BPPM Equilibrium

Jika Tak Ada Pertow, Apa yang Bisa Dibanggakan di FEB UGM?

Oleh: Adhitya Prabandaru

Pertamina Tower (Pertow) kerap kali dipandang sebagian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai representasi dari kemewahan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Namun, sebenarnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari FEB selain Pertow. Lantas, apa jadinya jika FEB UGM tanpa Pertow?

Pertow: Proyek Mercusuar?

Sejak kehadirannya pada 2013, Pertow seolah menjadi representasi sempurna dari kemewahan FEB (baca: Fakultas Elit Banget) UGM. Gedung berlantai tujuh ini memang sangat ikonik. Gedung yang berdiri di atas tanah seluas 452,8 m2 ini memakan biaya hingga 12 miliar dalam proses pembangunannya (Kagama, 2018). Sementara itu, Pertow memiliki total luas bangunan mencapai 3515,9 m2 yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan penelitian mahasiswa maupun dosen (Sindonews, 2022). Adapun, beberapa ruangan yang dapat ditemukan di gedung tersebut di antaranya auditorium, kelas, dan kantor administrasi fakultas.

Pertow berdiri di sisi selatan FEB UGM atau di samping ruang dosen. Gedung ini dapat berdiri atas kerja sama PT Pertamina, PT Medco Energy, Bank Mandiri, Bank BNI, Djarum Foundation, PT Polytron serta dukungan dana dari internal fakultas. Adanya keterlibatan pihak luar kampus, terutama BUMN, menunjukkan keseriusan pihak luar untuk berkontribusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia. 

Di balik kemegahannya, Pertow bisa diibaratkan sebagai bagian utama dari ‘Politik Mercusuar’ FEB UGM. Politik Mercusuar merupakan sebuah kebijakan politik luar negeri yang ditempuh pada periode Indonesia era demokrasi terpimpin (Hukumnas, 2018). Strategi politik ini dijalankan dengan mewujudkan proyek megah (baca: Pertow) yang bertujuan untuk menunjukkan daya saing. Namun, di balik itu, masih terdapat beberapa infrastruktur FEB yang nyatanya kurang humanis. Hal ini dapat terlihat dari masih minimnya perhatian terhadap fasilitas pendukung.

Fasilitas Pendukung yang Kurang Lengkap

Berbicara mengenai modernitas, infrastruktur FEB boleh diadu. Akan tetapi, jika membahas dari sisi kelengkapan dan humanitas, infrastruktur di FEB UGM jelas kalah jauh dari fakultas lain. Fasilitas pertama yang dibutuhkan mahasiswa saat datang ke kampus adalah tempat parkir. Mahasiswa FEB tidak mendapatkan tempat parkir di fakultasnya sendiri. Bagi pengguna kendaraan roda dua, mereka harus menempatkan kendaraannya di Kantong Parkir Perpustakaan Pusat atau di Pujale (Pusat Jajanan Lembah). Menilik kapabilitas dan reputasi FEB, sulit rasanya menerima fakta jika fakultas “sebesar” itu tak punya tempat parkir sendiri. Lahan kosong seperti di sisi selatan ruang dosen seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai bangunan lahan parkir khusus mahasiswa FEB UGM.

Masih dalam cakupan fasilitas pendukung, FEB tidak memiliki kawasan rokok dan kafetaria yang cukup luas. Berkaca dari fakultas sebelah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL), mereka memiliki Fisipoint sebagai kantin fakultasnya. FEB seharusnya bisa mempunyai kantin humanis dengan area yang lebih luas. Lebih jauh, FEB juga tidak memiliki kawasan rokok. Salah satu penjelasan atas kebijakan tersebut adalah diterapkannya FEB’s Ways atau tata cara berperilaku di lingkungan FEB UGM yang salah satu poinnya berupa larangan merokok. Padahal, dengan adanya kawasan merokok, mahasiswa FEB tidak akan beralih ke area FISIPOL hanya untuk merokok. Seharusnya, kita juga dapat belajar dari Fakultas Hukum (FH) yang memberikan contoh baik dengan melarang merokok di sebagian area, tetapi menyediakan kawasan merokok di sisi selatan fakultas.

FEB UGM memiliki Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Lembaga Kemahasiswaan (HMJLK) yang produktif dan progresif, baik di tingkat fakultas maupun jurusan. Sayangnya, progresivitas ini tidak ditunjang dengan adanya sekretariat khusus organisasi. CIMB Lounge, ruangan yang ditujukan untuk aktivitas organisasi, bukanlah sekre yang dimaksud karena sifatnya sebagai barang publik dan sekedar ruang rapat sementara. FEB perlu menyediakan sekre yang sifatnya permanen dan berfungsi sebagai ‘markas’ masing-masing HMJLK. Dengan dibukanya kembali perkuliahan luring, urgensi dibangunnya sekre dirasa semakin tinggi.

FOKOMA dan Dana Kemitraan

Melihat Pertow yang dibangun dengan dana 12 miliar, FEB sebenarnya mempunyai kapabilitas untuk membangun fasilitas penunjang yang sudah disebutkan di atas. Dana dari kemitraan dan KAFEGAMA seharusnya mampu untuk mengadakan itu semua. Belum lagi adanya dana FOKOMA yang tiap tahun mencapai lebih dari 500 juta. Semua sumber dana itu, didukung dengan perencanaan yang matang, seharusnya mampu untuk memperbaiki dan melengkapi fasilitas pendukung yang ada. Dari empat fasilitas penunjang yang sudah disebutkan, tempat parkir dan sekre HMJLK bisa menjadi prioritas dalam hal pengadaan. Tempat parkir merupakan hal vital yang menunjang aksesibilitas dan mobilitas mahasiswa. Sementara itu, keberadaan sekre HMJLK juga dirasa perlu untuk terus mendukung progresivitas kegiatan mahasiswa.

FEB UGM masih menyimpan banyak kekurangan, salah satunya ialah ketiadaan beberapa fasilitas penunjang perkuliahan. Adapun kebutuhan terhadap fasilitas tersebut dirasa vital untuk menunjang sisi humanitas dan mengikuti progresivitas mahasiswa. Untuk itu, pihak fakultas seharusnya mempertimbangkan kembali untuk memfasilitasi kebutuhan akan tempat parkir dan sekre HMJLK. Harapannya, keberadaan dua fasilitas tersebut dapat mewujudkan FEB UGM yang lebih humanis dan siap menjadi “World Class University”.

Referensi

Gusti. (2011, December 21). FEB Miliki Gedung Pertamina Tower. Universitas Gadjah Mada. Retrieved July 20, 2022, from https://ugm.ac.id/id/berita/3920-feb-miliki-gedung-pertamina-tower

Venda. (2018, June 22). Begini Riwayat Pertamina Tower, Gedung Tinggi di FEB yang Mengundang Decak Kagum Para Mahasiswa | kagama.co. Majalah Kagama Online. Retrieved July 19, 2022, from http://kagama.co/2018/06/22/begini-riwayat-pertamina-tower-gedung-tinggi-di-feb-yang- mengundang-decak-kagum-para-mahasiswa/

Sumber Foto

kafegama.id

Pengunjung :
169

Solverwp- WordPress Theme and Plugin