WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

Generative AI dan Masa Depan Kelam Industri Kreatif

Penulis: Keffa Auna Rasyidina/EQ

Editor: Muhammad Azka Rifa’i/EQ

Layouter: Vini Wang/EQ

Artificial intelligence atau yang biasa disingkat sebagai AI menjadi topik perdebatan, baik antara akademisi hingga masyarakat awam selama beberapa tahun terakhir. Dari munculnya personal assistant seperti Alexa atau Siri hingga dilema penggunaan ChatGPT dalam pendidikan, tanpa kita sadari penggunaan AI sudah melekat di keseharian kita. Banyak yang beropini bahwa penggunaan AI akan membuat kehidupan kita lebih sejahtera dan berkembang. Namun, banyak juga yang berpendapat bahwa penggunaan AI dapat menjadi tidak terkendali dan pada akhirnya mengancam kehidupan  bermasyarakat.

Menurut Laudon dan Laudon (2014, 463-474), artificial intelligence dibagi menjadi beberapa tipe: expert systems (i.e. Dendral, sistem untuk analisis kimia), machine learning (i.e. sistem rekomendasi Netflix atau Amazon), neural networks and deep learning networks (i.e. AlphaGo yang menguasai permainan Go dari deep learning), algorithms (i.e. pencarian rute terbaik untuk GPS), natural language processing (i.e. Cortana, Bixby), computer vision (i.e. face recognition system yang digunakan untuk face id), robotics (i.e. robot spot Boston Dynamic), dan intelligent agents (i.e. virtual personal assistant seperti Siri atau Alexa).

Di Indonesia sendiri, artificial intelligence sedang naik daun. Hal ini sering dikaitkan dengan kampanye presidensial Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Tim sukses Prabowo-Gibran menyebutkan bahwa penggunaan AI tersebut adalah simbol dari perubahan zaman (Olivia & Maulana, 2024). Astrio Feligent, perwakilan tim sukses Prabowo-Gibran, menjelaskan penggunaan AI dalam kampanye Prabowo-Gibran dilandasi oleh penggunaannya yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sekarang. AI yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah jenis deep neural networks, yang termasuk dalam kategori generative artificial intelligence. Generative artificial intelligence merujuk kepada sebuah proses pembentukan media baru, baik berupa gambar, animasi, video, teks, dan sebagainya, dengan menggunakan artificial intelligence (Manovich, 2023, 2-3). Teknologi ini digunakan untuk mengubah personal branding Prabowo Subianto dengan menciptakan elemen-elemen baru seperti wajah manusia secara fotorealistik.

©farisalmn

Dalam kampanyenya, Prabowo digambarkan sebagai sosok yang “gemoy”, sebuah istilah baru untuk mengekspresikan rasa gemas setelah melihat atau merasakan sesuatu (Sihabudin et al., 2023, 149). Tim sukses Prabowo-Gibran menggunakan image generative AI, atau yang biasa disebut image generator, untuk membuat Prabowo tampak seperti kartun anak-anak yang lembut dan menggemaskan. Ini efektif mengubah citra Prabowo sebagai mantan Jenderal Komandan Pasukan Khusus (Kopassus) yang kontroversial. Bahkan, viralnya karakter AI Prabowo dan Gibran membuat beberapa orang memilih Prabowo dalam Pemilu 2024 karena “gemoy” (Reuters, 2024).

Selain dalam kancah politik, penggunaan image generative AI juga digunakan oleh para seniman dalam sebuah gelombang baru berupa komunitas AI artist. Di Instagram, contohnya, penggunaan tagar #aiartist mencapai tiga juta unggahan (tertanggal Juni 2024). Para AI artist ini rutin mengunggah karya mereka dengan prompt yang berbeda-beda, seperti karakter anime, selebriti, hingga karakter fantasi. Unggahan yang fokus dalam subkultur anime, misalnya, sudah mencapai 150 ribu unggahan (tertanggal Juni 2024).

