BPPM Equilibrium

Enhancing Self-Development & Expanding Scholarship Opportunities: Impact Circle 2023 by AIESEC UGM

Oleh: Najwa Balqis Shabana dan Nikita Dinda Azizah/EQ
Editor: Kefas Prajna Christiawan

Pendidikan, salah satu aspek utama dalam masyarakat, menjadi wadah bagi individu untuk mengembangkan diri, baik untuk meningkatkan softskill maupun hardskill. Proses pengembangan diri yang baik dapat menghasilkan output yang akan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Kesempatan dalam mengeksplorasi pendidikan dan beasiswa juga dapat ditingkatkan sebagai salah satu bentuk manifestasi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin nomor 4, yakni Pendidikan Berkualitas, yang menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata, serta meningkatkan kesempatan belajar untuk semua. Hal ini menjadi isu utama yang diinisiasi oleh organisasi AIESEC UGM dalam melaksanakan salah satu programnya, yakni Impact Circle.

Impact Circle merupakan program dari AIESEC yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sesama dalam mewujudkan 17 poin dari SDGs dan membantu anak muda mengembangkan diri di Indonesia. Pada tahun 2023, Impact Circle dilaksanakan pada hari Sabtu (29/4) secara daring dan membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk menjadi delegasi. Dengan mengangkat SDGs poin nomor 4, program Impact Circle tahun ini membawakan tema utama, yakni Expanding Scholarship Opportunities: How to Maximize Your Educational Journey, yang diharapkan dapat memberikan insights bagi delegasinya untuk memaksimalkan kesempatan dan kualitas pendidikan melalui eksplorasi pengembangan diri dan beasiswa.

Acara dibuka oleh pembukaan serta pengenalan tema utama dan pembicara oleh MC dan moderator, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi sesi pertama yang dibawakan oleh pembicara Fryadiva Meshia Sihabudin, mahasiswi Hubungan Internasional dari Universitas Islam Negeri Jakarta yang juga menjadi salah satu awardee UGM Virtual Summer Programme dan ASEAN Youth Initiative Empowerment (AYIEP). Penyampaian sesi pertama oleh Fryadiva membawakan topik Self-Development in the Field of Study and Education. Uniknya, Fryadiva memposisikan delegasi sebagai seseorang yang memiliki teman bernama Alice, gadis yang selalu dipenuhi kata “Why” di dalam dirinya. Gadis ini selalu bertanya mengenai kekurangan diri dan kegagalannya, kurang percaya diri, serta selalu membandingkan diri dengan orang lain. Fryadiva mengajak delegasi untuk membantu Alice dalam menyelesaikan masalahnya dengan membaginya dalam tiga subtopik, yakni pemaparan konsep pengembangan diri, implementasi pengembangan diri dalam pendidikan, dan trik untuk menjadi mahasiswa berprestasi.

Pada pemaparan konsep pengembangan diri, delegasi diajak membantu Alice untuk menemukan dan menjawab “Why” di dalam dirinya dengan memahami definisi, aspek, serta tujuan dari pengembangan diri. Fryadiva menjelaskan pengembangan diri dengan tiga kata kunci utama, yaitu proses, individu, dan pengembangan skill, yang kemudian dijabarkan sebagai proses mempelajari dan membangun skill baru untuk membantu meningkatkan kesempatan dalam meraih kesuksesan, tujuan, dan mimpi. Pengembangan diri terdiri dari dua aspek, yaitu jiwa dan raga, yang berperan penting dalam menyeimbangkan logika dan rasa, meningkatkan kemampuan komunikasi, meningkatkan spiritualitas, dan mengatur emosi diri. Setiap individu juga perlu untuk menentukan tujuan dalam proses pengembangan diri, baik untuk profesionalitas, pengembangan skill, finansial, akademik, dan lainnya. Fryadiva mengatakan bahwa perlu digaris bawahi semua tujuan tergantung pada “Who” dan “What” yang individu butuhkan sehingga tidak bisa disamakan antara satu sama lain. Namun, semua tujuan memiliki inti yang sama, yaitu untuk memperbaiki kualitas diri.

Sesi Pemaparan Materi oleh Fryadiva Meshia Sihabudin (©BPPM EQ)

Fryadiva melanjutkan materi terkait dengan penerapan pengembangan diri dalam pendidikan. Ia menjelaskan bahwa individu perlu menghubungkan terkait apa yang sedang dilakukan dengan apa yang ingin diraih. Penerapan pengembangan diri juga perlu disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing individu. Hal tersebut dapat mendatangkan kesempatan baru, meningkatkan kepercayaan diri, serta menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Terakhir, pemapar materi juga menjelaskan trik untuk menjadi mahasiswa berprestasi dengan merekomendasikan empat aktivitas yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk mengembangkan kualitas diri, yaitu (1) organisasi untuk mengembangkan skill kepemimpinan dan komunikasi, (2) volunteering untuk mengimplementasikan sesuatu yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang orang lain butuhkan, (3) magang untuk menambah pengalaman dalam pekerjaan profesional, dan (4) beasiswa untuk bantuan finansial, menambah kualitas curriculum vitae (CV), dan kesempatan dalam mentoring dan fokus studi. Selain itu, Fryadiva juga menekankan bahwa segala proses perlu dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati dan dihargai, kegagalan sebagai pembelajaran, dan keberhasilan sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan. 

