BPPM Equilibrium

World Sea Turtle Day: Hewan Langka itu Bernama Penyu!

Oleh: Bonifasius K. Pascal S. dan Wandana Karuna P./EQ
Editor: Hayfaza Nayottama Auliarachim/EQ
Dokumentasi Oleh: Ismail Arif, Virginia Monic, Bonifasius K. Pascal/EQ, dan Djati Kairing S.

Pada Kamis, 1 Juni 2023, 57 mahasiswa dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dari berbagai angkatan turut serta menjadi volunteer dalam acara pelepasan penyu yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UGM. Acara ini digelar dalam rangka memperingati “World Sea Turtle Day”  yang jatuh pada tanggal 16 Juni setiap tahunnya. Acara pelepasan penyu ini dilangsungkan di Pantai Pelangi, Bantul, yang menjadi salah satu wilayah konservasi dan perkembangbiakan penyu di Daerah Istimewa Yogyakarta. Rangkaian acara dimulai dengan edukasi seputar keadaan penyu saat ini dan konservasi penyu di Pantai Pelangi oleh 4K. 4K (dibaca: Four Key atau empat kunci pendiri), atau biasa disebut dengan Aksi Konservasi Yogyakarta, merupakan organisasi nirlaba yang berdiri pada tahun 2020 yang mengelola seluruh kegiatan konservasi penyu di sekitar Pantai Pelangi agar tercipta kehidupan penyu yang berkelanjutan.

Daru Aji Saputro, atau yang akrab dipanggil Mas Daru, merupakan ketua relawan 4K yang menjelaskan banyak hal terkait dengan konservasi dan perkembangbiakan penyu di Pantai Penyu selama sesi edukasi berlangsung. Mas Daru bercerita bahwa selama ini terjadi kesulitan yang tinggi selama melakukan konservasi penyu. Terdapat dua kesulitan utama selama Mas Daru dan teman-teman menjalankan kegiatan konservasi. Yang pertama, tingkat keberhasilan penetasan telur penyu mejadi tukik (penyu kecil) hanyalah sebesar seperlima dari jumlah keseluruhan telur penyu yang diproduksi. Maka dari itu, jika penyu dewasa mampu memproduksi 100 butir telur penyu, biasanya yang menetas hanyalah sekitar 20 tukik. Penyebab kegagalan terbesar dari penetasan telur penyu adalah faktor cuaca, suhu udara, dan kelembapan tanah. Banyak dari telur penyu yang gagal menetas di musim penghujan, tetapi jika suhu udara di musim kemarau terlalu panas, telur penyu juga berkemungkinan besar untuk gagal. Maka dari itu, waktu terbaik untuk telur penyu menetas adalah pada dini hari karena jika siang, penyu mati kering akibat kepanasan. Selain itu, jika penyu menetas pada siang hari, para predator akan memangsa mereka.“Penyu baru bisa bertelur saat mereka mencapai umur 20 sampai 30 tahun sehingga membutuhkan waktu yang lama sekali untuk Penyu bisa berkembangbiak menghasilkan telur-telur penyu di sini,” tambah Mas Daru.

Edukasi Konservasi Penyu oleh Mas Daru (©B. Pascal/EQ)

Kesulitan kedua dari adanya konservasi penyu di Pantai Pelangi adalah faktor pemburu dan banyaknya lalu lalang mobil jip di kawasan Pantai Pelangi yang juga merupakan salah satu kawasan wisata sehingga dapat dengan mudah menghancurkan sarang telur penyu. Para relawan 4K harus bersaing dengan para pemburu telur penyu untuk mencari jejak sarang tempat penyu bertelur dengan mengumpulkan massa untuk berpatroli sejauh beberapa meter ke arah barat dan timur pusat konservasi. “Jika pemburu menemukan sarang telur penyu terlebih dulu, biasanya mereka akan meminta ganti rugi sebesar Rp2.000 per butir telur, atau jika mereka tidak mendapatkan ganti rugi, biasanya mereka akan mengonsumsi telur itu” ucap Mas Daru.