Jumlah Unggahan dengan Tagar #aiartist, 9 Juni 2024.
Jumlah Unggahan dengan Tagar #aianime, 9 Juni 2024.

Sayangnya, beberapa AI artist malah menggunakan karyanya untuk membuat karya-karya yang tidak senonoh, seperti pornografi. Kasus pornografi Charlotte, contohnya. Dilansir dari Federal Bureau of Investigation (2024), psikiater anak David Tatum dijatuhi hukuman 40 tahun penjara karena mengubah foto-foto anak-anak berusia puluhan tahun menjadi gambar porno menggunakan AI. Tatum dinyatakan bersalah karena membuat, mengangkut, dan memiliki gambar dan video pornografi anak, termasuk rekaman non-konsensual anak perempuan di bawah umur yang sedang mandi dan membuka baju dari Juli 2016 hingga 2021. Implikasi akan penggunaan generative AI yang tidak terkontrol tersebut membuat masyarakat kontra dengan penggunaan generative AI. Penggunaan image generative AI dalam penyebaran hoax juga mulai meresahkan. Dari NBC News (2024), para peneliti dari organisasi pemeriksa fakta dan Google telah menemukan bahwa gambar palsu yang dibuat oleh AI hampir sama seringnya dengan gambar yang dimanipulasi oleh alat pengeditan konvensional seperti Photoshop. Studi yang menganalisis hampir 136.000 pemeriksaan fakta sejak tahun 1995 ini mengungkap bahwa hingga musim semi 2023, AI hanya menyumbang sedikit dari total kesalahan informasi berbasis gambar.

Cara Kerja Generative AI

Perubahan yang cenderung tiba-tiba tersebut menunjukkan bahwa lanskap penyebaran hoax kini sudah mulai berubah. Banyak orang kini beralih kepada generative AI dibandingkan alat pengeditan umum seperti Photoshop. Hal ini dikarenakan kemudahan dalam menggunakan generative AI.

Generative AI bekerja dengan cara mengumpulkan koleksi gambar, teks, dan lainnya dari berbagai sumber, terutama yang beredar di internet, dalam sebuah database (Manovich, 2023, 7-8). Setiap konten dalam database tersebut masing-masing memiliki deskripsi atau kata kunci mengenai isinya. Untuk menggunakan generative AI, pengguna hanya memasukkan kata kunci atau prompt pada search engine AI tersebut. Lalu, program dari AI itu akan mencari kecocokan antara prompt yang dimasukkan pengguna dengan kata kunci yang telah dimasukkan ke dalam database tersebut. Setelah menemukan kecocokan, generative AI akan menggunakan konten tersebut sebagai anchor atau sumber kemudian mencetak konten yang serupa dengan konten tersebut. Jika ingin membuat gambar yang mirip dengan style Van Gogh, semisal, tinggal masukkan saja prompt “Van Gogh” dan image generator akan memproses gambar yang diinginkan.

Starry Night karya Vincent Van Gogh.
Hasil dari Bing Image Generator, dengan prompt “Starry Night Van Gogh".
Ilustrasi alur kerja generative AI. Sumber: “Overview of Generative AI on Vertex AI”, Google Cloud (diambil pada 9 Juni 2024)

Oleh karena itu, Nah et al. (2023), menyebutkan bahwa sangat penting bagi pengguna generative AI untuk mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip rekayasa prompt, yang mengacu pada proses sistematis dalam merancang prompt atau input secara tepat ke model generative AI untuk mendapatkan output yang sesuai. Karena ambiguitas bahasa manusia, interaksi antara manusia dan mesin melalui prompt dapat menyebabkan kesalahan atau kesalahpahaman. Itulah mengapa kualitas sebuah prompt menjadi penting. 

