BPPM Equilibrium

Meninjau Resiprokalitas Olahraga dan Bisnis

Oleh: Hayfaza Nayottama dan Ahmad Nurazky Ajri/EQ
Foto Oleh: Rega Sandinata/EQ

Belakangan ini, pembicaraan mengenai klub dan kompetisi olahraga selalu berkaitan erat dengan bisnis dan industri yang ada di dalamnya. Banyak wirausahawan yang menanamkan modalnya pada industri olahraga. Bahkan, di tahun 2013 hingga 2016 silam, Erick Thohir, Pendiri Mahaka Group, sempat berinvestasi saham hingga menjadi presiden klub sepak bola asal Italia, Inter Milan. Kebertautan bisnis dan olahraga memungkinkan sinergi untuk perbaikan keduanya sekaligus. Namun, dengan adanya sinergi tersebut, apakah masuknya bisnis akan selalu memberi dampak positif pada olahraga? Tentunya hal tersebut menjadi suatu topik yang menarik untuk dibahas.

Olahraga merupakan aktivitas yang telah tertanam dalam fitrah peradaban manusia. Antusiasme masyarakat terhadap olahraga juga semakin tinggi. Salah satu contoh antusiasme tersebut yaitu pada pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno yang dihadiri sekitar 150 ribu penonton. Olahraga juga menjadi bagian dari kebutuhan manusia baik fisik maupun rohani. Carlos Iban  S. S., M.Sc., CHE. dosen program studi Bisnis Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), memaparkan bahwa olahraga mengundang antusiasme manusia karena daya saing atau competitiveness yang terdapat pada setiap ajang pertandingan. Tak heran, olahraga selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Olahraga yang awalnya bertujuan sebagai hiburan akhirnya bertransformasi menjadi bagian dari suatu bisnis. Bisnis dari olahraga tidak hanya dilihat melalui kompetisinya, tetapi juga dari infrastruktur masing-masing tim atau klub yang menjadi suatu representasi investasi dari para pemilik klub. 

Ketertarikan masyarakat terhadap dunia olahraga kini terlihat jelas dengan banyaknya investor yang ikut berpartisipasi pada bidang olahraga. Masuknya investor ini membuat olahraga tidak hanya sebagai suatu kompetisi saja, tetapi juga sebagai industri. Sebagai contoh, pergelaran balap motor Internasional MotoGP pada Maret lalu di Sirkuit Mandalika berhasil mendorong pengusaha Indonesia masuk ke dalam dunia balap motor, baik sebagai promotor maupun sebagai pemilik tim. Investor yang kini terlibat pada MotoGP antara lain PT Pertamina (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero), dan PT Telkom Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut berperan sebagai sponsor resmi tim balap Moto2 asal Indonesia Mandalika Racing Team yang berpartner dengan SAG racing Team. Untuk kelas MotoGP, ada MS Glow sebagai sponsor tim balap MotoGP Gresini Racing. 

Masyarakat kini kian menggandrungi olahraga tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai peluang bisnis. Pasalnya, menurut Plunkett Research Ltd, pada 2015 nilai total aset industri olahraga mencapai 1,3 Triliun dolar AS. Selain itu, berdasarkan studi oleh AT Kearney, ditemukan fakta bahwa industri olahraga pada tahun 2015 menyumbang sekitar 1 persen dari PDB global atau setara dengan 700 Miliar dolar AS. Menurut Carlos Iban, pendapatan yang besar ini berasal dari jumlah penonton atau suporter yang hadir, tetapi pendapatan ini juga merupakan hasil dari penjualan sportswear, apparel, dan equipment. Carlos Iban juga menambahkan bahwa makin banyak klub olahraga yang sekarang merambah ke pasar digital dan bekerja dengan merek terkenal agar pendapatan klub bertambah. Hal tersebut membuktikan bahwa industri olahraga saat ini semakin populer dan semakin banyak pebisnis yang berani untuk menginvestasikan uangnya pada industri olahraga.

Pemfokusan industri pada olahraga juga merupakan langkah yang tepat dalam membangun perekonomian. Dikutip dari Detik, Ketua MPR, Bambang Soesatyo, dalam webinar ‘Sport Law – A Foundation of Sport Industry in Modern Economy’ mengatakan bahwa pengembangan industri pada olahraga akan membawa dampak yang besar bagi ekonomi, sosial, dan budaya. Bambang Soesatyo menegaskan konsep sport-tourism mengkolaborasikan acara olahraga dengan promosi destinasi wisata yang nantinya akan menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian negara. Tentunya, hal ini juga harus didukung dengan sumber daya manusia yang profesional dan kesadaran masyarakat akan manfaat olahraga dari aspek nilai ekonomi. 

Momentum Presidensi G20 turut andil sebagai akselerator industri olahraga di Indonesia. Dalam serangkaian Presidensi G20, digelar Tour de Singkarak, Bali Marathon, dan beberapa acara olahraga lain. Hal ini memicu perumahan lokal untuk dijadikan penginapan, mendorong pembelian oleh-oleh khas daerah, serta menyokong perekonomian daerah sekitar, yang merupakan bagian dari sport-tourism. Sesuai dengan tema G20 “Recover Together, Recover Stronger”, industri olahraga memiliki harapan positif setelah sempat terpuruk oleh keterbatasan mobilitas di masa pandemi.

Namun, di balik masa depan cerah olahraga, sejarah menunjukan bahwa kerakusan pebisnis olahraga berpotensi mencederai sportivitas olahraga. Praktik sepak bola gajah, skandal bursa transfer, doping, dan beberapa pelanggaran lain membuktikan intensi penyelewengan sportivitas oleh pebisnis. Cedera pada sportivitas akan berdampak pada menurunnya antusiasme dan animo global terhadap olahraga sehingga berbalik meruntuhkan bisnis industri olahraga. Sebagai bukti, Carlos Iban merujuk pada Skandal Calciopoli yang meruntuhkan animo Serie A (Liga Italia). Maka dari itu, pebisnis olahraga wajib menjunjung dedikasi pada sportivitas demi mempertahankan olahraga sebagai industri yang dapat secara kontinu memenuhi hajat hidup orang banyak.

Referensi

Fitriani, E.D. 2021. Ketua MPR Sebut Industri Olahraga Punya Dampak Besar bagi RI. Diakses pada 3 Agustus https://news.detik.com/berita/d-5526378/ketua-mpr-sebut-industri-olahraga-punya-dampak-besar-bagi-ri

Kearney. 2011. The Sports Market. Diakses pada 4 Agustus https://www.es.kearney.com/communications-media-technology/article?/a/the-sports-market

Mia, Akbar. 2022. Industri Olahraga, Perekonomian Nasional dan Presidensi G20 Indonesia. Diakses pada 5 Agustus https://kumparan.com/ruhbanullail/industri-olahraga-perekonomian-nasional-dan-presidensi-g20-indonesia-1xdXH2ipTgu 

Trebenth, Linda. 2011. The Sport Business Industry. Diakses pada 4 Agustus https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9780203858417-11/sport-business-industry-linda-trenberth

Wahid, Hasanuddin. 2021. Olahraga Sebagai Industri Masa Depan? Diakses pada 4 Agustus https://bola.kompas.com/read/2021/02/11/14190238/olahraga-sebagai-industri-masa-depan?page=all

Pengunjung :
69

Solverwp- WordPress Theme and Plugin