BPPM Equilibrium

Virtual Blind Date: Kebutuhan Akan Afeksi di Masa Pandemi

Virtual Blind Date: Kebutuhan Akan Afeksi di Masa Pandemi

Virtual blind date atau yang kerap dikenal dengan istilah kencan buta secara virtual tengah menjadi tren di kalangan anak muda masa kini.  Virtual blind date merupakan pertemuan antara dua orang yang belum dikenal sebelumnya secara virtual dengan harapan bisa mendapatkan kekasih. Teknis acara ini dilakukan dengan mempertemukan dua orang peserta virtual blind date lewat fitur breakout room di Zoom Meetings. Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat untuk beraktivitas dari rumah ternyata tidak menjadi hambatan bagi anak muda untuk menginisiasi acara kencan buta secara virtual. Inisiatif anak muda ini mampu membuka jalan bagi orang lain untuk menemukan kenalan atau bahkan pasangan hidup.

 

Dilansir dari Express, situs berita di Inggris, kencan virtual pada saat pandemi meningkat sebesar 36% tepatnya pada bulan Oktober 2020. Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat di dunia melakukan aktivitas hanya dari rumah. Cilesta Van Doorn dari Virgin Media mengatakan bahwa saat ini internet telah menjadi jantung untuk membangun hubungan selama bertahun-tahun, tetapi dengan adanya new normal, kencan virtual telah membuka peluang bagi mereka yang sedang mencari cinta dan koneksi secara daring.

 

Mahasiswa S-1 jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM yang menjadi panitia acara Young Entrepreneur Show (YES!) pada bulan Oktober lalu telah mengadakan acara virtual blind date. Acara ini dikemas dengan nama YES! WE CONNECT sebagai sarana untuk mempertemukan mahasiswa-mahasiswi UGM, UI, dan ITB yang ingin mencari pasangan secara virtual melalui platform Zoom Meetings. Beatrice Teja, selaku panitia YES! mengatakan bahwa alasan diselenggarakannya acara virtual blind date ini adalah sebagai inovasi untuk meningkatkan kegiatan dana usaha acara YES!. Di samping itu, acara tersebut bertujuan untuk mengenalkan YES! kepada masyarakat.

 

Saat dicari tahu, penyebab mahasiswa dan masyarakat mengikuti virtual blind date ialah karena rasa kesepian di masa pandemi. Kondisi pandemi yang menciptakan kebijakan pembatasan sosial membuat gerak mahasiswa terbatas hanya di rumah saja dan lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop untuk mengerjakan tugas. Adanya acara semacam ini seperti menghilangkan rasa jenuh sesaat bagi mahasiswa karena mereka jadi memiliki teman untuk mengobrol dengan bebas tanpa mengetahui latar belakang masing-masing. Keunikan tersebutlah yang menjadi daya tarik tersendiri dari acara ini.

 

Kebutuhan akan kasih sayang sangat diperlukan oleh mahasiswa saat ini. Dilansir dari Jawa Pos Radar Semarang, seorang Psikolog RS St. Elisabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro, menyatakan bahwa mahasiswa sedang mengalami fase ingin disayang, diperhatikan, dan dicintai. Di sisi lain, saat ini aktivitas di media sosial sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar mahasiswa. Virtual blind date pun menjadi salah satu alternatif yang sesuai bagi mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang tersebut. Akan tetapi, kegiatan ini sejatinya hanya untuk kesenangan semata sehingga diharapkan tidak menimbulkan harapan besar bagi peserta yang mengikuti. Takutnya akan menjadi bumerang untuk diri sendiri. 

 

Kami melakukan wawancara secara daring kepada salah satu peserta acara virtual Blind Date Young Entrepreneurs Show (YES) UGM 2021, Muhammad Buchari Muslim, mahasiswa Manajemen FEB UGM 2019. Ia mengatakan alasannya mengikuti acara tersebut adalah sedang memiliki banyak waktu luang dan statusnya yang jomblo sehingga mendorongnya untuk mencari kenalan, teman, dan jika beruntung mendapatkan pasangan. Saat menjalani kegiatan tersebut, ia mendapatkan banyak kenalan baru dari berbagai universitas, seperti UI, ITB, dan lainnya sehingga ekspektasi yang ia harapkan sangat sesuai dengan yang didapat. Ia juga mengungkapkan acara ini sangat layak untuk diikuti karena cukup dengan mengeluarkan uang 20 ribu sudah bisa mendapatkan 3 sesi dengan orang yang berbeda. Baginya, bertemu dengan orang baru merupakan pengalaman yang berharga. Hal ini menunjukkan adanya respons yang positif mengenai acara virtual blind date.

 

Setelah melakukan riset, ternyata terdapat sebuah fenomena neurologis yang dinamakan skin hunger. Ini merupakan kebutuhan biologis manusia akan sentuhan fisik. Kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi saat masa pandemi yang memaksa manusia untuk melakukan pembatasan interaksi sosial. Alice, seorang sutradara dari London yang berusia 31 tahun, menyatakan bahwa ia telah melanggar peraturan mengenai aktivitas yang dapat menularkan virus Covid-19. Selama seminggu sekali, ia harus pergi ke ujung kebunnya untuk bertemu sahabatnya, Lucy. Ia mengaku telah mengalami fenomena neurologis skin hunger akibat adanya pandemi. Kebutuhan akan sentuhan fisik berupa pelukan menciptakan rasa nyaman bagi Alice. Adanya virtual blind date diharapkan dapat mengurangi rasa skin hunger yang dialami oleh mahasiswa. Meskipun tidak terpenuhi melalui pertemuan secara nyata, setidaknya dapat mengurangi rasa sepi dan hampa.

 

Pandemi Covid-19 masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Meskipun sudah tersedia vaksin dan di beberapa negara aktivitas sosial sudah dapat dijalankan dengan bebas, tidak menutup kemungkinan munculnya varian baru yang dapat memperpanjang pandemi ini. Namun, yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana kelanjutan virtual blind date yang diadakan mahasiswa saat pandemi? Akankah aktivitas ini menjadi permanen meskipun keadaan sudah kembali pulih? Ataukah akan hilang seiring dengan waktu?

Populer

Berita

Ekspresi

Riset

Produk Kami

Pengunjung :
30

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin