Panik Sebelum Lebaran: Disrupsi Harga Pangan dan Psikologi Konsumen dalam Perspektif Behavioral Economics

Panik Sebelum Lebaran: Disrupsi Harga Pangan dan Psikologi Konsumen dalam Perspektif Behavioral Economics

Penulis: Muhammad Riztama Aulia Rasyid/EQ
Editor: Bill Sean Saragih/EQ
Layouter: Rafaela Putri A./EQ

Ketika Lebaran Menjadi Guncangan Ekonomi

Sebelum takbir berkumandang, harga cabai rawit di Surabaya sudah naik hampir 27 persen dalam dua hari. Itulah potret Lebaran Idulfitri di Indonesia: bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan guncangan ekonomi tahunan yang datang dengan kepastian hampir mekanis. Selama Lebaran 2025, Kementerian Perhubungan (2025) mencatat 154,62 juta pergerakan mudik antarprovinsi, melampaui proyeksi awal sebesar 146,48 juta meski lebih rendah dari realisasi 2024 sebesar 162,2 juta. Mobilitas yang terkonsentrasi dalam rentang waktu sangat sempit ini menciptakan demand shock di berbagai kota tujuan, menekan rantai pasok distribusi, dan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. Secara nasional, BPS (2025) melaporkan inflasi month-to-month Maret 2025 sebesar 1,65%, naik drastis dari deflasi 0,55% pada Februari, meski kontributor terbesarnya adalah tarif listrik dengan andil 1,18%, bukan pangan.

Gejolak harga pangan yang sesungguhnya terjadi di tingkat komoditas dan kota. BPS Provinsi Jawa Timur (2025) mencatat cabai rawit mengalami inflasi 25,36% dan bawang merah 34,85% hanya dalam satu bulan. Disrupsi ini bersifat berlapis: dari sisi kebijakan, Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen yang ditetapkan Rp6.000–6.500/kg tidak mampu menahan harga beras medium I di Surabaya yang menyentuh Rp15.200–15.950/kg di tingkat konsumen (PIHPS, 2025), sementara kerentanan struktural dalam sistem distribusi pangan Surabaya, khususnya terbatasnya peran Perusahaan Daerah Pasar Surya pada infrastruktur tanpa manajemen rantai pasok yang terintegrasi, terus berlangsung meski berbagai program telah dijalankan (Hendrati dkk., 2017). Impor bawang putih melonjak 155% menjadi 13.629 ton (BPS, 2025), sinyal bahwa defisit pasokan domestik tidak dapat diatasi oleh produk lokal semata. Dengan demikian, disrupsi harga pangan Lebaran 2025 merupakan hasil interaksi antara demand shock musiman, supply shock struktural akibat cuaca ekstrem di sentra produksi, dan ketergantungan impor yang belum terkelola dengan baik.

Dari sini muncul pertanyaan mendasar: mengapa konsumen tetap melakukan pembelian berlebihan di saat harga melambung? Mengapa panic buying terus berulang meskipun pemerintah menjamin stok pangan? Kerangka Behavioral Economics menawarkan jawaban melalui tiga konsep yang saling terkait. Mental Accounting (Thaler, 1999) menunjukkan bahwa THR diperlakukan sebagai windfall gain yang menurunkan sensitivitas harga sehingga konsumen lebih berani membeli meski harga tinggi. Loss Aversion dalam Prospect Theory (Kahneman & Tversky, 1979) menjelaskan bahwa ketika harga naik, konsumen memaknainya sebagai kerugian yang harus dihindari dengan membeli lebih awal dan lebih banyak sebelum harga naik lebih jauh. Herd Behavior (Banerjee, 1992) memperkuat efek keduanya: antrean panjang dan berita kenaikan harga mendorong konsumen mengabaikan sinyal pribadi dan meniru tindakan orang banyak, menciptakan lingkaran setan kepanikan kolektif. Interaksi siklikal ketiga konstruk inilah yang menjadi kerangka analisis penelitian ini, dengan dua rumusan masalah: (1) bagaimana pola disrupsi harga cabai rawit dan bawang merah di tiga kota pada periode Lebaran 2025? dan (2) bagaimana perilaku konsumen Muslim pada periode tersebut dapat diinterpretasikan melalui kerangka Behavioral Economics?

