Di Balik Gejolak IHSG 2026: Antara Tekanan Global dan PR Domestik

Di Balik Gejolak IHSG 2026: Antara Tekanan Global dan PR Domestik

Penulis: Najwa Anggi Namira dan Tarisa Rizky Zulia/EQ
Editor: Najwa Ilma Arifah
Layouter: Jauza A/EQ

Ibarat menaiki wahana roller coaster di taman bermain, itulah yang sedang dialami oleh para investor pasar modal Indonesia di tahun 2026 ini. Bagaimana tidak? Dalam kurun waktu empat bulan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mengalami fluktuasi tajam, melonjak tinggi di awal tahun, lalu terjun tajam hingga mengalami koreksi yang signifikan. Berdasarkan laporan IDNFinancials, IHSG menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di antara indeks saham ASEAN dan Asia Pasifik dengan penurunan mencapai 19,4% sejak awal tahun.

Pasang Surut Pasar Modal Indonesia di Awal Tahun 2026 

Januari 2026, IHSG membuka awal tahun dengan secercah harapan. Sempat mencatatkan rekor tertinggi di atas 9.000, investor dibuat percaya diri bahwa pasar akan terus menguat. Kondisi tersebut mendadak berubah setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara pada 28 Januari. Dampaknya, IHSG langsung anjlok 7,34%–8% ke level 8.321,22, yang kemudian diikuti oleh langkah BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada 29 Januari.

Pada Februari 2026, pasar memasuki periode koreksi yang cukup tajam. Pada awal bulan, pasar mengalami tekanan akibat kebijakan dari MSCI. Namun, kemudian pada akhir bulan, terjadi rebound yang dipengaruhi oleh kebijakan dagang AS dan Indonesia sehingga mengundang masuknya dana asing. Selanjutnya, memasuki Maret 2026, tren pelemahan masih berjalan hingga akhirnya ditutup dengan IHSG yang turun 0,61% di posisi 7.048,22. Setelah itu, pada April 2026, IHSG sempat menguat di awal bulan pada kisaran 7.184,44. Namun, IHSG kembali lesu di akhir bulan dan anjlok ke level 6.956,80 atau terkoreksi sekitar 1,30% secara month-to-month (mtm). Pergerakan fluktuatif ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pergerakan IHSG Januari–April 2026 Sumber: Trading Economics (diolah oleh penulis)

Fluktuasi IHSG sepanjang awal tahun 2026 tentu tidak terjadi tanpa sebab. Menurut Bloomberg Technoz, momen pertama yang menjadi titik awal gejolak IHSG terjadi ketika MSCI mengumumkan penghentian sementara pada akhir Januari 2026. Alasan MSCI melakukan hal ini salah satunya adalah karena isu transparansi free float, yakni proporsi saham yang dimiliki dan diperdagangkan oleh publik di pasar saham Indonesia. MSCI sebagai lembaga riset investasi yang selama ini menjadi acuan utama investor global, akhirnya membuat investor asing menahan bahkan menarik dana mereka dari pasar saham Indonesia. Akhirnya, nilai IHSG pun turun bebas. 

Belum selesai menghadapi tekanan dari MSCI, pasar pun kembali diguncang oleh meningkatnya ketidakpastian global dan memanasnya tensi geopolitik pada bulan Maret 2026. Rangkaian peristiwa geopolitik yang terjadi turut meningkatkan volatilitas pasar global. Sebagai pasar negara berkembang, Indonesia juga mengalami dampak tersebut yang ditandai dengan penarikan modal oleh investor global guna mengurangi risiko (capital outflow).

Akibatnya, IHSG seolah menghadapi situasi “sudah terjatuh, tertimpa tangga” karena harus menghadapi tekanan domestik dan global secara bersamaan. 

Menelisik Karakteristik Pasar Domestik

Tidak dipungkiri bahwa pasar modal Indonesia memang sangat mudah “terguncang”. Karakteristik tersebut membuat volatilitas menjadi salah satu ciri yang cukup melekat pada pasar modal Indonesia. Ketika sentimen positif muncul, IHSG dapat menguat dalam waktu singkat. Namun, di sisi lain, tekanan negatif juga mampu memicu aksi jual besar-besaran dan menyebabkan penurunan indeks secara drastis. 

Menurut penjelasan Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, M.B.A. dalam podcast FEB UGM berjudul “MSCI Soroti Pasar Modal Indonesia, Ancaman atau Momentum Reformasi?” yang dirilis pada 1 Mei 2026, kondisi ini tidak terlepas dari karakteristik pasar modal Indonesia yang masih didominasi oleh sentimen investor asing dan struktur pasar yang belum sepenuhnya kuat. Sebagai negara berkembang (emerging market), arus dana asing memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan IHSG. Ketika kepercayaan investor global meningkat, dana asing masuk dan pasar bergerak naik. Sebaliknya, ketika muncul ketidakpastian, investor cenderung menarik modalnya sehingga tekanan jual meningkat tajam. Dalam pasar saham Indonesia, pergerakan ini dikenal sebagai foreign flow atau aliran modal asing yang secara historis berperan besar dalam menentukan arah tren pasar. Pandangan ini sejalan dengan analisis pengamat pasar modal Elandry Pratama yang menyoroti tingginya risiko outflow dana asing, terutama saat investor global melakukan peninjauan kembali (review) terhadap posisi pasar saham Indonesia. Selain itu, isu transparansi kepemilikan saham, free float yang relatif kecil, hingga kekhawatiran terhadap praktik perdagangan yang kurang sehat juga turut memperbesar volatilitas pasar.

Fenomena inilah yang belakangan menjadi sorotan MSCI terhadap pasar modal Indonesia. MSCI menilai bahwa transparansi kepemilikan saham dan kualitas pembentukan harga di pasar Indonesia masih perlu diperbaiki agar pasar menjadi lebih adil, likuid, dan terpercaya. Artinya, gejolak IHSG yang terjadi sepanjang awal tahun 2026 bukan hanya dipengaruhi kondisi ekonomi global semata, tetapi juga mencerminkan adanya tugas bagi regulator pasar modal dalam menguatkan fundamental pasar modal Indonesia itu sendiri.

Cerita Investasi Mahasiswa di Pasar Modal

Gejolak pasar di tahun 2026 sangat berimplikasi bagi para investor ritel, termasuk mahasiswa. Kondisi naik turun dalam waktu singkat ini membuat investor muda mulai merasakan langsung bagaimana dinamika dan risiko saham itu bekerja. Kondisi tersebut tidak hanya mengubah nilai portofolio mereka, tetapi juga membentuk cara pandang yang baru terhadap dunia investasi itu sendiri. 

Zidane, salah satu mahasiswa FEB UGM yang juga berinvestasi di pasar modal Indonesia turut memberi pandangan dalam menghadapi situasi ini. Ia bercerita bahwa dirinya mulai masuk ke pasar sejak tahun 2025 pada saat membeli saham Initial Public Offering (IPO). Saat harganya naik, ia merasakan keuntungan besar untuk pertama kalinya dan membuatnya semakin ingin memperdalam instrumen tersebut. 

"Setelah itu, saya mencoba berinvestasi di beberapa saham. Namun, saya justru mengalami kerugian yang cukup besar karena tidak melakukan analisis secara matang. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa investasi saham tidak sesederhana yang dikira, terlebih dengan adanya fenomena saham gorengan," ujarnya.

Sementara itu, Nabiih, mahasiswa FEB UGM lainnya, mengungkapkan bahwa dirinya mulai terjun di pasar modal Indonesia tepat di saat kondisi sedang bergejolak. Baginya, kondisi pasar yang penuh tekanan justru menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana pasar modal bekerja secara nyata. 

"Momentum seperti ini justru menyadarkan para investor bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan spekulasi atau sekadar mengikuti tren. Investor harus memahami fundamental perusahaan agar mengetahui secara pasti aset apa yang sebenarnya mereka beli," imbuhnya. 

Menanggapi gejolak tersebut, mereka sepakat bahwa diperlukan pembenahan fundamental dalam tata kelola dan mekanisme pasar modal Indonesia. Tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan kinerja pasar, tetapi juga untuk memperkuat kepercayaan investor. Menurut mereka, pasar modal yang sehat harus mampu menciptakan rasa aman, transparansi, dan keadilan bagi seluruh investor, termasuk investor ritel yang baru mulai berinvestasi.