WartaEQ | Mengungkap Fakta Lewat Aksara

EQ News

Serba Mendadak, Dapatkah Penyelenggaraan Asean Para Games 2022 Dikatakan Sukses?

Oleh: Ummi AnifahIlustrasi Oleh: Aisyah Zakiyyah “Hari ini adalah hari yang membanggakan untuk kita semua karena kita menyaksikan bagaimana Indonesia telah mencapai target empat sukses yang ditargetkan di Asean Para Games 2022,” kata Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia pada hari terakhir pelaksanaan Asean Para Games 2022. Asean Para Games (APG) merupakan pesta olahraga untuk difabel se-Asia Tenggara. APG kesebelas yang berencana diadakan di Vietnam sempat dibatalkan. Hal ini disebabkan penyebaran virus dan grafik pandemi covid-19 masih tinggi di negara-negara anggota Asean Para Sports Federation (APSF). Dua kali gagal diadakan, akhirnya APG kesebelas diadakan di Indonesia. Memiliki waktu yang terbilang singkat dalam mempersiapkannya, lantas benarkah penyelenggaraan APG 2022 benar-benar sukses? Kronologi Indonesia Menjadi Tuan Rumah  Mengetahui mundurnya Vietnam, Ketua Umum National Paralympic Committee (NPC) Indonesia mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Indonesia tuan rumah kepada presiden. Kemudian, saat rapat APSF, Indonesia mengajukan diri menjadi tuan rumah dan berhasil memperoleh persetujuan dari semua anggota. Meskipun telah mendapatkan persetujuan dari NPC, Indonesia sempat terhalang untuk menjadi tuan rumah. Hal ini berkaitan dengan sanksi yang diberikan oleh World Anti-Doping Agency (WADA). Namun, akhirnya dapat diselesaikan secara cepat oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).   Penyelenggaraan Asean Para Games 2022 Waktu yang terbatas membuat panitia harus bahu membahu dalam mempersiapkan APG 2022. Panitia yang terdiri dari jajaran menteri dan Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen menyelenggarakan APG secara gotong royong. “Selaras dengan tema Asean Para Games yaitu Striving for Equality, kita akan mengangkat budaya gotong royong dengan harapan dapat membawa semangat gotong royong, kebersamaan, dan kesetaraan untuk kemenangan,” ujar Hendry Indrayani, Direktur III Pendukung Pertandingan INASPOC.  Komitmen gotong royong dalam mempersiapkan APG terlihat dari keseriusan Menpora dalam menyelesaikan sanksi dari WADA sehingga dapat terlepas dari hukuman lebih cepat. Tak hanya itu, presiden juga turut serta dengan memerintahkan menteri keuangan untuk mempersiapkan anggaran dana karena tidak masuknya anggaran APG 2022 dalam APBN 2022.  Semangat gotong royong dalam mempersiapkan APG 2022 terlihat juga dari dukungan para sponsor. Sponsor sebanyak 36 yang terdiri dari 24 BUMN dan 12 pihak swasta turut serta dalam menyukseskan penyelenggaraan pesta olahraga ini. Dukungan dari pihak sponsor hampir 90% berupa barang dan jasa (value in kind). Hal ini membuat panitia belum bisa mengumumkan berapa total dana yang diberikan oleh seluruh sponsor.   Bukan hanya semangat dari pemerintah dan pihak sponsor untuk menyukseskan APG 2022, masyarakat juga menyambut para atlet APG 2022 dengan tangan terbuka. Barisan masyarakat membentuk pagar betis saat atlet datang menunjukan dukungan nyata dari masyarakat terhadap atlet para games. Tak sampai disitu, terpenuhinya Stadion Manahan saat pembukaan APG menunjukkan antusiasme masyarakat.  Benarkah Penyelenggaraan Asean Para Games 2022 Berjalan Sukses? Dalam press conference yang diadakan pada hari terakhir pelaksanaan APG 2022, Chandra Bhakti selaku Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora mengungkapkan empat sukses yang menjadi target penyelenggaraan APG 2022. Sukses penyelenggaraan, terbukti dengan lancarnya penyelenggaraan APG 2022 meski memiliki waktu singkat untuk mempersiapkannya. Gotong royong dari berbagai pihak seperti pemerintah, panitia, pihak sponsor, dan masyarakat turut menyukseskan penyelenggaraan pesta olahraga ini. Selanjutnya, sukses prestasi terbukti saat Indonesia diumumkan menjadi juara umum dengan total perolehan medali 426. Tak hanya itu, sukses ekonomi juga berhasil dicapai dengan meningkatnya okupansi hotel di Solo Raya hingga 90% dan keikutsertaan UMKM selama penyelenggaraan APG 2022.  Sayangnya, terdapat satu target sukses yang bisa dikatakan belum tercapai hingga saat ini yaitu sukses administrasi. Hal ini dikarenakan adanya komponen-komponen yang masih harus didata dan dilaporkan, terutama jumlah dana sponsor yang belum jelas berapa totalnya. Chandra Bhakti berharap agar pelaksanaan administrasi ini dapat dilakukan secara transparan dan akuntabel. “Kita ingin berkomitmen kesuksesan penyelenggaraan dan kesuksesan prestasi jangan sampai tercederai oleh hal-hal yang bersifat administrasi yaitu pertanggungjawaban keuangan,” ungkapnya. Asean Para Games kesebelas yang berencana diselenggarakan di Vietnam dibatalkan. Indonesia yang merasa memiliki tanggung jawab memutuskan untuk mengajukan diri menjadi tuan rumah. Waktu yang terbilang singkat untuk mempersiapkan membuat panitia berkomitmen menyelenggarakan APG 2022 secara gotong royong. Semangat gotong royong dalam mempersiapkan pesta olahraga ini turut dilakukan oleh pemerintah, pihak sponsor, dan masyarakat sekitar. Akhirnya, penyelenggaraan APG 2022 berhasil memberikan dampak positif yang besar dalam sektor ekonomi dan sosial. Sehingga, empat sukses yang ditargetkan hampir secara keseluruhan berhasil tercapai. Pengunjung :

Indonesia sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20: Momentum Aji Mumpung, Jangan Sampai Buntung!