Kontroversi Generative AI

Sayangnya, penggunaan generative AI menimbulkan banyak kontroversi. Salah satu kontroversi tentang generative AI adalah masalah hak cipta. Hal ini diperkuat oleh klaim yang menyebutkan bahwa beberapa konten yang dihasilkan oleh AI mungkin merupakan karya asli orang lain yang dilindungi oleh undang-undang dan peraturan hak cipta. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dien (2023, 3-4), Ia menemukan bahwa ketika Ia menanyakan kepada ChatGPT tentang isi dari salah satu artikelnya yang terdaftar hak cipta, ChatGPT dapat memberikan jawaban yang sangat rinci. Tetapi, ketika ChatGPT ditanya tentang sebuah topik yang berhubungan dengan artikel tersebut, ChatGPT akan menjawab tentang deskripsi umum topik tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki akses terhadap konten-konten yang tidak dapat diakses oleh publik, misalnya jurnal-jurnal berbayar yang terdaftar hak ciptanya. Efeknya, penggunaan generative AI menimbulkan problematika yang signifikan, yaitu sejauh mana program AI tersebut dapat mengambil ide dari sumber yang dipublikasikan di internet tanpa adanya atribusi.

Dalam bidang ekonomi, dikhawatirkan bahwa penggunaan AI akan menggantikan tenaga kerja manusia. Dijelaskan oleh Drozd dan Tavares (2024), bahwa setiap tugas produksi dapat dilakukan oleh mesin atau oleh pekerja manusia. Ketika teknologi baru meningkatkan produktivitas mesin, ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada tugas tersebut. Jika tugas sudah diotomatisasi (dilakukan oleh mesin), teknologi tersebut membuat mesin menjadi lebih efisien dan lebih murah untuk digunakan. Namun, jika tugas masih dilakukan oleh manusia dan teknologi baru tersebut membuat otomatisasi menjadi lebih ekonomis, maka mesin akan menggantikan pekerja manusia yang sebelumnya melakukan tugas tersebut. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa jika generative AI diaplikasikan dalam ranah kerja, maka kebutuhan akan tenaga kerja manusia akan berkurang. Mengingat bahwa populasi manusia makin bertambah dari waktu ke waktu, penerapan generative AI malah akan menambah tingkat pengangguran.

Selain itu, kontroversi lain seperti bias, ketergantungan yang berlebih, masalah etis, konten yang tidak senonoh, hingga masalah privasi. Timbulnya deepfake AI untuk video porno merupakan contoh penggunaan generative AI yang tidak benar. Oleh karena itu, dibutuhkan regulasi yang mengatur penggunaan generative AI secara ketat. Hal ini bisa diatasi dengan cara meminimalisir konten apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam database AI. Secara lebih lanjut, Pavlik (2023, dalam Nah et al., 2023, 277-304) menyebutkan bahwa generative AI dirancang untuk menghasilkan konten berdasarkan input yang diberikan kepadanya. Jika terdapat sistem yang memfilter konten-konten tidak senonoh dari database generative AI, maka penggunaan generative AI tidak akan diasosiasikan dengan hal negatif lagi. Sebagai tambahan, penggunaan generative AI untuk membuat konten-konten yang ilegal seperti deepfake harus dihilangkan.

Image Generator dan Masa Depan Pekerja Kreatif

Tentunya, permasalahan ini menuai kontra, khususnya di kalangan pekerja kreatif. Pekerja kreatif terkenal memiliki upah yang cukup tinggi, mengingat skill khusus yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Jika sebuah program komputer dapat menghasilkan hasil yang sama dengan para pekerja kreatif dengan harga yang lebih murah dan waktu yang lebih cepat, perusahaan-perusahaan akan mulai menggantikan pekerja kreatifnya dengan generative AI. Dampak tersebut pun mulai terwujud. Menurut Business Insider, salah satu perusahaan periklanan asal China bernama BlueFocus Co. mulai tertarik untuk mengganti staf copywriter dan desain grafis dengan menggunakan teknologi AI dari Alibaba Group Holding Ltd. dan Baidu Inc (Nguyen, 2023). Hal ini cukup substansial mengingat Bluefocus Co. sempat bekerjasama dengan beberapa brand terkenal, seperti Samsung, Mercedes, dan P&G.

