BPPM Equilibrium

Dilema Degrowth: Konflik Idealisme dan Realitas Ekonomi dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Oleh: Muhammad Faza Naufal, Nikita Dinda Azizah, Sri Utami/EQ
Editor: Ratis Maharanidewi C./EQ dan Ghozi Naufal Ali
Ilustrasi oleh: Rega Sandinata/EQ

Isu Perubahan Iklim 

Bumi kita sudah berusia 4,5 miliar tahun lamanya dengan berbagai huru-hara yang terjadi setiap saat di permukaannya. Puisi legenda berjudul “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono yang secara harfiah bermakna merahasiakan rasa cinta dan rindunya setabah hujan di bulan Juni. Ketika puisi ini dipublikasi pada tahun 1989, musim di Indonesia dibagi menjadi dua, musim hujan pada bulan Oktober–Maret dan musim kemarau pada bulan April–September. Dengan dasar hal tersebut, hujan pada bulan Juni merupakan hal yang mustahil terjadi.

Namun, akhir-akhir ini bisa dibuktikan sendiri bahwasannya hujan pada bulan Juni bukan suatu hal yang mustahil lagi, bahkan sering terjadi. Dari hujan tersebut, bisa dikatakan bahwa perubahan iklim telah terjadi dan terus menerus terjadi di Indonesia. Dalam Presentasi Dirjen SDA, Iwan Nursyirwan, pada kegiatan Paralel Events Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference, 2007) disebutkan bahwa umumnya perubahan iklim yang terjadi di Indonesia berkisar pada penggundulan hutan secara besar-besaran, kebakaran hutan, kerusakan lahan rawa dan hilangnya serapan karbondioksida. 

 Gambar 1. Keterkaitan Pertumbuhan GDP dengan Emisi CO2

Sumber: IEA

Selain itu, kenaikan produksi perusahaan cenderung diikuti dengan peningkatan gas rumah kaca. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh International Energy Agency pada tahun 2022, penggunaan bahan bakar fosil global terus meningkat bersamaan dengan PDB sejak dimulainya revolusi industri pada abad ke-18. Sejak tahun 1970, emisi CO2 telah meningkat sekitar 90 persen dengan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dan proses industri menyumbang sekitar 78 persen dari total peningkatan emisi gas rumah kaca dari tahun 1970 hingga 2011 menjadi kontributor utama dari kenaikan emisi tersebut. Hal ini menjadi pemicu munculnya konsep degrowth untuk menurunkan pertumbuhan ekonomi dengan harapan dapat menghambat perubahan iklim dengan tetap memperhatikan kualitas hidup manusia.                                                                             

Urgensi Degrowth yang Menarik Perhatian

Ambisi negara-negara terhadap Perjanjian Paris yang dinyatakan melalui Nationally Determined Contribution (NDC) untuk memperlambat laju pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celcius tidak akan pernah berhasil apabila tidak ada pengurangan produksi bahan bakar fosil secara signifikan. Berdasarkan laporan Production Gap 2021, negara secara  eksplisit belum merencanakan pengurangan produksi bahan bakar fosil secara drastis untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Sebaliknya, para pemimpin dunia cenderung berencana untuk memproduksi lebih dari dua kali lipat bahan bakar fosil di tahun 2030. Ekonomi global saat ini terus dikelilingi dengan target pertumbuhan – ide bahwa perusahaan, industri, dan negara harus mampu meningkatkan produksinya terlepas dari masyarakat benar-benar membutuhkannya atau tidak (Fanning, 2021).  

Gambar 2. Kesenjangan Ambisi 1,5 derajat Celsius dengan Realitas Produksi Negara

Sumber: Producion Gap Report

Hickel (2022) berargumen bahwa kebijakan degrowth akan efektif dalam menghentikan perubahan iklim. Menurutnya, pemerintah harus meninggalkan pertumbuhan agregat sebagai target keberhasilan negara dan lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan serta kesejahteraan manusia. Konsep degrowth mengusulkan adopsi kebijakan dan praktik ekonomi yang berfokus pada kesejahteraan manusia, redistribusi sumber daya, pengurangan konsumsi berlebih, hingga distribusi kekayaan. Dinamika ekonomi global yang selama ini berfokus pada pertumbuhan telah mendorong terjadinya perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Korporasi, kapitalis, dan pemerintah bertanggung jawab atas isu ini karena mereka merupakan pelaku utama dalam mempromosikan penggunaan energi pada batas yang tidak wajar. 

