terasa lebih tenang. Jalan raya di sebelah selatan lokasi aksi pun masih berjalan normal, tanpa adanya penutupan maupun pengalihan jalur lalu lintas. Terasa sekali bagaimana rasa solidaritas yang kuat menyelimuti aksi ini. Banyak pihak menyalurkan dukungannya melalui donasi logistik, seperti membagikan makanan dan minuman secara gratis kepada para massa. Seluruh rangkaian aksi ini akhirnya ditutup dengan pertunjukan dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pertunjukan tersebut berupa tarian barong diiringi gamelan, dengan tokoh bertopeng yang menggerakkan seekor keledai dan tikus. Hal itu seolah menjadi sebuah metafora, menggambarkan rakyat terbelenggu oleh kekuasaan yang tidak berpihak kepada mereka. Kabar Tuntutan Demonstrasi Hari sudah berganti, tuntutan aksi demonstrasi yang tersebar di seluruh Indonesia dipertegas melalui 17+8 tuntutan. Tuntutan ini berisi rangkuman gugatan rakyat selama aksi yang terfokus pada penghentian brutalitas aparat keamanan, reformasi lembaga negara dan partai politik, serta peninjauan kembali kebijakan kesejahteraan masyarakat. Hingga kini (5/9), tuntutan tersebut memperoleh tanggapan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Harapan Besar Masyarakat Ghazi, koordinator lapangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM aksi Jogja Memanggil, menyampaikan harapan agar situasi dapat kembali kondusif secara bertahap. Ia menegaskan bahwa perubahan yang dicita-citakan oleh rakyat dapat tercapai dengan cara yang lebih baik. Ghazi juga menekankan komitmen untuk terus mengawal tuntutan yang telah dicanangkan dan mendorong realisasinya. “Jika harus ada harga mahal yang dibayar, mahasiswa siap melakukan pengorbanan demi kemenangan dalam memperjuangkan reformasi atau revolusi ini,” tegasnya. Di tengah damainya aksi, masyarakat masih menaruh harapan besar kepada seluruh lapisan pemerintahan. Demo bukan hanya sebagai lambang seruan masyarakat terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, melainkan juga bentuk kepedulian rakyat terhadap keberlangsungan negara. Masyarakat sadar bahwa demi mencapai negara yang sejahtera dibutuhkan sistem pemerintah yang bersih dan transparan. Hal tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya perlawanan. Maka dari itu, demonstrasi seharusnya tidak ditindak dengan cara yang represif, tetapi dengan pendekatan lebih humanis.