Pemecatan karyawan untuk digantikan dengan teknologi AI bukanlah hal yang baru. Dilansir dari CNBC Indonesia (2023), menurut laporan terbaru dari Challenger, Gray, & Christmas, perusahaan di Amerika Serikat akan merumahkan lebih dari 80.000 karyawan hingga Mei 2023 dikarenakan konversi antara pekerja dengan AI. CNBC juga menyebutkan bahwa restrukturisasi, keadaan pasar yang tidak stabil, dan yang baru-baru ini, adopsi AI, adalah penyebab peningkatan PHK. Adopsi AI inilah yang menjadi faktor dalam meningginya tingkat PHK pada Mei 2023. Jika tren ini terus berlanjut, maka bisa dipastikan bahwa tingkat pengangguran akan semakin bertambah.

Jika BlueFocus Co. terbukti mencapai kesuksesan dalam menggunakan AI technology di bidang ini, kemungkinan akan terjadi efek domino yang akan mengubah cakrawala perusahaan lain yang serupa, sehingga mengancam keberlanjutan profesi pekerja kreatif. Mengingat sifat dari image generator yang lebih condong memplagiasi karya-karya pekerja kreatif, namun menjadi alternatif yang lebih murah bagi perusahaan, maka tidak aneh bagi para pekerja kreatif untuk menolak penggunaan image generator

Penggunaan generative AI juga terbukti dapat menimbulkan ketergantungan terhadap para penggunanya. Generative AI mudah digunakan untuk mengerjakan tugas dan mengumpulkan informasi, sehingga dapat menyebabkan kemalasan belajar dan kurangnya inisiatif dalam berpikir (Astutik et al., 2023, 31-40). Jika generative AI mulai menggantikan pekerja kreatif, bisa jadi kita akan kehilangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang desain grafis di masa depan dikarenakan tidak adanya keperluan bagi kita untuk mempelajarinya. Hal ini diperkuat dengan riset yang menyebutkan bahwa banyak perguruan tinggi swasta (PTS) Desain Komunikasi Visual (DKV) di Indonesia telah menyederhanakan proses seleksi masuk mahasiswa DKV untuk menghadapi tingginya persaingan. Tes keahlian atau bakat tidak lagi menjadi kriteria penting dalam penerimaan, karena teknologi informatika dianggap dapat membantu mahasiswa dalam menjadi desainer. Akibatnya, calon mahasiswa yang berbakat belum tentu lolos seleksi, sementara calon yang kurang berkualitas bisa diterima (Wibowo, 2011). Sehingga jika ketergantungan terhadap teknologi informatika tersebut dipenuhi oleh generative AI, tidak menutup kemungkinan bahwa kemampuan desain grafis kita di masa depan akan semakin menurun.

Masa depan di mana kemampuan desain grafis pun sepertinya akan dipercepat dengan tingginya permintaan terhadap generative AI. Bloomberg Intelligence (2024) memprediksi bahwa pasar generative AI akan mencapai nilai $1,3 triliun pada tahun 2032, dengan peningkatan penjualan dalam segmen perangkat keras, perangkat lunak, layanan, iklan, dan game teknologi pada tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 43%. Pasar pelatihan diperkirakan mencapai $470 miliar pada tahun 2032, didorong oleh investasi dalam server, penyimpanan, dan infrastruktur cloud. Selain itu, perangkat keras terkait AI diperkirakan akan mencapai nilai $640 miliar pada tahun yang sama. Dengan perkembangan ini, maka mau tidak mau industri kreatif harus bisa bertahan di tengah permintaan generative AI yang substansial.

Kesimpulan

Penggunaan generative AI terutama image generator menghasilkan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Simplifikasi pekerjaan dan waktu menjadi keunggulan dari generative AI. Namun, di bidang kreatif, penggunaan generative AI sendiri lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibandingkan dampak positif. Kontroversi terkait plagiasi dan potensi ketergantungan terhadap teknologi harus dipertimbangkan lagi oleh perusahaan yang ingin mengganti pekerja kreatif mereka dengan generative AI.