Oleh: Achmad Zidan Muzaki/EQFoto Oleh: Alya Aqilah/EQ FIFA Council Meeting yang diselenggarakan di Shanghai, China pada Kamis, 24 Oktober 2019 adalah momen bersejarah bagi Indonesia. Tepat pada hari tersebut, Federation Internationale de Football Association (FIFA) mengumumkan bahwa Indonesia resmi ditunjuk menjadi tuan rumah turnamen sepak bola level dunia, yaitu Piala Dunia U-20 tahun 2021. Setelah tertunda hampir dua tahun, turnamen tersebut akhirnya akan segera digelar pada 2023 mendatang. Sebagai acara besar yang akan disaksikan oleh banyak negara di dunia, Piala Dunia U-20 haruslah dipersiapkan dengan matang. Persiapan yang maksimal tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, timbul pertanyaan: apakah acara tersebut akan memberi dampak positif yang cukup besar atau hanya akan menguras dompet negara saja? Piala Dunia merupakan sebuah turnamen resmi sepak bola antarnegara tertinggi dan terbesar di dunia yang diselenggarakan oleh FIFA. Sebagai bentuk pemberdayaan kualitas generasi muda pada cabang olahraga ini, FIFA juga menyelenggarakan turnamen tersebut pada level kelompok usia, salah satunya Piala Dunia U-20. Meskipun minim pengalaman pada acara sepak bola tingkat internasional, nyatanya Indonesia berhasil menjadi tuan rumah mengalahkan Peru dan Brazil yang merupakan dua kandidat kuat lainnya. FIFA dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai penyelenggara bersama pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus bekerja sama demi suksesnya perhelatan akbar ini. PSSI bahkan sudah terlebih dahulu menyelesaikan aspek administrasi di 2020 lalu. Oleh sebab itu, aspek yang tersisa kini hanyalah pemenuhan dan pematangan infrastruktur, seperti penggunaan stadion, lapangan latihan, dan kota tuan rumah. Sebagai salah satu acara internasional, sudah pasti wajah Indonesia akan tercermin dari kualitas penyelenggaraan turnamen ini. Setidaknya ada 23 negara peserta selain Indonesia yang akan menilai hal tersebut. Jika berhasil menggunakan kesempatan ini dengan baik, maka ada banyak dampak positif yang dapat ditimbulkan. Dampak secara langsung tentunya berkaitan dengan sepak bola itu sendiri. Disebabkan oleh keuntungan menjadi tuan rumah, Indonesia berhak ikut menjadi peserta turnamen tanpa melalui proses seleksi atau kualifikasi. Hal tersebut tentunya merupakan momen yang langka karena jangankan level dunia, Indonesia bahkan selalu kesulitan untuk menembus kualifikasi setingkat Asia. Selain itu, pemberian amanah tuan rumah juga memaksa pemerintah Indonesia membenahi sarana olahraga. Hingga saat ini, tercatat sebanyak enam stadion yang diajukan sebagai venue pertandingan sedang diperbaiki.  Penyelenggaraan Piala Dunia U-20 juga dapat  memengaruhi sektor ekonomi dan sosial-budaya. Dari sisi ekonomi, sebagai sebuah negara yang fanatik terhadap sepak bola, turnamen ini juga dapat mempercepat perputaran uang melalui adanya pedagang kaki lima di sekitar stadion dan animo warga negara asing terhadap objek wisata kota tuan rumah. Selain itu, penjualan merchandise turnamen juga dapat memberdayakan UMKM. Dari sisi sosial-budaya, penyelenggaraan acara tersebut dapat dijadikan sebagai ajang publikasi dari keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia. Implementasinya bisa menggunakan bentuk penampilan tari atau lagu tradisional di opening ceremony hingga penyematan unsur budaya pada elemen-elemen acara seperti maskot, logo, atau merchandise. Namun, ada biaya mahal yang harus Indonesia keluarkan dalam rangka menyukseskan Piala Dunia U-20. Pada tahun 2020, Kemenpora mengajukan anggaran sebesar 500 miliar rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai dana untuk menyelenggarakan turnamen tersebut. Besaran ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu 400 miliar rupiah untuk pelaksanaan turnamen secara umum dan 100 miliar rupiah untuk persiapan Timnas U-20 sebagai wakil Indonesia. Tidak cukup sampai di situ, pada Juni 2022 Zainudin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga, kembali meminta tambahan anggaran sebesar 500 miliar rupiah. Dari angka yang besar tersebut, Kemenpora terlihat sangat jorjoran dalam menghadapi turnamen ini. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah ajang olahraga lain, yaitu Piala Dunia Bola Basket 2023. Meskipun levelnya lebih tinggi karena bukan merupakan kelompok usia, turnamen ini hanya mendapat tambahan anggaran sebesar 250 miliar rupiah. Selain itu, angka persiapan Timnas U-20 juga lebih besar lima kali lipat jika dibandingkan dengan bulutangkis yang hanya mendapatkan 18,6 miliar rupiah saat akan bertanding di olimpiade tahun 2020. Kesenjangan anggaran ini wajib diawasi dan dievaluasi mengingat minimnya prestasi yang diperoleh oleh atlet-atlet Indonesia pada cabang olahraga sepak bola jika dibandingkan dengan kedua olahraga tersebut.  Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kepentingan-kepentingan politik yang bisa saja menyusup ke dalam penyelenggaraan Piala Dunia U-20 ini. Besarnya anggaran yang diajukan membuat pengawasan sedikit lebih sulit dilakukan. Ancaman yang paling mungkin dihadapi adalah tindakan korupsi. Selain itu, pemilihan presiden yang hanya berselang satu tahun dari pelaksanaan membuat turnamen ini bisa saja memiliki agenda tertentu, misalnya kampanye. Dengan publikasi yang masif, tentu akan banyak pihak yang berusaha memanfaatkan acara ini sebagai salah satu ajang yang efektif untuk mendulang suara rakyat dalam kontestasi politik.  Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 bukan hanya membawa manfaat yang sangat luas, tetapi juga mempunyai risiko yang cukup besar. Selain itu, adanya target lolos delapan besar hingga semifinal juga menambah berat beban yang dipikul Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap penyelenggaraan turnamen ini, mulai dari masa persiapan hingga pembubaran. Sebagai bentuk respons, Kemenpora telah membentuk kepanitiaan tersendiri, yaitu Indonesia FIFA U-20 World Cup 2023 Organizing Committee (INAFOC). Meskipun merupakan sebuah langkah yang baik, independensi tetap harus dijaga dalam kepanitiaan tersebut. Lebih dari itu, masyarakat Indonesia juga diharapkan senantiasa memperhatikan dan melaporkan apabila terjadi tindakan yang mencurigakan selama pelaksanaan turnamen ini. Kesatuan dan kesepakatan tujuan di antara seluruh lapisan masyarakat Indonesia adalah faktor terpenting dari kesuksesan penyelenggaraan turnamen ini.  Referensi Ayudiana, S. (2020, July 21). Kemenpora masih kaji anggaran timnas Piala Dunia U-20 2021. Antara News; ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/1624954/kemenpora-masih-kaji-anggaran-timnas-piala-dunia-u-20-2021 CNN Indonesia. (2020, February 11). Badminton Dapat Anggaran Paling Besar Jelang Olimpiade 2020. Olahraga; cnnindonesia.com. https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20200211173849-178-473675/badminton-dapat-anggaran-paling-besar-jelang-olimpiade-2020 Utami, N. R. (2022, June 10). Menpora Usul Tambah Anggaran Rp 3 T, Ada untuk Piala Dunia U-20 2023. Detiknews; detikcom. https://news.detik.com/berita/d-6119997/menpora-usul-tambah-anggaran-rp-3-t-ada-untuk-piala-dunia-u-20-2023 Pengunjung :

Dunia Olahraga di Bawah Komando Para Artis, Angin Segar atau Malapetaka?

