WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Menggapai Kebebasan

Oleh: I Wayan Monasatya Ranu Lantara
Ilustrasi oleh : Mtchi

Pintu bunker bawah tanah terbuka perlahan-lahan, Theodor mencoba untuk tidak membangunkan putrinya yang sedang tertidur. Dia baru saja pulang dari perjalanannya untuk mencari persediaan untuk minggu ini. Ia menaruh tas beserta perlengkapannya di kotak desinfeksi, sembari menenangkan diri setelah perjalanan yang melelahkan itu. Kakinya terasa seperti akan ambruk kapan saja. Tetapi, ia tidak lupa untuk membersihkan diri dari efek radiasi dari daratan Jerman yang gersang akibat Perang Dunia III.

Setelah beberapa saat, Theodor beranjak dari ruang desinfeksi (kamar mandi), masih mencoba untuk tidak membuat banyak suara. Theodor dapat benar-benar beristirahat sekarang. Lantas, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyeduh segelas teh. Ketenangan Theodor terpecah oleh bunyi dari kotak desinfeksi. Ia bergegas mematikan alat tersebut dan mengambil barang-barangnya. 

Di dalam tasnya, terdapat aneka macam bahan makanan seperti oatmeal, daging kalengan, jagung kalengan, sayur kalengan, dan lain lain. Ia tersenyum dan bersyukur, “Hari ini aku dapat banyak. Harusnya ini cukup untuk seminggu ke depan.” Setelah merapikan semua barang ke dalam lemari, ia kembali menikmati teh yang ia seduh tadi. 

Tiba-tiba, Theodor dipeluk dari belakang oleh putrinya, Ayla. Rupanya, upaya untuk tidak membangukan putrinya gagal. Ayla menyambut kedatangan ayahnya dengan pelukan hangat, “Papa!”. Theodor memeluknya kembali. Mereka melepaskan pelukan setelah beberapa saat, lalu Theodor mulai menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Karena kali ini Theodor membawa banyak persediaan, Theodor bisa memasak tanpa perlu khawatir.

Beberapa menit berlalu, jam di dinding menunjukkan pukul 19.00. Ayla tidak sabar untuk menyantap masakan ayahnya. Kesabaran Ayla terbayarkan ketika Theodor menyelesaikan masakannya, “Ayla, Papa sudah selesai masak, ayo makan!” Ayla bergegas ke dapur untuk mengambil makan malamnya. Ayla melahap sup tersebut bagaikan anak burung yang diberi makan oleh induknya. 

Setelah selesai makan, Ayla bertanya, “Papa, kapan kita bisa kembali ke permukaan? Apakah aku akan tinggal di bawah tanah selamanya?” Suasana ruang makan yang tadinya dipenuhi dengan kegembiraan, sekarang digantikan dengan hawa kekhawatiran. Theodor mengerti perasaan putrinya dan menjawab, “Ayla, Papa tidak tahu, tapi yang penting kita harus bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk hidup, meskipun kita sedang dilanda nuclear winter.” 

Ayla mangangguk, dan mengutarakan kerinduan terhadap ibunya, “Aku rindu Mama, Papa. Kenapa Mama harus meninggalkan kita?” Theodor beranjak dari kursinya dan memegang kedua pundak Ayla, “Ayla, Papa juga rindu Mama. Tapi, Mama pasti sudah tenang disana. Lagipula, Mama tidak ingin melihat Ayla sedih, benar kan? Ayo, jangan murung gitu dong. Nih, Ayah punya beberapa biskuit untukmu.” Ia jawab sambil merogoh kantongnya untuk mengambil sebungkus biskuit.

Ayla menerima bungkus biskuit tersebut, dan dengan perlahan memakannya. “Terima kasih, Papa”, Ayla menjawab. “Nah gitu dong, Ayla. Jangan murung mulu. Oh iya, setelah selesai makan, bersihkan piring dan siap-siap untuk gosok gigi, ya!” Theodor mengingatkan Ayla. “Baik, Papa.” Ayla mengambil piring dan peralatan makan dan mencucinya di dapur. Setelah itu, Ayla dan Theodor menggosok gigi masing-masing. 

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.45, waktunya Ayla untuk tidur. Theodor menemaninya di kamar tidur yang dulunya sebuah gudang. “Tidur yang nyenyak ya, Ayla!” Ia katakan ke Ayla sambil mengelus rambutnya. Setelah itu, Theodor kembali ke meja kerjanya. Tiba-tiba, Theodor merasakan pusing yang luar biasa sakitnya, seakan-akan kepalanya sedang digergaji. Dengan sekuat tenaga ia meraih kotak obat yang terletak di meja kerjanya. “Painkiller”, itulah tulisan yang tertera. Dengan tangan yang bergetar, Theodor mengambil sebutir pil and langsung menelannya. Menyadari bahwa tubuhnya ingin menyerah, akhirnya ia menuruti permintaan tubuhnya dan beristirahat di kamar tidurnya.

Keesokan harinya, Theodor merasa lebih baik, setidaknya sakit kepala yang ia alami di hari sebelumnya mereda. Theodor menggerutu, “Apa-apaan kemarin..? Kenapa tiba tiba pusing gini? Jangan jangan… No. bukan. Nggak mungkin. Lupakan saja.”

