BPPM Equilibrium

September Hitam, Berdirinya Panggung Rakyat hingga Dibakarnya Jas Almamater UGM

Oleh: Kefas Christiawan, Hayfaza Nayottama, dan Virginia Monic

Gerakan Pertama: Aksi Internal Mahasiswa UGM

Bergerak tanpa gentar menuju bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), massa mahasiswa UGM berkerumun menyuarakan keresahannya (12/09). Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang naik dianggap mengancam kesejahteraan hampir seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh naiknya harga bahan komoditas utama sebagai dampak dari kenaikan BBM pula. Aliansi Mahasiswa UGM pun tidak tinggal diam, mereka berkoordinasi dengan Kementerian Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM menghimpun massa UGM untuk unjuk rasa di depan bundaran UGM. Perwakilan fakultas, BEM KM UGM, dan Gadjah Mada Muda (Gamada) menyuarakan keresahan serta aspirasi terkait kebijakan dan sikap pemerintah Indonesia. Mereka juga berpendapat bahwa UGM sebagai kampus kerakyatan seharusnya ikut andil mendukung rakyat yang diberatkan. Namun, kenyataan yang terjadi tidak demikian. Joe Brema (Ilmu Ekonomi 2019), perwakilan dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), mengungkapkan bahwa Dosen FEB UGM tidak menyatakan sikap terkait kenaikan BBM ini. Padahal, sudah semestinya FEB UGM yang berbasis ekonomi kerakyatan dan ekonomi pancasila untuk bersuara dan mengkaji kebijakan yang menekan ekonomi rakyat kecil, tambahnya.

Aliansi Mahasiswa UGM pun menyatakan sikap sebagai berikut: (1) Menolak kenaikan harga BBM; (2) Menolak pasal RUU KUHP tentang Perlindungan Terhadap Harkat Martabat Presiden, Wakilnya, serta Kekuasaan Umum; (3) Menuntut pemerintah dan DPR untuk melakukan pengesahan RUU Perlindungan Data Pribadi secara cepat dengan menggunakan prinsip pembentuk peraturan perundang-undangan; (4) Menuntut pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan; dan (5) Menuntut pemerintah pusat dan daerah untuk membuka seluas-luasnya akses dan fasilitas transportasi publik. Banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi memicu massa untuk menyematkan gelar September Hitam di bulan ini. Hal ini juga mendasari dresscode hitam yang dikenakan massa aksi. Aksi berjalan dari siang hingga sore secara kondusif. Puncaknya, ultimatum digaungkan kepada pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM dalam kurun waktu tiga hari, jika tidak, massa akan kembali beraksi. 

Gerakan Kedua: Longmars Menuju Keadilan

Setelah ultimatum mereka tidak diindahkan, mahasiswa bersama rakyat kembali bergerak masih dengan berbagai tuntutan yang sama (15/09). Rakyat dan mahasiswa hanya mampu bersabar selama tiga hari. Kali ini, bukan hanya Aliansi Mahasiswa UGM yang berjuang, tetapi Aliansi Rakyat Bergerak (Arak), yaitu aliansi gerakan antara mahasiswa dan rakyat yang dianggotai juga oleh berbagai universitas: UGM, UNY, UTY, ISI dan sebagainya. Longmars dimulai dari bundaran UGM. Setelah massa berkumpul, mereka berangkat dengan membentangkan berbagai pesan, seperti “Pejabat Makin Kaya, Rakyat Makin Miskin” kepada pemerintah atau yang sering juga mereka sebut “oligarki.” Mereka berjalan dengan tujuan akhir Malioboro, tetapi di tengah perjalanan massa sempat meluapkan amarahnya di depan Kantor Pertamina Cabang DIY dan Surakarta. Dipimpin oleh Kontra Tirano, Koordinator Arak, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Rakyat Lapar.” Selain itu, ia dalam orasinya menyampaikan bahwa gaji miliaran rupiah untuk para pejabat Pertamina tidak mencerminkan kemanusiaan di tengah naiknya BBM. Ia juga menyerukan teriakan yang diikuti oleh massa lainnya “pemerintah makan nasi, rakyatnya makan tahi” sebagai bentuk rasa kecewa terhadap kenyamanan pemerintah di tengah penderitaan rakyat. 

Ketika perjalanan menuju titik tujuan akhir, yaitu Jalan Malioboro di depan Keraton Yogyakarta, tidak jarang masyarakat di sekitar memberi dukungan kepada para pejuang keadilan dengan ucapan semangat atau tepuk tangan. Sesampainya  di lokasi tujuan, terjadilah cekcok antara koordinator Arak dengan aparat kepolisian karena lokasi acara akan dipindahkan ke alun-alun secara tiba-tiba oleh aparat dengan dalil mengganggu pedagang dan transportasi. Salah satu koordinator aksi, Wales, mengaku bahwa Arak sudah izin dengan pihak kepolisian, lalu ia ditekan oleh pihak kepolisian sejumlah dua orang dan organisasi massa (Ormas) yang ia tidak ketahui identitasnya. “Pak Polisi yang tadi bertemu saya itu manipulatif!” tegas Wales saat konferensi pers di jalanan. Perjuangan Arak akhirnya membuahkan hasil, akhirnya lokasi tetap sesuai rencana awal. Massa juga terus diimbau oleh koordinator aksi untuk tidak terprovokasi dengan situasi sekitar.