Oleh: Andini Mahera Primawestri/EQFoto Oleh: Fathan Putra Santoni/EQ Berbicara tentang dunia olahraga, sebagai bidang olahraga yang paling banyak digemari masyarakat Indonesia,  kurang lengkap rasanya jika tidak membahas sepak bola. Belakangan ini banyak artis Indonesia yang bergabung ke dalam dunia sepak bola tanah air. Mereka bukan sebagai pemain atau pelatih, melainkan sebagai pemilik saham. Namun, seberapa profitabel bisnis akuisisi saham ini? Lalu bagaimana dampaknya terhadap perkembangan sepak bola tanah air? Maraknya fenomena akuisisi saham klub sepak bola pada mulanya muncul karena aksi pemilik RANS Entertainment, Raffi Ahmad, yang membeli Cilegon United dan mengubah nama klub tersebut menjadi RANS Cilegon United. Langkah Raffi Ahmad, atau yang dijuluki Sultan Andara ini diikuti oleh selebriti tanah air lainnya, seperti Atta Halilintar yang mengakuisisi saham PSG Pati. Selain itu, putra bungsu Presiden RI, Kaesang Pangarep, bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, juga ikut mengakuisisi saham Persis Solo. Tak ketinggalan, Prilly Latuconsina juga turut menambah daftar rentetan artis yang mengakuisisi klub sepak bola dengan membeli saham Persatuan Sepakbola Indonesia Kota Tangerang (Persikota Tangerang).  Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap dunia sepak bola dapat menjadi alasan utama banyak artis Indonesia menjajal peruntungan pada bisnis akuisisi saham klub sepak bola. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Nielsen Sport tahun 2013, sebanyak 77 persen penduduk Indonesia merupakan penggemar olahraga sepak bola. Hal tersebut menjadikan Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara yang paling menggemari olahraga sepak bola setelah Nigeria. Data tersebut tentunya menunjukkan bahwa industri di bidang sepak bola ini memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Keputusan artis dalam membeli saham klub sepak bola juga tidak dibuat asal-asalan hanya demi mengikuti tren. Dalam menentukan klub mana yang ingin diakuisisi, selain memilih klub bola yang sudah mempunyai sejarah dan potensi berprestasi, mereka juga memilih klub yang sudah banyak digemari masyarakat atau memiliki suporter yang cukup masif. Dengan mengakuisisi klub yang sudah memiliki banyak penggemar akan terjadi simbiosis mutualisme antara artis dengan penggemar klub sepak bolanya. Para penggemar akan senang karena klub favoritnya bisa berkembang, mendapat pemain baru, bahkan mengikuti pertandingani bergengsi, sedangkan sang artis akan mendapat keuntungan dari penjualan tiket pertandingan dan merchandise klub sepak bola tersebut. Sedangkan dari sisi klub yang diakuisisi, tren ini tentunya menguntungkan. Maka,  dengan modal yang ditanamkan oleh para selebriti ini, mereka dapat memiliki manajemen yang profesional, mendatangkan pelatih, dan pemain-pemain berkualitas ke dalam timnya. Sehingga tim tersebut berpotensi untuk berpartisipasi pada kompetisi bergengsi di tanah air. Persis Solo dan RANS Cilegon United adalah contoh klub yang sudah membuktikan peningkatan performanya dalam lapangan setelah mendapatkan suntikan dana dari artis tanah air sebagai investor. Bahkan kedua klub ini berhasil lolos ke BRI Liga 1 berkat prestasinya di Liga 2. Selain itu, nama besar artis pengakuisisi juga dapat meningkatkan popularitas dan mendatangkan penggemar baru bagi klub sepak bola tersebut. Walaupun begitu, fenomena akuisisi saham ini juga memiliki ancaman tersendiri bagi klub sepak bola yang diambil alih oleh para artis. Berkaca pada tren bisnis makanan yang dulu juga sempat digandrungi artis-artis Indonesia, klub sepak bola berpotensi terkena imbasnya apabila artis investor terkena skandal. Seperti terpuruknya bisnis kue Makuta karena perseteruan antar pemodal, yakni artis Medina Zein dan Irwansyah. Hal tersebut tentunya akan sangat mempengaruhi reputasi dan memungkinkan turunnya performa dari klub itu sendiri.  Dampak negatif lain yang dapat muncul dari fenomena ini adalah pergeseran motivasi penggemar klub sepak bola yang bukan lagi untuk mendukung tim favorit mereka atas dasar kebanggan, melainkan untuk mendapatkan atensi dari artis idolanya. Seperti misalnya Atta Halilintar yang mengadakan giveaway sebesar 10 juta Rupiah bagi netizen yang mendukung tim AHHA PS Pati.  Terlepas dari itu, tren akuisisi saham sepak bola ini tentunya bisa dipandang sebagai angin segar bagi dunia olahraga yang sempat lesu selama masa pandemi. Dengan adanya tren ini, klub sepak bola di Indonesia dapat mendapatkan dukungan, terutama dalam hal finansial untuk dapat berkembang dan mencetak prestasi. Harapannya, para artis pengakuisisi juga mampu konsisten dan berkomitmen mengelola bisnis ini demi keberlanjutan dunia sepak bola tanah air. Referensi Nathaniel, Felix. 2021. Buat Apa, Sih, Para Pesohor dan Artis Itu Beli Klub Sepak Bola? Diakses pada 10 Agustus https://tirto.id/buat-apa-sih-para-pesohor-dan-artis-itu-beli-klub-sepak-bola-ggZT  Rizki, Vernanda Kholiqul Bahru. 2022. Arah dan Tujuan Tren Artis Akuisisi Klub Sepak Bola. Diakses pada 10 Agustus https://kumparan.com/kholiqulbahru/arah-dan-tujuan-tren-artis-akuisisi-klub-sepak-bola-1xlZjNDOfCw/1  Arfani. M Boby Hasan. 2021. Resmi! Rans Cilegon dan Persis Solo Masuk Ke Liga 1 dan Akan Rebutkan Gelar Juara Liga 2.     Diakses pada 15 Agustus https://sragenupdate.pikiran-rakyat.com/olahraga/pr-1843334757/resmi-rans-cilegon-dan-persis-solo-masuk-ke-liga-1-dan-akan-rebutkan-gelar-juara-liga-2  Databooks. 2016. Indonesia Penggemar Bola Nomor Dua di Dunia. Diakses pada 10 Agustus https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:B3btANCXk9gJ:https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/08/indonesia-penggemar-bola-nomor-dua-di-dunia&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id Pengunjung :

Meninjau Resiprokalitas Olahraga dan Bisnis

Oleh: Hayfaza Nayottama dan Ahmad Nurazky Ajri/EQFoto Oleh: Rega Sandinata/EQ Belakangan ini, pembicaraan mengenai klub dan kompetisi olahraga selalu berkaitan erat dengan bisnis dan industri yang ada di dalamnya. Banyak wirausahawan yang menanamkan modalnya pada industri olahraga. Bahkan, di tahun 2013 hingga 2016 silam, Erick Thohir, Pendiri Mahaka Group, sempat berinvestasi saham hingga menjadi presiden klub sepak bola asal Italia, Inter Milan. Kebertautan bisnis dan olahraga memungkinkan sinergi untuk perbaikan keduanya sekaligus. Namun, dengan adanya sinergi tersebut, apakah masuknya bisnis akan selalu memberi dampak positif pada olahraga? Tentunya hal tersebut menjadi suatu topik yang menarik untuk dibahas. Olahraga merupakan aktivitas yang telah tertanam dalam fitrah peradaban manusia. Antusiasme masyarakat terhadap olahraga juga semakin tinggi. Salah satu contoh antusiasme tersebut yaitu pada pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno yang dihadiri sekitar 150 ribu penonton. Olahraga juga menjadi bagian dari kebutuhan manusia baik fisik maupun rohani. Carlos Iban  S. S., M.Sc., CHE. dosen program studi Bisnis Perjalanan Wisata, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), memaparkan bahwa olahraga mengundang antusiasme manusia karena daya saing atau competitiveness yang terdapat pada setiap ajang pertandingan. Tak heran, olahraga selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Olahraga yang awalnya bertujuan sebagai hiburan akhirnya bertransformasi menjadi bagian dari suatu bisnis. Bisnis dari olahraga tidak hanya dilihat melalui kompetisinya, tetapi juga dari infrastruktur masing-masing tim atau klub yang menjadi suatu representasi investasi dari para pemilik klub.  Ketertarikan masyarakat terhadap dunia olahraga kini terlihat jelas dengan banyaknya investor yang ikut berpartisipasi pada bidang olahraga. Masuknya investor ini membuat olahraga tidak hanya sebagai suatu kompetisi saja, tetapi juga sebagai industri. Sebagai contoh, pergelaran balap motor Internasional MotoGP pada Maret lalu di Sirkuit Mandalika berhasil mendorong pengusaha Indonesia masuk ke dalam dunia balap motor, baik sebagai promotor maupun sebagai pemilik tim. Investor yang kini terlibat pada MotoGP antara lain PT Pertamina (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero), dan PT Telkom Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut berperan sebagai sponsor resmi tim balap Moto2 asal Indonesia Mandalika Racing Team yang berpartner dengan SAG racing Team. Untuk kelas MotoGP, ada MS Glow sebagai sponsor tim balap MotoGP Gresini Racing.  Masyarakat kini kian menggandrungi olahraga tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai peluang bisnis. Pasalnya, menurut Plunkett Research Ltd, pada 2015 nilai total aset industri olahraga mencapai 1,3 Triliun dolar AS. Selain itu, berdasarkan studi oleh AT Kearney, ditemukan fakta bahwa industri olahraga pada tahun 2015 menyumbang sekitar 1 persen dari PDB global atau setara dengan 700 Miliar dolar AS. Menurut Carlos Iban, pendapatan yang besar ini berasal dari jumlah penonton atau suporter yang hadir, tetapi pendapatan ini juga merupakan hasil dari penjualan sportswear, apparel, dan equipment. Carlos Iban juga menambahkan bahwa makin banyak klub olahraga yang sekarang merambah ke pasar digital dan bekerja dengan merek terkenal agar pendapatan klub bertambah. Hal tersebut membuktikan bahwa industri olahraga saat ini semakin populer dan semakin banyak pebisnis yang berani untuk menginvestasikan uangnya pada industri olahraga. Pemfokusan industri pada olahraga juga merupakan langkah yang tepat dalam membangun perekonomian. Dikutip dari Detik, Ketua MPR, Bambang Soesatyo, dalam webinar ‘Sport Law – A Foundation of Sport Industry in Modern Economy’ mengatakan bahwa pengembangan industri pada olahraga akan membawa dampak yang besar bagi ekonomi, sosial, dan budaya. Bambang Soesatyo menegaskan konsep sport-tourism mengkolaborasikan acara olahraga dengan promosi destinasi wisata yang nantinya akan menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian negara. Tentunya, hal ini juga harus didukung dengan sumber daya manusia yang profesional dan kesadaran masyarakat akan manfaat olahraga dari aspek nilai ekonomi.  Momentum Presidensi G20 turut andil sebagai akselerator industri olahraga di Indonesia. Dalam serangkaian Presidensi G20, digelar Tour de Singkarak, Bali Marathon, dan beberapa acara olahraga lain. Hal ini memicu perumahan lokal untuk dijadikan penginapan, mendorong pembelian oleh-oleh khas daerah, serta menyokong perekonomian daerah sekitar, yang merupakan bagian dari sport-tourism. Sesuai dengan tema G20 “Recover Together, Recover Stronger”, industri olahraga memiliki harapan positif setelah sempat terpuruk oleh keterbatasan mobilitas di masa pandemi. Namun, di balik masa depan cerah olahraga, sejarah menunjukan bahwa kerakusan pebisnis olahraga berpotensi mencederai sportivitas olahraga. Praktik sepak bola gajah, skandal bursa transfer, doping, dan beberapa pelanggaran lain membuktikan intensi penyelewengan sportivitas oleh pebisnis. Cedera pada sportivitas akan berdampak pada menurunnya antusiasme dan animo global terhadap olahraga sehingga berbalik meruntuhkan bisnis industri olahraga. Sebagai bukti, Carlos Iban merujuk pada Skandal Calciopoli yang meruntuhkan animo Serie A (Liga Italia). Maka dari itu, pebisnis olahraga wajib menjunjung dedikasi pada sportivitas demi mempertahankan olahraga sebagai industri yang dapat secara kontinu memenuhi hajat hidup orang banyak. Referensi Fitriani, E.D. 2021. Ketua MPR Sebut Industri Olahraga Punya Dampak Besar bagi RI. Diakses pada 3 Agustus https://news.detik.com/berita/d-5526378/ketua-mpr-sebut-industri-olahraga-punya-dampak-besar-bagi-ri Kearney. 2011. The Sports Market. Diakses pada 4 Agustus https://www.es.kearney.com/communications-media-technology/article?/a/the-sports-market Mia, Akbar. 2022. Industri Olahraga, Perekonomian Nasional dan Presidensi G20 Indonesia. Diakses pada 5 Agustus https://kumparan.com/ruhbanullail/industri-olahraga-perekonomian-nasional-dan-presidensi-g20-indonesia-1xdXH2ipTgu  Trebenth, Linda. 2011. The Sport Business Industry. Diakses pada 4 Agustus https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9780203858417-11/sport-business-industry-linda-trenberth Wahid, Hasanuddin. 2021. Olahraga Sebagai Industri Masa Depan? Diakses pada 4 Agustus https://bola.kompas.com/read/2021/02/11/14190238/olahraga-sebagai-industri-masa-depan?page=all Pengunjung :