Bangkit dari tempat tidur, Theodor berjalan menuju dapur dan menyiapkan sarapan. Aroma roti terpanggang, teh, kopi, dan daging yang mendesis di penggorengan memenuhi seisi bunker bawah tanah. Ayla, anak yang sangat sensitif terhadap bau, terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia tahu bahwa ayahnya sedang memasak sarapan yang spesial hari ini.

Theodor melihat bayangan Ayla dari dapur dan menyapanya, “Selamat pagi, Ayla! Papa lagi buat sarapan, nih. Lihat, bacon!” Senyum Ayla bertambah lebar, dari ujung mata ke mata yang lain. Theodor kemudian menyiapkan sarapan mereka pada dua buah piring. Mereka memakan sarapan dengan ceria. Tawa dan candaan turut menghiasi pagi hari di bunker bawah tanah.

Setelah sarapan, Theodor mengenakan jaket dan masker gas untuk melindungi tubuhnya dari paparan zat radioaktif. Sebelum membuka pintu dalam bunker, ia mengucapkan selamat tinggal ke Ayla. “Ayla, Papa mau pergi ke luar dulu ya, jaga bunker… tidak, rumah ini. Papa mau ketemu seseorang dulu. Kalo ada apa-apa, tinggal radio Papa ya. Papa pasti dateng kok, janji.” Ayla memeluk Theodor, “Hati-hati, Papa.” Dengan ucapan itu, Theodor mengangguk dan membuka pintu dalam bunker. Melihat sosok ayahnya menghilang di balik pintu itu, Ayla merasakan setitik kesedihan di hatinya.

Sesampainya di permukaan, Theodor membuka pintu mobil pick-up nya, F-150 yang sudah usang. Tetapi, mobil ini adalah sahabat setia Theodor yang selalu menemani kemanapun ia pergi. Theodor menghidupkan mesinnya, dan mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah lokasi: Das Erbe. Theodor menarik tuas persneling ke mode drive dan mulai mengemudi ke lokasi tujuan.

Sesampainya di tujuan, Theodor memasuki gedung setengah rusak tersebut. Di sana, seseorang telah menunggu Theodor. Pria itu berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya, “Oh, selamat siang, Theodor.” Theodor menjabat tangannya dan menjawab, “Selamat siang, Benedikt. Jadi, langsung aja. Ada apa?” Benedict menghela nafas, dan mulai menjelaskan. “Jadi, aku mendapat undangan dari Project Frontier untuk menaja tempat tinggal disana.” Ia melanjutkan, “Project Frontier adalah sebuah proyek pulau buatan raksasa yang letaknya di timur Jepang. Aku nggak tau gimana jelasnya, tapi aku dapat undangan ke sana.”

“Kamu tau kan aku gimana, aku dilahirkan di Jerman, dan aku akan mati disini. Itu adalah sumpah yang aku pegang. Nah, aku, Benedikt Herrmann, menyerahkan hak ini kepadamu, Theodor Wehner.” Theodor tidak mengerti, mengapa seseorang menyia-nyiakan kesempatan seperti ini? Akan tetapi, Theodor ingin menghormati permintaan sahabatnya itu. “Baiklah, Benedikt, apa yang aku harus lakukan sekarang?”

Benedikt tersenyum dan menjawab, “Pergilah ke lokasi ini di Amsterdam, ada seorang pria berambut pirang sepertimu, namanya Gabriel Mathieu. Sapa dia dengan nama pertamanya, dan katakan ini: Benedikt grüßt herzlich. Dia bakal ngerti maksudnya. Hati-hati di jalan.” Theodor masih tidak yakin, “Apakah Kau yakin dengan ini?” Benedikt meyakinkannya, “Iya, percaya aku. Ini keputusanku untuk tinggal di sini. Kamu lebih pantas mendapat tempat tinggal baru. Lagipula, Ayla punya masa depan yang cerah disana. Anggap saja ini hadiah terakhirku untukmu, Sobat.”

Theodor memeluk Benedikt erat-erat, menyadari ini perpisahan mereka. “Aku akan selalu mengingatmu, Benedikt. Terima kasih banyak atas semua ini, Sahabatku. Demi Ayla, Rosemarie, dan Kamu.” Benedikt membalas, “Terima kasih juga, Theodor. Mulailah kehidupan baru di sana, bersama keluargamu. Buat Rosemarie bangga.” Kedua pria itu saling mengangguk lalu berpisah.

Theodor kembali ke mobil menuju bunker untuk memberitahu Ayla tentang masa depan mereka. Sesampainya di bunker, ia tidak lupa untuk membersihkan diri dari noda-noda dan partikel radiasi. Ayla yang sedang membaca buku menyambut kedatangan ayahnya. “Papa!” Theodor membalas pelukan Ayla dengan pelukan yang lebih erat. “Ayla, Papa punya kabar baik nih. Kita akan pergi ke Project Frontier!” Ayla memiringkan kepalanya dan bertanya, “Apa maksudnya, Papa?” Kemudian, Theodor menjelaskan apa yang dijelaskan Benedikt tadi.

“Wah, Paman Benedikt baik sekali, Papa! Tapi, aku agak sedih ninggalin Paman Benedikt.” Theodor mengelus rambut Ayla dan menjawab, “Paman Benedikt memang punya hati yang mulia. Kita harus menghormati pilihan beliau untuk tinggal disini.” Ayla mengangguk dan tersenyum. Theodor tersenyum dan berkata, “Ayo menggapai kebebasan, Ayla!”

Pengunjung :
144

Solverwp- WordPress Theme and Plugin