Konsep dan Sejarah Degrowth 

Konsep degrowth telah menjadi perdebatan filosofis selama berabad-abad. ‘Décroissance’ pertama kali muncul sekitar tahun 1972. Pada tahun 1982, istilah degrowth muncul dalam sebuah konferensi dengan judul Les enjeux de la décroissance (the challenges of degrowth). Namun, kata tersebut digunakan sebagai sinonim dari resesi ekonomi (ACSALF, 1983). Degrowth berasal dari bahasa Perancis ‘décroissance’ yang artinya reduksi. Konsep ini muncul pada awal abad ke-21 sebagai proyek penyusutan kegiatan produksi dan konsumsi masyarakat dalam rangka mencapai keberlanjutan sosial dan ekologis (Demaria et al., 2013). Degrowth dengan cepat melawan konsep pertumbuhan ekonomi barat pada masa itu (Bernard et al., 2003). Konsep ini berkembang menjadi semacam gerakan sosial, di mana beberapa orang menyebut degrowth sebagai sebuah ideologi yang menjadi titik temu antara aliran ide-ide kritis dan aksi politik. Dalam perkembangannya sebagai sebuah gerakan sosial, degrowth dipahami sebagai mekanisme di mana para aktor terlibat dalam aksi kolektif (Porta & Diani, 2006). Aksi kolektif di sini mengacu pada gerakan sekelompok individu yang terlibat dalam pencapaian tujuan terkait konsep degrowth. 

Pada tahun 2002, majalah Silence menerbitkan edisi khusus dengan topik degrowth yang cukup menyita perhatian publik. Setelah kesuksesan publikasi tersebut, topik degrowth menciptakan titik temu antara aktivis lingkungan dari Lyon dengan kritikus pembangunan Paris dan topik ini semakin banyak dibicarakan. Décroissance juga menjadi slogan aktivis di beberapa negara, seperti Perancis (2001), Italia (2004), serta Catalonia dan Spanyol (2006). Décroissance sebagai gerakan sosial dimulai di Lyon, Perancis. Pada tahun 2007, François Schneider, bersama dengan Denis Bayon dan Fabrice Flipo mendirikan organisasi akademik Research and Degrowth (R&D) yang memprakarsai berbagai konferensi degrowth internasional diikuti dengan terbitnya lebih dari 100 makalah akademik tentang degrowth pada tahun 2008.

Penciptaan Tantangan dan Peluang Baru dalam Bisnis 

Konsep degrowth telah banyak diusulkan oleh para filsuf, tetapi ide ini sungguh tidak terpikirkan oleh para pemimpin bisnis. Menurut pemimpin bisnis, pertumbuhan merupakan suatu kebutuhan ekonomi. Degrowth dapat menjadi ancaman bagi bisnis, di mana gerakan ini secara aktif mengubah permintaan konsumen dengan mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi produk lebih sedikit. Hal ini ditunjukkan oleh survei YouGov (2019) di Perancis menemukan bahwa 27% responden ingin mengonsumsi lebih sedikit. Jumlah konsumen yang mengkonsumsi lebih sedikit daging atau berhenti mengkonsumsi juga meningkat selama beberapa tahun terakhir (YouGov, 2019). Contoh lain misalnya, munculnya gerakan Flygskam (flight shame) yang diduga mengakibatkan 10 bandara di Swedia mengalami penurunan lalu lintas selama 10 tahun terakhir dan adanya kritik dari konsumen terhadap industri fast fashion terkait dampak ekologis dari pakaian (Roulet & Bothello, 2020). 

Di sisi lain, degrowth mendorong perombakan dalam dinamika persaingan bisnis. Hal ini menciptakan peluang bagi para pemimpin bisnis untuk membuat keputusan bisnis baru dalam rangka beradaptasi dengan lingkungan. Contoh respon bisnis terkait dengan munculnya konsep degrowth yaitu dengan merancang desain produk dengan rentang hidup yang lama dan bersifat modular. Hal ini dapat dilakukan dengan menghindari keusangan bawaan dan meningkatkan kualitas sehingga produk dapat bertahan lama dan tidak menghasilkan lebih banyak limbah (Roulet & Bothello, 2020). Selain itu, berbagai perusahaan, terutama yang bergerak pada sektor penerbangan dan energi dapat melakukan berbagai riset untuk mengembangkan energi terbarukan, alih-alih memanfaatkan energi fosil yang tidak ramah lingkungan. 

