WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Indonesia Future Student Generale 1.0: Mewujudkan Jakarta sebagai Kota Kolaborasi Masa Depan Indonesia

Penulis : Bonifasius Kharisma Pascal Silalahi, Anne Grace Pardosi, dan Keffa Auna Rasyidina/EQ
Editor: Hasna Maritza/EQ
Dokumentasi: BPPM EQ
Layouter: Alya Aqilah

Pada 17 November 2023, IDN Future dan BersamaIndonesia menggelar Studium Generale 1.0 di Auditorium MM UGM Yogyakarta yang bertemakan Finding Justice Development Path for the Future of Indonesia: Promoting Jakarta ‘Kota Kolaborasi as a Pioneer of Global Sharing City. Acara ini bertujuan untuk menemukan strategi terbaik dalam mendorong pertumbuhan perkotaan tanpa meninggalkan elemen-elemen intrinsik di dalam kota, sekaligus membantu pertumbuhan di desa. Meskipun tema yang diangkat begitu menarik, beberapa pembicara, terutama bintang tamu utama Bapak Anies Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 tidak dapat hadir karena terdapat alasan di luar kendali. 

Acara dibuka dengan pembukaan dari CEO BersamaIndonesia, Ivan Ahda. Beliau menekankan peran krusial pemuda dalam mengelola pembangunan negara. Kota bukan hanya pusat kegiatan tetapi  juga sumber inspirasi untuk menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Selanjutnya, penyampaian aspirasi yang mewakili pemuda atau sesi Youth Voice Aspiration diwakili oleh Muhammad Farhan, S.E., selaku Presiden BEM KM UGM 2021. Farhan mengedepankan peran mahasiswa sebagai kaum muda untuk menggerakkan publik agar menyampaikan kebenaran bagi pembangunan yang mengedepankan kesetaraan. 

Sesi selanjutnya adalah sesi Experts and Practitioners Talks yang menampilkan para ahli dan praktisi untuk membahas topik tentang pembangunan perkotaan yang inklusif. Pemaparan pertama dilakukan oleh Elisa Sutanudjaja sebagai Direktur Utama Rujak Urban Studies. Beliau menekankan, masa depan kota di Indonesia dapat berhasil jika Indonesia berhasil mengembangkan kota-kota sekunder di Indonesia, seperti Cirebon dan Purwokerto. Dengan demikian, kegiatan ekonomi kota-kota tersebut dapat hidup dengan pengelolaan pariwisata dan sumber daya yang ada.

Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Thomas Trikasih Lembong, M.B.A selaku Menteri Perdagangan Republik Indonesia 2015-2016 dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2016-2019 yang membahas tentang investasi untuk pembangunan ekonomi kota yang berkeadilan. Beliau menekankan perlunya kolaborasi warga dalam menciptakan perekonomian perkotaan adil dan berkelanjutan melalui konsep sharing city.Indonesia  harus memastikan ketegasan dan kepemimpinan yang mengintegrasikan keputusan kolaboratif serta peran aktif Indonesia secara regional dan global. Selain itu, masukan dari warga, ormas, dan akademia harus diterima.

Sesi Pemaparan (©Narendra Yogaswara/EQ)

Pemaparan ketiga dilanjutkan oleh  Dr. Tri Mulyani Sunarharum, S.T., IPU. selaku Pakar Tata Kota dan Dosen PWK FT UGM. Beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga sumber masalah di perkotaan, yaitu globalisasi, urbanisasi, dan perubahan iklim. Beliau mencontohkan Seoul sebagai kota berkonsep sharing city dengan prinsip keseimbangan kekuatan antara masyarakat dan pemangku jabatan.

Selanjutnya, Alfath Bagus Panutun E.I., S.I.P., M.A., selaku Youth Voice Aspiration, menyampaikan aspirasinya terkait tata kelola kota yang berkelanjutan dan inklusif. Pembangunan dilakukan tanpa diskriminasi atau marginalisasi. Kota harus menjadi tempat layak bagi semua masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan secara politis dalam perencanaan perkotaan.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Prof. Sulfikar Amir selaku pakar internasional Sosiologi Perkotaan Universitas Teknologi Nanyang, dengan topik “Dissecting The Megacity”. Beliau menyatakan bahwa dalam kacamata sosiologi, perkotaan adalah organisme yang tumbuh, menyerap, memproduksi, berdegenerasi, dan mati. Beliau memperkenalkan konsep sistem sosio-teknis yang menyatukan aspek sosial (ekonomi, komunitas, dan institusi) dengan aspek teknis (infrastruktur teknis). Sistem ini menjadi inti yang menggerakkan setiap kota, melibatkan sistem kepemimpinan dan tata kelola untuk memastikan operasionalisasi dan pergerakan kota.

Secara keseluruhan, acara ini menjadi wadah yang baik untuk kegiatan transfer ilmu antara narasumber dan audiens. Diskusi dua arah terbangun pada acara ini karena pada sesi tanya jawab dan aspirasi terdapat beberapa hadirin yang memberikan pertanyaan dan aspirasi terkait kota kolaborasi dengan tidak kalah baiknya. Harapannya, setelah mengikuti acara ini, generasi muda Indonesia dapat lebih mengenal dan kemudian memperjuangkan perkotaan yang lebih inklusif untuk semua. Muara dari perjuangan tersebut adalah agar tercipta kolaborasi dan harmoni yang saling membangun satu sama lain, baik masyarakat, pemerintah, dan infrastrukturnya, yang dimulai dari Jakarta.

Pengunjung :
208

Solverwp- WordPress Theme and Plugin