Pola Disrupsi Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah pada Lebaran 2025

Data analisis bersumber dari Panel Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia yang mencatat harga harian komoditas pangan di 82 kota, dengan periode pengamatan Maret 2025 mencakup fase pra-Lebaran (1–5 Maret) dan periode Lebaran (10–15 Maret). Fokus diarahkan pada cabai rawit dan bawang merah sebagai dua komoditas dengan andil inflasi tertinggi di Jawa Timur (BPS Jatim, 2025), di tiga kota yang dipilih secara sengaja: Surabaya, DKI Jakarta, dan Yogyakarta. Untuk cabai rawit, data menunjukkan pola spike pra-Lebaran yang konsisten di ketiga kota: lonjakan tajam terjadi pada tanggal 3 Maret, diikuti koreksi memasuki tanggal 10 Maret, yaitu Surabaya dari Rp61.950 ke Rp78.700 (+26,9%) lalu turun ke Rp57.960; Yogyakarta dari Rp71.900 ke Rp82.500 (+14,7%) lalu stabil di Rp71.250; dan Jakarta dari Rp90.150 ke Rp103.600 (+14,9%) lalu turun ke Rp80.700 namun kembali berfluktuasi di atas Rp85.000 hingga pertengahan Maret (lihat Tabel 1.1). Pola ini mengonfirmasi bahwa puncak tekanan harga terjadi sebelum hari H, bukan pada hari raya itu sendiri. Surabaya mencatat lonjakan tertinggi (+26,9%) meski harga dasarnya paling rendah, mengindikasikan bahwa sistem distribusi Surabaya paling sensitif terhadap demand shock jangka pendek; sebaliknya, Jakarta dengan harga dasar tertinggi justru mencatat penurunan paling agresif secara persentase (–10,5%) setelah koreksi, mengindikasikan bahwa intervensi pasar di Jakarta, meski terlambat, tetap efektif dalam jangka menengah.

 

Kota

Harga Tgl 1 (Rp/kg)

Harga Puncak Tgl 3 (Rp/kg)

Harga Tgl 10 (Rp/kg)

Lonjakan Pra-Lebaran (Tgl 1–3)

Surabaya

61.950

78.700

57.950

+26,9%

Yogyakarta

71.900

82.500

71.250

+14,7%

DKI Jakarta

90.150

103.600

80.700

+14,9%

Tabel 1.1 Magnitude Disrupsi Harga Cabai Rawit, Maret 2025. Sumber: Bank Indonesia (2025), Panel Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), diolah oleh penulis.

Bawang merah menunjukkan karakter yang sama sekali berbeda: harga naik secara gradual dan persisten sepanjang periode tanpa koreksi yang berarti, dengan kenaikan kumulatif Surabaya +27,2% (Rp33.700 hingga Rp42.850), Yogyakarta +17,8% (Rp36.500 hingga Rp43.000), dan Jakarta +33,9% (Rp42.600 hingga Rp57.050). Jakarta mencatat kenaikan kumulatif tertinggi sekaligus dengan harga dasar tertinggi, sebuah kombinasi yang paling memberatkan konsumen, sementara Yogyakarta paling rendah (+17,8%), membuktikan bahwa kedekatan dengan sentra produksi bawang merah di Brebes memberikan keuntungan kompetitif yang nyata. Perbedaan pola antara dua komoditas ini penting secara analitis: cabai rawit lebih dipengaruhi demand shock musiman yang bersifat sementara sehingga harganya dapat terkoreksi setelah permintaan reda, sementara bawang merah, yang memiliki siklus produksi lebih panjang dan ketergantungan pada sentra tertentu, lebih rentan terhadap supply shock struktural yang tidak dapat diselesaikan dalam jangka pendek bahkan setelah Lebaran berlalu. Dua komoditas ini membentuk dua narasi berbeda namun saling melengkapi, sekaligus menjadi jembatan untuk memahami respons psikologis konsumen yang dianalisis berikutnya. 

