Finance Dialogue GMAD 2026: Mengupas Peran Akuntan sebagai Katalis SDGs dan Kesetaraan Ekonomi

Penulis: Alvis Anjabie/EQ & Naomi Grace Suminar B. Sitanggang /EQ Editor: Najwa Anggi Namira/EQ Layoutter: Ambar Tri Hapsari/EQ

Finance Dialogue GMAD 2026: Mengupas Peran Akuntan sebagai Katalis SDGs dan Kesetaraan Ekonomi

Penulis: Alvis Anjabie/EQ & Naomi Grace Suminar B. Sitanggang /EQ

Editor: Najwa Anggi Namira/EQ

Layoutter: Ambar Tri Hapsari/EQ

Pada Sabtu, 23 Mei 2026, ruangan bergaya teater itu tampak dipenuhi wajah-wajah mahasiswa yang antusias menyimak dialog tentang masa depan keuangan Indonesia. Acara yang diselenggarakan oleh Gadjah Mada Accounting Days (GMAD), perlombaan terbesar dari Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), dapat dikatakan berlangsung sukses. Dalam rangkaiannya, GMAD menghadirkan Finance Dialogue yang berkolaborasi dengan general lecture dari FEB UGM dan berhasil mengundang tokoh-tokoh ternama di bidang akuntansi serta keuangan. 

Mengangkat tema  Empowering Accounting in SDGs with Social Equality in UMKM, tujuan pengambilan tema ini sebagai harapan bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Tema tersebut menjadi benang merah dari rangkaian diskusi yang tidak hanya membahas akuntansi sebagai praktik pencatatan keuangan. Namun, juga merupakan instrumen untuk melibatkan akuntan sebagai pemecah masalah dan pengambil keputusan.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi kuliah umum oleh Muharto Hadi Suprapto, M,Sc., CISA., CISSP. yang menjabat sebagai Direktur Teknologi Informasi PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Beliau menjelaskan mengenai Cybersecurity in Accounting Information Systems: Protecting Financial Data in the Digital Era. Di tengah canggihnya transaksi keuangan masa kini, risiko keamanannya juga semakin tinggi. Maka dari itu, pengguna layanan keuangan perlu memahami transaksi digital serta risiko dan tantangannya. Beliau juga menyoroti Gen Z sebagai penggerak utama transformasi ini karena 85% memilih digital payment dan 91% mengadopsi digital-first payments. Namun, di sisi lain, tren serangan siber di Indonesia meningkat 714% dari 2024 ke 2025. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa perlu menjadi security awareness agent, yaitu individu yang menyadari adanya risiko digital, mewaspadai hoaks dan penipuan, menjaga data pribadi, serta melihat berbagai peluang karier di dunia digital.

Setelah sesi kuliah umum berakhir, sesi dilanjutkan dengan Finance Dialogue. Diawali oleh Sophia Wattimena, S.E., Ak., MBA, CA, QIA, FCPA (Aust.) yang menjabat sebagai Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan. Beliau membawakan topik Advanced Sustainable Finance: Regulatory Perspective in Achieving the SDGs. Dalam sesi ini dijelaskan bahwa finance sustainability menjadi bagian penting dalam pencapaian SDGs melalui perspektif regulator, yaitu OJK, yang berfokus pada aturan, standar pelaporan, pengawasan, dan tata kelola sektor jasa keuangan yang harus disesuaikan dengan tantangan iklim. Perubahan iklim kini bukanlah hanya ancaman untuk masa depan, melainkan juga masalah yang sedang terjadi sekarang dan memengaruhi berbagai aspek global.

Sesi berikutnya, dilanjut oleh Dewi Wulansari, S.E, M.Sc yang merupakan dosen Akuntansi FEB UGM dan membahas topik Accounting for SDGs: Bridging, Knowledge, Research, and Sustainable Development Impact. Memulai penjelasan dengan menyampaikan bahwa dari 169 target SDGs, hanya 18% berada di jalur pencapaian Agenda 2030. Akuntansi memiliki peran besar dalam keberlanjutan. Namun, di Indonesia, masih banyak perusahaan yang sudah membuat sustainability report, tetapi kualitasnya belum memadai. Beliau menyampaikan bahwa akuntan masa depan perlu punya kompetensi baru, bukan hanya sekadar memahami laporan keuangan. Kompetensi yang ditekankan antara lain: carbon accounting, sustainability accounting, ESG governance, assurance, komunikasi keberlanjutan, pengambilan keputusan strategis berbasis sustainability, etika, dan tanggung jawab antargenerasi. 

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi oleh Sandra Pracipta, S.E., M.Acc., Ak., CA, CPA, ASEAN CPA, CFI, sebagai Ketua Komite Small and Medium Sized Practices yang membahas tentang Strengthening Accountability for SDGs: The Role of Accounting Standards and Assurance; Empowering Grassroots Economy with SDGs Accounting as a Catalyst for Social Equality. Topik ini mengulas seputar peran standar akuntansi, pelaporan keberlanjutan, dan asuransi dalam memperkuat akuntabilitas pencapaian SDGs. Beliau juga menekankan bahwa SDGs bukan hanya urusan pemerintah atau perusahaan besar, melainkan juga berkaitan dengan pelaku ekonomi di tingkat bawah. Para akuntan perlu berperan sebagai katalis untuk SDGs dan kesertaraan sosial di samping perannya sebagai pembuat laporan keuangan. Akuntan sebaiknya dapat memastikan bahwa informasi dampak sosial dan lingkungan yang disampaikan perusahaan benar-benar valid.

Sebagai penutup rangkaian acara, antusiasme peserta menjadi penanda bahwa isu akuntansi, keberlanjutan, dan akuntabilitas publik tidak hanya relevan di ruang akademik, tetapi juga menyentuh perhatian masyarakat yang lebih luas. Hal itu tampak dari respons peserta yang hadir, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum dengan latar pendidikan beragam. Aqilasha Nasywari Syaikha selaku ketua GMAD mengaku tidak menyangka antusiasme peserta begitu besar, terutama dalam sesi diskusi.

“Ternyata mereka sangat antusias bertanya dan tertarik dengan tiga topik yang diberikan oleh pembicara kami, terutama saat membahas akuntansi publik. Antusiasme peserta on-site ternyata luar biasa,” ujarnya. 

Lebih dari sekadar keberhasilan acara, Aqila juga menaruh harapan agar GMAD dapat terus tumbuh secara internal maupun eksternal. Baginya, kesuksesan tidak hanya diukur dari meriahnya penyelenggaraan, tetapi juga dari kemampuan panitia menyelesaikan persoalan teknis maupun personal sebelum berdampak pada peserta. Ia juga berharap kolaborasi bersama media partner, sponsor, dan tamu undangan dapat terus terjalin dengan baik. Dengan semangat tersebut, GMAD diharapkan tidak hanya berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang yang terus menghidupkan percakapan tentang akuntansi, keberlanjutan, dan peran generasi muda dalam menjawab tantangan zaman.