Menelisik Dilema Gen Z Menjadi Abdi Dalem
Penulis : Gita Laksita Jatismara dan Marcellinus Krisnado Suhatno/EQEditor : Handri Regina Putri/EQLayouter: Vidhyazputri Belva Aqila/EQ Menjadi abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di era globalisasi menghadapkan Generasi Z pada sebuah dilema mendalam. Di satu sisi, era modernitas memberikan tuntutan materialisme berupa penghasilan yang layak sebagai upaya dalam mempertahankan eksistensi hidup. Di sisi lain, terdapat panggilan idealisme mengenai keharusan menjaga budaya dan mengabdi berlandaskan prinsip ketulusan. Dalam menjalankan peran untuk meneruskan jejak pengabdian luhur, dimensi idealisme dan materialisme menyelimuti gegap gempita diri Generasi Z yang dihantam ombak kuat globalisasi. Idealisme menuntut Generasi Z untuk mengabdi dengan berpegang teguh pada prinsip tulus, ikhlas, dan loyal—nilai-nilai yang pada dasarnya jauh dari orientasi materialisme. Akan tetapi, realitas kehidupan modern mendorong hadirnya dimensi materialisme yang menekankan pentingnya besaran kompensasi finansial dalam bekerja. Orientasi pada uang ini menjadi antitesis yang langsung berbenturan dengan nilai pengabdian yang luhur. Benturan nilai ini berlanjut pada cara Generasi Z memandang dunia kerja keraton. Bagi mayoritas anak muda, keraton tidak hanya dipandang sebagai pusat budaya dan tradisi, tetapi juga sebagai institusi yang sarat akan seremoni dan prosedur yang kompleks. Persepsi ini berseberangan dengan karakteristik Generasi Z yang mengutamakan kepraktisan dalam bekerja. Dari sinilah kemudian muncul dilema yang berkecamuk: apakah menjadi abdi dalem masih relevan di tengah tuntutan modernitas yang pragmatis? Relevansi Moralitas dari Pengabdian Abdi Dalem Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, Dosen Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), mendefinisikan abdi dalem melalui berbagai macam sudut pandang. Frasa ‘abdi dalem’ terdapat dalam bahasa Jawa yang diartikan sebagai pegawai keraton, setara dengan ‘abdi masyarakat’ atau ‘abdi negara’ yang memiliki makna pegawai masyarakat atau pegawai negara. Sementara ‘pegawai’ adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga pemerintah atau swasta, badan atau perusahaan dengan memperoleh imbalan. Pengertian ‘abdi’ dan ‘pegawai’ saling berkaitan dan dapat saling dipertukarkan, tetapi memiliki konotasi berbeda. ‘Abdi’ dan turunannya dalam ‘pengabdian’, lebih berkaitan dengan dimensi moral suatu kerja, sedangkan pegawai (pekerja) lebih condong pada dimensi ekonomis dari kerja. Menurut Gabriel, dalam antropologi, perbedaan konotasi tersebut tampil dalam pembedaan antara work dan labour. “Work (kerja) dipahami secara luas sebagai segala macam kegiatan penciptaan produk dan jasa yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup orang maupun kelompok, baik yang dengan atau tanpa upah,” jelasnya. “Sedangkan labour (tenaga kerja) lebih sering digunakan dalam antropologi untuk menyebut kerja produksi dan pelayanan yang dipertukarkan dengan uang (pengaruh cara pandang Karl Marx)”, lanjutnya. Selain itu, Gabriel juga menanggapi anggapan tentang relevansi abdi dalem di era modern. Pandangan yang menyatakan bahwa posisi ini sudah tidak relevan karena kompensasi finansial yang minim dan ruang lingkup pekerjaan yang dianggap tidak praktis dibantahnya dengan tegas. Ia menerangkan, “Fenomena tersebut seperti juga kerja-kerja serupa, misalnya rohaniwan/rohaniwati/pendeta, ibu rumah tangga, gotong-royong, dan relawan yang mengingatkan kita tentang keniscayaan dimensi moral dan sosial dalam kehidupan manusia”. Lebih lanjut, Gabriel menegaskan bahwa menjadi abdi dalem adalah pengingat bahwa dimensi ekonomi bukanlah–bahkan bukan yang terpenting–satu-satunya sarana maupun prinsip dalam mengorganisasi kehidupan bermasyarakat. “Apa jadinya kalau kerja rumah tangga seluruh anggota keluarga harus dikompensasi dengan uang?” imbuhnya untuk