Wajah dan Medan Perang Baru Laskar Garuda, Piala Asia 2023

Penulis: Kevin Pratomo dan Rizal FariziFoto Oleh: Meira Maulidya Rahma Di tengah terik dan panasnya udara Kuwait, Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia berhasil menjadi bagian dari runner-up terbaik dalam kualifikasi Piala Asia 2023 dengan mengantongi enam poin dari tiga laga. Indonesia pun berhasil memastikan tiket untuk tampil pada Piala Asia 2023. Tak hanya itu, Indonesia juga turut maju dalam proses bidding tuan rumah ajang tersebut. Lantas, apakah kedua hal diatas merupakan wujud kebangkitan sepak bola Indonesia?  Bangkitnya Timnas Sepak Bola Indonesia Sejak awal 2020, kehadiran Shin Tae Yong sebagai pelatih baru Timnas telah membawa perubahan besar pada performa Skuat Garuda. Pelatih asal Korea yang akrab dipanggil Coach Shin ini memiliki riwayat prestasi yang luar biasa. Ia sukses membawa Timnas Korea Selatan hingga lolos ke Piala Dunia 2018, bahkan mampu mengalahkan Jerman yang merupakan juara Piala Dunia tahun 2014 silam. Dengan berbekal pengalaman yang sudah dimilikinya, Coach Shin memiliki visi untuk membawa persepakbolaan Indonesia kepada kejayaan Beberapa langkah pun dilakukan Coach Shin untuk membawa sepak bola Indonesia menuju kegemilangan. Pertama, ia menyeleksi calon pemain hingga menghasilkan barisan pemain yang didominasi oleh pemain muda. Akan tetapi, tidak dilupakan pula pemain senior di barisan pemain Timnas. Para talenta muda yang dipilih telah memiliki pengalaman bermain di liga-liga mancanegara dan beberapa lainnya telah berkiprah di Liga 1 Indonesia, liga sepak bola paling prestisius di negeri ini. Kemudian, Coach Shin juga merombak sistem pelatihan Timnas Indonesia dengan menambahkan program latihan fisik dan mental yang sebelumnya tidak ada. Dalam wawancaranya dengan Deddy Corbuzier di podcast CLOSETHEDOOR, ia membeberkan pentingnya penekanan latihan beban bagi pemain Timnas. Latihan beban yang dimaksud berupa pelatihan yang melibatkan olahraga angkat beban sehingga para pemain memiliki kekuatan dan stamina yang lebih baik. Tak hanya itu, Coach Shin juga melatih mental pemain Timnas supaya tidak mudah menyerah.  Taktik Tiki Taka, taktik yang memfokuskan permainan ke bola-bola pendek yang dapat mengecoh lawan dan menahan possesion bola, diterapkan pula sebagai strategi permainan Timnas Indonesia. Taktik ini terbilang cukup efektif, mengingat postur pemain Indonesia yang terbilang kecil sehingga tidak cocok menggunakan taktik bola lambung. Penggunaan Tiki Taka membantu pemain dalam mengontrol bola sehingga dapat melakukan serangan secara lebih matang. Strategi yang dirancang Coach Shin berhasil membuahkan hasil pada laga akhir Timnas Indonesia dalam kualifikasi Piala Asia 2023. Dengan skor telak 7-0, timnas Indonesia berhasil membantai habis Nepal pada Rabu (15/6/2022) di Jaber Al-Ahmad International Stadium, Kuwait. Kemenangan tersebut membawa Indonesia mencicipi laga utama Piala Asia 2023 setelah lama absen sejak 2007. Ibarat kejatuhan bulan, kelolosan Skuat Garuda ke Piala Asia 2023 juga membuka lebar berbagai peluang, mulai dari eskalasi posisi Indonesia dalam peringkat yang disusun oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) hingga terbukanya peluang Indonesia untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia di masa mendatang. Pasca kemenangan melawan Nepal, peringkat timnas melesat ke posisi ke-155 secara global—naik empat angka dari beberapa bulan sebelumnya. Hal tersebut membuka oportunitas bagi Indonesia untuk berlaga dalam Piala Dunia karena peringkat dari FIFA merupakan salah satu pertimbangan untuk menyeleksi negara-negara calon peserta ajang itu. Menilik Potensi Indonesia sebagai Tuan Rumah Memburuknya COVID-19 di Cina membuat negeri tirai bambu harus mundur dari posisi tuan rumah Piala Asia 2023. Proses bidding pun dilakukan untuk menentukan tuan rumah pengganti, berlangsung sejak Mei silam hingga Oktober mendatang. Sampai saat ini, empat negara telah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Asia 2023: Australia, Qatar, Korea Selatan, dan Indonesia. Pada September mendatang, Asian Football Confederation (AFC) selaku penyelenggara Piala Asia akan berkunjung ke Indonesia untuk menginspeksi kesiapan Indonesia sebagai calon tuan rumah Piala Asia 2023, terutama terkait ketersediaan infrastruktur penunjang. Optimisme tumbuh karena telah berdiri stadion-stadion berkapasitas besar di negeri ini. Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta, Stadion Jakabaring di Palembang, dan berbagai stadion berkapasitas puluhan ribu orang seakan siap menjadi arena Piala Asia. Efek Domino yang Mungkin Ditimbulkan Terbukanya kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah event olahraga internasional memunculkan pertanyaan, seberapa menguntungkannya kesempatan tersebut bagi Indonesia? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lee dan Taylor (2005), pelaksanaan Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan mendorong sektor pariwisata dengan adanya peningkatan kedatangan turis asing. Dari studi tersebut, ditemukan pula bahwa total pengeluaran dari turis mancanegara selama Piala Dunia 2002 berlangsung adalah US$522 juta. Perolehan tersebut berkontribusi besar terhadap pemasukan Jepang maupun Korea Selatan. Membludaknya turis kemudian memicu perluasan lapangan kerja terutama pada sektor pariwisata. Sekitar 31.349 pekerjaan baru ditawarkan di bidang perhotelan, rekreasi, restoran, dan pusat perbelanjaan.  Kelolosan ke Piala Asia 2023 setelah bertahun-tahun lamanya merupakan angin segar bagi Timnas Indonesia. Jalan Indonesia untuk menjadi pesepakbola unggul di kancah dunia memanglah masih panjang. Akan tetapi, Piala Asia 2023 mampu menjadi suatu momentum bagi kebangkitan sepak bola Indonesia. Lagi pula, Indonesia menjadi salah satu calon tuan rumah penyelenggaraan laga tersebut, membawa potensi masif bagi perekonomian. Referensi Atmoko, Evan Yudhi Tri. 2022. Timnas Indonesia Lolos ke Piala Asia 2023, Akhir Penantian 15 Tahun. Diakses 4 Agustus 2022, dari https://www.kompas.com/sports/read/2022/06/15/05450018/timnas-indonesia-lolos-ke-piala-asia-2023-akhir-penantian-15-tahun?page=all Corbuzier, Deddy. [Deddy Corbuzier]. (2022, 11 Januari). SHIN TAE-YONG-EXCLUSIVE DI CLOSETHEDOOR – Deddy Corbuzier Podcast [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=qPFAWvRvSA8 Kelly, Ryan. 2017. FIFA World Ranking: How it is Calculated and What it is Used for. Diakses 4 Agustus 2022, dari https://www.goal.com/en-us/news/fifa-world-ranking-how-it-is-calculated-what-it-is-used-for/16w60sntgv7x61a6q08b7ooi0p Lee, C. K. dan Taylor, T. 2005. Critical Reflections on The Economic Impact Assessment of a Mega-event: The Case of 2002 FIFA World Cup. Tourism Management, 26(4), pp. 595–603. doi: 10.1016/j.tourman.2004.03.002. Prasetyo, Dwi Ari. 2022. Resmi, Empat Negara Ikut Bidding Piala Asia 2023. Diakses 4 Agustus 2022, dari https://rri.co.id/olahraga/1541984/resmi-empat-negara-ikut-bidding-piala-asia-2023 Robbani, Muhammad. 2022. Bidding Piala Asia 2023: Bulan Depan AFC Inspeksi Stadion Indonesia. Diakses 4 Agustus 2022, dari https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-6212169/bidding-piala-asia-2023-bulan-depan-afc-inspeksi-stadion-indonesia Pengunjung :

