Menelisik Makna Kematian dalam Adat Batak Toba: Dari Duka Menuju Kehormatan Penulis : Chelsea Deswita Sianturi, Johan V. Rajagukguk/EQ Editor : Orie Priscylla Mapeda Lumalan/EQ Layouter : Dhimas Zidny Arrizqi/EQ
Jathilan: Menjaga Ruh Tradisi di Tengah Riuh Modernisasi Penulis: Najwa Anggi Namira/EQ dan Hana Hafizhah/EQ Editor: Gigih Candra Ghufroni/EQ Layouter: Gilang Wirabumi/EQ
Larangan Kepemilikan Tanah Nonpribumi: Warisan Sultan atau Diskriminasi? Penulis: Orie Priscylla Mapeda Lumalan & Auliatus Soliha/EQ Editor: Virginia Stella Monica Layouter: Vini Wang/EQ Yogyakarta, sebuah kota di Indonesia yang lekat dengan keistimewaannya. Secara administrasi, Yogyakarta memiliki otonomi khusus dalam mengatur pemerintahan, kebudayaan, dan keuangan hingga mendapat status Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini diatur dalam UU
Dinding Bicara: Kontestasi Ekspresi dan Regulasi di Kota Jogja Penulis: Marcellinus Krisnado dan Nawfal Aulia / EQ Editor: Frida Lucy Layout: Azzumaraa / EQ Mural, sebagai bentuk ekspresi seni visual di ruang publik, telah menjadi bagian integral dari lanskap urban Yogyakarta. Berbeda dengan seni visual lainnya yang dipamerkan di galeri atau ruang tertutup, mural hadir langsung di tengah masyarakat, menghiasi dinding-
Hidup Berdampingan dengan Pariwisata: Realitas Warga Jogja Penulis: Theresa Martha Manalu & Atha Bintang Wahyu Mawardi/EQ Editor: Bill Sean Saragih Layouter: Diana Sintya Maharani/EQ Di tengah ramainya langkah wisatawan, suara warga nyaris tak terdengar. Trotoar yang dulu jadi tempat bertegur sapa, kini jadi lahan jual beli tanpa jeda.Yogyakarta, yang dulu terasa akrab dan membumi,
Dilema Trotoar Jalan Persatuan, Yogyakarta Oleh : Handri Regina, Azhar Zaidaan / EQ Editor : Virdza Anditha / EQ Layouter: Arasty Lyla / EQ “Kalau menurut saya sendiri malah mengganggu ya. Trotoar kan harusnya buat pejalan kaki bukan dipakai buat dagang.” ujar salah satu Satpam UGM — narasumber lapangan. Malam perlahan menyelimuti Jalan Persatuan, Yogyakarta — sebuah ruas jalan strategis yang membelah
Biaya Hidup Melejit, Gaji Tetap Sedikit: Jogja Sedang Mengusir Pekerja? Penulis: Shaffa Az Zahra, Hana Hafizhah, Athaya Zarah Zea/EQ Editor: Rifaldi Pratama Siboro Layouter: Mahira Nurul Muthia/EQ Pamor Yogyakarta sebagai kota “serba murah” kini bak embun di ujung rumput, atraktif, tetapi terancam lekas sirna. Biaya hidup yang kian mencekik tak sepadan dengan upah yang diterima. Harga bahan pokok
Ketimpangan dan Stagnansi di Yogyakarta: Ketika Jalanan Menjadi Panggung Bertahan Hidup Penulis: Kalyca Indira, Dwi Zhafirah, Gigih Candra/EQ Editor: Aulia Valerie Layouter: Vidhyazputri Belva/EQ Yogyakarta—si kota budaya dan pendidikan kini menyimpan wajah lain yang kian mencolok di tengah keramaian, yakni para pengamen yang memenuhi sudut-sudut jalanan. Mereka bukan sekadar pengisi suara latar di lampu merah atau tempat
Ketika Menjamurnya Coffee Shop Menjadi Pertanda Gentrifikasi Kota Penulis: Dahayu Anindhita Aisyfaa & Chelsea Deswita Sianturi/EQ Editor: Rizal Farizi Layouter: Dhimas Zidny A./EQ Pada acara Jogja Coffee Week 2023, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mengatakan bahwa per 2022 ada lebih dari 1.200 usaha kopi
Logat Medok: Merayakan Kebanggaan Identitas di Tengah Heterogenitas Penulis: Najwa Anggi Namira & Raissa Marcialevina/EQ Editor: Yolinda Nur Istighfari Layouter: Vini Wang/EQ “Kalau udah medok dan gak berprestasi, pasti dianggap kampungan. Tapi, kalau berprestasi auranya bakal jadi -71 derajat celcius (sangat keren)!” Begitu celetuk salah satu mahasiswa di UGM, Rizky, saat melakukan wawancara bersama tim redaksi