BPPM Equilibrium

FSDE Seminar 2021: Inklusi Keuangan sebagai Solusi Pemulihan Ekonomi Pascapandemi

FSDE Seminar 2021: Inklusi Keuangan sebagai Solusi Pemulihan Ekonomi Pascapandemi

Setelah ditimpa krisis selama lebih dari satu tahun ke belakang, Indonesia mulai memasuki masa recovery dalam situasi pandemi Covid-19 di tahun 2021. Salah satu sektor yang sangat terpengaruh akibat pandemi tersebut adalah ekonomi. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas penting bagi pemerintah Indonesia saat ini. Berbagai instrumen penanganan telah digunakan untuk memulihkan ekonomi nasional, termasuk juga yang berkaitan dengan kemiskinan. Beberapa penelitian menunjukkan fakta bahwa makin tinggi inklusi keuangan, maka tingkat kemiskinan akan makin rendah. Hal ini yang coba diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Himiespa FEB UGM) melalui acara FSDE Seminar tahun 2021.

 

FSDE Seminar sendiri merupakan puncak dari rangkaian acara The 16th FSDE (Forum Studi dan Diskusi Ekonomi) FEB UGM. Acara tahunan ini sudah diselenggarakan 16 kali terhitung sejak tahun 2006. Pada tahun ini, FSDE Seminar diadakan untuk umum pada hari Sabtu (6/11) melalui Zoom Webinar dan live streaming Youtube. Dengan mengangkat tema “National Economic Recovery: Alleviating Poverty through The Adoption of Financial Innovations”, acara ini diharapkan mampu memberikan solusi berupa langkah-langkah yang mampu mewujudkan tujuan bersama, yaitu Indonesia tangguh dan Indonesia tumbuh. Tidak ketinggalan, pengumandangan lagu “Indonesia Raya” dan penampilan spesial dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Choir UGM turut memeriahkan acara yang dipandu oleh Mathew Sijabat ini.

 

Acara ini dibuka oleh sambutan dari Muhammad Fauzan selaku Ketua Panitia The 16th FSDE FEB UGM. Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan dari Rimawan Pradiptyo, M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Lewat sambutannya, beliau menyoroti tema acara ini yang sesuai dengan keadaan di lapangan, ketika financial inclusion justru terdorong akibat adanya wabah Covid-19 yang mengharuskan kita mengganti segala bentuk transaksi fisik dengan menggunakan media daring. Selanjutnya, FSDE Seminar tahun 2021 memasuki inti acaranya, yaitu web seminar (webinar) yang diisi oleh enam pembicara dengan rincian satu pembicara tamu dan lima pembicara utama. Selain itu, webinar ini juga dimoderatori oleh Muhammad Edhie Purnawan selaku Seminar Chairperson yang juga merupakan dosen di FEB UGM. 

 

Sesi pertama diisi oleh Pembicara tamu Muhammad Yunus, seorang profesor peraih nobel perdamaian sekaligus founder dari Grameen Bank. Pada kesempatannya, beliau mengkritik desain ekonomi terdahulu yang membuat orang-orang harus pergi ke kota atau daerah yang lebih maju untuk bertahan hidup dibanding melakukannya di tempat mereka dilahirkan. Urban area (perkotaan) masih menjadi tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rural area (pedesaan). Hal ini dibuktikan dengan pemegang kendali yang tetap ada pada perkotaan, sementara pedesaan hanya bertindak sebagai penyuplai barang dan jasa. Ke depannya, wilayah perkotaan dan pedesaan harus setara, terutama dalam hal peluang menjadi pusat perekonomian masyarakat. Dalam hal ini, meskipun menyebabkan kerusakan masif, pandemi turut berperan besar. Menurut Muhammad Yunus, kebijakan yang ada seharusnya untuk mendesain ulang model ekonomi yang saat ini mempunyai banyak masalah menjadi lebih inklusif.

 

Materi kedua dari webinar ini dibawakan oleh Dr. Akhis R. Hutabarat selaku Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran di Bank Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa digitalisasi memberikan manfaat, yaitu efisiensi dan inklusi, tetapi di sisi lain juga menghadirkan potensi risiko yang perlu dihadapi secara proporsional. Oleh sebab itu, digitalisasi mendorong bank sentral untuk melakukan transformasi bank dalam bauran kebijakan, kelembagaan, maupun sumber daya manusia. Hal ini membutuhkan pendekatan kebijakan dan regulasi baru yang mengintegrasikan kebijakan/regulasi sektoral dan nasional. Selain itu, bank sentral juga mempunyai peran dalam perlindungan konsumen melalui fungsi pengawasan penyelenggara.

 

Tris Yulianta, Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Financial Technology di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pembicara pada sesi ketiga menambahkan bahwa pemulihan ekonomi nasional terus membaik dengan PDB Indonesia tahun 2021 yang terus pulih setelah kontraksi ekonomi di tahun sebelumnya. Hal ini mendukung peningkatan tingkat inklusi keuangan nasional yang telah mencapai 76,19% pada tahun 2019 dengan sektor perbankan sebagai peringkat tertinggi dari indeks ini. Meskipun begitu, tingkat akses keuangan Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, India, dan Singapura. Oleh sebab itu, OJK menetapkan arah kebijakan strategis untuk tahun 2022 berdasarkan rumusan kebijakan transformasi digital periode 2021-2025. Beberapa di antaranya adalah mengantisipasi dampak risiko cliff effect dari normalisasi kebijakan dan potensi risiko perkembangan Covid-19, mendorong percepatan transformasi ekonomi digital, meningkatkan efektivitas program inklusi keuangan dan perlindungan konsumen, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan sektor jasa keuangan syariah.

 

Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Dr. Erdiriyo selaku Assistant Deputy for Inclusive Finance and Sharia Finance di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Pada kesempatan kali ini, beliau membawakan materi dengan judul “Path to National Recovery : Magnifying the Role of Financial Inclusion”. Secara umum, beliau menyampaikan bahwa inklusi keuangan di Indonesia terus mengalami peningkatan, baik dari segi kepemilikan maupun penggunaan rekening. Pada tahun 2020, kepemilikan akun meningkat sebesar 6% dibandingkan dengan tahun dasar 2018. Sedangkan, jumlah penggunaan akun meningkat dari 76,19% menjadi 81,4%. Untuk ke depannya, ditargetkan pada tahun 2024 inklusi keuangan di Indonesia mencapai 90% dalam penggunaan akun, sementara kepemilikan akun ditargetkan mencapai angka 80%.

 

Sesi dilanjutkan dengan pemaparan dari salah satu anggota Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi sekaligus Komisioner Bank Mandiri, Dr. Arif Budimanta. Beliau menyinggung mengenai kegiatan Pemberlakuan Kegiatan Pembatasan Masyarakat (PPKM) yang diberlakukan pada beberapa bulan terakhir berdampak pada kegiatan masyarakat, utamanya dari sektor perekonomian. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III mencapai 3,51%. Menurut Dr. Arif, hal ini merupakan sebuah capaian yang baik dari kolaborasi kebijakan penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

 

Beralih ke pembicara selanjutnya, Prof. Sri Adiningsih. Beliau merupakan founder dari Institute for Social Ekonomic Digital (ISED) sekaligus Guru Besar di Departemen Ekonomi FEB UGM. Materi yang beliau bawakan bertajuk “Inovasi Keuangan untuk Meningkatkan Inklusi Keuangan dan Pemerataan”. Beliau menekankan bahwa dewasa ini, akselerasi di bidang keuangan makin cepat terjadi akibat kemajuan teknologi. Kini kita telah mencapai Bank 4.0 yang mentransformasikan elemen bank menjadi real-time berbasis teknologi. Menurut kajian Mckinsey & Company, Indonesia merupakan salah satu negara yang amat terbuka dengan perkembangan-perkembangan pada digital banking. Beberapa layanan perbankan yang mulai awam diakses melalui platform digital, di antaranya : administrasi pembukaan dan penutupan rekening, otoritas transaksi, pengelolaan keuangan, serta pelayanan pada produk keuangan lainnya, seperti bank assurance, transaksi e-commerce, dan investasi.

 

Pada sesi terakhir dari FSDE Seminar 2021, para peserta diperkenankan untuk mengajukan pertanyaan yang akan dibacakan oleh moderator. Para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan kepada pembicara. Di akhir acara, Muhammad Edhi Purnawan selaku moderator merangkum keseluruhan isi seminar dalam closing statement sekaligus menutup FSDE Seminar 2021. FSDE Seminar 2021 berjalan dengan lancar dan mendapat banyak atensi dari pihak internal maupun eksternal. Meskipun dilaksanakan secara daring, FSDE 2021 berhasil mengangkat diskusi mengenai topik yang saat ini menjadi salah satu fokus dari pemerintah, yaitu pemulihan ekonomi pascapandemi. 

Populer

Berita

Ekspresi

Riset

Produk Kami

Pengunjung :
64

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Solverwp- WordPress Theme and Plugin