Tetes Peluhmu Sia-Sia jika Menjadi Atlet di Indonesia!

Penulis : Virginia MonicIlustrasi : Theresa Arween Memulai sebagai bukan siapa-siapa, kemudian berjuang dengan sepenuh tenaga, hingga akhirnya menjadi juara. Perjalanan penuh pengorbanan, keringat, dan air mata mereka jalani demi mengharumkan nama tanah air. Kira-kira begitulah alur cerita yang dihamparkan para atlet berprestasi Indonesia. Akan tetapi, realitas sesungguhnya memiliki jauh lebih banyak batu sandungan. Tidak sedikit pula atlet yang mencoba menapaki jalan yang sama, tetapi terpaksa tumbang sebelum sempat berjuang.  Atlet-atlet di televisi dengan gagahnya membela negara di ajang olahraga dunia dan mengharumkan nama Indonesia melalui tangkisan serta tendangannya. Setelah pertandingan sengit, mereka menerima piala, lalu mengumandangkan Indonesia Raya disertai tangis haru. Para atlet yang menang kemudian diberi bonus serta medali kehormatan di istana negara. Profesi yang diidam-idamkan banyak orang dengan berbagai keuntungan: dinamis, sehat, sesuai dengan passion, penuh dengan glamor, adrenalin, dan penghargaan. Namun, bak sisi gelap di balik terangnya bulan, banyak kesulitan tidak terlihat menghantui para atlet olahraga Indonesia. Masalah pendanaan kerap menjadi salah satunya. Sebagai contoh, sejumlah atlet terpaksa mengurungkan niat untuk berpartisipasi dalam Sea Games 2021 akibat keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk tidak membiayai keberangkatan mereka. Dilansir dari merdeka.com, pengiriman atlet ke Sea Games 2021 telah menurun sebanyak hampir 50 persen dibandingkan dengan Sea Games 2019. Padahal, para atlet tersebut telah menunjukkan kebolehannya dengan menorehkan medali emas di PON XX Papua. Polesan bakat dengan latihan keras bertahun-tahun tentu akan sia-sia apabila atlet dipersulit untuk unjuk gigi di kancah internasional.  Angelica Jennifer, atlet timnas basket yang mewakili Indonesia dalam FIBA Women’s Asia Cup, pun menyatakan bahwa dirinya kurang mendapatkan fasilitas yang memadai selama perjalanannya menjadi atlet. “Manajemen atlet Indonesia masih memiliki kekurangan, seperti kurangnya penghargaan untuk atlet-atlet berprestasi, kurangnya program pembinaan, dan minimnya dana untuk pembinaan olahraga,” jelas atlet yang kerap dipanggil Angel tersebut. Memang, anggaran Kemenpora Indonesia cukup jauh berbeda jumlahnya apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Di Australia, Thailand, dan Singapura, dana olahraga mencapai masing-masing 0,1 persen, 0,2 persen, dan 4,2 persen dari pendapatan negara. Sementara itu, dana olahraga Indonesia hanya mencapai angka 0,08 persen saja, bahkan angka tersebut belum dikurangi biaya operasional (Paramadina Public Policy Institute, 2019). Selain minimnya dukungan dana, kultur Indonesia juga luas pengaruhnya. Orientasi masyarakat Indonesia saat ini memang belum melihat atlet sebagai jenjang karir yang menjanjikan. Selaras dengan hal tersebut, olahraga dianggap seakan-akan menjadi hal yang tidak penting dalam pendidikan formal. Banyak lembaga pendidikan yang memberatkan siswanya ketika mereka lebih memilih olahraga dibandingkan mendalami bidang akademik. Program pelatihan dari pemerintah demi memberikan ruang bagi siswa untuk fokus ke dunia olahraga pun tergolong nihil. “Saat SMA, karena latihan satu hari mencapai 5-6 jam sehari yang dilakukan pada pagi dan sore, maka tidak sempat ada waktu untuk belajar,” ungkap Mahdy Baihaqi, student athlete binaan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Provinsi Jawa Tengah. Angel pun mengatakan hal yang serupa, “Sekolah juga kadang izin bisa satu minggu sampai enam bulan, harus pintar mengelola waktu antara sekolah dan basket, soalnya walaupun izin tetap harus ngerjain tugas-tugas sekolah.”  Bukan hal yang mudah untuk menjadi atlet di samping menjalani pendidikan formal, tetapi sistem di Indonesia seakan-akan memberatkan para atlet dengan hal tersebut. Sudah tidak terhitung banyaknya faktor yang membuat sebagian individu ragu untuk berkarir sebagai atlet. Memilih jalan menjadi atlet saja sudah dihadapkan dengan opportunity cost yang begitu besar akibat banyaknya waktu yang pasti akan tersita oleh latihan. Belum juga ditambah risiko cedera yang menghantui para atlet. Pekerjaan atlet pun bisa dibilang seasonal karena terbatas oleh umur dan tanpa jaminan finansial apa pun setelah era produktif atlet berakhir. Faktanya, berdasarkan survei Litbang Kompas, 53,5 persen dari total atlet tidak sejahtera secara keuangan. Hal ini berkaitan dengan hanya dihargainya atlet setelah menang kejuaraan internasional, padahal untuk berproses dari awal memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tidak ada habisnya batu sandungan bagi para atlet Indonesia. Berkaitan dengan banyaknya risiko, tidak sedikit pula atlet Indonesia yang memiliki mitigasi risiko yang baik. Greysia Polii, atlet badminton Indonesia, menjadi salah satu contohnya dengan menjalani bisnis sepatu di samping profesi sebagai atlet. Manajemen keuangan yang baik merupakan kunci bagi para atlet untuk menyambung hidup. Tentu akan lebih baik bila seorang atlet memiliki pendapatan cadangan untuk mengimbangi banyaknya halangan dana.  Susah-susah membela negeri di ajang olahraga, apakah tidak mungkin kalau diberi imbalan setara? Bukankah dengan high risk, sudah seharusnya mereka mendapatkan high return juga? Menjadi atlet memerlukan latihan serius yang berkelanjutan, pengorbanan waktu dan tenaga, serta banyak risiko besar. Sudah saatnya beban di pundak para atlet Indonesia diringankan, pemerintah Indonesia. Mari hargai tetes peluh atlet kita! Referensi Aldima, Tri Yuni. 2022. Kisah Sutjiati Narendra, atlet senam berprestasi yang mau ikut Sea Games tapi tak didanai pemerintah. Diakses pada 8 Agustus https://www.hops.id/hot/pr-2943210247/kisah-sutjiati-narendra-atlet-senam-berprestasi-yang-mau-ikut-sea-games-tapi-tak-didanai-pemerintah?page=2 Merdeka. 2022. NasDem Kritik Kemenpora Tak Berangkatkan Sutjiati Dkk ke SEA Games 2021. Diakses pada 8 Agustus https://www.merdeka.com/peristiwa/nasdem-kritik-kemenpora-tak-berangkatkan-sutjiati-dkk-ke-sea-games-2021.html Jazuli, Muhammad Rosyid. 2019. Inilah Beberapa Faktor Sebab Prestasi Olahraga di Indonesia Kurang Maksimal. Diakses pada 8 Agustus https://policy.paramadina.ac.id/inilah-beberapa-faktor-sebab-prestasi-olahraga-di-indonesia-kurang-maksimal/ Zuhad, Ahmad. 2021. Selain Verawaty Fajrin, 7 Mantan Atlet Berprestasi Ini Juga Bernasib Nelangsa. Diakses pada 8 Agustus https://www.kompas.tv/article/214078/selain-verawaty-fajrin-7-mantan-atlet-berprestasi-ini-juga-bernasib-nelangsa Pengunjung :

