BPPM Equilibrium

Seribu

Oleh : Aulia Valerie Fawzia
Ilustrasi oleh : Naelufara/EQ

seribu
/se.ri.bu/
but if the story is over, why am i still writing pages?

Halo, Dama.

Selamat hari ke seribu perpisahan kita.

Dama, kalau seribu hari yang lalu adalah hari terakhir kita bertemu, maka dua ribu hari yang lalu merupakan hari pertama kali kita bertemu.

Dua ribu hari yang lalu aku bertemu kamu di selasar minimarket. Hari itu hujan dan kamu nggak membawa payung, begitu pula dengan aku. Entah kebetulan semua orang sedang membawa mantel atau mereka memang rela berbasah-basahan melawan derasnya air hujan, minimarket hari itu sepi. Hal itu pula yang membuat aku dan kamu jadi kayak orang pacaran yang baru aja pulang sekolah–padahal nggak.

Nggak ada satu diantara kita yang mau memecahkan suasana sore itu, mungkin sama-sama canggung karena kita belum pernah berinteraksi sebelumnya. Kala itu, apa yang aku tahu tentang kamu sebatas siswa kelas sebelah yang hobinya main sepak bola di jam istirahat maupun olahraga. Namun, setelah sore itu, aku tahu satu hal baru tentang kamu.

Kamu alergi bulu kucing.

Sayang banget, padahal kucing itu lucu.

Anehnya, Dama, kamu yang takut kucing dan aku yang justru menghampiri kucing liar di minimarket kala itu berhasil menciptakan percakapan pertama di antara kita. Panjang. Sampai kita nggak menyadari bahwa hujan akhirnya berhenti. Sampai kita lupa waktu, karena tiba-tiba saja hari sudah beranjak semakin malam. Bahkan, sampai aku lupa kalau aku masih harus belajar untuk ulangan harian besok paginya. Aneh nggak sih, Dam?

Buatku, itu aneh. Namun, kalau memang suatu hal aneh justru bisa membuat kita semakin dekat, maka aku nggak akan mempermasalahkan semua keanehan itu (harus kubilang berapa kali lagi sih, bahwa cinta itu buta?)

Dama, apa kabar?

Baik kan? Aku harap kamu selalu baik-baik saja.

Beberapa ribu hari yang lalu, setelah pertemuan kita di minimarket, percaya nggak kalau aku jadi sering izin ke toilet setiap kali kelasmu sedang jam olahraga? Hehehe maaf ya, dulu aku sering mengelak setiap kali kamu membahas ini.

Oh iya, Dam. Buatku, Dama yang dekat-dekat sama kucing itu selalu kelihatan kayak anak laki-laki yang selalu dimanja sama orang tuanya. Meskipun demikian, kamu yang baru main sepak bola itu kelihatan kayak Dama yang pusat dunianya cuman berfokus di sepak bola aja. Seolah nggak ada satupun hal yang bisa mendistraksi kamu dari apa yang kamu sukai ini. Kamu sadar nggak kalau setiap kali kamu main sepak bola, banyak banget ekspresi yang terbentuk di wajah kamu. Mungkin kalau aku gabungin jadi satu, seluruh emoji di keyboard ponsel kita sudah bisa mewakili semuanya ya, Dam? Hehehe.

Tetapi, Dama, dari sekian ribu ekspresi yang kamu punya, cuman ada satu yang menjadi favoritku:

Ekspresi bahagiamu.

Sebab Dama yang sedang bahagia itu pasti akan tersenyum sepanjang waktu. Senyum yang secerah matahari pagi, secantik rembulan, seindah bintang-bintang dan langit malam. Kamu selalu seperti itu, Dama–tak lupa pula kedua lesung pipi kamu pasti muncul bersamaan dengan mata kamu yang menyipit. Terkadang, rasanya aku sampai ingin meleleh. 

Senyum kamu manis, Dam. Bikin aku suka sekaligus bingung, apa dulu kamu lahir ketika Tuhan sedang tersenyum ya, Dam? Sama kayak Bumi Pasundan yang lahir ketika Tuhan sedang tersenyum. Mungkin iya, mungkin juga nggak. Tetapi yang pasti, aku selalu berharap sama Tuhan supaya aku bisa lihat senyum kamu lagi setiap hari.

Dama, hari ini hari ke seribu, tetapi kenapa ketidakhadiranmu masih saja terasa pilu?

Dulu, di hari ketika usiaku akhirnya menginjak kepala dua, kamu ngasih aku proposal yang isinya bebas aku isi permintaan apapun-sepanjang itu bukan permintaan untuk check out seluruh keranjang belanjaan di aplikasi belanja online, katamu. Ingat nggak Dam, kalau dari tiga permintaan yang aku ajukan, masih ada satu yang belum terkabulkan?

Menonton konser Taylor Swift bersama.

Tahun ini, boleh tidak Dam, kalau aku meminta kamu untuk mengabulkan permintaan terakhirku kala itu?

Kalau iya, ayo kita cepat-cepat war tiket supaya bisa dapat bagian CAT 1. Supaya kita bisa bikin instastory sambil nyanyi lagu Love Story. Supaya kita bisa selfie colongan bersama Taylor Swift meskipun hasilnya pasti nggak memuaskan, serta supaya-supaya lainnya yang saking banyaknya pasti nggak akan bisa aku sebutkan satu per satu. 

Dama, Tamara rindu.

Tamara rindu pada sosok pemilik mata secantik sinar arunika yang selalu mampu menghangatkan setiap kapita itu. Pada sosok yang setiap gerak-geriknya selalu membawakan kebahagiaan. Pada jiwa bernama Dama yang eksistensinya selalu menjadi salah satu alasan mengapa Tamara bersyukur setiap harinya.

Dama, mari mulai kembali semua yang sempat kita akhiri, hingga kamu sadar bahwa dengan bersamaku saja, kamu sudah merasa cukup. Hingga kamu sadar bahwa sejak dahulu, puisi Sapardi memang sepenuhnya benar. 

Bahwa yang fana adalah waktu, Dama. Kita abadi.

Dama, mari bertemu.

Pengunjung :
641

Solverwp- WordPress Theme and Plugin