BPPM Equilibrium

Ketenangan Pagi: Dusta yang Ingin Kuyakini

Ketenangan Pagi: Dusta yang Ingin Kuyakini

Oleh: Nurhafizhah Shafiyah Ardita/EQ

 

Hal-hal sederhana selalu berhasil memulas paras bahagiaku. Misalnya, suara khas cempreng nan halus yang begitu familiar kala terdengar samar dalam ketenangan pagi ini. Suara itu milik putri kecilku, Ezra. Nama yang indah, bukan? Seindah momen saat Tian menyematkan panggilan itu kepadanya.

 

“Artinya ‘penyelamat’, lo. Bagus, kan?” ungkap Tian penuh semangat.

 

Belum sempat kujawab, ia melanjutkan, “Dari segi artikulasi juga cakep. Ezra. Huruf ‘z’ itu karakternya kuat, gesit, bikin pengucapannya keren.”

 

Aku tertawa sedikit. Bisa-bisanya Tian mengasosiasikan huruf dengan karakter makhluk hidup. Namun, itulah dia. Sejak kami berteman hingga menikah, imajinasinya selalu menyenangkan untuk didengar. Sayangnya, kisah kami berakhir saat ia memutuskan untuk hanya berbagi imajinasi dan mimpi pada seseorang lain yang bukan diriku. Katanya, ia tak mampu lagi berpura-pura mencintaiku demi menutupi fakta bahwa seluruh perasaannya hanya untuk lelaki itu. Sungguh sebuah akhir yang mengenaskan.

 

Jangan tanya bagaimana kabarku setelah mendengarnya. Aku bahkan tak yakin apakah darahku mengalir ekstra cepat akibat emosi atau justru berhenti sehingga tak mampu memberikan reaksi. Tahu apa yang paling menyakitkan? Bahwa aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku yakin Tian juga begitu tersiksa telah membohongi dirinya sendiri selama ini.

 

Walaupun Tian begitu kejam atas ketidakjujurannya, ia adalah satu-satunya orang yang membiayai penuh tumbuh kembang putri kami. Aku tak mampu membencinya. Aku hanya mampu untuk mencoba menerimanya kembali sebagai teman sambil berusaha lebih mandiri secara mental dan finansial. Sedikit demi sedikit. Bertahan demi mutiara hidupku, alasanku bangun dan menguatkan diri setiap pagi, sang peluruh pilu, putri kecilku.

 

Maka, aku pun melongok ke luar jendela dan memanggil nama sang pemilik suara, “Ezra!” Dari kejauhan, deru sepatunya terdengar semakin cepat dan nyaring. Suara tawanya yang manis juga terasa semakin dekat. Kini, ia sampai di garasi. Melanjutkan penghabisan sisa energinya dengan bersepeda bolak-balik sepanjang dua hingga tiga rumah sejajaran kami. Ia tampaknya memang tumbuh menjadi kuat dan gesit. Buktinya, ia melaju cepat sekali sehingga nyaris terlihat seperti bayangan karakter Barry Allen “The Flash” di serial yang sering kami saksikan bersama.

 

Sambil kembali mengarahkan vacuum cleaner ke ventilasi jendela depan, aku asyik tersenyum melihat tingkah Ezra dan mendengar suaranya. Saking asyiknya, aku baru menyadari bahwa Ibu sedari tadi memperhatikanku sambil terpaku di samping tirai penutup ruang tengah. Kami sama-sama terkejut saat aku spontan menoleh ke arahnya. Wajahnya yang awalnya tampak muram reflek berubah menjadi senyum ketika ia melangkah ke arahku. Ekspresi yang tak dapat kupahami. Benda macam apa yang membuatnya sedih secara sembunyi-sembunyi?

 

“Sarapan dulu, ya,” ajak Ibu sambil menarik tanganku, masih berusaha tersenyum manis.

“Iya, Bu. Habis ini, ya,” jawabku sembari menunjuk ventilasi terakhir yang hampir bersih.

“Udah. Yang itu nanti aja, Kak.”

Aku terdiam ragu.