Eksploitasi Tenaga Kerja di Balik Magang Kampus Merdeka

Oleh: Dian Nur Jannah dan Rizal FariziFoto Oleh: Fathan Putra S Siapa sih mahasiswa sekarang yang nggak tahu program magang MBKM? Kegiatan magang yang menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia ini memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesiapan dan keterserapan di dunia kerja. Melihat dari dua batch lalu, mahasiswa tampak antusias dan bersuka rela mendaftarkan diri pada program tersebut. Namun, apakah inisiatif baik ini sejalan dengan maksud perusahaan mitra menerima para mahasiswa?  Magang MBKM dan Eksploitasi Tenaga Kerja Muhammad Aulia, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) sekaligus Data Analyst Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada program magang MBKM, menjelaskan bahwa agenda pemerintah ini cukup bermanfaat bagi mahasiswa. Magang MBKM memberikan tunjangan hidup dan pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan karir. Mahasiswa juga dapat memperluas lingkup jejaring profesional yang dibutuhkan melalui program ini.  Program pemerintah pasti tidak ada yang bertujuan buruk, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa magang MBKM nyatanya masih memiliki beberapa permasalahan. Selaras dengan hal tersebut, Muhammad Aulia mengungkapkan bahwa terdapat permasalahan terkait kebijakan kurikulum dari universitas karena program masih cukup baru. Menurut pemuda satu ini, beberapa rekannya dari Fakultas Teknik batal mengikuti magang MBKM karena mekanisme konversi Satuan Kredit Semester (SKS) belum cukup jelas. Selain itu, masalah yang sering terjadi adalah keterlambatan pembayaran uang saku hingga berbulan-bulan yang menyulitkan peserta magang, terutama mahasiswa yang berdomisili di luar kota. Masalah lainnya disebabkan oleh beban kerja yang terkadang tidak sesuai dengan job description pada ketentuan awal. Tenaga kerja magang bisa memperoleh jam kerja yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, bahkan pekerjaan di luar kontrak. Survei yang dilakukan oleh Project Multatuli dengan melibatkan 157 responden yang merupakan partisipan magang MBKM batch satu juga mengungkapkan masalah yang sama.  Terlihat bahwa beberapa masalah yang dialami oleh peserta magang MBKM cenderung menjurus ke arah eksploitasi tenaga kerja. Tenaga yang telah dicurahkan oleh pemagang seolah tidak sebanding dengan hak-hak yang belum sepenuhnya terpenuhi. Poin di dalam perjanjian kerja pun seakan hanya formalitas belaka yang menjadikan kesejahteraan mahasiswa di ujung tanduk. Mengupas Alasan di Balik Permasalahan Pemagang MBKM “Murni (faktor) administratif,” tegas  Prof. Ir. Nizam, M.Sc. Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Diktiristek), menjelaskan alasan keterlambatan pembayaran uang saku pada diskusi bersama CNN. Proses administrasi pencairan uang saku merupakan proses yang panjang sehingga memerlukan waktu lama, seperti pengecekan data dan log book para pemagang. Selain itu, adanya kesalahan nomor rekening juga menghambat pengiriman uang saku.  Jika berbicara dari segi hukum, pemerintah sebenarnya telah menerbitkan peraturan perundang-undangan mengenai pemagangan, yaitu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2020. Akan tetapi, Permenaker tersebut hanya mengatur pemagangan yang bersifat apprenticeship (magang bekerja), magang yang dilakukan para pencari kerja dan pekerja yang telah menyelesaikan pendidikan formal untuk meningkatkan kompetensi. Dengan demikian, Permenaker tersebut tidak memberi perlindungan untuk magang jenis internship (magang pendidikan), seperti magang MBKM. Menurut Nabiyla Risfa Izzati, Dosen Hukum Ketenagakerjaan UGM, dalam diskusi yang dilakukan oleh CNN, perbedaan pendefinisian magang menyebabkan internship berada di luar cakupan Permenaker. “Menurut saya, pemerintah perlu menggodok ulang definisi dan peraturan pemagangan agar menjadi lebih kontekstual dan sesuai dengan pemagangan yang sekarang banyak terjadi,” lanjutnya. Kekosongan hukum pada pemagangan jenis internship turut didukung dengan ketimpangan relasi kekuasaan antara peserta magang dengan pihak pemberi kerja. Kekuasaan yang dimiliki oleh pemagang sangat rendah jika dibandingkan dengan pemberi kerja. Para peserta magang umumnya adalah mahasiswa yang masih tergolong baru di dalam pasar tenaga kerja. Hal tersebut memungkinkan pihak perusahaan menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki sehingga timbul eksploitasi terhadap pemagang. Sekali lagi, tidak ada program pemerintah yang bertujuan buruk, tak terkecuali program magang MBKM. Peningkatan kesiapan dan keterserapan tenaga kerja sebagai tujuan utama tentu akan membawa dampak baik pula bagi negara. Akan tetapi, secara tidak sadar, program ini justru menjadi potensi besar bagi pihak tertentu untuk melakukan eksploitasi. Maksud baik mahasiswa pun dihadapkan dengan kepentingan perusahaan yang belum tentu sejalan. Oleh karena itu, pemerintah perlu menguatkan hukum untuk memayungi program ini dan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap perusahaan mitra. Perusahaan juga perlu berbenah diri agar potensi eksploitasi dapat diminimalisasi. Referensi Adinda, P. (2022, Januari 17). Normalisasi Magang oleh Kampus Merdeka di Tengah Kosongnya Perlindungan Hukum. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/normalisasi-magang-oleh-kampus-merdeka-di-tengah-kosongnya-perlindungan-hukum/. CNN Indonesia. (n. d.). Mahasiswa: Magang MKBM Menyengsarakan Karena Uang Saku Terlambat [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=2Cc6eaMiuQQ CNN Indonesia. (n. d.). Upah Magang Rendah, Lazim Atau Zalim? [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Z1a-aIsILM8&list=LL7u9NRTaXEU4m3exclQNHEQ&index=3 Putri, A. (2021, Desember 16) Magang Tak Benar-Benar Merdeka: Dijerat Overwork, Depresi, Pelecehan, hingga Serangan Buzzer. Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/normalisasi-magang-oleh-kampus-merdeka-di-tengah-kosongnya-perlindungan-hukum/. Pengunjung :

