Grand Concert GMCO Vol. 12: Samsara, Elegi Jiwa Menuju Damai
GMCO menyajikan musik orkestra yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga menyampaikan alur cerita secara jelas kepada penonton.
Penulis: Naomi Grace Suminar B. Sitanggang /EQ & Dear Rahmania/EQ
Editor: Theresa Martha M./EQ
Layouter: Khalia Aziza M./EQ
Sabtu (30/05/2026), Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) mengadakan Grand Concert Volume 12, sebuah pergelaran tahunan yang menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan musikal mereka. Malam itu, gedung Auditorium Driyarkara tampak dipenuhi oleh wajah berseri para penonton yang antusias untuk menikmati setiap alunan musik orkestra yang disuguhkan.
Malam diawali dengan sambutan oleh Project Manager Grand Concert Vol.12, Benawa Java Permadi; Ketua GMCO, Medha Safia Djohan; Pembina GMCO, Prof. Dr. Tri Kuntoro Priyambodo, M.Sc.; dan Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si. Grand Concert tahun ini mengambil tema “Samsara: An Elegy of A Soul” yang mengajak penonton untuk menyelami sebuah perjalanan batin. Setiap alunan musik menggambarkan babak kehidupan, mulai dari lahirnya harapan, pergolakan ambisi, kedalaman duka, hingga akhirnya mencapai ketenangan dalam penerimaan. Tema ini terinspirasi dari pengalaman pribadi sang project manager pada masa COVID-19 yang menjadi titik terendah hidupnya. Konser tahun ini berkolaborasi dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma, Komunitas Teater Jubah Macan SMAN 3 Yogyakarta, serta Dominique Naura Ilari Namorin sebagai solois. Konser kali ini juga mengundang guest star yang tentu tidak asing di telinga para penikmat jazz, yaitu Natasya Elvira.

Act I: Innocence
Lampu panggung meredup, menyisakan sorotan cahaya pada seorang pemuda yang melangkah maju. Ia merepresentasikan fase awal manusia: muda, ambisius, dan memiliki keyakinan mutlak bahwa kebahagiaan berada dalam genggamannya. Setelah monolog pemuda itu selesai, suasana panggung mendadak hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dikejutkan oleh alunan riang lagu “Another Day of Sun” karya Justin Hurwitz dan Benj Pasek. Transisi yang tidak terduga itu sukses menerbitkan senyum di wajah penonton, sekaligus menghadirkan rasa semangat dan keceriaan seseorang yang sedang memulai perjalanan hidupnya. Para penari latar turut menambah energi panggung melalui gerakan lincah mereka. Keceriaan di panggung tersebut lalu perlahan berubah menjadi nostalgia lewat lagu “Jagoan” dari Petualangan Sherina yang membawa penonton kembali pada kenangan masa kecil yang penuh keseruan.
Setelah lagu usai, monolog sang pemuda kembali menggema. Ia sangat haus akan harta, cinta, dan kekuasaan, hingga rela mengejar segalanya tanpa memedulikan perkataan orang lain demi menemukan kebahagiaan yang selama ini dicari. Seiring berakhirnya monolog, lagu “The Sleeping Beauty” karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky perlahan mengalun dengan lembut dan syahdu. Rasanya seperti berada di negeri dongeng yang membuat penonton berbinar dan larut dalam suasana magis yang tercipta.
Act II: Ignorance
Alunan lagu berjudul “Fontaine” karya Dimeng Yuan terdengar memenuhi ruangan, menghadirkan suasana sendu yang perlahan membawa penonton masuk ke dalam kegelisahan batin sang tokoh. Sepanjang lagu ini mengalun, para penari latar tampak menggambarkan rasa gundah yang dialami sang pemuda melalui gerakan lembut dan penuh emosi, membuat penonton seakan ikut merasakan kehilangan harapan. Tidak berselang lama, pertunjukan dilanjutkan dengan lagu “I Dreamed a Dream” karya Claude-Michel Schönberg yang dinyanyikan oleh Dominique Naura Ilari Namorin dengan syahdu, membuat penonton terdiam menghayati lagu tersebut.
