WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Taktik Pemilu 2024: Low Politics Terbalut Citra ‘Gemoy’?

Penulis: Retta Sonia Yolanda G. dan Hilda Bhakti Fahrezi/EQ
Editor: Adella Wahyu P.
Layouter: Dini Tessa S./EQ

Lagu ‘Oke Gas Prabowo Gibran Paling Pas’ menggema di setiap penjuru Nusantara sejak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mendeklarasikan diri maju dalam kontestasi Pemilu 2024. Berdasarkan hasil pengumuman oleh KPU pada Rabu (24/4/2024), pasangan calon ini berhasil meraup sebanyak 96.214.691 suara atau 58,59% dari total suara sah nasional. Capaian ini menjadikan mereka sebagai pasangan dengan pemilih terbanyak sepanjang sejarah demokrasi dunia, mengalahkan Joe Biden, Narendra Modi, Recep Tayyip Erdogan, dan Emmanuel Macron.

Prabowo dalam Lima Kali Percobaan

Langkah Prabowo untuk menjadi presiden tercatat pertama kali saat mengikuti konvensi calon presiden (capres) Golkar pada tahun 2004. Kala itu, ia gagal lantaran mendapat suara terendah di antara kandidat lainnya. Lima tahun kemudian, Prabowo mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri. Sayangnya, mereka dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Prabowo kembali mencoba peruntungannya pada Pemilu 2014 dan 2019 melawan Joko Widodo. Selisih hasil perhitungan suara yang kecil tidak mampu mengantarkannya kepada kemenangan. Rekam jejak kekalahan yang panjang seolah tak menggetarkan ambisinya. Dengan gagah berani, Prabowo kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2024 sebagai calon presiden dengan menunjuk putra sulung Presiden Joko Widodo sebagai pasangannya. Avada kedavra, puluhan juta suara bersatu mengantarkannya ke Istana Merdeka dalam satu putaran.

Sihir Ajaib Kemenangan Prabowo pada Pemilu 2024

Suara para generasi muda diperebutkan, mengingat sekitar 106,3 juta atau 52% dari total pemilih berusia 17-40 tahun. Sejalan dengan data tersebut, peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aisah Putri Budiatri, mengatakan bahwa besarnya proporsi pemilih muda dapat menjadi penentu kemenangan kontestan dalam Pemilu 2024. Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa pemilih paslon nomor dua ini didominasi oleh generasi Z. Berdasarkan rilis exit poll Pilpres 2024, Indikator Politik Indonesia juga menunjukkan bahwa 71% responden yang merupakan gen Z atau anak muda berusia kurang dari 17 tahun memilih Prabowo-Gibran.

Gaya kampanye joget ala Prabowo disebut-sebut meniru Presiden Filipina, Bongbong Marcos. Pemanfaatan media sosial (medsos), terutama TikTok, untuk menggaet suara generasi muda yang dilakukan oleh Prabowo dinilai sama dengan strategi Bongbong saat maju dalam kontestasi politik Filipina dua tahun yang lalu. Paralel dengan Bongbong yang merupakan anak seorang diktator, Prabowo merupakan sosok yang identik dengan pemerintahan otoriter pada masa Orde Baru.

Menurut Nyarwi Ahmad dalam wawancaranya dengan Tempo.co, pola kampanye dan kemenangan Prabowo-Gibran memiliki kemiripan dengan pemilu Filipina jika dilihat dari segi pemilihnya. Pemilih muda, tidak merasakan era otoriter, dan condong pada politik praktis atau low politics yang dinilainya sebagai, “bukan politik dengan gagasan-gagasan besar, melainkan politik yang isunya receh.” Isu yang ‘receh’ ini mudah dikonsumsi masyarakat dan ramai diperbincangkan di medsos.

Low politics, yang berbasis pada komunikasi ringan dan gimik-gimik populer berlawanan dengan high politics yang menyampaikan isu ideologis berat dan sulit dipahami oleh masyarakat awam. Strategi ini berhasil mendongkrak viralitas Prabowo-Gibran yang menjadi semakin masif dengan kehadiran para influencer di belakang mereka, seperti Raffi Ahmad, Verrel Bramasta, dan Ahmad Dhani. Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) itu mencatat bahwa praktik low politics dapat menurunkan tingkat apatisme politik dan menguatkan polarisasi, tetapi mengurangi pembahasan isu kebijakan publik yang substansial.