Interpretasi Perilaku Konsumen Muslim melalui Kerangka Behavioral Economics

Analisis ini menggunakan pendekatan interpretif berbasis triangulasi antara pola harga PIHPS, temuan literatur empiris, dan kerangka Behavioral Economics. Karena penelitian dilakukan setelah Lebaran berlalu, pendekatan ini bersifat eksploratoris dan tidak mengklaim kausalitas, melainkan menunjukkan konsistensi pola yang teramati dengan prediksi teori. Konstruk pertama, Mental Accounting (Thaler, 1999), menjelaskan bagaimana THR yang diterima pekerja menjelang Lebaran diperlakukan sebagai windfall gain, yakni dana yang secara psikologis lebih bebas dibelanjakan daripada pendapatan rutin, sehingga sensitivitas harga konsumen menurun signifikan. Inelastisitas permintaan ini terbukti dalam data PIHPS: konsumen Jakarta tetap membeli cabai pada harga puncak Rp103.600/kg tanpa koreksi permintaan yang berarti. tSurvey.id (2023) melaporkan 65% konsumen mengalokasikan dana khusus THR untuk belanja pangan, sementara Hassan dan Low (2024) mengonfirmasi bahwa festive experience menciptakan akun mental tersendiri yang membenarkan pengeluaran lebih besar; Nilasari dkk. (2026) mereplikasi temuan serupa pada 222 mahasiswa Muslim perantau di Surabaya dengan religiusitas sebagai moderator. Konstruk kedua, Loss Aversion dalam Prospect Theory (Kahneman & Tversky, 1979), memberikan bukti paling langsung: puncak harga cabai rawit terjadi pada tanggal 3–5 Maret, jauh sebelum hari H, yang berarti konsumen membeli lebih awal bukan karena kebutuhan mendesak melainkan karena rasa takut rugi. Validasi mekanisme ini datang dari pola bawang merah yang justru berbeda: karena masa simpannya pendek dan penimbunan tidak praktis, pola anticipatory buying tidak terjadi, sehingga loss aversion terbukti bekerja hanya ketika penimbunan memungkinkan (Billore & Anisimova, 2021; Chua dkk., 2021).

Konstruk ketiga, Herd Behavior (Banerjee, 1992), memperbesar kepanikan yang sudah diaktifkan oleh dua konstruk sebelumnya. Berita kenaikan harga dan antrean panjang mendorong konsumen mengabaikan sinyal pribadi dan meniru tindakan orang lain, menciptakan vicious cycle di mana perceived scarcity menghasilkan panic buying yang menghasilkan kelangkaan nyata yang mendorong lebih banyak kepanikan. Perbedaan kecepatan koreksi antarwilayah menjadi buktinya: Surabaya menunjukkan koreksi tercepat setelah intervensi Gerakan Pangan Murah, mengindikasikan bahwa sinyal stok aman berhasil memutus siklus kepanikan; Jakarta justru mencatat harga yang kembali naik ke Rp90.500 pada 14 Maret meski pemerintah mengumumkan stok aman karena sinyal yang saling bertentangan memperpanjang herd behavior; sementara Yogyakarta paling rendah intensitasnya karena kedekatan sentra produksi memberikan informasi pasokan yang lebih transparan sejak awal. Di luar ketiga konstruk ini, sertifikasi halal berperan sebagai moderator kontekstual yang mempercepat keputusan pembelian dengan menurunkan beban kognitif konsumen Muslim, sebagaimana dibuktikan Triolita (2025) dengan path coefficient 0,41 di Surabaya, dan diperkuat oleh Fitriyah, Tanuwijaya, dan Suhandiah (2025) serta Muhtarom dan Rizal (2025). Namun ada paradoks yang teridentifikasi: Sobaib (2023) dan Hassan serta Low (2024) menemukan bahwa religiusitas justru dapat memperkuat excessive buying karena makna sosial-religius Lebaran menciptakan tekanan untuk menyajikan hidangan terbaik yang dibenarkan secara keagamaan, sehingga identitas religius tidak selalu menjadi rem konsumsi, melainkan kadang menjadi accelerator-nya.