Kritik terhadap Degrowth: Solusi yang Tidak Realistis dan Terkesan Memaksa 

Degrowth merupakan ide radikal yang menyatakan bahwa ekonomi global yang terus berkembang, konsumsi yang terus bertambah, keuntungan korporasi yang semakin besar adalah sesat dan berbahaya karena mempercepat perubahan iklim. Konsep degrowth mengusulkan bahwa perusahaan bisa membatasi produksi barang yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan sosial dan mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi yang tidak dibutuhkan. Sayangnya, konsep ini telah menuai banyak kritik dari para pebisnis karena degrowth dianggap tidak bisa menjadi solusi yang realistis serta diperlukan perubahan perilaku dan budaya masyarakat dalam konteks konsumsi. Lebih dari itu, tidak semua orang mau berkorban mengubah gaya hidup mereka semata-mata hanya karena kekhawatiran terkait pemanasan global (Gates, 2022). 

Selain pebisnis, para ekonom juga ikut mengemukakan argumennya terkait ketidak logisan solusi yang ditawarkan dari pendekatan degrowth. Apabila berkaca pada sejarah ekonomi, menurunnya permintaan dan penjualan cenderung mengarah pada resesi. Menariknya, apabila dilihat dari pengertian resesi, resesi merupakan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut (Shiskin, 1974). Artinya, definisi dari resesi itu sendiri menguraikan bahwa harapan degrowth untuk meringankan beban lingkungan dengan menurunkan angka produksi dan konsumsi pada akhirnya tetap mengarah pada resesi ekonomi.

Beberapa pendukung pendekatan degrowth menyangkal bahwa pendekatan ini bukanlah sinonim dari resesi maupun depresi ekonomi apabila dilihat dari implikasinya. Resesi ditandai dengan menurunnya daya beli, penjualan perusahaan semakin menyusut, orang kehilangan pekerjaan, dan output ekonomi suatu negara secara keseluruhan menurun. Sedangkan, menurut Kallis (2019), degrowth adalah mengurangi surplus yang sebelumnya terakumulasi oleh para kapitalis yang berasal dari kalangan atas dengan cara menyebarkannya kepada masyarakat kalangan bawah yang membutuhkan sehingga menciptakan makna kolektif. Hal ini dengan harapan bahwa kesejahteraan akan tetap meningkat apabila masyarakat dari kalangan atas mendistribusikan kekayaannya kepada kalangan bawah yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. 

Namun, apabila ditarik kembali, apakah pengurangan konsumsi dari masyarakat kalangan atas tidak memiliki implikasi serius pada masyarakat kalangan bawah? Bagaimana dengan karyawan yang mengalami pemecatan akibat penjualan perusahaan menurun sehingga perusahaan terpaksa melakukan PHK? Apakah kebijakan distribusi pendapatan akan terjamin efektif dan sampai pada tangan orang yang benar-benar membutuhkan? Pendekatan ini terkesan memaksa dan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang efektif untuk mengatur distribusi pendapatan supaya sampai pada tangan orang yang tepat. Konsekuensi buruknya apabila strategi degrowth benar-benar diimplementasikan adalah munculnya dictatorship dan korupsi dari sisi pemerintah. Lebih dari itu, adanya distribusi kekayaan juga ditentang oleh libertarianisme yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki preferensi sendiri terkait kebahagiaan dan kesejahteraan. Masyarakat kalangan bawah juga tidak mungkin untuk terus diberikan subsidi dari hasil penarikan pajak dari kalangan atas melalui pemerintah. Hal ini dapat mematikan inovasi dan pengembangan diri untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Pada akhirnya, ide degrowth untuk mengharapkan penurunan atas pertumbuhan ekonomi dan di saat bersamaan tetap meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh rasanya terdengar mustahil.   

Alternatif Solusi: Menggali Potensi Renewable Energy

Solusi yang ditawarkan degrowth dalam mengubah sistem ekonomi dan kebiasaan masyarakat bukanlah solusi yang realistis untuk bisa diterapkan. Memberikan perhatian khusus terhadap perubahan iklim global adalah hal penting, tetapi perlu pendekatan yang benar-benar realistis untuk bisa digunakan. Saat ini, dunia sedang fokus untuk mempercepat ekonomi hijau melalui ESG (Environmental, Social and Governance). ESG sendiri merupakan alat ukur yang saat ini menjadi salah satu konsiderasi dari investor dalam menilai praktik dan kinerja bisnis yang berkaitan dengan etika dan keberlanjutan.  Hal ini juga memacu para pemimpin bisnis dalam meningkatkan kesadarannya terkait isu lingkungan dengan menggunakan cara yang etis dan peduli terhadap perubahan iklim. 

Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Sahid Junaidi, mengungkapkan, “Dari potensi energi terbarukan (ET) di Indonesia yang sebanyak 3.600 gigawatt (GW), pemanfaatannya baru 11,15 GW atau sebesar 3% dari total potensi ET. Hal ini menunjukkan bahwasannya sebenarnya sangat berpotensi bagi Indonesia menggunakan sumber daya alam terbarukan tetapi belum dimanfaatkan sepenuhnya. Kita berharap pemanfaatan energi terbarukan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin demi menjaga iklim dunia.” Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan utamanya yang beroperasi di Indonesia. Alternatif ini merupakan solusi yang paling realistis untuk diimplementasikan, di mana fokusnya adalah memanfaatkan energi terbarukan yang melimpah demi kecintaan kita terhadap Bumi yang kita tinggali ini. 

Kesimpulan 

Degrowth tampaknya menjadi topik yang menarik untuk dibahas, tetapi terkesan sangat idealis untuk diwujudkan dalam realita. Kondisi ekonomi global yang dikelilingi dengan target pertumbuhan ini membuat eksploitasi yang berlebihan, seperti rencana peningkatan penggunaan bahan bakar fosil di tahun 2030. Tentu saja hal ini akan berdampak pada semakin tingginya potensi perubahan iklim global. Adanya konsep degrowth memberikan ide untuk menekan pertumbuhan agar perubahan iklim global dapat diminimalisir. Namun, apabila dilihat dari kacamata ekonomi dan bisnis, konsep degrowth ini memiliki konsekuensi negatif. Hal ini mempengaruhi permintaan konsumen terhadap produk, khususnya pada produk yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, isu perubahan iklim ini menciptakan peluang baru bagi bisnis untuk menghadirkan permintaan terhadap produk berkelanjutan. Di mana, beberapa perusahaan mulai menggali energi terbarukan, seperti mulai maraknya kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan daripada kendaraan konvensional.

Referensi

ACSALF (Association canadienne des sociologues et des anthropologues de langue francaise). (1983). Les enjeux sociaux de la décroissance: actes du colloque. Montréal, Quebec: Editions coopératives Albert Saint-Martin/Saint-Laurent [Québec]: Diffusion Prologue.

Bernard, M., V. Cheynet dan B. Clémentin (eds.). (2003). Objectif decroissance. Lyon, France: Parangon/Vs.

Clifford, C. (29 September, 2022). Bill Gates: You’ll never solve climate change by asking people to consume less. CNBC. Diambil 18 Mei, 2023, dari https://www.cnbc.com/2022/09/29/bill-gates-youll-never-solve-climate-change-with-degrowth.html

Demaria, F., Schneider, F., Sekulova, F., & Martinez-Alier, J. (2013). What is Degrowth? From an Activist Slogan to a Social Movement. Environmental Values, 22(2), 191–215. http://www.jstor.org/stable/23460978   

Fanning, A.L., O’Neill, D.W., Hickel, J. et al. (2021). The social shortfall and ecological overshoot of nations. Nat Sustain 5, 26–36.

Hickel, J., Kallis, G., Jackson, T., et al. (2022). Degrowth can work — here’s how science can help. Nature. 612, 400-403.

IEA (2022). World Energy Outlook 2022. IEA, Paris https://www.iea.org/reports/world-energy-outlook-2022, License: CC BY 4.0 (report); CC BY NC SA 4.0 (Annex A)

Kallis G. (2019). The Degrowth Alternative: People and Planet Paradigm in a Truly Democratic Ethos. The Jus Semper Global Alliance. https://www.jussemper.org/Resources/Economic%20Data/thedegrowthalternative.html 

Moreno, C. (20 September, 2019). L’envie de “consommer moins” croît nettement en France. La Tribune. Diambil 18 Mei, 2023, dari https://www.latribune.fr/economie/france/l-envie-de-consommer-moins-croit-nettement-en-france-828457.html 

Nursyirwan, I. (2007). Konferensi Perubahan Iklim PBB. Prosiding dari UNFCC. Bali: 3-14 Desember 2007.

Porta, D. D. & Diani, M. (2006). Social Movements: An Introduction, 2nd edn. Oxford: Blackwell.

Roulet, T., & Bthello, J. (14 Februari, 2020). Why “De-growth” Shouldn’t Scare Businesses. Harvard Business Review. Diambil 18 Mei, 2023, dari https://hbr.org/2020/02/why-de-growth-shouldnt-scare-businesses 

Rodeck, D. (12 Juli, 2022). Recession Definition: What Is A Recession? – Forbes Advisor. Forbes. Diambil 18 Mei, 2023, dari https://www.forbes.com/advisor/investing/what-is-a-recession/ 

SEI, IISD, ODI, E3G, dan UNEP. (2021). The Production Gap Report 2021: Governments’ planned fossil fuel production remains dangerously out of sync with Paris Agreement limits.

Pengunjung :
158

Solverwp- WordPress Theme and Plugin