Sesi penyampaian materi kedua kemudian dilanjutkan oleh Belinda Azzahra, alumni Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) yang mempunyai track-record sebagai awardee beasiswa CIMB Niaga Scholarship dan ACA ICAEW Scholarship. Dengan mengangkat subtema “Complexity of Scholarship in Improving a Country’s Quality Education”, pemapar menjabarkan bahwa mahasiswa pada masa kuliah akan dihadapkan pada banyak peluang sebagai bagian dari proses pengembangan diri, salah satunya adalah peluang untuk memperoleh beasiswa. Menjadi penerima beasiswa tentu bukan perjalanan yang mudah. Ia juga sempat membagi pengalaman pribadinya saat ditolak, bahkan ketika masih di tahap seleksi administrasi. 

Sesi Penyampaian Materi oleh Belinda Azzahra (©BPPM EQ)

Ada empat tahap seleksi yang telah dirangkum Belinda berdasarkan versi lengkap dari program beasiswa yang pernah ia ikuti, antara lain tahap administrasi, tes online, case/forum group discussion (FGD)/pitching, dan wawancara. Tahap administrasi biasanya meminta pendaftar untuk mengumpulkan CV, motivation letter, dan dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan calon penerima beasiswa. Tes online bisa berupa pengerjaan soal TOEFL ataupun soal cerita matematika berbahasa Inggris. Untuk tahap ini sendiri cukup jarang ada di bagian proses seleksi dari kebanyakan program beasiswa. Selanjutnya, untuk tahap case/FGD ini memerlukan banyak latihan presentasi dan memecahkan kasus karena kemampuan presentasi dan penyelesaian masalah akan sangat dinilai. Terakhir, dalam tahap wawancara ini calon penerima beasiswa akan dipertemukan langsung oleh pengambil keputusan dan menentukan layak atau tidaknya mereka dalam menerima beasiswa. Ada dua hal yang dinilai dalam tahap ini, yaitu culture fit pendaftar beasiswa dengan pemberi beasiswa dan persiapan pendaftar dalam menjadi awardee beasiswa. Belinda mengungkapkan bahwa pendaftar perlu melakukan riset lebih mendalam terkait program beasiswa yang akan mereka daftar.

Menurut Belinda, ada dua hal krusial yang perlu dipersiapkan matang-matang oleh mahasiswa ketika mendaftar beasiswa: esai dan wawancara. Esai menjadi konsiderasi yang dilihat oleh para penyeleksi karena esai mencerminkan personal life yang autentik dan unik dari dalam diri kita masing-masing. Isi esai harus sejalan dengan nilai dan visi dari pemberi beasiswa. Belinda menyebutkan bahwa beasiswa tidak hanya berupa fresh money, melainkan bisa saja dalam bentuk program kepemimpinan atau pertukaran pelajar ke luar negeri. Maka dari itu, esai yang dibuat sebaiknya menyesuaikan dengan tujuan dan harapan yang diinginkan oleh pemberi beasiswa. Sama halnya dengan wawancara. Wawancara menjadi hal penting karena dalam tahap ini, pengalaman pendaftar akan digali lebih dalam dan setiap pendaftar pasti memiliki cerita uniknya masing-masing. Sebagai penutup, Belinda mengingatkan bahwa menjadi penerima beasiswa harus sadar akan tanggung jawab saat dan setelah mendapatkan beasiswa tersebut. Acara berlanjut dengan review CV yang dilakukan oleh Belinda. Pengecekan dan pemaparan yang detail memberikan banyak pengetahuan baru terkait pembuatan CV yang baik dan benar kepada para delegasi. Pada sesi selanjutnya, delegasi diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. Tentunya, hal ini disambut oleh antusiasme delegasi melihat banyaknya pertanyaan yang diberikan. Namun, karena keterbatasan waktu, moderator memilih empat pertanyaan terbaik yang ditujukan kepada para pembicara. Lalu, sebelum penutupan acara, terdapat sesi Call to Action (CTA) yang ditujukan untuk mendorong delegasi memberikan feedback melalui pengisian Satisfaction Form dan mengunggah jawaban mereka ke IG Story dengan tag @aiesecugm serta menggunakan template yang telah disiapkan sebelumnya. CTA dilakukan untuk memperoleh sertifikat peserta. Sesi selanjutnya, terdapat kejutan dari Impact Circle terkait Local Project yang akan segera dibuka sebagai salah satu bagian dari program AIESEC UGM juga. Terakhir, acara ditutup dengan sesi dokumentasi. Pada akhirnya, Impact Circle 2023 ini dapat berjalan dengan lancar dan mampu menjangkau lebih dari 150 delegasi. Diharapkan acara ini mampu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan delegasi terkait pengembangan diri dan kesempatan beasiswa melalui sharing dan diskusi sesuai dengan tujuan dari AIESEC UGM atas dibentuknya program Impact Circle tersebut.

Pengunjung :
226

Solverwp- WordPress Theme and Plugin