Benarkah Peluang Kerja Lulusan PTN Lebih Besar daripada PTS?

Oleh: Andini Mahera dan Ummi AnifahFoto Oleh: Alya Aqilah/EQ Beberapa dari kita mungkin sudah tidak asing lagi akan stigma yang beredar di masyarakat mengenai lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) yang lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi swasta (PTS). Namun, apakah stigma tersebut masih relevan sampai hari ini? Stigma mengenai ketidaksetaraan antara lulusan PTN dan PTS dalam persaingan kerja ini muncul bukan tanpa sebab. Nyatanya, memang terdapat beberapa perusahaan yang terkesan membedakan lulusan PTN dan PTS dalam syarat perekrutannya. Misalnya, syarat batas minimal akreditasi universitas dalam lowongan kerja. Terdapat lowongan pekerjaan yang tidak memiliki batas minimal akreditasi untuk PTN, tetapi menetapkan minimal akreditasi tertentu untuk PTS. Contohnya, lowongan kerja dari BPJS Kesehatan tahun 2021 lalu yang mensyaratkan minimal akreditasi A untuk lulusan PTS dan minimal akreditasi B untuk lulusan PTN. Selain itu, terdapat juga lowongan pekerjaan yang membedakan minimal indeks prestasi kumulatif (IPK) antara PTN dan PTS. Minimal IPK untuk PTS biasanya lebih tinggi beberapa poin dibandingkan PTN. Salah satu contohnya adalah lowongan kerja dari Institusi Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta di bawah ini. Selain itu, penyebab munculnya stigma tersebut adalah adanya klasterisasi perguruan tinggi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Di dalam klasterisasi Kemendikbudristek terdapat lima urutan klaster perguruan tinggi. Salah satu indikator penilaian dalam proses klasterisasi ini adalah jumlah lulusan yang memperoleh pekerjaan dalam waktu enam bulan. Klasterisasi ini dapat disalahartikan sebagai adanya perbedaan signifikan antara kualitas PTN dan PTS di Indonesia. Padahal, tujuan utama dari klasterisasi ini adalah untuk membangun landasan bagi Kemendikbudristek dan perguruan tinggi dalam meningkatkan performa dan kesehatan organisasi. Lantas, apakah benar perekrut lebih memprioritaskan pelamar kerja lulusan PTN dibandingkan PTS? Menurut Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, M.M., dosen Sumber Daya Manusia MM UGM dalam acara HR Day yang diadakan oleh HR Club MM UGM  pada 17 Maret 2022, menyatakan bahwa sekitar tahun 1990 sampai 2000 saat merekrut karyawan perusahaan masih melihat pelamar tersebut merupakan lulusan PTN atau PTS. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam hal kompetensi lulusan PTN dan PTS. Namun, setelah adanya akreditasi perguruan tinggi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), perusahaan mulai melihat kepada akreditasi dan bukan lagi status PTN atau PTS. “Sebenarnya, saat ini banyak perusahaan yang sudah tidak terlalu memikirkan latar belakang pendidikan pelamarnya berasal dari PTN atau PTS, tetapi lebih melihat kepada akreditasi kampusnya”, kata Prof. Heru. Beliau juga menambahkan bahwa dalam perusahaan multinasional, latar belakang pendidikan bukan prioritas utama dalam proses perekrutan karyawan. Kalaupun latar belakang pendidikan masuk ke dalam proses penilaian bukanlah berdasarkan lulusan PTN atau PTS, tetapi penilaian berdasarkan akreditasi kampusnya. “HRD lebih mencari pelamar yang memiliki kinerja bagus, dilihat dari kemampuan dan juga pengalamannya”, tegasnya. Beno (bukan nama sebenarnya) seorang advokat di Jakarta membagikan pengalamannya bekerja di salah satu firma hukum yang merupakan 30 besar firma hukum terbaik di Indonesia. Menurutnya, dalam firma hukum, perekrutan pekerja tidak hanya melihat dari pengalaman atau kemampuan yang dimiliki, tetapi juga pada latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan pelamar dapat menggambarkan kualitas dari pelamar tersebut. Perguruan tinggi yang memiliki akreditasi unggul mencerminkan bahwa mahasiswanya memiliki dasar kompetensi yang baik. Oleh karena itu, latar belakang pendidikan dalam perusahaannya masih menjadi hal yang dipertimbangkan saat merekrut karyawan. Pengalaman yang dibagikan Beno sejalan dengan pengalaman salah satu alumni FEB UGM, Andhika Mujiyono. Dalam wawancara daring yang kami lakukan, Andhika menyampaikan bahwa ia tidak menemui adanya perbedaan penilaian antara lulusan PTN dan PTS dalam mendaftar kerja. “Di perusahaan tempat aku kerja, mereka sangat fair, tidak membatasi lulusan swasta ataupun negeri. Jadi semuanya murni tergantung kemampuan dan kualitas pelamarnya sendiri”, ujar Andhika.  Walaupun begitu, Andhika mengakui adanya perlakuan khusus bagi lulusan top 50 universitas dunia. Ia menyebutkan bahwa alumni universitas top 50 tersebut dapat melompati satu fase dibandingkan alumni lulusan universitas lain. “Jadi bukan tentang lulusan PTN atau PTS-nya sih, lebih ke ranking dan akreditasi universitasnya”, tegasnya. Di akhir, Andhika menambahkan mengenai pentingnya menguasai soft skill seperti critical thinking dan reasoning dalam mendaftar kerja. Dapat disimpulkan bahwa terdapat pergeseran penilaian latar belakang pendidikan dalam perekrutan karyawan. Stigma lulusan PTN lebih mudah mencari kerja dibandingkan lulusan PTS nampaknya sudah tidak berlaku lagi. Berdasarkan observasi dan wawancara yang sudah kami lakukan, saat ini kebanyakan perusahaan sudah tidak lagi merekrut karyawan berdasarkan lulusan PTN atau PTS, tetapi lebih melihat akreditasi perguruan tingginya. Akreditasi perguruan tinggi dinilai penting karena mencerminkan kompetensi yang dimiliki calon pekerjanya. Selain itu, saat ini proses perekrutan karyawan juga mempertimbangkan aspek lain seperti hard skill dan soft skill yang dimiliki oleh pelamar. Referensi: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2020). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Umumkan Klasterisasi Perguruan Tinggi Indonesia tahun 2020. Jakarta: Neni Herlina. Diakses dari http://www.dikti.go.id/kabar-dikti/kabar/direktorat-jenderal-pendidikan-tinggi-umumkan-klasterisasi-perguruan-tinggi-indonesia-tahun-2020/ Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2020). Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2020.  Diakses dari http://lldikti6.id/wp-content/uploads/2020/09/KLASTERISASI-PT-2020.pdf Humas. (2021). Lowongan Kerja Tenaga Kependidikan. Diakses dari Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta https://akprind.ac.id/lowongan-kerja-tenaga-kependidikan-2/Hartawan, Erwan. (2021, Mei 28). Buruan Daftar Lowongan Kerja dari BPJS Kesehatan, Begini Syaratnya. MotorPlus Online. Diakses dari https://www.motorplus-online.com/read/252714465/buruan-daftar-lowongan-kerja-dari-bpjs-kesehatan-begini-syaratnya?page=all Pengunjung :

Mengotakkan Potensi dalam Sistem Pendidikan, Salahkah?