 Kesimpulan

Disrupsi harga pangan Lebaran 2025 bukan fenomena tunggal, melainkan interaksi antara tekanan ekonomi struktural dan dinamika psikologis kolektif. Cabai rawit dan bawang merah menunjukkan dua karakter berbeda: yang pertama intens namun dapat dikoreksi, yang kedua gradual dan persisten, dengan variasi antarkota yang mencerminkan perbedaan kapasitas distribusi, kedekatan sentra produksi, dan efektivitas intervensi pemerintah daerah. Kerangka Behavioral Economics mengungkap dimensi psikologis yang selama ini absen dari analisis kebijakan pangan: Mental Accounting via THR menurunkan sensitivitas harga dan membuat permintaan tidak elastis meski harga melonjak; Loss Aversion mendorong pembelian antisipatif sebelum hari H karena konsumen lebih takut rugi di masa depan daripada membayar mahal hari ini; dan Herd Behavior memperbesar kepanikan secara kolektif sekaligus menjelaskan mengapa koreksi terjadi lebih cepat di kota dengan intervensi sinyal yang kuat. Sertifikasi halal mempercepat keputusan pembelian, namun dalam kondisi kepanikan ekstrem, tekanan sosial-religius Lebaran dapat mengalahkan pertimbangan rasional itu sendiri.

Temuan ini menegaskan bahwa intervensi kebijakan pangan Lebaran yang efektif harus bekerja pada dua level sekaligus: level ekonomi untuk menstabilkan harga, dan level psikologis untuk memutus siklus kepanikan kolektif. Selama dimensi psikologis ini diabaikan, operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah akan selalu tertinggal satu langkah dari kepanikan yang sudah terlanjur menyebar.

Daftar Pustaka

Banerjee, A. V. (1992). A simple model of herd behavior. The Quarterly Journal of Economics, 107(3), 797–817. https://doi.org/10.2307/2118364

Billore, S., & Anisimova, T. (2021). Panic buying research: A systematic literature review and future research agenda. International Journal of Consumer Studies, 45(4), 777–804. https://doi.org/10.1111/ijcs.12669

Badan Pusat Statistik. (2025). Berita resmi statistik: Perkembangan Indeks Harga Konsumen (inflasi) Maret 2025. Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2025). Berita resmi statistik: Perkembangan Indeks Harga Konsumen/inflasi Provinsi Jawa Timur Maret 2025 (No. 22/04/35/Th. XXVIII). Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur.

Fitriyah, S., Tanuwijaya, H., & Suhandiah, S. (2025). Pengaruh inovasi produk, brand image, harga dan sertifikasi halal terhadap keputusan pembelian keripik kulit kebab Misscrip di Surabaya. El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam, 6(8), 3076–3094. https://doi.org/10.47467/elmal.v6i8.9568

Hassan, S. H., & Low, E. C. (2024). Spur of the moment: The unintended consequences of excessive food purchases and food waste during Ramadan. British Food Journal, 126(7), 2732–2745. https://doi.org/10.1108/BFJ-10-2023-0917

Hendrati, I. M., Ika, K. W. N., Pudjo, P. H., & Sishadiyati, S. (2017). Improving the role of PD. Pasar Surya in the supply chain strategic commodity framework in Surabaya city (Synergizing local government business units, private sectors and traders). International Journal of Economics and Financial Issues, 7(5), 1–7.

Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: An analysis of decision under risk. Econometrica, 47(2), 263–291. https://doi.org/10.2307/1914185

Kementerian Perhubungan. (2025). Penutupan Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2025: Pengguna angkutan umum naik 8,5% selama masa angkutan Lebaran 2025. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Muhtarom, A., & Rizal, F. (2025). The effect of product quality and Islamic service quality on purchase decisions at Kebab Baba Rafi with price as a moderator variable. Proceeding of Annual International Conference on Islamic Economics (AICIE), 4(1), 274–293.

Nilasari, W. A., Haniffa, R., Rizal, C. F., Ratnasari, R. T., & Hasib, F. F. (2026). Determinants of excessive food buying and waste during Ramadan in Indonesia: The moderating role of religiosity. Journal of Islamic Accounting and Business Research. https://doi.org/10.1108/JIABR-12-2024-0510

Panel Harga Pangan PIHPS. (2025). Harga beras kualitas medium I: Wilayah Kota Surabaya, Maret 2025 [Basis data]. Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/hargapangan

Thaler, R. H. (1999). Mental accounting matters. Journal of Behavioral Decision Making, 12(3), 183–206. https://doi.org/10.1002/(SICI)1099-0771(199909)12:3<183::AID-BDM318>3.0.CO;2-F

Triolita, N. (2025). Transformation purchasing behavior moderate the influence of halal certification on purchasing decisions in Surabaya. International Conference of Business and Social Sciences (ICOBUSS), 5(1). https://doi.org/10.24034/icobuss.v5i1.795

Lampiran

Tabel 1.2 Magnitude Disrupsi Harga Bawang Merah, Maret 2025.