Dibangunnya Panggung Rakyat sebagai Wadah Aspirasi Berbagai Elemen Masyarakat

Massa Arak memblokade jalan dan mendirikan panggung rakyat yang akan digunakan untuk orasi, tampilan seni, dan wadah aspirasi masyarakat. Demonstrasi masyarakat yang terkadang dipandang negatif dengan anarkisme dan kerusuhan, kali ini berhasil membungkam suara-suara miring tersebut.

Aksi damai nan kreatif dipertontonkan pada demonstrasi kali ini, mulai dari baliho yang tidak berisi janji-janji manis politikus, tetapi pesan sekaligus kritikan kepada pemerintah; cosplay mahasiswa ISI mengenai rakyat tercekik oleh kenaikan BBM, korupsi, dan oligarki; penampilan musisi rakyat yang membawakan lagu dengan pesan-pesan kritis terhadap ketamakan pemerintah; puisi jawa yang dibawakan mahasiswa UGM mengenai penderitaan rakyat; kesaksian ketua asosiasi pedagang Malioboro, Bapak Santoso, atas terdampaknya para pedagang dengan adanya kenaikan BBM; mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) menyampaikan minimnya kebebasan di kampus mereka; wisatawan yang berasal dari Ciamis menyampaikan aspirasinya mengenai dampak kenaikan BBM; perwakilan Serikat Pembebasan Perempuan menyuarakan hak asasi perempuan; dan puisi berantai mengenai keresahan akan kondisi Negara Indonesia saat ini.

Seluruh aksi damai ini berjalan kondusif dengan diwarnai sinergi antara mahasiswa, rakyat, dan pedagang. Peserta aksi diimbau untuk membantu membeli dagangan para pedagang kecil sebagai bentuk gotong-royong antar elemen masyarakat. Selain itu, aksi tersebut tidak didanai oleh siapa pun sehingga koordinator aksi meminta sumbangan sukarela kepada seluruh peserta aksi yang hadir pada aksi tersebut. 

Titik Puncak Kekecewaan, Dibakarnya Jas Almamater UGM

Ketenteraman aksi mulai pecah ketika salah satu orator menggunakan jas almamater UGM maju ke atas panggung. Ia menyampaikan besarnya kekecewaan dari sebagian masyarakat terhadap sikap UGM yang katanya sebagai universitas kerakyatan, universitas terbaik di Indonesia, dan universitas pancasila yang bungkam terhadap isu kenaikan BBM dan dinilai tidak pro kepada rakyat. Selain itu, orator lainnya juga melampiaskan amarahnya kepada para alumni UGM yang saat ini duduk di tahta pemerintahan, seperti Presiden Joko Widodo, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan dosen-dosen yang lupa akan rakyat. Orator tersebut juga mengatakan bahwa UGM itu sampah, sambil melepas dan melemparkan jas almamaternya ke jalan. Terdengar celetukan oleh massa lainnya yang mengatakan, “.. bakar (jas) almetnya, bakar (jas) almetnya sekarang juga!” Serentak massa maju menyaksikan jas almamater universitas kerakyatan ini diangkat dan dibakar, lalu jatuh hangus di jalan. 

Berbagai cuitan negatif berdengung di media sosial, mulai dari mempertanyakan esensi pembakaran jas almamater UGM hingga dinilai merendahkan institusi kampus pancasila tersebut. Namun, Ketua BEM KM UGM menanggapi bahwa aksi tersebut merupakan tindakan yang dirasa sah-sah saja sebagai bagian dari cara berekspresi, sebagian tipikal mahasiswa seperti itu. Namun, ia tidak mengetahui apakah aksi tersebut spontan atau terencana. Banyak sekali pro dan kontra terhadap suatu demonstrasi, terutama perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan suara-suara marginal atau elemen masyarakat miskin dan tertindas. Selalu saja ada yang menentang sikap perjuangan mahasiswa dengan berdalil anarkisme mahasiswa, tidak ada esensi, kurangnya pemahaman mahasiswa, dan argumen menyudutkan lainnya. Namun, kehadiran mahasiswa adalah antitesis dari setiap perilaku dan keputusan pemerintah yang dinilai merampas kesejahteraan rakyat. Banyak di luar sana masyarakat yang tidak paham akan kondisi negara, tetapi sangat terdampak akan keputusan negara. Mirisnya lagi, mereka tidak punya cukup suara untuk berteriak mengenai keadilan dan kesejahteraan. Lalu, siapa lagi jika bukan mahasiswa yang mewakili suara mereka? 

Sumber:

Tim Liputan BPPM EQ

Wawan, Jauh. 2022. Jas Almamater UGM Dibakar Saat Demo BBM, Ini Respons BEM KM. Detik.com. Diakses pada 17 September 2022. https://www.detik.com/jateng/jogja/d-6294313/jas-almamater-ugm-dibakar-saat-demo-bbm-ini-respons-bem-km

Pengunjung :
76

Solverwp- WordPress Theme and Plugin