Oleh: Achmad Zidan Muzaki dan Larasati Titania Amalia “Masuk jurusan IPS nanti susah cari kerjanya,” atau “ambil kedokteran aja, gajinya gede,” adalah perkataan yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya para remaja yang sedang bimbang akan masa depannya. Kalimat-kalimat tersebut seakan mengisyaratkan bahwa kini orientasi pendidikan hanyalah untuk bekerja dan memperoleh gaji sebesar-besarnya. Padahal, output dari pendidikan bisa juga berupa kecerdasan otak, penerapan moral, dan kesempurnaan perilaku, tak hanya sekadar keterampilan untuk bekerja. Lantas, apakah tujuan pendidikan sebenarnya? Bagaimana penerapan tujuan tersebut pada masa kini?  Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah proses mendidik seseorang untuk mendapatkan kesempurnaan di hidupnya. Kesempurnaan tersebut tidak terbatas pada kecerdasan, tetapi juga keselamatan, kebahagiaan, dan keengganan untuk berbuat jahat. Sementara itu, dalam Bab II Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tujuan pendidikan berfokus pada pengembangan potensi seseorang, utamanya dalam menerapkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Sedangkan menurut Aristoteles, tujuan pendidikan adalah persiapan atau bekal untuk suatu pekerjaan agar dapat hidup dengan layak. Berdasarkan ketiga pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejatinya tujuan pendidikan adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan seseorang dari segi kepribadian, sifat, kecerdasan, tingkah laku, maupun finansial. Namun, pada zaman sekarang, orientasi pendidikan seakan mengalami penyempitan sebab hanya berfokus untuk mendapatkan pekerjaan.  Makna Di balik Standardisasi  Untuk mencapai kesejahteraan negara dan perkembangan individu sekaligus, idealnya pendidikan dan persekolahan terkait dengan mulus. Tentunya, kurikulum pendidikan Indonesia memiliki standarisasi dalam pembelajaran. Standardisasi tersebut diterapkan dalam pengetahuan yang dipelajari, cara transmisi informasi, dan pengukuran kesuksesan lintas sekolah. Motivasi utama standarisasi dalam sistem sekolah Indonesia adalah untuk melindungi pengalaman pendidikan dan memastikan semua siswa, terlepas dari latar belakang, mendapatkan pendidikan yang setara dan hasil yang serupa.  Akan tetapi, di balik tinjauan standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan, ada bahaya yangtersembunyi. Jika terlalu mengutamakan standar kompetensi dibandingkan kualitas, pendidikan akan kehilangan makna dan tujuan utamanya. Tidak sedikit sekolah beserta instrumen yang tidak dapat kita sebut sebagai pendidikan yang sebenarnya sebab mereka memaksakan sebuah pembelajaran ke dalam diri siswa.  Akibatnya, standardisasi mengasumsikan jika individu dihadapkan pada serangkaian kondisi instruksional yang sama, hasilnya adalah semua siswa akanmeninggalkan kelas dengan tingkat pengetahuan yang sama. Pada kenyataanya, setiap siswa membawa kombinasi pengalaman, bakat, sumber daya, dan kebutuhan unik yang memengaruhi pembelajarannya. Dua orang dapat mengalami pelajaran yang sama dan keluar dari kelas dengan tingkat pemahaman yang sangat berbeda.  Belajar untuk Bekerja? Hasil penelitian Voxeou menunjukkan alasan terbesar responden memilih jurusan adalah prospek pekerjaan dari jurusan tersebut dengan persentase 68,4%, sedangkan potensi penghasilan dari jurusan di masa depan berpengaruh sebesar 7%. Sebenarnya, tidak ada yang salah ketika menjadikan pekerjaan dan gaji sebagai bahan pertimbangan memilih suatu jurusan. Namun, jika kedua faktor tersebut dijadikan penentu utama, dikhawatirkan pendidikan akan menjadi sebuah formalitas tanpa didasari kesadaran hati nurani individu. Survei oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Udayana mengatakan bahwa 56 dari 100 mahasiswa di Indonesia merasa salah jurusan dan 90% di antaranya disebabkan paksaan orang tua (Rahman, 2017). Tingginya persentase tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran orang tua terhadap kehidupan anaknya di masa depan. Orang tua cenderung memiliki pilihan jurusan tersendiri yang mereka anggap mempunyai prospek pekerjaan bagus dan potensi penghasilan tinggi. Hal tersebut membuktikan pendidikan di Indonesia masih sebatas memenuhi tujuan ekonomi dan kurang memperhatikan tujuan secara filosofis dan holistik.  Langkah-langkah Selanjutnya Untuk Indonesia  Solusi agar Indonesia dapat lebih memperhatikan tujuan pendidikannya adalah dengan mencontoh sistem pendidikan yang telah terbukti berhasil meningkatkan kualitas individu dan tak hanya terfokus pada segi industri. Salah satu negara yang bisa dijadikan acuan adalah Finlandia. Berdasarkan laporan PISA tahun 2018, Finlandia menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia. Sebagai tolak ukur, ada beberapa poin utama sistem pendidikan Finlandia yang dapat diterapkan Indonesia. Lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan usia dini hingga menengah atas, perlu mempunyai kewenangan untuk mengubah atau melakukan revisi kurikulum sesuai kemampuan dan ketertarikan siswa-siswa mereka. Selain itu, setelah menempuh pendidikan wajib selama 9 tahun, para siswa memiliki pilihan alternatif untuk tidak menempuh pendidikan menengah dan menjurus minat mereka pada bidang lain. Dari kedua hal tersebut, maka penting untuk sebuah negara agar selalu mementingkan perbaikan terus-menerus pada sistem pendidikan dan memberi siswa kebebasan untuk menentukan kesuksesan mereka sendiri.  Negara yang berbeda tentu memiliki pendekatan serta kebutuhan yang berbeda terhadap pendidikan. Memang, akan lah sulit untuk membangun sebuah sistem yang dapat disebut ideal dan memenuhi kebutuhan dunia atas sistem pendidikan yang tepat. Meskipun begitu, semua solusi dan pendekatan harus mengarah ke tujuan awal pendidikan yang sebenarnya. Yakni, sebuah sistem pendidikan perlu mementingkan pengembangan individu tanpa mengotakkan potensi, kapabilitas, dan kesuksesan dalam satu kategori mutlak. Nugrahini, A. K. (2018). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemilihan Jurusan dan Kepuasan dalam Menjalani Jurusan di Perguruan Tinggi. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Psikologi. Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta. Baker, R., Bettinger, E., A. Jacob, B., & Marinescu, L. (2017, May 11). Major decisions: How labour market opportunities affect students’ choice of subjects. Retrieved March 23, 2022, from VOX. CEPR Policy Portal website: https://voxeu.org/article/labour-market-opportunities-and-students-choice-subjects#:~:text=The%20probability%20of%20having%20a,is%20often%20not%20statistically%20significant. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Pembukaan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Yanuarti, E. (2017). Pemikiran Pendidikan Ki. Hajar Dewantara dan Relevansinya Dengan Kurikulum 13. Jurnal Penelitian,Vol. 11, No. 2, 246-247. Doi: http://dx.doi.org/10.21043/jupe.v11i2.3489 Yonas, A. R. (2021, August). Mengapa Sistem Pendidikan Finlandia Menjadi Salah Satu yang Terbaik di Dunia? Kumparan; kumparan. https://kumparan.com/adya-yonas/mengapa-sistem-pendidikan-finlandia-menjadi-salah-satu-yang-terbaik-di-dunia-1wF5Em0QZMe Pengunjung :

Solverwp- WordPress Theme and Plugin