KotaKota        Kota

Harga Tgl 1 (Rp/kg)

Harga Tgl 5 (Rp/kg)

Harga Tgl 10 (Rp/kg)

Kenaikan kumulatif Tgl 1-10

Surabaya

33.700

37.550

42.850

+27,2%

Yogyakarta

36.500

38.250

43.000

+17,8%

DKI Jakarta

42.600

55.350

57.050

+33,9%

Sumber: Bank Indonesia (2025). Panel Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), diolah oleh penulis.

Tabel 1.3 Ringkasan Komparatif, diolah oleh penulis

Aspek

Surabaya

Yogyakarta

DKI Jakarta

Harga dasar cabai rawit

Terendah (Rp61.950)

Menengah (Rp71.900)

Tertinggi (Rp90.150)

Lonjakan pra-Lebaran (cabai)

Tertinggi (+26,9%)

Terendah (+14,7%)

Menengah (+14,9%)

Kecepatan koreksi cabai

Paling cepat (–6,5%)

Sedang (–0,9%)

Paling lambat (–10,5%)

Kenaikan bawang merah kumulatif

Menengah (+27,2%)

Terendah (+17,8%)

Tertinggi (+33,9%)

Faktor dominan

Intervensi lokal aktif + sensitivitas distribusi

Kedekatan sentra produksi

Ketergantungan pasokan luar daerah

Tabel 2.1 Indikator Mental Accounting per Kota, diolah oleh penulis

Indikator

Surabaya

Yogyakarta

DKI Jakarta

Harga dasar cabai rawit (Tgl 1)

Rp61.950

Rp71.900

Rp.90.150

Harga saat puncak (Tgl 3)

Rp78.700

Rp82.000

Rp.103.600

Lonjakan pra-Lebaran (%)

+26,9%

+14,7%

14,9%

Indikasi price sensitivity

Beli di harga +26,9%

Beli di harga 14,7%

Beli di harga 14,9%

Inferensi  Komparatif Mental Accounting

Kuat

Moderat

Sangat kuat


Catatan: Simpulan bersifat interpretatif berbasis pola data, bukan pengukuran langsung secara psikologis

Tabel 2.2 Indikator Loss Aversion per Kota, diolah oleh penulis

Indikator

Surabaya

Yogyakarta

DKI Jakarta

Magnitude lonjakan pra-Lebaran (cabai)

+26,9%

+14,7%

14,9%

Kecepatan koreksi (tgl 3-10)

-26,4% (tercepat)

-13,6% (terlambat)

-22,1% (menengah)

Perubahan kumulatif tgl 1-10

-6,5%

-0,9%

-10,5%

Inferensi intensitas Loss Aversion

Tinggi (cepat mereda)

Rendah (moderat)

Tinggi (persisten pada bawang merah)

Catatan: Inferensi bersifat interpretatif berbasis pola harga

Tabel 2.3 Indikator Herd Behavior per Kota, diolah oleh penulis

Indikator

Surabaya

Yogyakarta

DKI Jakarta

Kecepatan harga naik (tgl 1-3)

+26,9% (sangat cepat)

+14,7% (moderat)

+14,9% (moderat)

Kecepatan koreksi cabai (tgl 3-10)

-26,4% (tercepat)

-13,6% (terlambat)

-22,1% (menengah)

Perubahan kumulatif tgl 1-10 (cabai)

-6,5%

-0,9%

-10,5%

Persistensi bawang merah (tgl 1-10)

+27,2%

17,8%

+33,9%

Inferensi intensitas Herd Behavior

Tinggi (cepat mereda)

Rendah (moderat)

Tinggi (persisten mengenai bawang merah)

Tabel 1.4 Harga Cabai dan Bawang di Surabaya pada Maret 2025 tanggal 1-5 dan 10-15.

Sumber: PIHPS Bank Indonesia (2025), diolah penulis

Tabel 1.5 Harga Cabai dan Bawang di Yogyakarta pada Maret 2025 tanggal 1-5 dan 10-15.

Sumber: PIHPS Bank Indonesia (2025), diolah penulis

Tabel 1.6 Harga Cabai dan Bawang di DKI Jakarta pada Maret 2025 tanggal 1-5 dan 10-15.

Sumber: PIHPS Bank Indonesia (2025), diolah penulis