Setelah pemaparan edukasi tentang konservasi penyu dari Mas Daru, acara dilanjutkan dengan melihat langsung tempat yang digunakan oleh 4K sebagai tempat inkubasi telur-telur penyu. Terdapat dua tempat utama, yaitu kolam semi alami dan sarang semi alami tempat penyu mengubur telur-telur mereka. Dalam sarang semi alami, terdapat sebuah bilik outdoor yang dikelilingi dengan tembok dan dipenuhi dengan pasir laut yang dilengkapi dengan berbagai papan petunjuk informasi tanggal berapa telur penyu ditemukan dan berapa jumlah total butir telur penyu yang ditemukan. Sementara itu, pada kolam semi alami yang berbentuk semi indoor, terdapat indukan penyu dan tukik yang dipisahkan oleh sekat ke dalam 3 kolam kecil yang dilengkapi pula dengan data statistik seputar penetasan telur penyu dan perkembangannya. “Rata-rata telur-telur penyu yang diinkubasi di sarang semi alami akan menetas setelah 46 hari, tapi ya tetap saja tidak pernah semuanya menetas, biasanya hanya seperlimanya,” jelas Mas Daru.

Informasi yang tersedia pada sarang semi alami (©B. Pascal/EQ)
Tukik yang berada dalam kolam semi alami (©B. Pascal/EQ)

Setelah melihat bilik-bilik yang terdapat pada markas 4K, acara dilanjutkan dengan kegiatan menanam tanaman pandan laut. Tanaman ini nantinya akan menjadi tempat yang didatangi penyu sebagai tempat bersembunyi dari ancaman predator dan memiliki kegunaan lain untuk mencegah abrasi. Proses penanamannya cukup membuat lubang pasir dengan cara digali kurang lebih 30 cm ke dalam, kemudian menancapkan bibit pandan laut dan menutup sepertiga bagian bawah pandan laut dengan pasir.

Para volunteer sedang menanam tanaman pandan laut (©Djati K.)

Kegiatan “World Sea Turtle Day” ditutup dengan acara utama, yaitu pelepasan penyu. Terdapat enam penyu berjenis penyu lekang yang dibagikan ke enam kelompok. Penyu yang akan dilepas dialasi dengan batok kelapa agar tidak mengenai kulit tangan para volunteer secara langsung karena menurut penjelasan dari Mas Daru, penyu memiliki sense dan memori untuk kembali ke tempat ia dilepaskan pertama kali. Sesaat sebelum dilepaskan, Mas Daru mengajak seluruh teman-teman volunteer untuk sejenak berdoa bagi kelangsungan hidup penyu yang akan dilepas agar hidup hingga besar dan kembali ke Pantai Pelangi untuk regenerasi. Setelah keenam penyu terbawa oleh arus ombak pantai, seluruh volunteer “World Sea Turtle Day” berfoto bersama.

  Sesaat sebelum tukik dilepaskan (©Virginia M./EQ)
Foto segenap volunteer World Sea Turtle Day yang diadakan oleh Departemen Sosial Masyarakat BEM FEB UGM (©Djati K.)

Dari peringatan “World Sea Turtle Day” ini, Djati Kairing Setiatuhu, atau yang akrab dipanggil Djati, selaku Kepala Departemen Sosial Masyarakat BEM FEB UGM memiliki harapan yang besar agar semakin banyak masyarakat menyadari betapa pentingnya ekosistem laut sehingga perlu dijaga kelestariannya. Djati juga berpesan “Stop mengonsumsi telur penyu agar kehidupan penyu bisa terus terjaga abadi!”. Hal ini sejalan dengan data yang dihimpun oleh laman IUCN Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies Yang Terancam Menurut IUCN), lima dari enam penyu yang berada di perairan Indonesia, yakni penyu sisik, penyu hijau, penyu lekang, penyu tempayan, dan penyu belimbing berstatus critically endangered (sangat terancam punah), dangered (terancam punah), dan vulnerable (rentan punah). Adalah sebuah ironi apabila anak cucu kita hanya dapat melihat hewan seeksotis penyu melalui layar gawai pintar mereka kelak. Maka dari itu, dibutuhkan kerja sama dari seluruh pihak agar keberlanjutan penyu dan biota laut lainnya dapat terjaga sehingga menciptakan kebermanfaatan dan keseimbangan bagi alam, tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga untuk masa depan.

Referensi

IUCN. (2023). IUCN Red List of Threatened Species. Diakses tanggal 5 Juni 2023, dari https://www.iucnredlist.org/

WWF Indonesia. (2023). Penyu. Diakses tanggal 5 Juni 2023, dari https://www.wwf.id/spesies/penyu

Pengunjung :
791

Solverwp- WordPress Theme and Plugin