mengukuhkan argumen yang disampaikan. Selain itu, abdi dalem tetap relevan di era modern karena berperan dalam mempertahankan keraton sebagai ‘saka guru peradaban’. Sebagai penjaga nilai-nilai luhur, tradisi, dan budaya, eksistensi keraton mustahil terjaga tanpa dukungan abdi dalem. Dalam menjalankan perannya, abdi dalem berpegang pada prinsip luhur seperti dedikasi, loyalitas, kepuasan emosional dan spiritual. Selain itu, terdapat pula penghargaan sosial yang diperoleh melebihi dan mengatasi imbalan finansial. Di tengah masifnya prinsip ‘money oriented’ saat bekerja, peran abdi dalem yang tidak dikompensasi dengan ‘uang’ dalam jumlah yang banyak seakan tidak berarti atas pegangan terhadap prinsip luhur tersebut. Mengenai prinsip loyalitas, Gabriel menggarisbawahi, “Secara teoretis memang loyalitas tidak dapat diikat lewat banyak-sedikitnya uang karena pada dasarnya loyalitas adalah perihal ikatan moral antar subjek”. Contoh praktisnya adalah dalam perkawinan, loyalitas atau kesetiaan dipertahankan baik dalam untung maupun malang, dalam keadaan sakit maupun sehat”. Pandangan Generasi Z Terhadap Peran Abdi Dalem Sejalan dengan yang disampaikan Gabriel, pandangan Generasi Z terhadap abdi dalem pada akhirnya bermuara pada satu hal, yaitu sebagai bagian dari loyalitas dan filosofi hidup yang terbentuk setelah melalui tahap pemenuhan kebutuhan duniawi. Oleh karena itu, perlu pertimbangan yang matang untuk memilih jalan menjadi bagian dari abdi dalem. “Mereka (abdi dalem) yang masuk sana itu, benar-benar ingin mengabdikan diri. Kalau orang-orang belum selesai dengan dunia, pasti mereka mikirnya ke arah situ (materialistis),” ujar Anselmus Paska Benidito, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Baginya, menjadi abdi dalem merupakan bentuk pengabdian penuh yang tidak bisa dipandang dari segi materialistis. Mengesampingkan sisi pengabdian, Generasi Z juga memberikan gambaran timbal balik yang ideal untuk menarik minat mereka. Beberapa dari mereka menyatakan tertarik untuk menjadi abdi dalem apabila terdapat timbal balik yang setara dengan tiga kali Upah Minimum Provinsi (UMP) dilengkapi asuransi tenaga kerja dan peluang pengembangan karier. Akan tetapi, peningkatan kompensasi ini dianggap harus diiringi dengan peningkatan efisiensi tenaga kerja. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa timbal balik finansial yang terlalu besar justru dapat mencederai prinsip pengabdian. “Kalau kita orientasinya ke UMR (Upah Minimum Regional), nanti yang dikhawatirkan spirit anu-nya (pengabdian) hilang, jadi materialis,” ucap M. Rafi Nur Fauzy, mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Regenerasi Abdi Dalem: Saka Guru Peradaban Bermain Peran Dalam menghadapi dinamika peradaban, Keraton Ngayogyakarta memegang peran kunci untuk memastikan regenerasi abdi dalem dan menjadi teladan dalam mendialogkan nilai-nilai luhur budaya dengan tuntutan zaman. Menurut Gabriel Roosmargo, regenerasi ini terjamin jika Keraton mampu menarik minat masyarakat. “Keraton harus mampu mempromosikan keunggulan kompetitif yang diperoleh abdi dalem, dibandingkan di tempat kerja lain,” jelasnya. Keunggulan kompetitif itu tidak harus berupa upah yang lebih tinggi, melainkan dapat berupa kemudahan dalam memperoleh dan mengembangkan ilmu serta keterampilan unik. Selain itu, sebagai ‘saka guru’ peradaban, peran dan fungsi abdi dalem juga perlu diselaraskan dengan modernitas agar tetap relevan dan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Kedinamisan abdi dalem tercermin dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tata Rakit Peprintahan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta, terdapat empat Kawedanan Hageng (semacam Kementerian Koordinasi) yang masing-masing mengkoordinasikan sejumlah Kawedanan (semacam Kementerian). Salah satu Kawedanan di bawah koordinasi Kawedanan Hageng Panitrapura (semacam kementerian sekretariat negara) adalah