 

“Mumpung Ibu bikin kupat tahu, lo. Keburu dingin nanti,” kali ini tawaran Ibu lebih menarik. Maka, aku mengaku kalah. Kami pun berjalan beriringan ke meja makan.

Di atasnya, tergeletak rapi semangkuk kupat tahu yang siap diangkut ke piring masing-masing. Ibu juga menunjuk sebuah botol obat kecil berwarna putih di sebelahnya dan mengarahkan, “Kalau sudah makan, minum ini, ya.”

 

Sedikit terpaku, aku sama sekali tidak mengerti tulisan dan obat apakah itu. Yang lebih sulit dimengerti, aku tak merasakan sakit apapun sehingga harus mengonsumsi obat. Barangkali, seperti dugaanku, Ibu lagi-lagi menuruti semua rekomendasi suplemen dari teman arisannya itu. Tugasku kini cukup menuruti anjuran sang “dokter pribadi”.

 

Sebelum itu, aku ingin hidangan di atas meja ini bisa dicicipi oleh putriku terlebih dahulu. Aku sudah membayangkan bagaimana bumbu kacang yang gurih itu menambah selera makan dan semangatnya pagi ini. Jadi, aku segera menyiapkan sarapannya beserta sebuah apron kecil agar bumbu kacang itu tak meninggalkan bercak di bajunya. Aku tahu dia pasti akan melahap santapan sambil tetap berlarian sesuka hati.

 

Kini, mata dan seluruh perhatianku hanya tertuju pada laci-laci dan lemari yang dari tadi bolak-balik kubuka. Sayangnya, apron yang kucari tak kunjung terlihat. Ketika bertanya pada Ibu, beliau pun tak memberikan jawaban, melainkan kembali memaksaku menyantap masakannya. Aku kembali fokus mencari, tanpa melewatkan area-area remeh, seperti di laci mesin jahit Ibu.

 

Mesin yang sudah menemani Ibu selama sepuluh tahun itu memang dipenuhi tumpukan benang dan kain di hampir semua area penyimpanannya. Dengan sedikit harap dan lebih banyak cemas, aku mengangkat tumpukan satu, dua, dan seterusnya. Tumpukan terakhir terbuka dan voilà! Benda yang dicari tetap tak terlihat. Justru ada sepotong karton kecil yang tergeletak di sana. Karton putih bertuliskan “Gubug, 2014” tersebut ternyata menyimpan potret Tian dan Ezra di sisi belakangnya. Keduanya sungguh manis dan aku baru menyadari bahwa mereka belum pernah berfoto lagi setelah itu. Di gambar itu, Ezra berdiri dan Tian berjongkok menemaninya berpose di depan stasiun kereta.

Tunggu… kereta?

“…”

Apa kereta itu penyebabnya?

 

Aku tersentak, seperti mengingat sebuah kejadian pilu. Tiba-tiba, dunia di depan mataku berputar terus-menerus. Aku tidak tahu Ibu ada di mana, tetapi ada sesuatu yang menyentuhku, mendekap, tetapi tak mampu menenangkan. Tanganku yang gemetar kupaksa diam dalam pelukan. Kemudian, kudengar lagi suara yang paling indah di dunia ini. Tawanya pelan-pelan memenuhi otakku. 

 

Ezra!

 

Sontak, tak ada yang bisa kulakukan, selain berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Oh, Tuhan, dosa apa yang pantas membuatku dihukum separah ini? Padahal dalam hidup, aku hanya berusaha mengamini hal-hal sederhana yang aku pikir bisa membuatku bahagia. Tragisnya, duniaku hancur akibat itu semua. Ketika aku memilih seorang sahabat baik untuk menjadi teman hidup, ternyata sahabat baikku bukan lelaki yang tepat untuk mendapatkan kepercayaan itu. Aku relakan Ezra berlibur dan mengenal kampung halaman ayahnya. Namun, mereka berangkat dengan kereta api yang ternyata menuju tiada.

Populer

Berita

Ekspresi

Riset

Produk Kami

Pengunjung :
67

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solverwp- WordPress Theme and Plugin