Act III: Death
Monolog sang pemuda kembali hadir membawa ketersiksaan batin yang datang dari tekanan untuk memenuhi ekspektasi “bahagia”. Tekanan untuk terus mengejar hal-hal yang dianggap sebagai ukuran kebahagiaan perlahan berubah menjadi kekacauan batin. Rasa kecewa, lelah, dan marah yang lama terpendam akhirnya meledak, diiringi lagu “Lexicon” karya Isyana Sarasvati. Penonton diajak untuk ikut merasakan emosi sang pemuda dari lagu tersebut. Suara Dominique yang penuh penghayatan membuat setiap nada terasa seperti luapan perasaan yang tertahan begitu lama. Ketegangan mencapai puncaknya di penghujung lagu ketika seluruh pemain musik serentak melemparkan kertas partitur mereka ke udara. Hamburan kertas tersebut menjadi simbol visual atas runtuhnya ekspektasi sang pemuda, sekaligus menutup paruh pertama dengan impresi yang mendalam.
Act IV: Revelation
Dalam babak ini, penonton diajak untuk bangkit dari rasa keputusasaan. Setelah perjalanan awal manusia yang penuh dengan harapan, ambisi, dan keterpurukan, Act IV kini menceritakan tentang proses penerimaan. Diiringi alunan lembut lagu “To Zanarkand” dari Final Fantasy X yang membuat suasana auditorium khidmat. Lagu ini membawa penonton menghadapi kenyataan hidup yang pahit, mendorong mereka untuk berhenti memendam rasa dan mulai membuka isi hati. Rasa penerimaan tersebut kemudian direpresentasikan dalam lagu “Annie’s Song” oleh John Denver yang memiliki arti bahwa kita harus selalu bersyukur atas apa yang diperoleh. Pembawaan lagu yang pas dan suasana auditorium yang mendukung menjadikan malam itu semakin syahdu.
Act V: Reflection
Masuk babak kelima, penonton dibawa ke fase refleksi terdalam, yaitu momen ketika seseorang mulai bisa menerima kenyataan hidup. Babak ini menggambarkan bahwa seseorang telah berhasil melepas beban-beban kehidupan secara perlahan dengan menerimanya, sehingga menjadikan suasana auditorium semakin tenang. Suasana didukung dengan alunan lagu “Sepuluh” oleh Natasya Elvira yang menyampaikan sebuah pesan bahwa ada kalanya perjuangan berujung sia-sia, karena garis takdir memang menghendaki jalan yang berbeda menyadari hal itu justru memicu keikhlasan yang murni.
Act VI: Peace
Memasuki babak terakhir, penonton diajak untuk berdamai dengan segalanya, baik terhadap ambisi, harapan, maupun kekecewaan yang telah dirasakan. Sesi ini direpresentasikan dalam lagu “My Way” oleh Frank Sinatra yang bermakna bahwa seseorang telah berdamai dengan dirinya dan lingkungannya. Tak ada lagi kekecewaan atau penyesalan; yang tersisa hanyalah rasa bangga karena ia berhasil bertahan dan melewati masalah sejauh ini. Act VI menjadi sebuah penutupan yang indah. Malam itu, Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dipenuhi gemuruh tepuk tangan dari penonton yang larut dalam cerita ‘Samsara’ yang disampaikan melalui sebuah alunan orkestra.
Usai penampilan yang sangat memukau, ketua GMCO memberikan apresiasi dengan menyerahkan buket bunga kepada para penampil dan panitia koordinator. Menariknya, saat penonton mengira konser telah usai, kejutan hadir lewat intro lagu “Hey Jude” yang mulai dimainkan. Lagu legendaris yang dibawakan secara duet oleh Natasya Elvira dan Dominique ini memicu riuh penonton yang spontan ikut bernyanyi bersama dengan penuh semangat.
Kemeriahan malam itu mencapai puncaknya saat seluruh penonton berdiri memberikan standing ovation, diiringi aksi panitia meluncurkan pesawat kertas hingga melayang memenuhi area penonton. Melalui dinamika harmoni yang disuguhkan, konser ini menyampaikan sebuah pesan bahwa hidup bukan sekedar tentang ambisi demi menggapai mimpi, melainkan sebuah perjalanan panjang untuk menemukan keikhlasan dan kedamaian sejati.
Tentang GMCO
Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Gadjah Mada yang bergerak di bidang seni musik orkestra dan telah berdiri sejak tahun 2008. Sebagai wadah bagi mahasiswa yang memiliki minat dan bakat di bidang musik, GMCO selalu menghadirkan berbagai pertunjukan yang tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi para anggotanya, tetapi juga menjadi sarana apresiasi seni bagi masyarakat luas.