Referensi

Astutik, E. P., Ayuni, N. A., & Putri, A. M. (2023). ARTIFICIAL INTELLIGENCE: DAMPAK PERGESERAN PEMANFAATAN KECERDASAN MANUSIA DENGAN KECERDASAN BUATAN BAGI DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA. Sindoro: Cendikia Pendidikan, 1(10), 31-40. https://doi.org/10.9644/sindoro.v1i10.1219

Bloomberg Intelligence. (2024). Generative AI races toward $1.3 trillion in revenue by 2032. Bloomberg. https://www.bloomberg.com/professional/insights/data/generative-ai-races-toward-1-3-trillion-in-revenue-by-2032/

CNBC Indonesia. (2023, June 5). Gara-Gara AI, Ribuan Karyawan Kena PHK dalam Sebulan. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230605155410-37-443113/gara-gara-ai-ribuan-karyawan-kena-phk-dalam-sebulan

Dien, J. (2023). Editorial: Generative artificial intelligence as a plagiarism problem. Biological Psychology, 181(2023), 108621. Science Direct. https://doi.org/10.1016/j.biopsycho.2023.108621

Drozd, L. A., & Tavares, M. (2024). Generative AI: A Turning Point for Labor’s Share?. Economic Insights, 9(1), 2-11.

Federal Bureau of Investigation. (2024, April 29). Charlotte Child pornography case shows “Unsettling” reach of AI imagery. FBI.gov. https://www.fbi.gov/news/stories/charlotte-child-sexual-abuse-material-case-shows-unsettling-reach-of-ai-generated-imagery

Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2014). Management Information Systems: Managing the Digital Firm (13th ed.). Pearson Education.

Manovich, L. (2023). AI image and Generative Media: Notes on Ongoing Revolution. Artificial Aesthetics: Generative AI, Art, and Visual Media (pp. 1-17). http://manovich.net/index.php/projects/artificial-aesthetics-book

Nah, F. F.-H., Zheng, R., Cai, J., Siau, K., & Chen, L. (2023). Generative AI and ChatGPT: Applications, challenges, and AI-human collaboration. Journal of Information Technology Case and Application Research, 25(3), 277-304. https://doi.org/10.1080/15228053.2023.2233814

Nguyen, B. (2023, April 14). Chinese Company to Replace Some Workers With AI: Report. Business Insider. https://www.businessinsider.com/chinese-company-to-replace-some-copywriters-graphic-designers-ai-report-2023-4

Olivia, X., & Maulana, I. (2024, January 29). Berkampanye Pakai Gambar AI, Timses Prabowo-Gibran: Simbol Mengakui Perubahan Zaman. Kompas.com. Diambil pada 16 Maret, 2024, dari https://megapolitan.kompas.com/read/2024/01/29/11235041/berkampanye-pakai-gambar-ai-timses-prabowo-gibran-simbol-mengakui

Reuters. (2024, February 8). How Generative AI is transforming Indonesia’s election. Citizen Digital. https://www.citizen.digital/tech/how-generative-ai-is-transforming-indonesias-election-n336320

Sihabudin, M. M. R., Laila, H. N. A., Kharis, K., Rismayanti, & Fatimah, R. S. (2023, 12 31). Strategi Positioning “Gemoy” Prabowo Subianto melalui Media Digital. HUMANUS : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara, 1(1), 146-154. Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Nusantara. https://doi.org/10.62180/dt1m2889

Wibowo H. B. (2011). Relasi antara Perguruan Tinggi Desain Komunikasi Visual (DKV) di Indonesia dengan Industri DKV . Humaniora, 2 (1), 662-674

Yang, A. (2024, May 29). AI image misinformation has surged, Google researchers find. NBC News. https://www.nbcnews.com/tech/tech-news/ai-image-misinformation-surged-google-research-finds-rcna154333

Solverwp- WordPress Theme and Plugin