“Indonesia hanya akan memilih demokrasi gaya Filipina ke kekuasaan,” ujar pakar politik dari Universitas Filipina, Richard Heydarian, membandingkan gaya kampanye Prabowo di TikTok dengan gaya kampanye Bongbong Marcos, “di mana disinformasi merajalela dan orang-orang kuat bisa terlihat ‘lucu’ dengan aksi manis, di mana hak asasi manusia diabaikan, di mana dinasti, baik baru maupun lama, mendominasi seluruh sistem politik,” lanjutnya pada aplikasi X.

Nyarwi menilai bahwa kekuatan media sosial sangat besar. Menurutnya, penggunaan medsos untuk membentuk citra dalam politik sangatlah signifikan. Perubahan citra Prabowo berdampingan erat dengan isu ini. “Prabowo dan tim kampanyenya tampak menyadari pentingnya melakukan rebranding,” ujar Nyarwi. “Citra gemoy ini cukup inovatif, setidaknya mampu menanamkan kesan pada pemilih bahwa Prabowo merupakan sosok capres yang asyik, tidak gampang marah, lucu, dan friendly dengan anak-anak muda,” tambahnya.

Generasi Z dan milenial, yang kini menjadi kekuatan dominan dalam kehidupan demokrasi, semakin mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi. Kekhawatiran pun muncul mengingat mudahnya manipulasi publik melalui citra atau berita yang jauh dari fakta. “Generasi muda harus menjadi subjek politik yang aktif, independen, kritis, dan otonom,” ujar Nyarwi, “bukan menjadi objek politik pasif yang gampang dimobilisasi oleh sejumlah elit politik untuk tujuan politik elektoral mereka yang sifatnya jangka pendek.”

Dengan kebijaksanaan dan penguasaan literasi politik, kehidupan demokrasi Indonesia dapat bertumbuh menjadi lebih sehat dan berkelanjutan. 

Referensi

BBC News Indonesia. (2019, May 22). Hasil pemilu 2019: Perjalanan politik Prabowo dan peluangnya pada 2024. BBC. Retrieved April 1, 2024, from https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48350151

CNN Indonesia. (2024, February 20). Pakar Filipina Bandingkan Kampanye Prabowo dan Bongbong di TikTok. CNN Indonesia. Retrieved April 6, 2024, from https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240220154156-106-1065048/pakar-filipina-bandingkan-kampanye-prabowo-dan-bongbong-di-tiktok

5 Respons Mulai Pengamat hingga Capres Soal Gimmick Gemoy Prabowo Subianto. (2023, December 1). Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from https://www.liputan6.com/pemilu/read/5470015/5-respons-mulai-pengamat-hingga-capres-soal-gimmick-gemoy-prabowo-subianto?page=6

Fraksi Gerindra. (2024, March 27). Resmi Pecahkan Rekor Dunia, Pak Prabowo Pemimpin Dengan Pemilih Terbanyak Sepanjang Sejarah Demokrasi – FRAKSI GERINDRA DPR-RI. fraksi gerindra dpr-ri. Retrieved April 1, 2024, from https://www.fraksigerindra.id/resmi-pecahkan-rekor-dunia-pak-prabowo-pemimpin-dengan-pemilih-terbanyak-sepanjang-sejarah-demokrasi/

Nastitie, D. P., Harbowo, N., & Saputra, E. E. (2023, October 29). Suara Generasi Muda Jadi Rebutan di Pemilu 2024. Kompas.id. Retrieved April 1, 2024, from https://www.kompas.id/baca/polhuk/2023/10/29/suara-generasi-muda-jadi-rebutan-di-pemilu-2024

Puspaningrum, B. A. (2022, May 9). Disorot Dunia, Kenapa Pilpres Filipina 2022 Kontroversial? Halaman all. Kompas.com. Retrieved April 1, 2024, from https://www.kompas.com/global/read/2022/05/09/164944670/disorot-dunia-kenapa-pilpres-filipina-2022-kontroversial?page=all

Putra, H. R. (2023, December 9). Pakar Nilai Gaya Kampanye Prabowo-Gibran Mirip Putra Diktator Filipina Bongbong Marcos. Nasional tempo. Retrieved April 1, 2024, from https://nasional.tempo.co/read/1807375/pakar-nilai-gaya-kampanye-prabowo-gibran-mirip-putra-diktator-filipina-bongbong-marcos

Solverwp- WordPress Theme and Plugin